Senin, 21 November 2016

JELAJAH DUNIA. BEIJING: Fragrant Hills

Bagian dalam Hotel Beijing 161 Wangfujing
Setelah beristirahat sekitar 1 jam di kamar, saya mandi kemudian ganti pakaian lalu keluar hotel untuk mulai menjelajah. Tujuan jelajah saya hari ini adalah Fragrant Hill untuk menikmati perubahan warna-warni daun pepohonan di musim gugur sebagaimana yang saya lihat di internet. Dari internet pula saya mendapatkan informasi bagaimana akses ke Fragrant Hills yakni menggunakan subway kemudian disambung dengan bis. Karena saya hanya mengandalkan akses wifi di hotel untuk mendapatkan informasi online selama berada di Beijing, maka sebelum berangkat saya mempelajari terlebih dahulu rute dan stasiun subway tempat saya akan turun untuk ganti subway hingga tiba di stasiun terakhir. Setelah siap, saya meninggalkan hotel. Keluar dari pintu depan hotel, saya belok kanan menyusuri jalan gang sejauh 20an meter lalu belok kanan lagi menyusuri pedestarian jalan utama South Dongsi menuju stasiun Dongsi yang berjarak sekitar 200an meter dari belokan tersebut.

Di stasiun Dongsi saya menuju line 6 guna menumpang
subway ke stasiun Ping'anli lalu akan berganti subway / metro ke line / jalur 4 yang berakhir di stasiun Anheqiao North. Di jalur ini saya akan turun di stasiun Beigongmen yang berjarak 12 stasiun
Turun disini untuk ganti bis ke Fragrant Hills
dari Ping'anli atau satu stasiun sebelum stasiun Anheqiao North. Dengan waktu tempuh sekitar 30an menit, metro yang saya tumpangi tiba di stasiun Beigongmen. Sesuai informasi internet, saya keluar melalui pintu keluar / exit A. Saat tiba di luar stasiun, saya melihat di sebelah kiri saya terbentang jalan raya yang cukup lebar dan tidak terlalu ramai dilalui kendaraan. Kebanyakan kendaraan yang lalu lalang adalah bis-bis besar yang terlihat baru dan bersih. Pintu keluar ke jalan hanya ada satu sehingga memudahkan saya memilih jalan keluar untuk melanjutkan ekplorasi mencari halte bis yang akan saya tumpangi ke Fragrant Hills. Saya memilih arah kanan dari depan pintu stasiun subway lalu jalan lurus menyusuri pedestarian yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa dengan jalan bagi sepeda atau motor lalu jalan bagi mobil. Tidak jauh dari gerbang stasiun terdapat satu kompleks yang dipenuhi bis-bis besar berwarna biru. Di seberang jalan juga terdapat kompleks lain yang dipenuhi bis-bis besar berwarna merah dan kuning. "Sepertinya kedua kompleks tersebut adalah pool bis karena tidak terlihat penumpang naik dan turun", duga saya sambil terus berjalan dan mengamati daerah sekitar untuk membiasakan diri dengan lingkungan baru tersebut. Tiba di ujung pool bis warna biru, saya melihat seorang lelaki tua berseragam biru pucat seperti sedang berjaga di depan gerbang. Saya menghampiri lelaki tersebut mengucapkan salam dalam bahasa Cina sambil tersenyum. Sebelum lelaki tersebut menjawab, saya menunjukan foto Kuil Fragant Hills dan informasi dalam bahasa Cina tentang rute dan nomor bis yang telah saya simpan di HP. Lelaki tersebut menunjuk ke halte di jalan yang ada di sebelah kiri saya. Saya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dalam bahasa Cina lalu beranjak meninggalkan lelaki tua tersebut.

Pedestarian dari stasiun metro ke halte bis 318
Saya berjalan ke halte bis yang berjarak 100an meter dari tempat saya bertanya ke lelaki tua. Sinar matahari sore yang cukup terik tak bisa menghilangkan udara dan angin dingin yang sepoi-sepoi mengusap bagian-bagian tubuh saya yang tidak tertutup jaket tebal panjang. Sebelum mencapai halte, saya berdiri memperhatikan keadaan sekitar, termasuk bis dan orang-orang yang lalu lalang di sekitar situ. Setelah melihat beberapa kali bis 318 yang saya tunggui melintas di jalan seberang, saya memutuskan menyeberang ke halte di seberang jalan. Setelah menyeberang melalui tanda penyeberangan, saya berjalan ke sebelah kiri karena melihat banyak orang lalu-lalang di pedestarian jalan sebelah kiri yang terhubung ke jalan utama yang barusan saya seberangi. Saat saya berdiri mengamati lalu lintas di pertigaan tersebut, saya melihat papan informasi bertulisan latin menginformasikan jalan tersebut menuju istana musim panas (Summer Palace). 

Papan informasi di luar gerbang stasiun Beigongmen
Karena rencana saya adalah menjelajah Fragrant Hills, maka saya memutuskan tidak mampir ke Summer Palace karena kuatir waktunya tidak cukup. Dari tempat saya berdiri di pertigaan ini, saya melihat kios/booth pelayanan bagi turis sehingga saya menyeberang jalan menuju booth tersebut. Saat saya menyapa laki-laki paruh baya penjaga booth menggunakan bahasa Inggris, laki-laki itu menggeleng dan mengangkat tangannya alias tidak bisa bahasa Inggris. Saya balik badan dan berjalan menyusuri pedestarian jalan utama menuju halte yang berjarak 100an meter dari pertigaan. Tiba di halte, saya mengamati informasi nomor bis yang untungnya tertulis dalam huruf Latin, namun rutenya tertulis dalam bahasa Cina. Karena ada tulisan 318, maka saya menduga bis yang saya tunggu akan berhenti di halte tersebut. Setelah 10an menit menunggu dimana ada 2 bis 318 yang telah melewati halte namun tidak berhenti, saya menyimpulkan bahwa saya menuggu di halte yang salah. Saya kembali mengamati papan informasi yang juga berisi tanda panah ke 2 arah berbeda yang saling bertolak belakang. Dari tanda-tanda panah itu, saya menduga halte tempat bis 318 berhenti untuk menurunkan dan menaikan penumpang berada di seberang jalan tempat saya berdiri. Kedua halte ini berhadap-hadapan di kedua sisi jalan berbeda. Karena itu, saya kembali menyusuri pedestarian ke tempat penyeberangan di dekat pertigaan lalu menyeberang dan berjalan ke halte yang berada dalam satu garis dengan pool bis warna biru dan stasiun metro / subway.

Puluhan perempuan dan laki-laki dengan usia berbeda sedang menunggu bis di halte tersebut. Saya menghampiri sekelompok anak muda laki-laki yang sedang ngobrol. Saya menunjukan gambar dan tulisan rute serta nomor bis ke Fragrant Hills dalam bahasa Cina yang saya simpan di HP lalu menanyakan apakah halte ini merupakan halte menunggu bis ke Fragrant Hill atau halte seberang yang telah saya tinggalkan. Mereka semua tidak ada yang tahu bahasa Inggris sehingga kami berkomunikasi menggunakan bahasa tarzan sambil senyum atau ketawa-ketawa. 2 orang ibu yang sedang menunggu bis di halte tersebut ikut nimbrung mengajari saya bahasa Cina tentang nomor bis 318 yang saya ikuti dengan senang hati namun telah saya lupakan sehingga tidak bisa saya tulis di sini :).

Jalan depan stasiun Beigongmen
Saat bis 318 berhenti di halte tersebut, kedua ibu dan anak2 muda yang saya ajak komunikasi menunjuk ke bis tersebut memberikan isyarat pada saya untuk naik ke bis tersebut. Saya mengangguk mengucapkan terima kasih dalam bahasa Cina lalu berusaha naik ke bis yang penuh sesak. Bis penuh sehingga saya harus mendorong ke kiri dan kanan - "seperti naik comuter line pada pagi atau sore hari kerja di Jakarta", pikir saya - untuk mendapatkan tempat berdiri. akhirnya, saya berhasil masuk dan berdiri dekat tiang depan pintu bis yang menjadi tempat gantungan alat elektronik pembaca kartu pembayaran ongkos bis. Karena berjejalan, maka saya tidak sempat menempel kartu saya ke alat tersebut. Seorang petugas perempuan berseragam biru gelap duduk di bangku sebelah kanan bis. Petugas perempuan ini mengawasi para penumpang sekalian menerima pembayaran uang kas serta kadang meneriakan sesuatu dalam bahasa Cina ke sopir atau ke para penumpang dalam bis atau yang akan naik di halte saat bis berhenti. Alat elektronik pembaca kartu pembayaran bis tersedia di 2 tempat, yakni di depan dekat petugas dan di belakang karena bis memiliki 2 pintu di depan dan belakang. Para penumpang bisa naik dan turun melalui 2 pintu tersebut. Kartu pembayaran ditempel ke alat pembaca elektroniknya 2 kali, yakni pada saat naik dan turun. Pada saat turun, kartu tersebut memberi isyarat ke sopir atau petugas penjaga dalam bis untuk memberitahu sopir berhenti dan membuka pintu bis di halte jika ada penumpang yang akan turun. 

PKL di jalan ke gerbang Timur Fragrant Hills
Pagar stainless setinggi dada saya memisahkan area tempat petugas perempuan tersebut duduk atau sesekali berdiri dengan lorong tempat para penumpang, termasuk saya yang sedang berdiri di lorong tersebut. Di depan petugas tersebut terdapat meja kecil berukuran lebar 10-15 cm dengan panjang sekitar 1 meter tempat petugas meletakan karcis bis dan juga uang pembayaran para penumpang yang tidak menggunakan kartu elektronik sebagai alat pembayaran. "Fragrant Hills?, tanya saya ke petugas tersebut sambil  memberikan kartu saya ke petugas perempuan tsb untuk ditempelkan ke alat pembaca kartu karena posisi saya telah bergeser makin ke depan dekat sopir diakibatkan oleh masuknya para penumpang baru. Petugas tersebut hanya mengangguk sambil menerima kartu saya. Setelah menempelkan kartu ke alat elektronik yang berada sebelah kirinya, kartu dikembalikan ke saya. Karena bis makin penuh sesak - seperti naik comuter line di pagi atau sore hari jam kerja di Jakarta, maka di beberapa halte saat bis berhenti, petugas perempuan tersebut meneriakkan sesuatu dalam bahasa Cina yang membuat beberapa penumpang di halte yang akan naik membatalkan rencananya. Mungkin petugas tersebut memberitahu para calon penumpang di halte bahwa bis terlalu penuh atau meminta mereka menunggu bis berikut, duga saya.

Akses ke gerbang Timur Fragrant Hills
Setelah berhenti dan melewati belasan halte, bis berhenti di halte terakhir dimana semua penumpang berhamburan keluar saat petugas perempuan tersebut mengumumkan sesuatu dalam bahasa Cina. Saya ikut turun lalu berjalan mengikuti puluhan orang yang berjalan ke satu arah - yang saya perkirakan menuju Fragrant Hills. Tempat bis menunrukan semua penumpang hanya berjarak sekitar 10 meter dari suatu pertigaan jalan. Setelah tiba di pertigaan tersebut, saya berdiri beberapa menit  memperhatikan bis-bis dan mobil-mobil serta ratusan orang yang lalu lalang di kiri, kanan, muka dan belakang. Setelah menurukan semua penumpang, bis yang saya tumpangi kembali melaju ke pertigaan lalu belok kiri karena jalan yang akan dilalui adalah jalan 1 arah. Saya menyeberang lalu belok kanan mengikuti ratusan orang yang berjalan ke arah kanan alias berlawanan arah dengan jalan yang sedang dilalui bis atau kendaraan lain yang mengarah ke kiri. Dari pertigaan tersebut, saya berjalan  sekitar 25 meter hingga 
PKL di jalan ke gerbang Timur Fragrant Hills
tiba di pertigaan lain yang juga merupakan jalan satu arah. Di pertigaan ini saya belok kiri menyusuri pedestarian / trotoar yang cukup lebar. Trotoar ini menjadi pembatas satu taman di sebelah kiri yang dibuat memanjang sepanjang trotoar yang saya susuri dengan jalan bagi mobil di sebelah kanan saya. Sekitar 30an meter dari pertigaan, saya dan puluhan pejalan kaki berhenti menonton pertunjukan kungfu di pinggir jalan dekat taman. Seorang lelaki tua berjanggut panjang putih (seperti di film-film kungfu Cina) yang sepertinya menggunakan tenaga dalam melipat-lipat tubuhnya ke bentuk-bentuk berbeda. Para penonton bertepuk tangan lalu memberikan donasi berupa uang logam ataupun uang kertas. Saya melanjutkan perjalanan lalu mampir di toilet umum yang terletak di pinggir trotoar yang sedang saya susuri dalam jarak 20an meter dari pertunjukan kungfu tersebut. Bangunan toilet terbagi ke 2 bagian berbeda. Di bagian depan terdapat 2 ruang dimana salah satunya mempunyai pintu tertutup berwarna coklat sedangkan ruang depannya dibiarkan terbuka. Di belakang ruang terbuka ini terdapat ruang toilet bagi perempuan di sebelah kiri dan laki-laki di sebalah kanan. Pintu ke ruang toilet bagi laki-laki digantungi kain pintu berwarna hijau dengan tulisan Cina. Saat saya melangkah masuk ke bagian toilet, bau pesing menyengat hidung sangat terasa. Banyak tisu bertebaran di lantai menambah kesan joroknya toilet tersebut.

Keluar dari toilet, saya belok kiri melanjutkan perjalanan saya menyusuri trotoar hingga tiba di satu pertigaan lain yang terletak di sebelah kanan saya dan berjarak sekitar 100an meter dari tempat bis menurunkan penumpangnya. Saya memilih berjalan terus hingga tiba di pertigaan kedua yang yang berjarak sama, yakni sekitar 100 meter dari pertigaan sebelumnya. Karena trotoar dan jalan yang saya susuri mentok di pertigaan ini, maka saya belok kanan mengikuti arus manusia yang berjalan  di bagian kanan jalan tersebut. Jalan yang sedang saya susuri ini tidak memiliki trotoar sehingga saya harus hati-hati karena banyak kendaraan berupa bis dan mobil yang juga lalu-lalang di jalan 2 arah tersebut. Saya terus berjalan melewati para penjual souvenir dan makanan kecil yang terkonsentrasi di depan satu pool bis. Saya mampir beberapa menit di tempat seorang laki-laki penjual jagung rebus. Saya  membeli 2 tongkol jagung muda rebus panas seharga 5 yuan. Setelah menerima jagung rebus yang diambil dari dalam panci berisi air mendidih dan uap panas tebal yang mengepul-ngepul, kedua tongkol jagung yang telah saya beli tersebut dimasukan ke kantong plastik transparan. Saya ingin membeli jagung kuning, namun pembeli di depan saya yang mendapatkan jagung tersebut. Saat giliran saya tiba, jagung kuning telah habis sehingga saya hanya mendapatkan jenis berwarna putih. "Tak apa, yang penting bisa mengganjal perut yang mulai lapar", pikir saya sambil melanjutkan langkah kaki di jalan yang terus mendaki.

Denah kompleks Fragrant Hills
Jalan tersebut berakhir di anak-anak tangga bagian luar suatu kompleks - yang kemudian saya ketahui sebagai gerbang Timur Fragrant Hills. Gerbang keluar dan masuk masih berjarak sekitar 100 meter dari anak-anak tangga yang telah saya lewati. Di sebelah kanan saya dalam jarak 5 meter dari tangga terakhir yang saya lewati berdiri satu tugu batu bertulisan aksara Cina. Tugu batu ini dikerubuti para pengunjung yang sibuk berfoto ria. Setelah mengamat-amati lingkungan sekitar dan juga para pengunjung yang berfoto di tugu batu tersebut, saya jalan lagi hingga tiba di suatu pelataran yang cukup luas berukuran sekitar 50x150 meter. Pelataran ini berbentuk huruf U terbalik menghadap ke posisi saya yang sedang berdiri menghadap gerbang. Di bagian kanan saya berjejer bangunan kios yang membentuk huruf L dalam posisi horisontal. Jejeran kios ini berada dalam satu garis lurus dengan satu pohon besar berdaun kuning yang dikenal dengan nama smoke trees. Di belakang jejeran kios dan pohon tersebut dalam jarak sekitar 15 meter terdapat bangunan lain berbentuk huruf I dalam posisi horizontal. Di depan saya berdiri megah gerbang masuk dan keluar berwarna merah tua dengan seluruh asesoris / pernik-pernik bernuansa Cina. Di sisi kiri saya dalam jarak sekitar 25 meter dari gerbang terdapat bangunan lain berbentuk memanjang atau huruf I dalam posisi horisontal seperti bangunan tempat toilet. Salah satu bagian bangunan di sebelah kanan atau sebelah kiri saya saat saya berdiri menghadap ke bangunan tersebut difungsikan sebagai loket penjualan tiket masuk ke Fragrant Hills. Di depan gerbang berjarak sekitar 15 meter dalam satu garis lurus terdapat bukit bunga buatan yang dipenuhi bunga berbagai warna.

Tiket masuk ke Fragrant Hills
Setelah mengamat-amati lingkungan sekitar, saya berjalan menuju loket tiket yang sedang dikerumuni beberapa pengunjung. "how much" tanya saya. "fifteen", jawab petugas perempuan yang menjaga loket. Saya menyerahkan uang 100yuan lalu mendapatkan kembalian 85yuan bersama selembar tiket berukuran 5x20cm. Saya lalu balik dan melipir ke kanan saat melihat jejeran bangku taman di lokasi tersebut. Saya duduk di salah satu bangku sambil menikmati jagung rebus yang saya beli di pinggir jalan menuju ke tempat ini. Setelah selesai menikmati jagung rebus sambil mengamat-amati ratusan pengunjung yang hilir mudik di tempat tersebut, terutama yang asyik berfoto di taman bukit bunga depan gerbang, saya bangun dan melangkah menuju gerbang. Sebelum masuk, saya sempatkan berfoto di depan gerbang terlebih dahulu mumpung agak sepi. Selesai foto, saya berjalan menuju pintu masuk yang dijaga seorang petugas laki-laki dan seorang petugas perempuan. Saya menyerahkan tiket ke petugas perempuan yang menyobek salah satu sisi tiket lalu menyerahkan kembali ke saya dan mempersilahkan saya masuk.

Geunjeongjeon Hall dan jembatan di atas danau buatan

Bangunan yang difungsikan sebagai gerbang merupakan bagian dari 5 bangunan dalam kompleks tempat tinggal keluarga kerajaan / imperial residence pada era dinasti Qing. Di belakang bangunan ini terdapat 2 bangunan lain yang lebih kecil berada di sisi kiri dan kanan bangunan gerbang. Setelah itu dalam jarak sekitar 50an meter dari gerbang dalam satu garis lurus terdapat bangunan lain yang disebut Geunjeongjeon Hall. Bangunan Geunjeongjeon Hall inilah yang menjadi ikon Taman Fragrant Hills di informasi-informasi online yang saya temukan di internet. Karena itu, setelah melewati gerbang pemeriksaan tiket, saya langsung berhadapan dengan bangunan Geunjeongjeon Hall berwarna merah tua.
Geunjeongjeon Hall dan 1 dari 2 smoke trees

Bangunan ini dalam sejarah dinasti Qing digunakan sebagai tempat kerja dan pertemuan kaisar-kaisar dinasti Qing dengan para menteri mereka. "Geunjeongjeon hall dibangun tahun 1745, yakni tahun kesepuluh pemerintahan kaisar Qianlong. Bangunan asli telah dibakar habis oleh tentara gabungan Perancis dan Inggris pada tahun 1860, yakni tahun kesepuluh masa pemerintahan kaisar Xiangfen. Restorasi bangunan dan taman sekitarnya dilakukan tahun 2002-2003" (www.ebejing.gov.cn). Warna bangunan didominasi merah tua dengan garis-garis kuning emas pada pintu dan jendelanya. Bagian plang di langit-langitnya dihiasi beberapa warna lain yang didominasi warna  biru muda. Di sisi kiri dan kanan bangunan terdapat 2 pohon yang disebut smoke trees dalam bahasa Inggris. Daun-daun kedua pohon ini telah berubah warna menjadi kuning dan kemerahan.

Smoke tree
Kedua pohon smoke bersama Geunjeongjeon hall  menjadi obyek foto menarik bagi ratusan pengunjung yang berseliweran di tempat tersebut. Dalam jarak sekitar 7 meter dari bangunan setelah kedua pohon tersebut terdapat satu kolam berair jernih dan bersih.  Satu jembatan berbentuk busur terbalik selebar 2 meteran melintas di atas kolam sebagai penghubung  jalan dari gerbang masuk ke halaman depan Geunjeongjeon hall  dalam satu garis lurus. Jembatan ini menjadi tempat strategis para pemburu foto yang ingin mengabadikan diri mereka dengan latar belakang smoke trees dan Geunjeongjeon hall . Saya ikut-ikutan mengambil tempat di jembatan dan beberapa foto di lokasi ini lalu berjalan menuju Geunjeongjeon hall. Jarak Geunjeongjeon hall dari jembatan sekitar 5 meter. Geunjeongjeon hall dibangun di atas tanah yang ditinggikan sejajar dengan tinggi jembatan. Untuk Mencapai pintu Geunjeongjeon hall, para pengunjung perlu melewati 6 anak tangga yang terbuat dari semen.  Setelah melewati tangga, para pengunjung hanya bisa melihat-lihat ke dalam Geunjeongjeon hall  dari 3 pintu yang dibuka namun dihalangi pagar besi setinggi dada orang dewasa alias pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam Geunjeongjeon hall. Saat berdiri di pintu utama menghadap ke gerbang, keduanya gerbang dan pintu utama Geunjeongjeon hall berada dalam satu garis lurus. Selain akses melalui jembatan, pengunjung bisa berjalan memutari kolam ke kiri atau ke kanan menuju Geunjeongjeon hall. Di sebelah kanan saya terdapat bangunan lain berjarak 20an meter yang juga didominasi warna merah tua. Demikian juga di sebelah kiri saya. Bangunan yang disebelah kiri merupakan toko souvenir yang menjual berbagai cendera mata dengan harga lumayan mahal sehingga saya hanya masuk dan melihat-lihat alias window shopping :) saat kembali dari dalam Taman Fragrant Hill. Sedangkan bangunan yang di sebelah kiri tidak saya ketahui fungsinya karena tidak dibuka untuk umum.

Geunjeongjeon Hall, smoke trees dan toko souvenir
Puas melihat-lihat dan foto-foto di kompleks imperial residence, saya berjalan mengikuti para pengunjung lain ke arah kanan jika dilihat dari gerbang masuk atau sebelah kiri bangunan utama jika berdiri menghadap gerbang. Jalan ini berada dalam 1 garis lurus dengan kedua smoke trees berdaun indah di halaman depan Geunjeongjeon hall. Tepat di samping kanan Geunjeongjeon hall dalam jarak sekitar 1 meter berdiri tebing batu yang seperti pagar alam bagi bangunan Geunjeongjeon hall. Tebing ini membentuk pagar setengah lingkaran dari samping kanan Geunjeongjeon hall  ke bagian belakangnya. Tebing berada dalam satu garis lurus dengan toko souvenir di sebelah kanan depan Geunjeongjeon hall

Geunjeongjeon Hall, smoke trees
Di antara tebing dan toko souvenir terdapat tangga semen menuju jalan di atas tebing yang merupakan satu-satunya jalan ke bagian lain dalam Taman Fragrant Hill. Saya mendaki anak-anak tangga menuju jalan selebar 3-4 meter yang terletak di ketinggian dalam satu garis lurus dengan dinding toko souvenir di sebelah kiri saya dan tebing di sebelah kanan. Keduanya, terbing dan toko souvenir mengapit tangga tersebut. Jalan yang dibuat dari susunan lempengan-lempengan batu warna abu-abu gelap tersebut mengingatkan saya akan jalan bagi para pejalan kaki dalam kompleks tempat tinggal saya di Kalibata City. Jalan ini membawa saya dan para pengunjung lainnya ke dalam kompleks Taman Fragrant Hill. Saya tiba di suatu perempatan berjarak sekitar 75 meter dari kompleks imperial residence. Di sebelah kiri saya terpasang papan informasi setinggi pinggang orang dewasa. Papan berwarna coklat dengan tulisan putih tersebut bertuliskan aksara Cina dan Latin (bahasa Inggris) beserta tanda panah penunjuk arah memberikan kemudahan bagi pengunjung mengetahui arah dan lokasi berbagai tempat dalam Taman tersebut, antara lain seperti danau, kuil dan paviliun. 

Papan informasi dalam Taman Fragrant Hill
Kompleks imperial residence di Fragrant Hill berada dalam Taman Fragrant Hill / Fragrant Hills Park. "Taman ini berjarak 28 km dari Kota Beijing ke arah bagian Baratlaut Beijing. Luas Taman adalah 162ha dengan puncak tertinggi 558m dari permukaan laut di lokasi bernama Xianglu Peak (Incense Burner Peak). Taman ini dibangun mulai tahun 1186 pada era dinasti Jin (1115-1234) yang kemudian diperluas pada zaman dinasti Yuan dan Ming" (website travel china guide). Selain Kuil, para pengunjung juga bisa menikmati perubahan warna daun-daun pohon maple dan pohon smoke dari hijau ke kuning dan merah di musim gugur. Sayangnya setelah berjalan hampir 3 km dalam Taman, saya hanya menemukan beberapa pohon yang daunnya telah berubah kuning atau merah. Itupun dalam jarak yang berjauhan sehingga tidak menarik dijadikan obyek foto. Jalan masuk ke Taman ini ada 2, yakni dari bagian Utara atau Selatan. Saya masuk melalui gerbang Timur / East gate di bagian Selatan.

Informasi tentang Danau Jingcui
Setelah sekitar 500 meter menyusuri jalan yang terus mendaki, saya tiba di lokasi danau / lake bernama Tranquility Green (Jingcui Lake). Danau ini berjarak sekitar 50an meter dari pinggir jalan di punggung bukit pada ketinggian sekitar 30an meter. Karena danau berada di lembah, maka saya dan puluhan pengunjung berjalan turun ke danau untuk menikmati ketenangan air dan suasana sekitarnya. Danau dikeliling semak belukar dan pohon-pohon besar yang menjadi tempat berteduh ratusan burung-burung kecil yang terbang berputar-putar di danau pada waktu tertentu lalu balik bertengger lagi di pohon-pohon sekitar danau. Setengah danau dipenuhi bunga teratai yang layu dan mati sehingga tidak menarik dijadikan obyek foto. Dalam jarak ratusan meter di sebelah kiri tempat saya berdiri menghadap danau melintas satu jembatan kecil di atas danau yang menghubungkan kedua sisi danau yang dipagari dinding-dinding bukit. Saya menikmati keindahan dan ketenangan danau yang sesekali diselingi atraksi terbang ratusan burung di atas danau selama 30an menit. Setelah itu saya kembali mendaki ke jalan dan meneruskan perjalanan saya bersama ratusan pengunjung yang terus mengalir dan mengisi jalan-jalan dalam Taman itu walau hari semakin sore. Udara dingin terasa makin menggigit kulit sehingga saya merapatkan jaket, menutup kepala dan memperat syal serta memakai sarung tangan yang selalu saya bawa di kantong jaket panjang saya.

Danau Jingcui 
Setelah menempuh jarak sekitar 4 km mengikuti jalan naik dan turun dalam Taman Fragrant Hills dimana saya tidak menemukan lokasi kumpulan pohon-pohon maple yang daun-daunnya telah berubah warna menjadi merah untuk obyek foto saya sebagaimana yang saya lihat di internet, saya memutuskan pulang ke hotel. Saya tidak tahu apakah tanggal kedatangan saya tepat atau tidak untuk menemukan perubahan warna daun-daun tersebut. Namun dingin semakin menusuk dan hari semakin sore sehingga lebih baik saya pulang daripada tersesat seperti di Jepang karena pulang malam ke hotel :). Saya menyusuri jalan yang telah saya lalui kembali ke kompleks imperial residence.Saya singgah beberapa
Dalam Taman Fragrant Hills
menit di toko souvenir, namun karena harga barangnya mahal-mahal, saya hanya  melihat-lihat lalu keluar dan foto-foto lagi di depan danau buatan depan Geujeongjeon hall kemudian keluar dari pintu sebelah kanan di gerbang yang sama yang telah saya lalui saat masuk ke Taman. Tiba di luar gerbang, saya celingukan mencari toilet. Saya menuju papan informasi berwarna coklat setinggi 2 meter bertulisan putih di sebelah kanan gerbang berjarak 25an meter dari loket penjualan tiket. Toilet terletak di bangunan yang berseberangan dengan bangunan loket penjualan tiket alias berada di sebelah kiri gerbang dalam jarak 70an meter. Saya berjalan ke bangunan toilet yang melewati satu pohon besar di kiri dan jejeran kios para penjual teh di kanan dalam jarak 20an meter. Saat saya masuk ke toilet laki-laki, bau pesing menguar menerpa hidung. Toiletnya cukup luas dan besar, sayangnya dalam kondisi jorok sama seperti toilet pertama di pinggir jalan yang saya gunakan saat berjalan ke Fragrant Hills. Selain bau pesing, banyak tisu bertebaran di lantai. Saya cepat-cepat menyelesaikan kencing saya, cuci tangan di wastafel lalu ngacir keluar untuk mendapatkan udara segar. Toilet laki-laki dan perempuan bersebelahan dalam bangunan berbentuk huruf I horizontal tersebut.

PKL di jalan masuk dan keluar sebelum gerbang Fragrant Hills
Saya berjalan pulang sambil melihat-lihat jejeran kios para penjual teh. Beberapa kios dikerubuti para pembeli yang duduk minum sambil ngobrol santai dan tertawa-tawa. Saat tiba di lokasi tugu batu dan anak-anak tangga keluar kompleks tersebut, saya berhadapan dengan 2 jalan masuk dan keluar. Saya memilih jalan kiri karena jalan di bagian kanan telah saya susuri saat menuju kompleks Fragrant Hills. Jalan sebelah kiri yang saya susuri dipenuhi jejeran kios souvenir, restoran dan kios para PKL yang menjual berbagai makanan kecil, termasuk sate gurita dan sate daging babi. Saya berjalan sambil melihat-lihat dan mengambil foto. Di satu kios makanan kecil saya berhenti karena ingin mencoba sate gurita. Menggunakan bahasa isyarat tangan, saya menunjuk 1 sate gurita mentah dan menanyakan harganya. Penjual mengangkat 5 jarinya alias harganya 5 yuan atau 10ribu rupiah. "hmm, cukup mahal", hitung saya dalam hati. Namun karena saya penasaran akan rasanya, saya 
Makanan ringan dari gurita :) 
mengambil 1 tusuk sate mentah dan memberikannya ke penjual. Penjual membakar sate tersebut di tempat pembakaran yang terbuat dari besi berbentuk kotak persegi panjang sebesar 25x50cm. Kotak tersebut dipanasin bagian bawahnya menggunakan nyala api dari kompor. Sate di letakan di dalam kotak oleh penjual lalu ditekan-tekan menggunakan satu alat lain berbentuk seperti strika pakian yang juga terbuat dari besi. Setelah dibolak-balik sekitar 5 menit, penjual membubuhkan sejenis bubuk ke sate tersebut lalu menyerahkannya ke saya. Sambil berjalan saya mencoba 2 potong sate tersebut yang terasa sangat asin dan masih setengah mentah. Saya hanya makan setengah lidi sate, sisanya saya buang ke tempat sampah di jalan yang sedang saya lewati. Tiba di ujung jalan pada pertigaan yang saya telah lewati saat menuju Frgrant Hills sebelumnya, saya melihat penjual bakpau sedang mengukus bakpau di pinggir jalan sebelah kiri saya. Harum bakpau dan uap putih yang mengepul-ngepul menarik saya mendekati tempat tersebut. Saya membeli 4 bakpau yang masih mengepulkan uap panas seharga 5yuan. Satu  bakpau sebesar kepalan tangan saya terasa sangat nikmat saat potongan pertama masuk mulut. Bakpau yang saya nikmati sekaligus menghilangkan rasa asing di mulut saya karena mencicipi sate gurita setengah matang sebelumnya.

Bakpau di pinggir jalan 
Tiba di pertigaan yang berjarak 5 meter dari penjual bakpau, saya belok kiri menyusuri trotoar hingga tiba di satu pertigaan lagi yang berjarak sekitar 25 meter dari pertigaan tempat penjual bakpau. Saya menyeberang ke kanan lalu berjalan menyusuri pedestarian jalan sebelah kanan tersebut. Saya terus berjalan mencari halte bis 318 yang akan saya gunakan kembali ke stasiun Beigongmen. Puluhan orang berjalan ke arah yang sama dengan saya. Setelah berjalan sekitar 700 meter dari pertigaan, saya melihat terminal bis. Terminal berada dalam suatu kompleks tertutup yang dikeliling berbagai bangunan. Gerbang masuk dan keluarnya diberi pagar yang dijaga petugas laki-laki berseragam abu-abu. Saya terus berjalan hingga tiba di gerbang keluar bis dari dalam terminal. Tepat di sebelah kanan gerbang ini terdapat antrian manusia yang mengular hingga ke tepi jalan. Saat sedang antri, puluhan orang yang baru tiba berhamburan ke dalam terminal melalui gerbang yang pintunya dibuka karena ada bis yang akan keluar. Puluhan orang tersebut diteriaki petugas yang mengusir mereka keluar dari terminal dan sepertinya diminta antri. Sambil berjalan keluar, puluhan laki-laki dan perempuan tersebut balas meneriaki petugas menggunakan bahasa mereka.

Dalam Taman Fragrant Hills
Tempat antrian yang berada persis di sisi luar gerbang terminal tidak terlalu luas sehingga para pengantri berdesak-desakan di lokasi tersebut. Tempat antrian ini bersebelahan dengan jalan satu arah yang dijejali minivan. Para calo minivan berteriak-teriak sepertinya mengajak sekaligus menawari para pengantri maupun orang yang lalu lalang untuk naik minivan. Karena saya tidak mengerti bahasa dan arah, saya tenang-tenang saja terus mengantri. Setelah antrian agak longgar dan bergerak maju karena para calon penumpang di bagian depan telah masuk ke bis, saya sadar kalo antrian saya berada di atas trotoar yang memisahkan jalan minivan dan terminal bis. Sekitar 20an menit, saya tiba di halte yang berada di ketinggian sekitar 1 meter dari trotoar. Saya bersama calon penumpang menaiki tangga menuju halte lalu berdesak-desakan dalam halte yang diberi pagar-pagar besi berwarna putih setinggi dada saya. Pagar-pagar besi ini membentuk lorong-lorong menuju pintu-pintu halte yang terhubung ke bis-bis nomor berbeda. Nomor masing-masing bis berwarna putih telah ditulis pada papan berwarna hijau yang digantung di atas halte menghadap ke antrian para calon penumpang sehingga para calon penumpang masuk ke lorong yang pintunya menuju bis dengan nomor yang sama - seperti lorong-lorong di halte-halte transjakarta / busway. Bedanya pada halte-halte busway di Jakarta yang digunakan adalah nama tempat bukan nomor.

Depan toko souvenir
Saat saya sedang sesak-sesakan bersama calon penumpang lain dalam lorong berpagar besi di halte, seorang penumpang beradu argumen dengan petugas penjaga pintu halte. Sepertinya calon penumpang tersebut tidak puas dengan tindakan petugas yang mengizinkan beberapa calon penumpang di depan dia masuk ke bis. Saat tiba gilirannya, petugas menutup pintu halte sehingga calon penumpang tersebut tidak bisa keluar menuju bis. Keributan 2 orang tersebut menjadi bertambah ramai saat calon penumpang lain ikut-ikut nimbrung sepertinya membela calon penumpang yang pertama ribut. Di sisi lain, teman-teman petugas terminal juga ikut nimbrung sehingga terjadilah keributan dengan nada suara tinggi antara kedua belah pihak saling sambar satu sama lain. Keributan tersebut berhenti dengan sendirinya saat bis 318 yang kami tunggu tiba dan berhenti dekat pintu halte. Saat pintu halte setinggi dada orang dewasa tersebut dibuka, para calon penumpang berhamburan ke bis yang dalam kondisi kosong. Saat saya tiba di dalam bis, semua kursi telah terisi penuh sehingga saya hanya  bisa berdiri di lorong dalam bis. Bis semakin penuh sesak karena di setiap halte tempat bis menurunkan penumpang selalu ada penumpang baru yang masuk dalam jumlah lebih banyak dari penumpang yang turun. Pintu bagian belakang bis sepertinya rusak, sehingga para penumpang yang akan turun diminta turun dari pintu depan oleh petugas di atas bis. Karena saya berdiri di bagian belakang, maka secara perlahan saya mencoba bergeser ke depan mendekati pintu untuk turun. Di tengah lorong, seorang laki-laki marah-marah atau mungkin hanya mengomel dalam nada tinggi karena saya dorong ke samping. Saya mencari jalan ke depan diantara penumpang yang berdiri rapat dan berdesak-desakan agar saya bisa mendekati pintu keluar. Saya hanya bisa membalas omelan laki-laki tersebut menggunakan bahasa isyarat mencoba menjelaskan bahwa pintu belakang rusak sehingga saya harus turun dari pintu depan. Lelaki tersebut terus mengomel, namun akhirnya saya berhasil lewat mendekati pintu bis di bagian depan.

Stasiun transit subway/metro
Saat bis mendekati halte tempat saya menunggu pertama kali yang ternyata salah sehingga saya pindah ke halte seberang, saya menempelkan kartu ke alat pembaca kartu di dekat pintu bagian depan bis. Namun bis melaju melewati halte tersebut dan berhenti di halte berikut yang berjarak sekitar 250an meter dari halte tersebut. Saya dan sebagian besar penumpang turun di halte tersebut. "Huh, jika tahu seperti itu, saya tidak perlu dorong-dorongan pindah dari bagian belakang ke depan bis", pikir saya sambil menyusuri pedestarian yang cukup luas menuju tempat penyeberangan berjarak sekitar 100 meter dari halte. Di tempat penyeberangan ini saya menyeberang bersama beberapa pejalan kaki lain. Sampai di seberang, saya hanya perlu menyurusi pedestarian sekitar 50an meter menuju gerbang stasiun subway/metro dimana saya akan menumpang metro ke stasiun Dongsi untuk kembali ke Hotel Beijing 161 Wangfujing.


Selasa, 08 November 2016

JELAJAH DUNIA. BEIJING: Perjalanan Airport Internasional Beijing - Hotel Beijing 161 Wangfujing

Mentari pagi mengintip dari balik awan tebal
Pesawat Singapore Airlines melayang-layang di atas langit Beijing sekitar jam 6 pagi waktu setempat tanggal 31 Agustus 2016. Langit tertutup rapat gumpalan awan putih kelabu seperti hamparan rumput di dataran savana padang-padang lahan kering di NTT dan NTB. Seumur hidup, saya baru pernah melihat hamparan awan yang menutup rapat dataran di bawah seolah menjadi dinding horisontal pemisah bumi dan langit. Pilot mengumumkan pesawat yang saya tumpangi dari Singapura akan mendarat sekitar 30 menit lagi di Beijing International Airport. Sebelum pesawat menukik turun melewati hamparan awan tebal itu, langit pagi sedikit tersibak bagaikan tirai jendela yang disibak beberapa senti oleh tangan gaib untuk memberikan waktu bagi mentari pagi memaparkan senyuman jingga emasnya yang seolah menyapa dan menyambut ramah perjalanan jelajah saya ke Beijing. Hanya beberapa menit kemudian, sang mentari pagi kembali menghilang dengan kembali tertutupnya tirai langit Timur.

Dataran Beijing dari jendela pesawat
Setelah melewati sekat awan horisontal, pemandangan di bawah langit berubah dengan kehadiran hamparan lahan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman, aliran sungai bagaikan liukan ular raksasa dan juga jalan-jalan yang cukup lebar dan lenggang serta bangunan-bangunan vertikal dan barisan pegunungan di horison bersama balutan kabut pagi menunggu matahari pagi menyapa hangat. Pesawat Singapore Airlines yang saya tumpangi terus bermanufer mendekati bandara yang mulai nampak samar dari ketinggian hingga mendarat mulus 20an menit kemudian. Pesawat sempat berhenti sesaat dalam perjalanan ke tempat parkir karena menuggu antrian sebagaimana diumumkan pilot sambil meminta maaf. Dari jendela pesawat saya melihat kabut menyelimuti bandara yang cukup luas dan sepi. Setelah berada dua hari di Beijing baru saya tahu bahwa kabut yang selalu menggantung di langit Beijing adalah polusi udara yang sangat parah. Polusi udara itu telah  mengakibatkan banyak penduduk Beijing menderita penyakit radang tenggorokan dimana mereka selalu berdahak dengan keras di tempat-tempat publik saat saya menjelajah berbagai tempat di kota tersebut.

Beijing international airport
Setelah pesawat parkir di tempat yang ditentukan, para penumpang dipersilahkan meninggalkan pesawat melalui 2 pintu berbeda yang membawa para penumpang ke bangunan terminal. Saya mengikuti para penumpang lain berjalan melewati garbarata (jalan penghubung antara pesawat dengan bangunan terminal) hingga tiba di bangunan terminal lalu belok kanan mengikuti tanda-tanda panah dan arahan tertulis dalam bahasa Cina dan Inggris yang menggunakan 2 jenis huruf juga, yakni Cina dan Latin. Saya mampir terlebih dahulu ke toilet yang berada di sisi kiri lorong dalam bangunan terminal yang sedang saya susuri bersama para penumpang lainnya. Di toilet airport, saya mulai menduga bahwa semua toilet di Cina hanya menggunakan tisu kering untuk cebok, bukan air ataupun tisu basah. Untuk itu saya harus mulai membiasakan diri karena saya akan berada di Beijing selama 6 hari.

Keluar dari toilet, saya belok kiri lalu berjalan lurus hingga tiba di area yang diberi batas tali plastik dan panah penunjuk arah agar saya ataupun penumpang lain belok kiri menuju tempat pemeriksaan passport yang berada sekitar 10an meter dari tempat saya berdiri dan mengamat-amati airport tersebut sekaligus mengambil beberapa foto. Setelah itu saya belok kiri menuju area pemeriksaan paspor dimana para
Ketebalan awan menutup langit Beijing
penumpang telah berada dalam antrian panjang yang dibuat berputar-putar. Jalur antrian ini dibagi dalam 3 kelompok, yakni antrian pemeriksaan paspor para penumpang warga Negara asing yang transit dan mampir di Beijing, pemeriksaan pasport warga Negara asing yang berkunjung ke Beijin, termasuk saya tentunya yang berasal dari Indonesia, serta pemeriksaan pasport warga negara Cina. Antrian di pemeriksaan paspor warga Negara asing yang akan masuk ke Beijing atau Cina sangat panjang, karena hanya ada satu antrian yang dibuat berputar-putar. Di ujung antrian dalam jarak sekitar 3 meter dari loket pemeriksaan, para pengantri bisa memilih untuk antri berbaris di 3 loket yang di buka dari 6 loket yang ada. Antrian di pemeriksaan pasport bagi warga negara Cina selesai lebih cepat sehingga kadang-kadang petugas membuka tali pembatas guna memindahkan
Hall belakang konter pemeriksaan paspor
sebagian pengantri di antrian warga Negara asing ke bagian pemeriksaan paspor bagi warga negara Cina. Setelah berada sekitar 1 jam dalam antrian pemeriksaan paspor bagi warga asing yang akan masuk ke Cina, saya akhirnya tiba di depan salah satu loket pemeriksaan pasport yang dijaga seorang lelaki muda berkaca mata. Tak sampai 5 menit, paspor saya telah dicap dan dikembalikan sehingga saya berjalan melewati loket pemeriksaan melalui samping kiri loket ke bagian belakangnya yang membawa saya ke suatu area terbuka dalam bangun terminal tersebut. Mengikuti arah panah dan petunjuk arah dalam bahasa Inggris, saya turun ke lantai bawah menggunakan eskalator. Di lantai ini, saya dan semua pengunjung ataupun warga negara Cina yang kembali ke negaranya harus menggunakan kereta yang mengantar kami ke terminal 3C dimana kami bisa menggunakan berbagai moda transportasi menuju Beijing ataupun tempat-tempat lain di Cina.



Ketika masih berada di dalam pesawat, saya telah mendapatkan informasi cuaca di Beijing, yakni 0 derajat celsius pada hari pertama saya berada di Bejing. Saat keluar dari pintu pesawat, udara dingin
Tempat kereta antar airport
Beijing langsung menyergap. Beruntung saya telah mempersiapkan diri dengan syal dan jaket sehingga perubahan udara yang sangat drastis itu tidak membuat saya shok dan mengigil. Hampir semua penumpang menggunakan jaket-jaket tebal dan topi ataupun kupluk penutup telinga. Beberapa menggunakan syal dan sarung tangan agar menjadi lebih hangat. Udara dingin itu terus menyergap hingga saya masuk ke kereta yang akan mengantar saya dan penumpang lainnya berpindah dari terminal kedatangan ke terminal 3C. Sekitar 10 menit kemudian kereta berhenti di terminal 3C. Semua penumpang turun dan berjalan menuju pintu keluar mengikuti tanda panah dan petunjuk arah dalam bahasa Inggris dan Cina. Para penumpang yang menitipkan koper atau barang bawaannya ke bagasi pesawat, termasuk saya mampir terlebih dahulu di bagian pengambilan bagasi yang diberi nomor dan juga nomor pesawat. Semua bagasi pesawat Singapore airlines yang saya tumpangi berada di ban berjalan nomor 13. Setelah mengambil koper di ban berjalan, saya keluar dari antrian dan berjalan menuju pintu keluar mengikuti tanda-tanda panah yang menunjuk arah keluar / exit. Sebelum tiba di pintu keluar, koper dan ransel kamera harus saya lewatkan di mesin Xray yang dijaga 2 petugas berseragam biru dongker dilengkapi topi dan jaket tebal panjang berwarna senada.

Ketebalan awan yang menutupi langit Beijing
Setelah melewati area mesin Xray, saya terus berjalan beberapa meter hingga tiba di pintu keluar. Saat kaki saya melangkah keluar pintu, saya masuk ke area terbuka terminal yang diberi pagar pembatas setinggi dada orang dewasa guna mencegah para penjemput menutupi area pintu dan jalan keluar- pagar pembatas dari stainless itu membentuk lorong selebar 1 meter dengan panjang sekitar 10an meter berbentuk huruf L ke arah kanan. Setelah melewati lorong tersebut, saya tiba di area terbuka belakang bangunan terminal berlantai 2 berdinding kaca transparan sehingga pelataran tersebut terang benderang. Sekitar 50an meter dari pintu keluar itu terdapat suatu tangga berjalan ke lantai 2 bangunan terminal. Saya berdiri sejenak mengamati suasana sekitar sekaligus mencari penunjuk arah ke area kereta api atau disebut airport express yang telah saya peroleh informasinya dari internet. Saya berencana akan menggunakan airport express dari airport ke kota Beijing yang berjarak 28km dari airport.

Sebagian Beijing dari pesawat
Saya melihat penunjuk arah dan juga tanda-tanda panah mengarahkan saya ke beberapa pilihan. Saya berjalan ke arah eskalator terlebih dahulu dengan asumsi stasiun airport express berada di lantai 2 bangunan terminal. Namun saat saya masih berjarak sekitar 5 meter dari eskalator, saya melihat tanda panah dengan petunjung airport express menunjuk ke arah saya alias saya berjalan ke arah yang salah. Karena itu saya berbalik dan mengamat-amati lagi daerah sekitar hingga menemukan tanda panah bertuliskan airport express menunjuk ke belakang bangunan terminal tempat saya sedang berada dan sedikit bingung. Ternyata tanda-tanda panah penunjuk arah tidak hanya tersedia di tiang-tiang vertikal berwarna kebiruan, tapi juga di lantai terminal. Mengikuti tanda panah tersebut, saya berjalan ke belakang bangunan terminal menuju meja informasi yang dijaga seorang petugas lelaki muda berkaca mata dan memakai setelan jas warna gelap dengan kemeja putih dan dasi berwarna senada dengan jasnya. Saya ingin menanyakan sekaligus mendapatkan ketegasan arah ke stasiun airport express. Petugas tersebut sedang melayani tamu lain dimana ada 2 orang lagi yang sedang antri di depan saya. Saya memutuskan melewati saja meja informasi dan berjalan melewati pintu selebar 5 meteran memasuki bangunan penghubung berupa lorong panjang selebar 10an meter yang dilengkapi eskalator. Lorong sepanjang 50an meter tersebut membawa saya ke bangunan stasiun kereta airport express yang tersambung dengan bagian belakang bangunan airport. Melewati pintu bangunan penghubung atau lorong, saya tiba di bangunan stasiun yang dilengkapi meja informasi berbentuk setengah bulat setinggi dada orang dewasa yang dijaga seorang petugas perempuan berseragam biru dongker seperti seragam petugas informasi di dalam bangunan airport yang telah saya tinggalkan. Di bagian kiri saya terhampar pelataran kosong, sedangkan di bagian kanan saya dalam jarak sekitar 10 meter berjejer 2 mesin penjualan tiket kereta sebesar mesin sejenis di stasiun Sudirman - Jakarta. Kedua mesin tersebut berjejer di batas dinding stasiun. Dalam jarak 1 meter dari kedua mesin tersebut terdapat loket pernjualan tiket yang dijaga seorang petugas perempuan berkacamata memakai seragam berwarna sama dengan kedua petugas informasi yang telah saya lewati. Saya menghampiri loket tersebut mengucapkan selamat pagi dalam bahasa Inggris lalu mengutarakan niat saya membeli tiket.





Sebagian Beijing dari pesawat
"Which one, the airport ticket express or Beijing smart card", tanya petugas menggunakan bahasa Inggris. "Which is the best one, tanya saya untuk memastikan informasi yang telah saya peroleh di internet. "Beijing smart card can be used for the airport express, subways and busses, meanwhile the airport express card only for the airport express train", balas si petugas. "the smart card, please, balas saya sambil memberikan uang kertas 100 yuan yang telah saya bawa dari Jakarta. "20yuan for deposit" kata si petugas. "Alright, balas saya. "Your passport, please", lanjut petugas. Saya menyerahkan paspor dan uang yang diambil petugas tersebut. Saya melihat petugas mengetik sesuatu di komputer dalam bahasa Cina, lalu muncul print out tanda terima pembelian kartu. Petugas mengambil tanda terima tersebut dari printer lalu menyerahkan ke saya bersama Beijing smart card dan pasport saya. Beijing smart card merupakan kartu tipis berwarna biru tua dengan 3 strip seperti sayap burung berwarna kuning, hijau dan orange. Pada sisi sebelahnya, warna kartu didominasi putih dengan lengkungan warna biru di bagian atasnya. Kedua sisi dilengkapi tulisan Cina. Sedangkan tulisan bahasa Inggrisnya berjudul "travelchinaguide.com".


Suasana dalam kereta airport express
Saya putar balik menjauhi loket sekitar 5 meter lalu berdiri sejenak untuk menyimpan kembali passport saya ke tas pinggang yang selalu saya pakai dalam perjalanan jelajah ke luar Indonesia. Setelah itu saya berjalan lurus dan belok kanan menuju area kereta api airport express yang dijaga 2 petugas berjaket tebal di kiri dan kanan pintu masuk. Pintu masuk ke area peron kereta terdiri dari 4 tiang berukuran 20x20cm setinggi perut orang dewasa. Keempat tiang tersebut membentuk 3 pintu masuk ke peron. Pada sisi dalam antara kedua tiang tersebut terdapat palang di kiri dan kanan berbentuk seperti sayap unggas berwarna orange yang menutup celah terbuka selebar 75cm antara kedua tiang. Saya menempelkan Beijing smart card ke bagian bertanda kartu di bagian atas salah satu tiang. Kartu tersebut membuka kedua penghalang secara otomatis. Saya berjalan melewati palang menuju kereta yang telah berada di lokasi tersebut. Saya masuk ke salah satu gerbong lalu duduk di salah satu kursi kosong berwarna biru. Kereta tidak terlalu penuh sampai dengan keberangkatan sekitar 5 menit kemudian dari waktu saya masuk dan duduk. Dari terminal 3, kereta menuju terminal 2 untuk menurunkan dan menaikan penumpang di terminal tersebut lalu melanjutkan ke stasiun Sanyuanqiao sebelum menuju stasiun akhir di Dongzhimen. Dari stasiun Dongzhimen saya berganti kereta ke stasiun Dongsi yang adalah stasiun subway terdekat dengan hotel tempat saya menginap selama berada di Beijing.


Stasiun Dongzhimen saat turun dari kereta airport express
Setelah menempuh waktu sekitar 30an menit, kereta airport express tiba di stasiun Dongzhimen. Saya keluar dari kereta dan berjalan dalam stasiun sambil mata saya mencari petunjuk ke line / jalur 2 menuju stasiun Chaoyangmen yang berjarak 2 stasiun dari stasiun Dongzhimen - sebagaimana informasi yang telah saya peroleh dari internet. Di stasiun Chaoyangmen, saya akan berganti kereta ke jalur 6 menuju stasiun Dongsi. Untuk berganti jalur di dalam stasiun Dongzhimen, saya harus berjalan melewati lorong-lorong panjang dan tangga atau eskalator. Saya menghabiskan sekitar 30an menit dari stasiun Dongzhimen hingga tiba di stasiun Dongsi. Karena saya hanya membawa ransel kamera dan koper kecil, maka saya tidak mengalami kesulitan saat berpindah jalur melewati berbagai lorong panjang dan juga tangga atau eskalator. Saat tiba di stasiun Dongsi, saya hanya perlu berjalan mengikuti tanda panah ke pintu keluar / exit C. Tanda panah mengarahkan saya naik tangga lalu belok kanan kemudian berjalan lurus lalu belok kiri dan sekali lagi belok kiri. Saat tiba di ujung lorong, saya hanya mendapatkan tanda bertuliskan exit D dan E. Exit C tempat saya akan keluar menghilang begitu saja. 

Suasana di dalam stasiun Dongsi
Setelah celingukan beberapa saat saya memutuskan bertanya ke loket yang dijaga seorang petugas perempuan muda berkacamata dan berseragam biru dongker. Perempuan ini duduk membelakangi ujung lorong yang berhadapan dengan tangga dan eskalator dimana diatasnya tergantung papan informasi berwarna pink dengan tulisan line / jalur 5. "Where is exit C", tanya saya ke petugas di loket dari arah sampingnya. "Down stairs", balas petugas sambil menoleh ke arah saya yang berdiri di luar loket". "Thanks" balas saya sambil mengangguk dan berjalan ke tangga yang menunjukan arah ke jalur 5. Saat tiba di akhir tangga, saya melihat papan informasi exit C terpampang di ujung lorong stasiun dalam jarak sekitar 50an meter dari ujung tangga tempat saya turun. Saya berjalan lurus ke papan informasi yang digantung di atas tangga dan eskalator yang berada di sebelah kanan tangga dari arah saya. Saya menggunakan eskalator di bagian tersebut menuju lantai atas. Tiba di lantai atas dalam jarak sekitar 15 meter berjejer palang-palang penghalang pintu keluar dimana setiap orang yang akan keluar harus menempelkan kartu masing-masing untuk membuka palang penghalang. Saya menempelkan kartu saya lalu berjalan melewati palang penghalang yang terbuka secara otomatis.



Lorong2 panjang pindah jalur atau keluar
Setelah melewati palang penghalang, saya belok kiri menyusuri lorong sepanjang 50an meter hingga tiba di ujung lalu belok kiri lagi berjalan menyusuri lorong sepanjang 20an meter lalu menggunakan eskalator ke lantai atas. Eskalator setinggi 20an meter tersebut membawa saya tiba di depan pintu keluar masuk stasiun di atas tanah. Keluar dari bangunan stasiun, saya berhadapan dengan jalan raya selebar puluhan meter dalam jarak sekitar 10 meter dari pintu stasiun. Saya berjalan ke sisi kiri pintu untuk membiasakan diri dengan udara yang lebih dingin dan juga suasana sekitar. Mata saya melihat papan-papan nama jalan berwarna dasar biru dengan tulisan putih. Di hadapan saya adalah jalan Dongsi east / timur.  Dalam jarak sekitar 50an meter di sebelah kiri saya terdapat perempatan yang menghubungkan Dongsi east dengan west dan Dongsi north dengan south. Berbekal informasi dari internet, saya belok kiri berjalan menjauhi stasiun hingga tiba di pedestarian jalan Dongsi south selebar 5 meteran. Saya belok kiri berjalan menyusuri Dongsi south hingga sekitar 150an meter lalu menyeberang ke sisi sebelahnya. Di sisi ini saya berjalan lurus sekitar 50an meter melewati satu gang yang terhubung ke jalan Dongsi south.

Pintu masuk / keluar C stasiun Dongsi 
Setelah melewati mulut gang tersebut, saya berhenti sebentar mengamat-amati suasana sekitar lalu memutuskan bertanya pada seorang laki-laki  muda berseragam hitam dof dan memakai topi warna sama. Saya menunjukan alamat hotel di HP dalam bahasa Cina yang telah saya siapkan dari Jakarta. Laki-laki tersebut menunjuk ke dalam gang. Saya mengucapkan terima kasih dalam bahasa Cina lalu berjalan memasuki gang. Setelah menempuh jarak sekitar 20an meter sekali lagi saya menunjukan alamat hotel di HP ke seorang perempuan paruh baya yang berdiri di depan satu warung kelontong. Perempuan tersebut menunjuk arah sebaliknya yakni satu gang lain yang berada di seberang jalan Dongsi south yang telah saya tinggalkan. Saya mengucapkan terima kasih lalu putar balik berjalan kembali ke jalan raya sambil melirik ke petugas tadi. Karena tidak ada lampu penyeberangan, saya mengamat-amati terlebih dahulu cara orang-orang setempat menyeberang. Karena semua kendaraan berjalan di bagian kiri, maka saya harus memperhatikan dan mewaspadai bagian kiri saya. Saat mobil-mobil berjarak cukup jauh, saya menyeberang hingga tiba di tengah jalan. Saya berdiri di tengah jalan menunggu mobil-mobil di sisi sebelah ini berjarak cukup jauh lalu saya cepat-cepat menyeberang. Saat tiba di sisi sebelah jalan, mata saya telah melihat papan nama hotel 161 dalam warna merah terang berjarak sekitar 10 meter dari pinggir jalan raya dalam gang yang akan saya masuki. Ternyata lokasi hotel berada di sisi jalan yang sama dengan stasiun subway / metro Dongsi yang dapat ditempuh dalam waktu 5menitan jalan kaki dari hotel ke stasiun atau sebaliknya. 



Hotel Beijing 161 Wangfujing
Udara terasa hangat saat saya tiba di dalam hotel. Saya menghampiri meja resepsionis di sebelah kiri berjarak sekitar 5 meter dari pintu masuk keluar hotel. Saya berdiri menunggu giliran karena resepsionis sedang melayani tamu lain. Jam saya menunjukan jam 10 pagi alias jam 11 pagi waktu Bejing. Artinya saya telah menghabiskan waktu sekitar 4 jam dari airport hingga tiba di hotel. Setelah kedua perempuan tamu tersebut selesai, saya maju dan mengatakan ke resepsionis laki-laki muda berkacamata bahwa saya akan check in. Saya mengatakan bahwa saya telah booking melalui booking.com. Saya mengeluarkan passport dan memberikan ke resepsionis yang membuka dan melihat ke halaman identitas lalu mengambil satu kertas print out di rak yang berada di belakangnya. Kertas print out tersebut adalah konfirmasi bookingan saya melalui booking.com. "Yes, that is me", kata saya ke resepsionis tersebut mengkonfirmasi ulang. Resepsionis meminta passport saya untuk difotocopy, lalu meminta uang pembayaran 5 malam selama saya berada di hotel tersebut bersama deposit sebesar 200yuan yang akan dikembalikan saat saya check out. Saya menyerahkan semua yang diminta. Selesai mengcopy passport dan membuat tanda terima pembayaran bersama deposit, petugas menyerahkan 2 kunci berbentuk kartu. Satu kartu untuk mengaktifkan listrik untuk lampu, ac dan tv, satu lagi untuk masuk keluar pintu penghubung dan kamar. Walau baru jam 11 pagi, namun saya telah bisa masuk kamar lebih awal dari aturan hotel tentang waktu check in pada jam 2 siang. Seorang staf laki-laki mengantar saya ke kamar 503 di lantai paling atas, yakni lantai 4. Kami melewati tangga-tangga yang diberi karpet berwarna merah. Karena orang Cina pamali terhadap angka 4, maka semua kamar  di lantai 4 hotel diberi penanda nomor 5.
Hotel Beijing 161 Wangfujing yang adalah tempat menginap saya selama di Beijing

Bersambung

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...