Selasa, 15 Desember 2015

JELAJAH JEPANG: Persiapan Perjalanan

Jepang sama seperti Bali, kata seorang teman kantor. Sekali dikunjungi, kita akan jatuh cinta dan selalu ingin kembali ke sana. Benar kata-kata teman saya tersebut. Setelah mengunjungi Jepang pada tanggal 22 - 29 November 2015, masih banyak tempat menarik, indah dan elok yang harus dikunjungi dan dijelajahi di Jepang. Walau mahal, namun seperti kata orang "ada barang, ada harga". Jepang bagaikan magnet yang selalu menarik dan mengingatkan untuk kembali dijelajahi.

Saya telah lama mengagumi Jepang melalui karya-karya tulisnya maupun film. Saya menikmati novel Jepang seperti Samurai dan Taiko ataupun film seperti the last samurai. Menikmati novel dan film-film Jepang membawa saya ke suatu dunia berbeda dalam hal sejarah, budaya dan arsitektur baik kuil, istana hingga rumah rakyat biasa - sama seperti kekaguman saya atas sejarah, budaya dan arsitektur kuno Eropa dan Indonesia berupa rumah tradisional, istana, kuil dan candi.

Jepang berbeda dengan negara lainnya termasuk Indonesia. Jepang yang terkenal sebagai negara
dengan penduduk yang disiplin, pekerja keras dan super bersih memiliki akar budaya malu (harakiri) yang sangat kuat. Jepang memiliki sejarah kepahlawanan para samurai, kemisteriusan para ninja dan geisha. Jepang memiliki keindahan keelokan bunga sakura di musim semi, keelokan perubahan warna warni dedaunan di musim gugur serta keabadian salju gunung Fuji sepanjang masa. Karena itu, Jepang menjadi salah satu negara impian untuk dikunjungi dan dijelajahi, walau negara ini terkenal sangat mahal. Banyak orang Indonesia, termasuk saya memasukan Jepang dalam agenda kunjungan.

Karena ingin mengunjungi dan menjelajah Jepang, maka seperti yang saya lakukan dalam penjelajahan sebelumnya ke berbagai negara dan berbagai tempat di Indonesia, riset menjadi dasar penting merencanakan perjalanan dan penjelajahan saya. Menelisik informasi online tentang musim, penginapan jaringan dan sarana transportasi merupakan bagian dari persiapan perjalanan saya ke Jepang. Karena Jepang merupakan negara dengan 4 musim, maka pilihan waktu kunjungan sangat penting untuk mendapatkan sesuatu yang mengesankan. Dari riset online, banyak travelers dan juga web-web wisata Jepang menonjolkan kunjungan pada 2 musim, yakni musim mekar bunga Sakura di Maret dan April serta musim gugur - yang ditandai dengan perubahan warna-warna daun dari hijau menjadi kuning dan merah - yang terjadi sejak bulan September - awal Desember tergantung lokasi kota / tempatnya di Jepang. Karena musim gugur dari Timur ke Barat Jepang terjadi pada bulan berbeda, maka penentuan waktu kunjungan saya ke Jepang sangat tergantung pada tempat / kota mana yang akan saya kunjungi dan Jelajahi. Setelah menelisik berbagai informasi, saya memutuskan berangkat ke Jepang pada akhir bulan November 2015 guna menjelajah Osaka, Hiroshima, Miyajima Kyoto, Nara, Fuji dan Tokyo. Selain ingin menikmati keindahan dan keelokan perubahan warna dedaunan, tempat-tempat tersebut juga menyajikan keunikan sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lainnya.

Persiapan perjalanan ke Jepang saya mulai sejak Desember 2014. Selain mencari informasi awal di
internet tentang tempat-tempat yang akan saya kunjungi dan jelajahi, saya juga mengurus passport elektronik (E-passport) sehingga saya tidak perlu report mengurus visa masuk ke Jepang yang pastinya mensyaratkan berbagai hal. Kebetulan masa berlaku passport biasa saya tinggal beberapa bulan lagi akan berakhir sehingga saya langsung mengurus pembaruan paspor dari paspor biasa ke elektronik. Dengan menelisik website imigrasi, saya mendapatkan syarat-syarat pengurusan paspor elektronik. Walau biayanya lebih mahal, yakni 600 ribu rupiah dibanding paspor biasa, namun jika sudah punya paspor elektronik, banyak kemudahan lain yang diperoleh termasuk hanya memerlukan visa waiver saat berkunjung ke Jepang dalam periode 14 hari saja. Kunjungan ke Jepang dalam periode waktu lebih dari 14 hari harus mengurus visa biasa, walau telah punya paspor elektronik. Singkat kata, pengurusan paspor elektronik selesai dalam waktu 3 hari setelah semua persayaratan saya penuhi, termasuk foto di kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

Setelah urusan paspor selesai, saya mulai mencermati promo berbagai maskapai ke Jepang. Akhirnya
pilihan saya jatuh pada Garuda yang mempromosikan tiket lumayan murah dibanding harga normal maskapai tersebut untuk rute Jakarta - Jepang. Dengan membayar sekitar 5juta 600 ribu rupiah saya telah mengantongi tiket PP Jakarta - Jepang. Karena saya telah memutuskan kota-kota yang akan saya kunjungi serta telah melakukan riset jarak antar kota dan alat transportasinya, saya memutuskan masuk melalui Osaka dan keluar melalui Tokyo. Dengan demikian, saya tidak perlu melakukan perjalanan bolak balik dari satu kota ke kota lainnya sekaligus mengefesienkan waktu kunjungan yang cukup terbatas. Untuk itu saya mengambil rute Jakarta - Osaka, Osaka - Hiroshima, Hiroshima - Miyajima - Hiroshima, Hiroshima - Kyoto, Kyoto - Nara - Kyoto, Kyoto - Tokyo, Tokyo - Fuji - Tokyo, Tokyo - Jakarta. Perjalanan ke Miyajima harus melalui Hiroshima sehingga saya memilih menginap di Hiroshima. Perjalanan ke Nara bisa dilakukan melalui Osaka atau Kyoto. Saya memilih melakukannya melalui Kyoto dengan memepertimbangkan waktu tempuh dan transportasi yang lebih mudah menggunakan JR Pass. Demikian juga perjalanan ke Fuji dapat dilakukan melalui Kyoto atau Tokyo. Saya memilih melakukannya melalui Tokyo dengan sekali lagi pertimbangan efesiensi waktu.

Setelah menentukan kota-kota yang akan saya kunjungi, persiapan berikut adalah penginapan. Jepang menyediakan 4 jenis penginapan, yakni hotel, apartemen, ryokan (penginapan tradisional khas Jepang) dan hotel kapsul. Setelah menelisik kelebihan dan kekurangan masing-masing penginapan tersebut, saya memilih menginap di hotel dan ryokan. Untuk itu saya memilih menginap di ryokan di
Kyoto, sedangkan di Osaka, Hiroshima dan Tokyo saya menginap di hotel biasa. Semua harga kamar di atas 1 juta rupiah - inilah salah satu yang menyebabkan Jepang dikenal sebagai salah satu negara termahal di dunia. Harga kamar ryokan rata-rata di atas 1 juta. Kecuali semi ryokan masih bisa diperoleh dengan harga di bawah 1 juta, itupun dengan jarak yang agak jauh dari stasiun utama yang memudahkan akses ke berbagai tempat menggunakan bis, kereta, metro dan subway. Namun karena saya memilih  semua penginapan dekat stasiun kereta dengan mempertimbangkan kemudahan akses dan efesiensi waktu maka kamar hotel dan ryokan yang saya pilih semuanya diatas 1 juta rupiah per malam karena dekat dengan stasiun utama, seperti stasiun Hiroshima, Kyoto, Osaka. Hanya di Tokyo, saya menginap di hotel yang jauh dari pusat kota, yakni di Kamata tapi jaraknya hanya sekitar 150 meter dari stasiun. Harga-harga kamar hotel dan ryokan yang saya gunakan tersebut merupakan harga termurah dari hotel dan ryokan di kelas yang sama atau lebih tinggi. Kelas hotel bintang 5 dengan harga kamar yang hampir sama dengan hotel bintang 3 berada di kota yang jarang dikunjungi turis, yakni Granvia di Hiroshima. Harga kamar hotel Granvia (bintang 5) di stasiun Hiroshima lebih murah dari ryokan Nishikiro di Kyoto - keduanya tidak menyediakan makan pagi, Jika ingin tambahan makan pagi, maka di Granvia dikenakan biaya tambahan sebesar 230an ribu per orang per malam - yang jatuhnya tetap lebih murah dari harga kamar tanpa makan pagi di Ryokan Nishikiro Kyoto. Karena kebanyakan penginapan dan resto hanya menerima uang cash, maka saya juga menyiapkan uang cash yen dengan cukup. Menukar rupiah ke yen di Jakarta tidak mudah seperti menukar dolar karena tempat penukaran uang hanya menyediakan sedikit yen. Untuk itu, saya harus menelpon terlebih dahulu atau mengunjungi beberapa tempat penukaran berbeda.

Setelah paspor, tiket pesawat dan kamar hotel selesai saya urus, hal penting lain adalah transportasi antar kota di Jepang. Dari riset online, saya mendapatkan informasi adanya fasilitas tiket kereta peluru (shinkansen) untuk 7 hari atau 14 hari yang disebut JR Pass. Setelah memperlajari dengan seksama, termasuk manfaat tiket paket tersebut. Karena saya hanya akan berada 8 hari di Jepang, saya membeli JR Pass yang berlaku selama 7 hari dengan pertimbangan pada hari terakhir saya bisa menggunakan tiket harian yang berlaku bagi turis di Tokyo. Setelah mengumpulkan dan menganalisis berbagai informasi online, saya membeli JR Pass di travel agent di Mid Plaza seharga 3 juta 600 ribu rupiah. Untuk membeli JR Pass tersebut, pembeli hanya perlu membawa paspor. Pembeli akan diberi voucher yang kemudian ditukar tiket JR Pass saat tiba di Jepang.

Persiapan berikut yang saya lakukan adalah mengurus visa waiver di Kedutaan Jepang. Pengurusan visa waiver sangat mudah. Saya datang pagi-pagi ke kantor kedutaan di Jl. Thamrin lalu ikut antrian yang  belum terlalu ramai. Tepat jam 8.30 pagi, security yang berjaga depan gerbang mengizinkan para pengantri memasuki kedutaan. Di pintu masuk, para pengunjung meninggalkan KTP atau SIM yang ditukar dengan kartu tanda masuk bagi pengunjung. Setelah melewati 2 pintu lagi, saya mengambil nomor antrian di mesin yang telah tersedia di ruang pengurusan visa waiver. Pada mesin antrian ini tersedia 2 bagian untuk pengurusan visa (A) dan pengurusan dokumen warga negara Jepang (B). Karena antrian tidak terlalu banyak, sekitar 15 menit kemudian saya telah dipanggil ke loket pengurusan visa waiver. Saya menyerahkan nomor antrian dan paspor kemudian menerima tanda terima dari petugas loket. Waktu pengurusan visa waiver ditentukan pagi hari, yakni jam 8.30 - 12. "Pengambilan paspor besok pagi dan dapat diwakilkan dengan membawa tanda terima" kata petugas loket. "Baik bu, terima kasih", balas saya lalu beranjak meninggalkan loket. Waktu pengambilan kembali paspor adalah siang hari jam 1.30 - 4.30 sore. Esoknya, saya kembali ke kedutaan Jepang mengambil kembali paspor saya yang telah diberi tulisan visa waiver yang berlaku selama 3 tahun untuk kunjungan dalam periode maksimum 14 hari.

Saya telah siap menjelajah Jepang...
Bersambung



Kamis, 10 Desember 2015

Perjalananan dan Pengalaman Jelajah Jepang: Osaka, Hiroshima, Miyajima, Kyoto, Nara, Fuji dan Tokyo

Jepang merupakan salah satu Negara termahal di dunia. Namun negara ini juga menjanjikan keindahan dan keelokan tersendiri sehingga banyak traveler memasukan Jepang sebagai salah satu negara yang harus dikunjungi paling tidak sekali.

Jepang sama seperti Bali kata teman saya. Sekali dikunjungi, maka selalu akan ingin kembali lagi. benar kata-kata teman saya tersebut. Setelah mengunjungi Osaka, Hiroshima, Miyajima, Kyoto, Nara, Fuji dan Tokyo pada tanggal 22 - 29 November 2015 menikmati perubahan warna dedaunan di musim gugur, saya ingin kembali lagi ke Jepang pada suatu saat nanti.

Kunjungan ke Jepang memberikan sejumlah pengalaman dan pembelajaran, antara lain:
1. Pengurusan visa bagi pemegang E-passport sangat mudah. Hanya perlu membawa passport, ambil nomor antrian, dipanggil, menyerahkan passport dan menerima tanda terima. Hari berikutnya saya telah bias mengambil visa waiver.
2. Sebelum berangkat saya telah membeli voucer Japan Railway Pass (JR Pass) paket 7 hari. Karena saya menjelajah Jepang selama 8 hari, maka hari terakhir saya menggunakan 1 day pass metro dan subway seharga 100 yen atau sekitar 120 ribu rupiah kurs saat itu. Voucer yang saya beli di Jakarta tersebut langsung saya tukar dengan tiker JR di Airport Kansai. JR Pass tersebut sangat berguna dan biaya transportasi menjadi lebih murah karena selain saya gunakan antar kota di Jepang, saya juga gunakan tiket yang sama di dalam kota untuk tempat-tempat wisata yang dilalui kereta JR. Misalnya Kyoto - Arashiyama PP, Kyoto - Fushimi Inara PP dll.
3. Kota-kotanya bersih dan cenderung sepi! Bebas sampah, bebas bau got dan  bebas hiruk pikuk mobil dan sepeda motor.. Hanya stasiun, terminal dan tempat wisata serta kuil yg penuh sesak dan ramai pengunjung..
4. Hanya ada sedikit mobil yg lalu lalang sehingga jalan2nya cenderung sepi dan lenggang;
5. Motor honda, suzuki, kawasaki dll produk jepang yg memenuhi jalan2 di Indonesia, tidak pernah terlihat di jalan2 Osaka, Hiroshima, Kyoto, Nara dan Fuji. Hanya ada 5 moge yg saya lihat di Tokyo selama 4 hari saya di kota tersebut.
6. Mobil dan motor tidak ada yg parkir di jalan dan gang-gang; hanya ada sepeda 󾌸.
7. Alat transportasi utama adalah kereta, bis dan sepeda. Keretanya terdiri dari Japan Railway/JR dan private company trains, Metro, Subway yg melayani rute dalam kota serta Shinkansen / kereta peluru yg melayani rute antar kota. Bis hanya ada 1 jenis seperti bis PPD non AC di Jakarta. Bis2nya bersih banget. Sopir2nya pake seragam. Tidak terlihat adanya beberapa jenis bis seperti di Jakarta (PPD, Metromini dan Kopaja) tidak ada jenis mobil angkot yg terlihat di jalan, gang pemukiman ataupun pendesaan.
8. Tiket kereta dan bisnya mahalllll banget dibandingkan Jakarta dan Indonesia. Tiket bis sekali jalan rata2 seharga ¥210 atau sekitar 21-23ribu rupiah. Kalo tiket kereta tergantung jarak. Jarak antar stasiun paling dekat (misalnya dari stasiun sudirman ke manggarai) harganya 20an ribu sekali jalan;
9. Selalu berdiri di sebelah kiri saat berada di escalator (tangga berjalan). Sebelah kanan untuk orang yg buru2 atau ingin lewat duluan.
10. Selalu antri dimanapun, termasuk di halte bis. Jangan berdiri berkerumum seperti di Jakarta. Bis hanya berhenti di halte2 yg telah ditentukan sesuai nomor masing2 bis.
11. Pengaturan rute / nama stasiun di Tokyo berbeda dengan Osaka, Hiroshima, Kyoto, Nara dan Fuji. Di Tokyo, nomor yg tertera di sign bord dalam kereta / subway / metro menunjukan waktu tempuh antar stasiun. Di kota2 lain, nomor menunjukan stasiun yg disinggahi..
12. Selesai makan, peralatan makan, termasuk tisu dll yg telah digunakan ditaruh ke tempat yg telah disediakan.
Jangan tinggalan peralatan yg telah digunakan di meja makan.
13. Sangat sedikit t4 sampah di t4 publik seperti stasiun, terminal, warung, tourist spots;
14. Selalu bawa kantong plastik ato kantong kertas tuk sampah sendiri sampe ketemu t4 sampah yg susah banget ditemukan 󾌸;
15. Kantong plastik hitam tidak pernah saya temukan di semua tempat yg saya jelajahi, bahkan kantong sampahnya terbuat dari plastik transparan sama seperti payungnya yg terkenal itu;
16. Jangan nyebrang walau sepi banget saat lampu masih berwarna merah dan harus selalu menyeberang di t4 yg telah ditentukan/diberi tanda. Tidak ada jembatan penyeberangan orang (JPO). Jalan dan bangunan, termasuk terminal dan stasiun semuanya dibuat ramah bagi orang tua, ibu hamil, anak2 dan kaum difabel;
17. Harga makanan, minuman dan transportasi mahalllll berkali lipat dibandingkan Jakarta (contoh air mineral ukuran botol aqua sedang seharga 3ribuan di Indonesia, harganya di jepang 11 - 15ribu; makanan paling murah yg pernah saya makan seharga 60ribuan rupiah terdiri dari semangkok kecil nasi dan beberapa irisan tipis daging sapi/babi kukus 󾍃.
18. Bawa koper kecil aja kalo mo jelajah jepang karena semua t4 penyimpanannya mungil2 󾌸, termasuk locker di sts n terminal, kamar tidur, kamar mandi, t4 tidur, bathtub, sikat gigi dll, termasuk tempat sampah dalam kamar hotelnya mungil banget. Semakin besar t4 yg dibutuhkan, harganya semakin mahal berkali lipat. Kalo mau bawa koper besar, siap2 aja repot sendiri di kereta, bis, escalator, kamar hotel, dll.
19. Selalu bawa tisu basah untuk cebok di toilet publik sept stasiun, terminal n t4 wisata. Semua toilet publik Jepang menggunakan cebok kering pake kertas doang 󾌸;
20. Mayoritas closet di t4 publik menggunakan closet jongkok Jepang (memanjang dgn lekukan ke atas. Digunakan dgn cara jongkok menghadap lekukan dan membelakangi pintu toilet 󾌸;
21. Semua tempat wisata, terutama kuil dan tempat2 terkenak di Jepang sangat penuh dan ramai pengunjung pada jam 9pagi hingga 6malam. Jika ingin dapat foto bagus sebaiknya bangun subuh dan telah ada di lokasi sekitar jam 7/8 pagi ato malam setelah jam 6. Kalau ga, pasti akan selalu ada pengunjung lain dalam foto2 kita 󾌸. Jika tidak ada pilihan, maka coba cari sudut2 yg hanya ada sedikit pengunjungnya 󾌸;
22. Jangan malu bertanya. Walau ada kendala bahasa, orang Jepang ramah dan sangat membantu saat kita menanyakan arah jalan atau alamat. Di beberapa tempat, org yg saya tanya bahkan mengantar saya hingga tiba di t4 yg saya cari..

Bersambung.....

Jumat, 02 Oktober 2015

AMAZING INDONESIA - WONDERFUL JAMBI: Menara Air, Mesjid 1000 Tiang dan Danau Sipin

Menara Air
Saya dan Nodi melanjutkan perjalanan dari Jembatan Makalam ke Menara Air / Water Tower peninggalan Belanda. bangunan berbentuk selinder tersebut menjulang tinggi puluhan meter dan bisa dilihat dari Jembatan Makalam maupun bagian lain Kota Jambi. Pada era kolonial Belanda, Menara ini terhubung dengan bangunan kantor di sebelahnya. Namun saat saya berkunjung ke tempat tersebut, bangunan Menara dan Kantor telah terpisah oleh satu jalan kampung. Keduanya terlihat tidak terawat lagi. Bangunan menara terletak dalam suatu kebun yang ditanami cabe dan umbi-umbian. Menara dilengkapi pintu dan tangga, namun pintunya terkunci sehingga saya tidak bisa masuk. Karena itu setelah mengambil beberapa foto, saya dan Nodi melanjutkan perjalanan ke Mesjid Al Falah atau lebih dikenal sebagai Mesjid 1000 pintu.

Mesjid 1000 pintu tanpak megah dan agung didominasi warna putih. Beberapa pengunjung lain sedang duduk-duduk di bangku-bangku halaman mesjid menikmati kemegahannya menjelang sore. Saya dan Nodi turun dari mobil berjalan
Mesjid 1000 Tiang
menghampiri mesjid tersebut. Karena saya non muslim, maka saya hanya mengamati dan mengagumi kemegahan eksterior dan interior mesjid dari batas pagar halaman. Selain pagar, sekeliling mesjid juga dibatasi dengan parit berisi air dengan lebar sekitar 1 meter. Saya dan Nodi memulai ekplorasi dan pengambilan foto dari bagian kiri mesjid dilanjutkan ke depan lalu ke kanan dan berputar ke belakang. Bagian kanan mesjid dilengkapi toilet dan tempat wudhu. Di halaman belakang terdapat 2 rumah yang berdiri terpisah dalam jarak puluhan meter. 1 rumah tepat berada di
Interior Mesjid 1000 Tiang
belakang mesjid sedangkan 1 lagi di belakang bagian samping sejajar bagian samping kanan yang digunakan untuk tempat wudhu, kamar mandi dan toilet. Dari halaman belakang, saya dan Nodi berjalan kembali ke bagian kiri lalu duduk sejenak menikmati keindahan dan kemegahan Mesjid 1000 tiang tersebut.

Saat hari semakin sore, saya dan Nodi mengarah ke Danau Sipin guna menikmati sunset di danau tersebut. Mobil mengarah ke kantor gubernur Jambi lalu belok kiri di pertigaan depan kantor Gubernur. Sekitar 1o menit kemudian kami tiba di tepi Danau Sipin. Nodi memutuskan menyusuri pinggiran danau ke arah hulu, namun perjalanan tersebut berakhir pada jalan buntu sehingga mobil diputar kembali ke gerbang penjualan tiket yang telah tutup. Setelah
Danau Sipin
mobil diparkir di pinggir jalan depan gerbang, saya dan Nodi turun dan berjalan menuruni bukit ke tepi danau terus menyurusi pinggiran danau ke daerah landai tempat perahu-perahu kecil menaikan dan menurunkan penumpang dari kampung di sebelah danau.

Sore ini saya kurang beruntung mendapatkan sunset yang saya inginkan di danau Sipin. Terlihat awan tebal bergerak mengiringi matahari yang secara perlahan terus bergeser ke garis horison barat. Saya mengalihkan perhatian saya ke aktifitas para nelayan dan pengemudi perahu penumpang di danau. Para nelayan setempat terlihat sibuk menangkap ikan dengan cara tradisional menggunakan jala berbentuk
Alat penangkap ikan tradisional di Danau Sipin
kurva yang diikatkan ke batangan bambu atau kayu yang diangkat dan diturunkan secara intens per 5 menit. Nelayan lain menggunakan perahu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di danau tersebut. Perahu-perahu penumpang hilir mudik antara 2 sisi danau mengantar dan menjemput penumpang karena sepertinya hanya perahu-perahu tersebut menjadi alat transportasi di danau tersebut. Saya dan Nodi menuju tempat perhentian perahu. Saya menyapa 2 pengemudi perahu yang terdiri dari seorang ibu dan seorang bapak paruh baya. Setelah ngobrol sejenak saya  meminta izin memotret. Perahu yang dikemudikan si ibu mendapatkan penumpang sehingga si ibu mulai mendayung perahunya ke sisi seberang danau. Saya mengajak Nodi menaiki perahu tersisa dan meminta pengemudinya mengantar kami ke seberang
Ibu pengemudi perahu
danau guna melihat penduduk di seberang. Para ibu sedang sibuk mencuci di pinggiran danau saat kami tiba di seberang. Saya dan Nodi turun dan berjalan melewati mesjid di pinggiran danau menuju satu kios yang terletak sekitar 20an meter dari mesjid. Kebanyakan rumah penduduk masih berupa rumah panggung tanpa pagar pemisah antar halaman. Terlihat beberapa lelaki sedang duduk santai di bawah pohon mangga di halaman satu rumah panggung. Saya tersenyum dan mengagguk ke arah mereka sambil terus berjalan ke arah kios. Setelah memembeli minuman, saya dan Nodi kembali ke tepi danau mengamati matahari yang semakin hilang ditelan awan tebal. Saya mengambil beberapa foto lalu meminta Nodi melambai ke pengemudi perahu guna menjemput dan mengantar kami kembali ke seberang.
Jembatan Makalam di malam hari

Malam telah turun saat saya dan Nodi kembali ke Hotel. Nodi mengajak saya mampir di Jembatan Makalam dan Mesjid 1000 Pintu guna melihat perbedaannya di waktu siang dan malam. Keduanya, jembatan dan mesjid terlihat sangat indah di malam hari karena pendar lampu-lampu yang menyinari kedua ikon kota Jambi tersebut. Dari kedua tempat tersebut, saya dan Nodi mampir makan malam di satu resto lokal bernama Terang Bulan. Nodi mengajak saya mencicipi makanan khas resto tersebut, yakni mie yang terbuat dari tepung ikan :). Penjelajahan dan eksplorasi kota Jambi
Mesjid 1000 Tiang di malam hari
berakhir dengan tibanya saya di hotel mengistirahatkan tubuh menanti hari esok guna kembali ke Jakarta.


Jumat, 11 September 2015

AMAZING INDONESIA - WONDERFUL JAMBI: Museum Negeri Jambi, Museum Perjuangan, Pasar Keramik dan Jembatan Makalam

Jembatan Makalam
"Kita cari makan dulu saat tiba di Kota Jambi", kata saya ke Nodi saat kami dalam perjalanan balik dari Muaro Jambi ke Kota Jambi. "Bapak ingin makan apa", tanya Nodi membalas. "Makanan khas Jambi", kata saya. Kami melewati jalan yang sama saat kembali ke Kota sekitar jam 12 siang. Sekali lagi kami melewati jembatan Aur Duri II dengan kanopi anyaman baja yang terlihat megah menaungi jembatan dan jalan di bawahnya. Kami terus bercakap-cakap sepanjang jalan hingga kami tiba di restoran Bi'Cik namanya. Retoran ini beratap rumbia dengan dinding setengah terbuka. Saat saya dan Nodi telah duduk didalam restoran tersebut terasa sejuk tanpa penggunaan AC di siang terik itu. Sebagaimana layanan di restoran Padang, restoran Bi'Cik juga memberikan layanan dengan
Jembatan Aur Duri II
menghidangkan hampir semua jenis makanan yang dijualnya. Walau demikian, saya memesan ikan gabus pindang - yang kata Nodi merupakan salah satu makanan khas Jambi. Karena ikan merupakan salah satu menu favorit saya, maka menikmati ikan gabus pindang itu sesuatu banget bagi saya saat itu. Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di restoran ini untuk makan siang sekaligus beristirahat sebelum melanjutkan ke tempat kunjungan lainnya.

"Kita ke museum Negeri Jambi terlebih dahulu karena lebih dekat jaraknya dari restoran ini",  kata Nodi saat kami telah kembali ke mobil. "okay saja, kamu yang memimpin karena telah mengetahui Jambi", balas saya. Saat tiba di museum, sepertinya hanya kami pengunjung saat itu. Nama yang tertulis adalah Museum Siginjei, bukan Museum Negeri Jambi seperti dikenal publik. "Namanya telah diganti", kata Nodi menjelaskan ke saya tanpa saya tanya saat kami tiba dan saya memotret nama museum di atas pintu masuk. Saya hanya mengangguk dan terus melangkah masuk ke bangunan museum. Di dalam petugas loket sedang bercakap-cakap dengan seorang pedagang minuman yang terlihat membawa minuman dingin berbagai jenis dan meletakannya di meja jaga. Saya membeli 2 tiket masuk seharga 2000 per tiket. Museum ini menyimpan berbagai koleksi dan informasi tentang jambi, antara lain informasi tentang candi-candi Muaro Jambi, rumah adat, alat pertanian dan perikanan, flora dan fauna serta pembuatan batik Jambi. Semuanya ditata rapi dan dipamerkan di 3 lantai gedung museum tersebut. Saya dan Nodi mulai dari lantai dasar sebelah kiri. Di pintu masuk ruangan terlihat 1 harimau Sumatera dalam kotak kaca yang telah dikeringkan. Dari lantai 1, kami beralih ke lantai 2 lanjut ke lantai 3 kemudian turun dri sebelah kanan yang mengantar kami ke suatu ruangan lain di lantai dasar sebelah kanan.
Salah satu ruangan Museum Negeri Jambi
Ruangan ini diberi karpet merah dan para pengunjung harus melepaskan alas kakinya saat akan memasuki ruangan tersebut. Saya dan Nodi menghabiskan sekitar 1 jam di museum ini lalu kembali ke mobil di tempat parkir. Dari museum Negeri Jambi, kami beralih ke Museum Perjuangan Rakyat Jambi yang terletak sekitar 5 menit dari museum Negeri Jambi.

Museum Perjuangan juga sepi saat kami memasuki pintu depan. Hanya seorang petugas dan seorang security sedang nonton tv di ruang depan dalam jarak beberapa meter dari meja karcis. Petugas karcis meninggalkan tv dan mengambil 2 lembar karcis masing-masing seharga 2 ribu rupiah sehingga saya membayar 4ribu rupiah bagi saya dan Nodi. Sebelum berkeliling ke dalam museum, saya sempatkan meminta petugas untuk foto bersama saya di depan patung
Museum Perjuangan
seorang tokoh setempat yang diapit 2 ekor singa. Museum ini terdiri dari 3 lantai yang semuanya memamerkan informasi dan foto-foto terkait perjuangan rakyat dan para elit setempat sebelum perang kemerdekaan, dalam perang kemerdekaan sampai dengan pembangunan provinsi Jambi. Kedua sisi dinding lantai pertama dipenuhi foto, lukisan, informasi tertulis hingga bentuk-bentuk senjata seperti keris, senapan dan pistol. Lantai kedua diisi oleh diorama, terutama tentang perlawanan rakyat Jambi di berbagai tempat terhadap Belanda. Lantai 3 diisi dengan dokumen-dokumen dalam kotak-kotak kaca, foto dan informasi pembangunan rumah-rumah ibadah seperti mesjid, gereja dan vihara di Jambi. Salah satu dinding yang menghadap ke tangga dihiasi foto-foto para gubernur Jambi sejak era kemerdekaan sampai dengan yang terbaru di tahun 2015.

Pasar Keramik
Selesai dari Museum Perjuangan, kami beralih ke Pasar Keramik. Pasar ini tersembunyi dalam gang-gang ruko. Sepertinya hanya orang Jambi yang mengetahui lokasi Pasar Keramik ini. Nodi memarkir mobil di jalan yang diapit oleh ruko-ruko tua. Nodi membaya saya memasuki satu gang yang depannya ada warung tenda berwarna biru. Saya dan Nodi berjalan sekitar 20an meter menyusuri gang tersebut. Saat tiba di ujung gang yang kami susuri, gang tersebut terhubung dengan gang-gang lain yang dipenuhi jejeran kios yang didominasi barang dagangan keramik aneka bentuk dan warna dari Cina. Saya dan Nodi masuk keluar beberapa kios melihat-lihat sekaligus mencari souvenir yang bisa saya beli. Akhirnya saya mendapatkan 3 souvenir berbentuk pot dengan hiasan berbeda-beda, berwarna keemasan yang
Pasar Keramik
dilapisi pasir halus krem. Kami menghabiskan sekitar 1 jam di pasar ini berpindah dari satu kios ke kios lain mengamat-amati keramik-keramik yang dijual maupun mengamati para pengunjung lain yang hanya sekedar berjalan-jalan atau sedang tawar menawar barang yang ingin dibeli.

Enaknya punya pemandu lokal seperti ini. Saya dibawa Nodi ke Pasar Keramik yang tidak saya ketahui informasinya melalui internet. Dari Pasar Keramik, Nodi mengajak saya mengunjungi Jembatan Makalam, yakni jembatan yang menarik karena gaya arsitektur dan warna catnya. Saya mengiyakan saja, karena ternyata Pasar Keramik yang tidak ada dalam agenda saya cukup menarik dikunjungi atas ajakan Nodi. Namun saya juga ingin melihat Klenteng Hok Tek yang telah dijadikan benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Daerah Jambi. "Kita akan melewati jalan depan Klenteng saat ke Jembatan Makalam sehingga kita bisa mampir, kata Nodi. "Sipp", balas saya. Sekitar 5 menit bermobil dari Pasar Keramik, Nodi memarkir mobil di pinggir jalan dan menunjuk satu bangunan mungil bercat putih
Klenteng Hok Tek
dalam pagar terkunci di tepi sungai. Pagar tembok yang mengeliling Klenteng dibangun setinggi Klenteng sehingga orang yang tidak memiliki tujuan ke tempat tersebut, pasti tidak akan menyangka adanya klenteng dan cagar budaya tersebut. Karena tidak bisa masuk (gerbang terkunci dan tidak ada petugas jaga), saya hanya bisa mengambil beberapa foto dari luar pagar tanpa bisa melongok isi Klenteng berwarna putih dengan aksen merah dan hijau tersebut.





Jembatan Makalam
Dari Klenteng Hok Tek, kami menuju Jembatan Makalam - yang terlihat indah bagi saya. Kata Nodi, jembatan ini sering digunakan untuk foto pre wedding, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Mungkin benar, karena warna dan arsitektur jembatan tersebut seperti warna dan arsitektur di kuil atau klenteng yang didominasi warna-warna merah. Dinding jembatan terbuat dari ratusan tiang kecil berbentuk seperti pion-pion permainan bowling yang semuanya dicat merah, sedangkan bagian pemisah diberi warna hitam. Nama jembatan ini berasal dari nama Gubernur pertama Jambi yang memerintah tahun 1946 - 1948. Jembatan selesai dibangun pada tahun 2010 dengan panjang 500 meter dan lebar 10 meter melintasi sungai Batanghari yang merupakan alternatif penghubung jalan Makalam lama ke Simpang Kapuk. Setelah melihat-lihat dan memotret beberapa bagian jembatan tersebut, termasuk memotret Menara Air dari kejauhan, saya dan Nodi kembali ke mobil. Kami meneruskan perjalanan ke Menara Air - yang merupakan bangunan peninggalan Belanda. "Kita balik lagi ke sini saat malam sehingga bisa lihat perbedaan jembatan ini di waktu siang dan malam", kata Nodi saat kami beranjak meninggalkan Jembatan Makalam.

Bersambung...



Rabu, 09 September 2015

AMAZING INDONESIA - WONDERFUL JAMBI: Candi-candi Muaro Jambi

Menjala ikan di sungai Batanghari
Pagi masih gelap saat saya telah nongkrong di balkon Hotel Hiltop tempat saya menginap. Saya mengamati aktivitas pagi di sungai Batanghari. Selain lalu lalang perahu motor kecil di kedua sisi sungai, para nelayan setempat juga sedang melakukan kegiatanya menagkap ikan menggunakan jala atau hanya pancing semata. Saya terus mengamati kesibukan di sungai Batanghari sampai sinar matahari semakin tinggi. Beberapa nelayan terlihat asyik melempar, menarik, mengumpulkan hasil, membersihkan dan kembali melempar jala terbuka ke sungai Batanghari. Kegiatan tersebut dilakukan berulang-ulang sambil berpindah-pindah.

Walau para nelayan ini berdiri dan mengayun tubuhnya saat jala dilempar ke sungai, namun perahu-perahu kecil yang mereka gunakan terlihat
Menjala ikan di sungai Batanghari
stabil. Saya mengagumi cara mereka menjaga keseimbangan saat tubuh diayun dan jala dilempar. Setelah puas, saya kembali ke dalam hotel untuk sarapan, kemudian mandi dan mempersiapkan diri bagi perjalanan ke kompleks percandian di Muaro Jambi.

Sekitar jam 8 pagi, Nodi demikian nama sopir sekaligus pemandu saya hari ini menelpon menanyakan kesiapan saya. Saya meminta dijemput jam 9 pagi dengan asumsi loket karcis di Muaro Jambi baru buka sekitar jam 10 pagi. Dengan asumsi waktu tempuh Kota Jambi ke Muaro Jambi sekitar 1 jam sebagaimana informasi yang saya terima dari berbagai sumber, maka jika saya berangkat jam 9 pagi akan tiba di kompleks percandian Muaro Jambi sekitar jam 10 pagi. Asumsi yang salah, karena loket telah dibuka sekitar jam 7 pagi dan juga jarak tempuh mobil dari Hotel Hiltop ke Muaro
Sepeda sewaan guna mengelilingi komplek candi seluas 3ha
Jambi hanya sekitar 30an menit saja melewati jalan beraspal bagus yang tidak terlalu ramai di pagi hari itu. Dari Hotel, Nodi membelokan mobil ke sebelah kiri menyusuri jalanan yang memanjang mengikuti aliran sungai Batanghari ke hulu. Sekitar 5 menit dari hotel, mobil belok kiri di suatu pertigaan hingga melewati Jembatan Aur Duri II. Nodi mengatakan bahwa sebelum ada Jembatan Aur Duri II, perjalanan ke Muaro Jambi harus melewati Jembatan Aur Duri I dan jalan lain yang terletak lebih ke hilir sehingga kendaraan harus memutar dengan waktu tempuh menjadi lebih lama. Kami tiba di pertigaan jalan lama tersebut setelah mendekati kompleks percandian Muaro Jambi. Pada pertigaan ini, mobil belok kanan menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Jambi dengan Kota Muaro Jambi. Di pertigaan ini terlihat spanduk besar berisi informasi tentang candi-candi Muaro Jambi. Jarak tempuh Kota Jambi ke kompleks utama candi-candi Muaro Jambi sekitar 26 km.

Akses dari jalan mobil ke Candi Kedaton
"Itu kanal yang dibuat pada masa lalu menghubungkan sungai Batanghari dengan kompleks percandian", kata Nodi menunjuk ke sebelah kiri jalanan yang sedang kami lalui. Saya hanya mengangguk-angguk karena belum paham apa maksudnya. Sekitar 1km dari pertigaan, Nodi membelokan mobil ke kiri menempuh jalan yang lebih kecil namun telah beraspal. Mobil diparkir di suatu tempat parkir yang cukup luas dan sepi. Saat kami parkir di tempat tersebut terlihat 2 mobil lain telah parkir terlebih dahulu. Dari tempat parkir, kami berjalan ke loket penjualan karcis yang terletak di pinggir jalan depan lapangan parkir. Setelah membeli karcis, kami berjalan sekitar 100 meter ke lokasi candi-candi yang telah ditemukan dan ditata kembali. Sepanjang jalan yang kami lalui berjejer rumah penduduk yang juga dijadikan tempat jualan souvenir dan penyewaan sepeda. Pengunjung yang ingin mengeliling kompleks meggunakan sepeda dapat menyewa sepeda seharga 10ribu rupiah. Sebelum memasuki kompleks candi, kami mampir ke pos pemeriksaan tiket yang dijaga 2 petugas laki-laki. "Setelah mengunjungi candi, bisa juga mengunjungi museum jika tertarik", kata salah satu petugas. "Dimana pak", tanya saya. Petugas tersebut menunjuk ke bangunan bercat putih yang terletak puluhan meter dari pos pemeriksaan tiket. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu melangkah kembali ke jalan menuju candi terdekat dari pos pemeriksaan tiket.

Bersama Nodi di depan kompleks candi Gumpung
Saat berfoto dari jarak jauh dengan latar belakang salah satu candi, seorang laki-laki muda berbaju safari warna biru dongker datang dan memperkenalkan dirinya. "saya Atol Candi" kata lelaki tersebut sambil mengulurkan tanganya. "Saya Jo, kata saya sambil menjabat tanganya". Akhirnya saya dan Geni ngobrol dan foto-foto dengan Atol - walau namanya terdengar agak unik dan aneh bagi saya, namun saya tidak menanyakan lebih jauh hal tersebut. Atol menginformasikan adanya homestay bagi pengunjung yang ingin menginap dan berkeliling di pagi hari saat udara masih sejuk. Saya berterima kasih dan akhirnya kami bertukar nomor telpon incase ada teman atau suatu hari nanti saya ingin balik ke tempat tersebut, maka saya dapat menghubungi Atol guna menginap di salah satu homestay merasakan
Bersama Atol Candi
kehidupan pedesaan sekaligus mengeliling kompleks percandian yang memiliki luas sekitar 3 ha di pagi hari menggunakan sepeda sewaan.

Kompleks yang saya dan Nodi kelilingi lumayan luas. Dalam kompleks ini terdapat 3 candi, yakni candi Gumpung, candi Tinggi dan candi Tinggi I yang merupakan bagian dari 8 candi yang telah dieskavasi / ditata. Candi-candi ini terbuat dari bata merah kekuningan dengan lebar sekitar 10 x 20 cm. Dari ketiga candi tersebut hanya candi Gumpung yang masih berbentuk bangunan utuh tanpat atap. di salah satu depan pintu masuknya terdapat patung penjaga berwarna abu-abu yang sepertinya terbuat dari batu andesit seperti pada candi-candi di Jawa. Candi Tinggi dan Tinggi I berbentuk susunan batu bata semata. Di beberapa tempat masih terlihat serakan dan tumpukan bata yang merupakan sisa-sisa reruntuhan candi. Perbedaan dengan candi-candi di Jawa adalah candi-
Depan Candi Gumpung
candi Muaro Jambi tidak memiliki ornamen seperti lukisan dan patung. Disekitar kompleks tersebut terdapat beberapa kios dan juga tempat penyewaan sepeda yang sedang sepi. Menurut Geni, kios dan sewa sepeda akan ramai saat liburan seperti sabtu dan minggu atau hari libur lainnya. Sepertinya saya dan Nodi merupakan pengunjung pertama di kompleks tersebut, karena setelah kami berpindah ke arah museum, barulah terlihat 2 kelompok lain yang sedang berjalan-jalan di lokasi candi Gumpung yang telah selesai kami kunjungi.

Saat tiba di jalan depan museum, seorang lelaki paruh baya menyambut kami. "Ingin masuk?, tanya lelaki tersebut sambil tersenyum menyapa kami dari teras museum. "Iya pak, balas saya sambil melangkah ke bangunan museum. 2 orang tukang terlihat sibuk mengelas besi-besi panjang yang sepertinya diperuntukan bagi jendela-
Candi Tinggi
jendela museum tersebut. "Bujang", kata lelaki paruh baya tersebut sambil menjabat tangan saya dan Nodi kemudian membuka pintu museum menggunakan kunci yang dipegangnya. Pak Bujang menemani saya berkeliling ruang museum yang tidak terlalu besar. Saya melihat-lihat berbagai koleksi museum sambil mendengarkan penjelasan Pak Bujang tentang asal usul candi, sejarah penemuan dan eskavasi berbagai benda yang disimpan dalam museum sejak era Hindu, Cina dan Budha - jejak relasi dengan Cina masih terlihat dari pecahan piring dan guci porselen yang ditemukan di lokasi tersebut.

Saya menghabiskan sekitar 30 menit di museum tersebut mendengarkan penjelasan Pak Bujang yang diberikan secara gratis karena tidak ada tiket masuk. Saat saya pamit, Pak Bujang memberikan 1 buku kecil tentang candi-candi Muaro Jambi. Sebagaimana biasa dalam kunjungan saya ke berbagai tempat di Indonesia, saya meminta Pak Bujang berpose bersama saya sebagai kenang-kenangan. Kami lalu berpose di depan prasasti
Bersama Pak Bujang
pembukaan museum yang dibuat pada satu fosil kayu yang telah membatu.

Selesai dari museum, saya dan Nodi berjalan kembali ke tempat parkir. Kami berpapasan dengan 1 kelompok pengunjung baru yang sedang jalan berlawanan arah menuju museum. Atol Candi sedang duduk di pos jaga bersama petugas lainnya. "Jangan lupa nginap di sini jika ke Muaro Jambi lagi", kata Atol. "Pasti", balas saya sambil melambaikan tangan dan terus berjalan. Sebelum tiba di tempat parkir, saya dan Nodi mampir di satu kios souvenir di depan tempat parkir. Selain menjual souvenir khas candi, kios ini juga menjual berbagai jenis batu akik Jambi. Saya membeli 1 souvenir kecil dan 4 batu akik sebagai kenang-kenangan kunjungan ke lokasi tersebut sekaligus foto bersama dengan mas Suhardi yang adalah pemilik kios bersama istrinya sekaligus pedagang batu akik yang telah melanglang buana sampai Jakarta guna mengikuti pameran dan menjual batu-batu akiknya.
Bersama mas Suhardi

Sebelum kembali ke Kota Jambi, saya dan Nodi mampir ke candi Kedaton yang letaknya terpisah dari kompleks 3 candi yang telah kami kunjungi. Akses ke candi Kedaton melalui jembatan kayu kecil sepanjang 20an meter dengan lebar 1 meter. Nodi memarkir mobil di pinggir jalan utama lalu kami berdua berjalan menyusuri jalan setapak hingga masuk ke kompleks candi Kedaton yang terletak sekitar 100 meter dari jalan raya. Jembatan kayu yang kami lewati terletak di atas kanal yang dibuat para pendiri candi pada zaman dulu guna menghubungkan kompleks candi-candi tersebut dengan sungai Batanghari yang
Depan Candi Kedaton 
menjadi jalur transportasi saat itu. Saya dan Nodi melewati reruntuhan pagar bata dengan lebar sekitar setengah meter yang memagari kompleks candi Kedaton. Selain pagar berbentuk persegi empat, kompleks candi Kedaton dilengkapi 4 gerbang di 4 sisinya. Kompleks candi ini sebesar setengah lapangan sepak bola. Beberapa pohon besar terlihat menaungi kompleks yang cukup luas tersebut. Sama seperti candi lainnya yang telah kami kunjungi. Candi Kedaton terbuat dari bata merah kekuningan dengan bangunan yang juga tidak utuh lagi. Di depan candi ini terdapat semacam pelataran terbuka dari bata - mungkin saja pelataran tersebut dulunya merupakan salah satu bangunan candi. Setelah berkeliling dan mengambil foto sekitar 30 menit di lokasi tersebut, saya dan Nodi kembali ke mobil guna
Candi Kedaton
meneruskan kunjungan kami ke tempat-tempat lain di Kota Jambi.




Minggu, 06 September 2015

AMAZING INDONESIA - WONDERFUL JAMBI: Sekitaran Jembatan Gentala Arazy

Depan Menara dan Museum Gentala Arazy
Saya tidak pernah menyangka bahwa Jambi menyimpan sejumlah tempat wisata yang asyik dikunjungi dan dinikmati. Salah satunya bernama Jembatan Gentala Arazy. Saya mengetahui tempat ini secara kebetulan karena menginap di hotel Hiltop Jambi yang lokasinya hanya selemparan batu dari Jembatan ini. Jembatan in berbentuk huruf S dibangun melintasi Sungai Batanghari menghubungkan Kota Jambi dengan kampung-kampung di sebelah sungai yang biasanya diakses menggunakan perahu-perahu kecil atau jika menggunakan kendaraan bermotor maka harus memutar melalui Jembatan Aur Duri I atau II yang letaknya cukup jauh dari Hotel. Jembatan ini hanya diperuntukan bagi para pejalan kaki. Karena itu, tidak ada kendaraan bermotor yang bisa melintas karena tidak disediakan akses apapun. Kedua ujung jembatan berbentuk anak-anak tangga. Pada ujung Jembatan bagian kota Jambi terdapat tempat nongkrong sore hingga malam hari bernama Tanggo Rajo. Bagian lainnya terdapat Menara Gentala Arazy yang dibawahnya terdapat Museum Gentala Arazy. Museum ini menyediakan berbagai informasi tentang masuk dan berkembangnya Islam di Jambi serta proses pembangunan Jembatan Gentala Arazy sejak 2012 sampai 2014 sepanjang 503 meter dengan lebar 4 meter. Pada sore dan pagi
Jembatan Gentala Arazy saat sunset
hari saya mencoba menelusuri jembatan tersebut pulang pergi dari bagian Tanggo Rajo ke Menara Gentala Arazy. Sedangkan pada malam hari saya mencoba menikmati gemerlap cahaya di tiang-tiang jembatan melalui balkon bagian belakang hotel atau duduk menikmati jagung bakar di salah satu warung terbuka di tepian sungai Batanghari. Sunset di Kota Jambi juga dapat dinikmati di Jembatan ini pada kedua sisinya.

Di atas Jembatan Gentala Arazy
Saat saya menyusuri Jembatan ini di suatu sore, terlihat ratusan orang juga sedang berjalan-jalan dan foto sana foto sini di berbagai bagian Jembatan tersebut. Bahkan sekelompok penyanyi muda sedang mendendangkan beberapa lagu guna mengumpulan dana bagi rencana perjalanan mereka ke Sulawesi Tengah. Saya menggunakan kesempatan tersebut berkenalan dan ngobrol beberapa menit lalu mendonasikan 50 ribu rupiah bagi mereka. Saya juga tak lupa  meminta pengunjung lain memotret diri saya di atas Jembatan tersebut mendokumentasikan momen kunjungan saya di tempat tersebut.

Lokasi Tanggo Rajo di bawah Jembatan didominasi kuliner jagung bakar dan kelapa muda, selain bakso, mie dan lainnya. Pada sore hari puluhan anak muda nongkrong di Tanggo Rajo menunggu dan menikmati sunset sebagaimana yang saya juga lakukan di sore itu. Selain sunset, saya juga menikmati perahu-perahu
Menikmati senja Sungai Batanghari
kecil yang lalu lalang dari kedua sisi, entah mengantar orang atau nelayan yang sedang kembali ke rumahnya. Tidak ada kapal besar seperti pada sungai-sungai di Kalimantan yang berlayar melewati sungai Batanghari. Seorang karyawan hotel mengatakan ke saya bahwa pada zaman dulu, sungai Batanghari menjadi urat nadi lalu lintas perdagangan dan aktivitas warga Jambi. Namun, seiring perjalanan waktu, sungai tersebut mengalami pendangkalan parah sehingga kapal-kapal besar tidak bisa lagi melaluinya.




Saat saya mengunjungi Museum Gentala Arazy di sore hari, museum telah hampir tutup. Namun
Salah satu bagian dalam Museum Gentala Arazy
mengetahui saya datang dari Jakarta, petugas museum dengan ramah mempersilahkan saya masuk dan melihat-lihat berbagai koleksinya. Tidak ada tiket masuk ke museum alias gratis. Saat saya menanyakan mengapa tidak ada tiket masuk, sang petugas mengatakan belum ada Perda. Saya melongo sejenak kemudian melangkah masuk sambil memberikan senyum ramah ke petugas tersebut. Di dalam museum masih terdapat beberapa pengunjung yang kebanyakan anak muda, baik yang berjalan sendiri, dalam group 4-5 orang maupun yang berpasangan. Setelah menghabiskan sekitar 1 jam menikmati koleksi museum, saya mengucapkan terima kasih ke petugas jaga yang masih setia di depan pintu menunggu para pengunjung terakhir keluar.

Dari museum, saya menaiki tangga menuju area terbuka Menara Gentala Arazy. Saya mengamati dan memotret beberapa obyek, termasuk memotret Jembatan Gentala Arazy dari sisi Menara. Depan Museum merupakan area terbuka hingga gerbang yang berbatasan dengan jalan. Sebelah kiri museum terdapat relief berwarna abu-abu di tembok pembatas kompleks Museum dan Menara dengan pemukiman. Sebelah kanan area terbuka museum berderet semacam tenda-tenda berwarna putih. Saya lupa mendekati dan memeriksa area tersebut.

Tanpa terasa senja hari mulai menjejak. Secara perlahan sang matahari makin bergeser ke Barat
Aktivitas warga di Jembatan Gentala Arazy pada senja hari
ditandai perubahan warna langit dan matahari dari putih menjadi kekuningan, kuning dan akhirnya jingga saat matahari mencapai posisi ideal sunset. Setelah sunset berakhir, saya beranjak kembali ke Tanggo Rajo menyusuri Jembatan Gentala Arazy yang masih ramai oleh para pengunjung. Saat saya tiba di sisi Tanggo Rajo, lampu warna-warna penghias tiang-tiang Jembatan telah menyala dan berubah-ubah warnanya. Saya memesan jagung bakar dan kelapa muda lalu duduk menikmati sungai Batanghari di malam itu hingga puas.
Jembatan Gentala Arazy menjelang malam

AMAZING INDONESIA - WONDERFUL WEST SUMATERA: Danau Maninjau, Pantai Air Manis dan Teluk Bayur

Puncak Lawang
Setelah meliuk-liuk naik turun bukit dan lembah melewati perkampungan, hutan, persawanan hingg kebun-kebun rakyat dengan berbagai jenis tanaman, saya dan Jasman akhirnya tiba di ketinggian perbukitan Danau Maninjau bernama Puncak Lawang guna menikmati sang Danau dari ketinggian. Kami tiba sekitar jam 12 siang. Untuk memasuki lokasi menikmati danau Maninjau dari tempat saya dan Jasman saat ini berada, kami membayar tiket masuk bagi pengunjung dan juga mobil di loket gerbang masuk yang terletak di tepi jalan raya sekitar 100an meter dari tempat menikmati Danau Maninjau di ketinggian ini. Tempat perhentian kami telah dikelola dengan baik terlihat dari kebersihan dan kerapihannya. Di tempat tersebut tersedia juga penginapan dan toilet bagi pengunjung. Sayangnya langit di atas Danau Maninjau dan sekitarnya sedang berkabut sehingga foto-foto terbaik yang ingin saya abadikan dari kunjungan ke tempat tersebut tidak terdokumentasikan. Serombongan pengunjung terdiri dari beberapa perempuan dan laki-laki paruh baya nampak asyik
Danau Maninjau dari Puncak Lawang
menikmati danau dari ketinggian sambil sibuk foto sana foto sini. Di sisi lain yang agak jauh tampak pasangan-pasangan kekasih duduk menyendiri berbisik mesra sambil menatap ketenangan air danau nun jauh di bawah. 2 ibu penjual kaos oleh-oleh duduk tak jauh dari lokasi pandang tersebut sibuk mengatur barang dagangan mereka.

Saya berusaha terus mengambil beberapa foto dan juga bergantian dengan Jasman memotret diri masing-masing mendokumentasikan kunjungan kami ke tempat tersebut. Udara terasa sejuk karena langit sedang berawan dan juga tiupan angin sepoi-sepoi. Saya duduk dan berbaring beberapa menit di lokasi pandang tersebut menikmati suasana adem seperti ingin tidur saja di tempat tersebut. Setelah puas menikmati suasana, saya bangun dan berjalan-jalan mengamati tempat tersebut, termasuk memotret bunga-bunga khas
Danau Maninjau dari Puncak Lawang
daerah pegunungan yang tentunya hanya tumbuh di dataran tinggi seperti lokasi saya berada saat ini. Di samping bangunan penginapan terdapat bangunan lain sepertinya rumah penjaga lokasi tersebut berdampingan dengan toilet umum - yang saya gunakan secara gratis. Sekitar satu jam menikmati suasana sekitar dan Danau Maninjau dari ketinggian, saya mengajak Jasman turun untuk kembali ke Padang sebagaimana rencana yang telah disusun 2 hari lalu. Perut juga mulai terasa lapar, sehingga dalam perjalanan turun ke jalan raya menuju Padang, kami mampir di satu rumah makan Padang yang terletak di pertigaan jalan ke Puncak Lawang yang telah kami kunjungi, jalan ke Danau Maninjau - yang menurut Jasman sekitar 30 menit dari pertigaan tersebut - serta jalan ke Padang melalui wilayah Padang Pariaman. Setelah mengisi perut di rumah makan tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Padang dengan tujuan mengunjungi Pantai Air Manis tempat kapal Malin Kundang yang karam serta mengunjungi Teluk Bayur sebagai penutup hari dan perjalanan saya ke tempat-tempat menarik di Sumatera Barat selama 2 hari.

Reruntuhan Kapal Malin Kundang di Pantai Air Manis
Perjalanan menuju Pantai Air Manis dan Teluk Bayur harus melalui Kota Padang, karena itu saya dan Jasman kembali ke Kota Padang melalui jalur Padang Pariaman. Kami tiba di Kota Padang sekitar jam 4 sore. Saya mengatakan ke Jasman agar kami mengunjungi Pantai Air Manis terlebih dahulu kemudian menutup hari dengan kunjungan ke Teluk Bayur. Pantai Air Manis dan Teluk Bayur hanya berjarak sekitar 30 menit dari Kota Padang. Di suatu pertigaan luar Kota Padang, Jasman membelokan mobil ke arah kanan menyusuri jalan beraspal bagus yang lebih sempit dari jalan utama yang telah kami lalui dari Kota Padang. Jalan mulai mendaki dan meliuk mengikuti kontur perbukitan menuju puncak, lalu turun menuju Pantai Air Manis yang terletak di sebelah bukit yang kami susuri. Saat tiba di puncak, Jasman menghentikan mobil sejenak ditepi jalan guna memberikan kesempatan pada saya memotret satu pulau kecil di tengah lautan bagaikan dalam
Suasana Pantai Air Manis
lukisan para ahli lukis.

Setelah itu mobil kembali melaju menuju pantai nun jauh di bawah sana. Sebelum bertemu pantai, kami melewati suatu kampung yang dipenuhi rumah penduduk dan fasilitas sosial beserta papan-papan penunjuk jalur evakuasi jika terjadi bencana seperti gempa ataupun tsunami. Kami melewati gerbang yang dijaga petugas penjual karcis masuk. Setelah membayar 10ribu rupiah, mobil memasuki area pantai terbuka menuju jejeran pohon kelapa mencari tempat parkir diantara kendaraan lain yang telah terlebih dahulu tiba. Pantainya sangat landai dan terbuka. Pengendara mobil dan motor bebas mencari tempat parkir hingga tepian air. Bahkan ada yang hanya mengendari kendaraanya berputar-putar di pantai tersebut diantara pengunjung lain yang berjalan kaki dan bermain air dan mandi sinar matahari siang menjelang sore.


Suasana Pantai Air Manis
Saya turun dari mobil dan berjalan ke kerumunan pengunjung yang sedang memadati lokasi karamnya kapan Malin Kundang. Setelah melewati satu jembatan kecil dan para pedagang yang berjejer di tepian pantai bagian tersebut, saya tiba di lokasi kapal karam itu. Masih banyak sisa-sisa kapal yang telah membatu seperti guci air, tali temali hingga kayu-kayu kapal. Antara percaya dan tidak saya hanya bisa terpana mengaggumi reruntuhan kapal dalam cerita legenda Malin Kundang tersebut. Setelah mengambil foto dan berjalan-jalan menikmati suasana sekitar, akhirnya saya memutuskan kembali ke mobil guna meneruskan perjalanan ke Teluk Bayur untuk mendapatkan sunset di teluk tersebut daripada di Pantai Air Manis karena terlihat sunset masih sekitar 1 jam lagi dari posisi
Sisa-sisa Kapal Malin Kundang
ketinggian matahari saat ini.

Mobil kembali menelusuri jalan yang telah kami lalui sebelumnya. Setelah tiba di puncak, jalan mulai menurun hingga tiba di pertigaan jalan utama. Mobil berbelok ke kanan menelusuri jalan utama sekitar 20an menit. Dermaga Teluk Bayur dipenuhi kapal yang sedang berlabuh maupun sedang bongkar muat barang. Mobil terus melaju lurus menuju perbukitan di atas Teluk Bayur hingga tiba di suatu restoran di atas bukit atau tepi tebing yang menyediakan view Teluk Bayur di bawah. Air laut hanya beriak kecil karena tertiup angin sepoi-sepoi sore. Beberapa perahu nelayan terlihat melaju kembali dari
Teluk Bayur menjelang sunset
lautan menuju pelabuhan. Beberapa kapal terlihat berlabuh di lautan lepas. Saya duduk melepaskan lelah menunggu sunset menjelang di horison. Suasana sekitar sangat tenang walau kendaraan bermotor terus melaju di jalan depan restoran, namun suaranya tidak terdengar oleh saya karena seluruh perhatian dan energi saya terserap oleh keindahan tiada tara di bawah sana. Matahari terus bergerak perlahan menuju Barat menciptakan warna-warna yang terus berubah dari putih pucat, kekuningan, kuning dan jingga hingga akhirnya menghilang di kejauhan. Cahaya matahari yang hilang berganti pendaran lampu-lampu kapal dan perumahan di sekitar pelabuhan. Setelah mengambil puluhan foto, saya
Teluk Bayur saat sunset
akhirnya duduk santai menikmati keelokak lembayung senja Teluk Bayur hingga kegelapan malam memaksa saya dan Jasman harus kembali ke Kota Padang. Saya tiba di Hotel Ibis Padang sekitar jam 7 malam guna menghabiskan malam menunggu esok hari kembali ke Jakarta.

Indonesia negeri yang indah, elok dan kaya. Semuanya ada di negeri tercinta ini.
INDONESIA KEREN ABISSSS!!!.


Teluk Bayur saat sunset menghilang

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...