Sunday, October 26, 2014

MYANMAR: ONCE UPON A TIME. Bagian VII - Bagan: Shwe Zi Gone Pagoda, Shwe Lattoo, Htilominlo dan Ananda temples

Bersama Ou dan Pedatinya
Hallo sir, my name is Ou, demikian kusir pedati memperkenalkan dirinya saat saya menghampiri sesuai arahan staf hotel. Pedati milik Ou merupakan pedati yang akan saya gunakan berkeliling Bagan hari ini. Sesuai rencana, pada hari pertama saya akan mengunjungi beberapa kuil dan pagoda menggunakan pedati, sedangkan pada hari kedua akan menggunakan jasa taksi milik Coco / Jojo (baca bagian VI). Saya menyalami Ou sambil menyebutkan nama saya kemudian mengajak Ou duduk di lobi hotel guna mendiskusikan rute dan kuil serta pagoda yang akan saya kunjungi menggunakan jasa pedatinya. Ou membuka peta yang dibawa lalu menunjukan kepada saya rute, pagoda dan kuil yang akan kami kunjungi. Dari hotel saya akan diantar ke Pagoda Shwe Zi Gone sebagai tempat kunjungan pertama. Dari Zi Gone, kami menuju Shwe Lattoo lalu ke Htilominto, Ananda Temple, Thatbyinyu, Shwegugyi, Mahabodi dan berakhir di Bulathe Pagoda guna menikmati sunset dari puncaknya.

Shwe Zi Gone Pagoda
Pagoda Shwe Zi Gone hanya berjarak sekitar 1 km dari hotel. Dari hotel, pedati yang saya tumpangi mengambil jalan ke kanan menyusuri jalan beraspal hingga bertemu jalan yang pagi tadi saya lalui dari airport. Dari jalan tersebut telah terlihat Pagoda Shwe Zi Gone yang berwarna keemasan. Pedati menyeberangi jalan memasuki suatu lapangan terbuka - seperti lapangan bola yang berdebu pasir halus berwarna kecoklatan. Beberapa stupa terbuat dari bata berdiri tegak berserak di area tersebut. Pedati terus melaju menuju ujung lapangan terbuka yang dikelilingi oleh jalan berukuran lebih kecil. Saat tiba di ujung area terbuka tersebut terlihat 2 perempuan Bagan memakai longi dan wajahnya berbedak tanaka berdiri seperti menyambut pedati yang saya tumpangi - salah satunya menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar 2 tahun. Ou menunjukan jalan masuk yang harus saya lewati menuju kompleks pagoda. Kedua perempuan yang menunggu tersebut menghampiri saya saat saya telah turun dan berjalan ke arah jalan masuk yang ditunjukan Ou. Keduanya berlomba memperkenalkan diri masing-masing sambil mengajak saya masuk ke semacam pendopo panjang yang merupakan jalan masuk ke pagoda. Keduanya meminta saya melepaskan sandal dan meninggalkannya di depan pintu masuk. Mereka mengatakan akan menjaga sandal tersebut sampai saya kembali dari pagoda. Ternyata kedua perempuan tersebut merupakan bagian dari sejumlah pedagang souvenir yang menggelar dagangannya di lantai pendopo berjejer sampai ke batas dengan satu aula berwarna putih yang menghubungkan pendopo para penjual tersebut dengan kompleks pagoda. Perempuan yang menggendong anak berusaha menyematkan satu bros kupu-kupu ke baju saya, namun saya menolak sambil tersenyum. Perempuan itu dengan gigih menawarkan dagangannya, namun secara halus saya tolak sambil ternsenyum mengatakan bahwa tujuan saya adalah mengunjungi pagoda, bukan berbelanda. Akhirnya perempuan tersebut menyerah dan membiarkan saya berlalu menyusuri pendopo menuju ke kompleks pagoda. 

Tangga ke dalam Pagoda (tertutup bagi turis
Saya berjalan melewati bangsal berwarna putih dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar 7 meter. Saat saya keluar dari bangsal tersebut terhampar bangunan Pagoda Shwe Zi Gone berwarna keemasan dan sangat menyilaukan karena teriknya sinar matahari. Beberapa turis bule dan lokal terlihat berseliweran, namun memilih berjalan di bawah bayang-bayang kuil-kuil yang mengeliling pagoda tersebut. Untuk berpindah dari satu kuil ke kuil lain, saya harus agak berlari guna meminimalkan rasa terbakar di telapak kaki karena harus menapak di atas pasir atau keramik yang panas dan memantulkan sengatan sinar mentari di siang itu. Saya terus menerus mencari berbagai posisi pengambilan foto sambil berpindah secara bertahap mengeliling pagoda sampai saya tiba kembali di pintu masuk. Saya beristrahat sejenak pada satu kuil yang didirikan diantara bangsal dan pagoda.

Hembusan semilir angin sangat menyejukan dan mengurangi panas terik yang terus menyengat menyebabkan keringat terus menerus mengalir dari berbagai bagian tubuh. Saat keringat telah berhenti, saya bangun dan kembali menyusuri bangsal lalu masuk ke pendopo yang diisi para pedagang. Perempuan yang menyambut saya pada saat kedatangan kembali menghampiri saya untuk menawarkan barang dagangannya dengan harga yang lebih murah. Namun saya tetap gigih menolak secara halus. Melihat kegigihan saya, perempuan tersebut menunjuk anaknya sambil mengatakan dia mencari uang untuk makan anaknya. Saya tetap gigih menolak sambil berjalan keluar, memakai kembali sandal saya yang terletak di luar pintu lalu berjalan ke arah pedati yang sedang menunggu di bawah naungan satu pohon besar di pinggir jalan yang menjadi pembatas antara lapangan terbuka dengan pendopo dan kompleks pagoda. 

Salah satu kuil di sekitar Kuil Shwe Lattoo
Ou tersenyum menyambut kedatangan saya. Saya kembali menaiki pedati lalu Ou memutar kendaraan tersebut ke kiri menyusuri jalan beraspal yang berlubang di sana sini kembali ke jalan besar dalam arah yang berlawanan dengan arah kedatangan sebelumnya. Sambil berjalanan, Ou berbicara dengan kuda penarik pedati - yang sepertinya meminta kuda tersebut mempercepat jalannya. Saya diam saja sambil mengamati kiri dan kanan jalan yang dipenuhi serakan bangunan kuil, pagoda dan stupa yang terbuat dari bata merah. Semua bangunan tersebut menyembul di antara pepohonan dan semak belukar serta rerumputkan yang mulai berwarna kecoklatan karena musim panas di negeri tersebut. Hamparan pepohonan, semak dan rerumputan tersebut mengingakan saya ke padang-padang sabana kampung halaman di Timor. Serakan bangunan kuil, pagoda dan stupa  tersebut juga mengingatkan saya ke beberapa candi kecil di negeri sendiri yang sering ditayangkan televisi-televisi nasional - yang belum pernah saya kunjungi - mungkin pada suatu hari nanti, saya akan mengunjungi warisan sejarah negeri sendiri guna mengagumi juga karya para leluhur bangsa yang sangat luar biasa tersebut. 

Satu-satunya Patung Budha dalam Kuil Shwe Lattoo
Sekitar 10 menit kemudian kami tiba di lokasi kunjungan kedua. Shwe Lattoo merupakan kuil kecil yang semuanya terbuat dari bata merah. Kuil ini dikelilingi oleh puluhan kuil dan stupa yang menyembul dari pepohonan dan semak belukar. Kuil ini hanya memiliki satu ruangan dimana pada ujung dalam ruangan tersebut terletak satu patung Budha dalam posisi duduk berwarna kelabu dimakan usia. Dinding kuil dihiasi berbagai lukisan yang mulai kabur dimakan zaman. Di dalam kuil terdapat 3 orang pembuat lukisan pasir (sand painting). Pelukis yang lebih muda bertindak sebagai guide yang menceritakan sejarah dan seluk beluk kuil tersebut. Saya diajak naik ke atap kuil melewati tangga bata yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Karena tangga ke atap itu sangat terjal dan gelap, guide berjalan di depan menggunakan lampu baterai agar saya bisa melihat dan melewati anak-anak tangga. Perkiraan saya, pengunjung berbadan besar tidak akan bisa ke atap karena lorong bertangga tersebut sangat sempit apalagi saat akan berbelok ke atap, pengunjung harus sangat membungkuk seperti akan merayap guna melewati pintu atas ke atap. Saat kepala saya menyembul di atap, sengatan sinar matahari
View dari atas Kuil Shwe Lattoo
langsung menyergap. Atap yang terbuka tersebut juga langsung menerima sinar matahari dengan suhu sekitar 38 derajat selsius - mengingatkan saya pada kunjungan ke Cordoba - Spanyol dengan suhu siang hari yang hampir sama. Saat kaki menapak atap, panasnya seperti membakar telapak saya sehingga saya harus menggunakan satu kaki bergantian secara cepat guna sedikit mengurangi sengatan rasa terbakar. Saya diajak masuk ke stupa di puncak yang merupakan penutup kuil tersebut - yang memiliki jendela terbuka ke 4 arah mata angin sehingga saya bisa menikmati sebaran kuil, pagoda dan stupa-stupa di sekililing kuil tersebut. Saya berjalanan mengelilingi ruangan stupa sambil mengambil beberapa foto. Saya sempatkan juga keluar ke arah belakang lalu memutar ke kanan melewati penampang di atap selebar 30an cm lalu merayap melewati satu lubang yang ukurannya sangat pas di badan saya yang memisahkan stupa dan salah satu tiang atap di belakang kuil. Setelah mengambil beberapa foto, saya lalu berjalan kembali ke depan dan sekali lagi harus merayap melewati lubang untuk berpindah ke hamparan datar di bagian depan.
View dari Kuil Shwe Lattoo
Karena hamparan pada atap depan ini terbuka dan di beberapa bagian telah dilapisi semen,  mungkin untuk menutupi keretakan maka suhunya sangat panas. Walau demikian, saya tetap berusaha mengambil beberapa foto lagi sebelum turun. Saat turun, saya harus sangat hati-hati karena tangga sempit dan terjal tersebut ternyata lebih sukar dilalui saat turun daripada naik. Akhirnya saya tiba kembali ke ruang utama kuil.

Guide yang mengantar saya berkeliling sekaligus pelukis tersebut menawarkan beberapa lukisan pasirnya - yang sangat indah. Namun saya harus mempertimbangkan dimana akan meletakan lukisan  tersebut di rumah jika saya beli. Tinggal di apartemen kecil membuat saya harus memikirkan secara cermat pembelian barang seperti lukisan itu karena hampir seluruh dinding apartemen saya telah dipenuhi oleh furnitur guna kebutuhan lain seperti buku dan tempat penyimpanan. Akhirnya saya memutuskan membeli satu  lukisan saja seharga 5000 kyat atau 5 dolar dari harga 20.000 kyat melalui tawar menawar yang cukup alot. Saat ini, lukisan tersebut bertengger di dinding kamar tidur saya sebagai kenangan kunjungan ke negeri para bhiksu tersebut. 

Kuil Htilominlo
Dari Shwe Lattoo, kami mengarah ke Old Bagan. Ternyata Pagoda Shwe Zi Gonde dan Kuil Shwe Lattoo yang baru saya kunjungi terletak dalam wilayah administrasi Nyaung O, sama dengan hotel Zfrreti tempat saya menginap selama di Bagan. Pedati yang saya tumpangi kembali menyusuri jalan raya beraspal bagus yang juga dilalui pedati-pedati lain, kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2 hingga sepeda. Para pengendara sepeda dayung maupun elektrik didominasi turis bule yang berseliweran dari dan ke Old Bagan. Sebagaimana rencana yang telah saya sepakati dengan Ou, dari Shwe Lattoo kami ke Kuil Htilominlo. Hamparan puluhan pagoda, kuil dan stupa tak henti berseliweran di depan mata saya.

Arsitektur Kuil Htilominlo berbeda dengan Pagoda Shwe Zi Gone dan Kuil Shwe Lattoo yang telah saya kunjungi. Bangunannya lebih besar 4 atau 5 kali Shwe Lattoo dan sedikit lebih panjang dari Pagoda Shwe Zi Gone. Bangunan Kuil terbuat dari bata merah dengan berbagai pahatan di luar dan lukisan pada dinding di dalamnya. Banyak pengunjung lokal yang berkunjung dan berdoa di kuil ini. Di samping kiri dan kanan dalam gerbang masuk berjejer para penjual souvenir. Berbeda dengan para pedagang di Shwe Zi Gone Pagoda yang agresif, para penjual di kawasan ini hanya duduk sambil berteriak menawarkan
Depan pintu masuk Kuil Htilominlo
dagangannya bagi para pengunjung yang lalu-lalang keluar masuk kuil.

Wikipedia menulis kuil ini dibangun oleh Raja Nantaungmya pada tahun 1218 dekat jalan antara Bagan dan Nyaung U. Nama Htilominlo merupakan kekeliruan bacaan kata dalam bahasa Pali, yakni berkat dari tiga dunia. Raja Nantaungmya membangun dan memperluas kuil tersebut di tempatnya sekarang sebagai suatu ucapan syukur atas keterpelihannya sebagai raja dari 5 orang bersaudara melalui suatu pemilihan. Proses pemilihan dilakukan dengan cara kelima bersaudara tersebut berdiri dalam suatu lingkaran, lalu suatu payung putih diletakan di tengah-tengah lingkaran. Payung putih tersebutlah yang memilih Nantaungnya sebagai raja karena payung tersebut codong / menunduk ke arah Nantaungmya di lingkaran tersebut. Sebagaimana kuil-kuil lainnya, di Htilominlo juga terdapat 4 postur Budha berlapis emas dalam posisi duduk dalam berbagai gaya. Dinding kuil juga dilukis dengan ajaran-ajaran Budha dalam bentuk gambar yang masih terlihat jelas didominasi warna merah maroon.

Arsitektur atap Kuil Htilominlo
Dari Kuil Htilominlo, kami beranjak ke Kuil Ananda atau Ananda Temple yang letaknya tidak terlalu jauh. Saya terus menikmati sebaran kuil, pagoda dan stupa yang bertebaran di berbagai tempat sepanjang jalan berpasir yang dilalui pedati. Udara yang panas dankering sedikit dihilangkan oleh angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan. Saya meminta Ou berhenti sejenak dalam jarak agak jauh untuk memberikan saya posisi pengambilan foto yang cukup bagus meliputi keseluruhan kuil. Setelah itu pedati kembali maju dan berhenti di bawah salah satu pohon besar dalam jarak sekitar 20  meter dari pintu masuk ke kuil. Saya turun dan berjalan ke arah pendopo panjang yang menjadi jalan masuk ke kuil. Pendopo dipenuhi para pedagang souvenir yang mengelar dagangannya di kiri dan kanan. Hanya tersisa sekitar 1 meter sebagai jalan masuk keluar bagi para pengunjung. Saya berjalan sambil mengamat-amati barang-barang yang dijual yang lebih beragam dan kualitasnya seperti lebih bagus dari yang dijual di Shwe Zi Gone. Tidak ada satupun pedagang yang berteriak atau secara agresif menghampiri saya untuk menawarkan dagangannya sehingga saya dengan tenang terus berlalu menuju kuil.
Gerbang sekaligus lorong ke Kuil Ananda

Saat saya melangkah melewati lorong dan masuk ke kuil, saya melihat suatu batu bulat yang diatasnya tercetak telapak kaki Budha. Setelah mengamat-amati dan mengambil beberapa foto, saya lalu berjingkat melewati beberapa umat yang sedang sembayang di depan Budha yang menghadap ke batu bulat tersebut sekaligus menghadap lorong masuk. Dinding-dinding kuil penuh lukisan didominasi warna merah maroon. Kuil Ananda memiliki 4 patung Budha dalam posisi berdiri dimana semuanya berwarna kuning emas. 

Salah satu dari 4 postur Budha di Kuil Ananda
Konon nama Ananda diperoleh dari sepupu pertama sekaligus sekretaris Budha yang bernama Venerable Ananda. Nama tersebut berasal dari kata Ananta Pinya dalam bahasa Sansekerta yang terjemahan bebasnya adalah kebijaksanaan tanpa akhir. Namun kata Ananda dalam bahasa Pali, Sansekterta dan juga bahasa India berarti kebahagiaan yang adalah nama populer untuk para penganut Budha dan Hindu. Kuil Ananda didedikasikan sebagai suatu peringatan bagi kebijaksanaanBudha yang tanpa batas oleh orang Burma dalam bahasa Pali. 

Setelah berkeliling mengamat-amati berbagai lukisan dan juga keempat postur Budha dalam posisi berdiri di dalam Kuil tersebut, saya lalu keluar ke sisi kiri untuk mengamati arsitektur dari luar. Panas yang luar biasa menyengat dan tanpa sandal membuat saya harus berlari ke bayangan satu pohon besar di halaman luar tersebut. Seorang turis perempuan - yang kemudian memperkenalkan dirinya berasal dari Korea Selatan meminta bantuan saya memotret dirinya dengan latar belakang kuil tersebut. Sebaliknya saya juga meminta hal yang sama. Saat mengetahui saya berasal dari Indonesia, dengan lancar turis tersebut mengucapkan "terima kasih". Saya sempat kaget mendengar kata terima kasih meluncur dari mulutnya sehingga kami lalu terlibat obrolan kecil, dimana turis perempuan tersebut menceritakan
Di sisi luar kanan Kuil Ananda
bahwa dia baru kembali dari Bali. 

Dari sisi kanan, saya lalu berlari kecil kembali ke dalam kuil dan berjalan ke sisi kanan untuk melihat bagian tersebut. Sama dengan di sisi kirinya. Pada sisi kanan kuil terdapat semacam pendapa terbuka yang dipagari pagar besi. Saya tidak tahu fungsinya karena tidak ada guide yang menyertai saya sehingga saya hanya mengambil beberapa foto lalu berjalan kembali menyusuri pendapa. Di ujung pendapa saya berhenti sejenak di depan penjual minuman untuk membeli air mineral dingin guna menghilangkan haus sekaligus mendinginkan sedikit panas yang menyengat. Where do you come from, tanya seorang penjual souvenir lelaki yang duduk tidak jauh dari penjual minuman. "Indonesia", jawab saya. "oo Mr.
Relief Kaki Budha di Pintu masuk Kuil Ananda
Jokowi?, tanya lelaki tersebut lebih lanjut. Saya tersenyum lebar lalu menjawab "yes" dan memulai obrolan dengan lelaki tersebut sambil minum sekaligus beristirahat sejenak. Lelaki itu menceritakan bahwa dia sangat mengagumi Jokowi dan selalu mengikut beritanya di televisi. Setelah kelelahan saya mengendor, saya lalu pamit pada lelaki tersebut dan berjalan keluar menuju Ou dan pedatinya yang sedang menunggu di bawah pohon dalam jarak sekitar 20an meter dari pintu gerbang. Saya juga membeli sekaleng cocacola bagi Ou - yang menerima minuman tersebut sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Pedati diputar kembali ke arah jalan yang telah kami lalui sebelumnya. Setiba di jalan raya beraspal, Ou membelokan pedati ke arah kiri sehingga kami semakin jauh masuk ke wilayah old Bagan. Kami menuju Kuil Thatbyinyu yang dikenal sebagai kuil tertinggi di Bagan. 

Bersambung ke Bagan: Kuil Thatbyinyu, Shwegugyi, Mahabodhi dan Bulathe.