Sunday, February 22, 2015

BARCELONA : La Rambla, Monumen Colombus, Area Barri Gothic dan Barcelona Sants

Di suatu sudut La Rambla 
Manusia tumpah ruah ke Placa de Catalunya atau Catalonia Square dalam bahasa Inggris. Catalunya merupakan suatu area publik seluas 50 ribu meter persegi di pusat kota Barcelola. Seperti ruang-ruang publik lainnya di kota-kota Eropa, Catalunya menjadi tempat atraksi berbagai group seperti Puarta de Sol di Madrid. Plasa ini dilengkapi air mancur dan tugu-tugu peringatan, terutama yang terkenal bagi penduduk Catalonia adalah Fransec Macia. Ratusan merpati hilir mudik di tempat itu melengkapi keramaian yang setiap hari berlangsung di situ. Semakin siang seperti saat saya turun dari bis Barcelona City Tour, ratusan manusia terlihat hilir mudik berjalan-jalan di pedestarian sekeliling Catalunya atau sedang berkumpul bercengkrama di Catalunya. Catalunya menjadi penghubung 3 jalan penting di kota Barcelona, yakni Passeig de Gracia, Rambla de Catalunya, La Rambla or Portal de l'Angel. Catalunya juga menjadi penghubung gaya arsitektur Gothic Barri kota tua (Ciutat Vella) yang dikelilingi arsitektur kota-kota kecil abad 19 dan 20 antara lain terdiri dari Sants, Gracia, Sant Andreu dan lainnya.

Setelah keluar dari bis yang parkir di tempat keberangkatan pagi tadi, saya belok kanan lalu jalan
La Rambla / Las Ramblas / Les Rambles

berlawanan arah bis menyusuri pedestarian yang menghubungkan jalan Rambla de Catalunya di sebelah kanan saya dengan Placa de Catalunya di sebelah kiri. Saya menyeberang ke jalan La Rambla atau Les Rambles dalam bahasa Catalonia atau Las Ramblas dalam bahasa Spanyol. Panjang jalan ini adalah 1,2 km yang menghubungkan Placa de Catalunya di tengah kota dengan Monumen Colombus di tepi pantai Barcelona yang sangat indah. Jalan selebar 15an meter itu dijejeri pepohonan berdaun rindang di kedua sisinya, kios-kios souvernirs, cafe dan resto. Di beberapa tempat tersedia atraksi jalanan gratis ataupun berbayar uang receh seperti pengamen di Jakarta. Di jalan ini juga berkeliaran para pencopet dan PSK terutama yang dekat ke area Monumen Colombus. La Rambla juga menjadi batas bagi 2 kawasan berbeda, yakni Barri Gothic di Timur dengan El Raval di Barat. El Raval merupakan kawasan hunian para pendatang dari Timur Tengah, Pakistan dan Indonesia.

Monumen Colombus arah pantai Barcelona

Saya mulai menyusuri La Rambla yang semakin lama semakin ramai oleh ratusan orang yang berjalan hilir mudik dalam kelompok besar, kecil, berpasangan ataupun sendiri-sendiri. Menikmati kesejukan udara sore (sekitar jam 3) dari jejeran pepohonan yang dedaunannya sedang berguguran. Kios souvenirs, bunga dan juga makanan kecil dan minuman berjejer rapi memudahkan saya membeli snow ball dan magnet kulkas yang selalu menjadi favorit dibawa balik ke Indonesia sebagai barang kenangan. Sesekali saya berhenti menonton atraksi jalanan atau memotret obyek-obyek tertentu yang cukup menarik bagi saya.  Saya terus berjalan hingga tiba di monumen Columbus. Patung Columbus terletak di puncak monumen menghadap pantai Barcelona sekaligus membelakangi La Rambla dan Placa de Catalunya. Monumen Colombus atau dikenal juga dengan nama Mirador de Colom terletak di Plaza Portal de La Pau, Barcelona. Monumen setinggi 60 meter tersebut terletak di boulevard yang menghubungkan 3 jalan utama dan suatu taman yang terletak di tepi pantai Mediterania, Barcelona.

Monumen Colombus ke La Rambla
Saya menyeberangi jalan Passeig de Colom ke kompleks monumen yang dijaga pasangan singa di ketiga sisinya. Bagian bawah monumen berbentuk bulat sebagai penopang bangunan berbentuk kerucut bulat berundak berhiaskan patung-patung dan diorama terkait kehidupan Colombus yang menopang tiang bulat tempat bertengger patung Colombus di puncaknya. Pada dinding monumen berwarna krem - setelah tumpuan dasar berbentuk piringan bulat - terdapat 8 diorama (seperti di basement Monas) yang menceritakan beberapa kepingan kehidupan Colombus, termasuk pertemuan Colombus dengan raja Ferdinand dan ratu Isabella di Cordoba. Kedua penguasa Spanyol tersebut yang memberikan restu dan dana bagi Colombus mengarungi samudra mencari benua baru bagi Spanyol - yang membuat Columbus menemukan benua Amerika. Selain diorama, pada bangunan yang dibuat bertingkat tersebut juga terdapat sejumlah patung orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Colombus. Pada tingkat berikutnya terdapat 4 empat malaikat di 4 arah mata angin yang seperti menjaga tiang monumen yang menopang patung Colombus di puncak monumen tersebut. Patung Colombus di puncak monumen
Monumen Colombus
terlihat berdiri menghadap lautan luas dengan tangan kanan menunjuk ke lautan dan tangan kiri memegang semacam lembaran / plakat terbuka. Ide pembangunan monumen ini berasal dari seorang Catalan bernama Antoni Fagas i Ferrer pada tahun 1856. Ide tersebut baru mendapatkan perhatian dan dukungan walikota Barcelona pada tahun 1872 yang dilanjukan dengan sayembara pembuatan desain monumen. Sayembara dimenangkan seorang Catalan bernama Gaieta Buigas i Manrava pada tahun 1881. Pembangunan monumen dimulai tahun 1882 sampai dengan 1888. Monumen ini merupakan tanda peringatan dan kenangan akan laporan Colombus ke Raja dan Ratu Spanyol di Barcolana setelah kembali dari perjalanannya menemukan benua Amerika.

Diorama di Monumen Colombus

Selesai melihat dan mengambil foto-foto yang saya butuhkan, saya berjalan menuruni tangga ke basement monumen. Di kiri dan kanan tangga basement terdapat jejeran kios souvenir yang menjual beragam souvenir seperti kaos, magnet kulkas dan snow balls. Hi, where do you come from?, tanya perempuan muda penjual souvenir di kios yang terletak dekat tangga keluar. Indonesia, jawab saya sambil tersenyum. Oh, terima kasih?!, balas perempuan itu dengan nada ragu namun gembira. Wow, how do you know the word, tanya saya dengan gembira. I have some Indonesian friends, balas perempuan muda itu. Saya melihat-lihat dan memilih snowball, kaos serta magnet kulkas sebagai oleh-oleh sambil ngobrol dengan perempuan tersebut. Setelah itu, saya berjalan menaiki tangga keluar basement. Tangga dan pintu keluar tersebut terletak di sisi berlawanan dengan tangga dan pintu yang saya gunakan memasuki basemen tersebut. Karena saya masuk dari arah ujung jalan La Rambla, maka saya keluar di sisi seberangnya yang dikitari taman di tepi pantai Barcelona. Seorang anak kecil bersama ayah dan ibunya terlihat sedang bermain di taman tersebut. Angin laut sepoi-sepoi membelai wajah dan tubuh saya saat saya berjalan di taman menuju tepi pantai berair biru jernih. Sebelah kiri saya sekitar 100an meter berlabuh kapal-kapal berwarna putih indah. Di depan saya terlihat dermaga kecil yang disandari 1 perahu sedangkan sebelah kiri saya hanya lautan luas sejauh mata memandang.

Area Barri Gothic
Setelah menikmati suasana sekitar kurang lebih 20an menit, saya berjalan ke pertigaan yang terletak di samping kiri monumen Colombus. Saya ingin mengunjungi kawasan Barri Gothic (seperti kawasan Kota Tua di Jakarta). Dari peta kota Barcelona yang saya pegang, kawasan ini terletak di sebelah kiri jalan La Rambla. Setelah menyeberang, saya menyusuri pedestarian selebar 3 meter yang berbatasan dengan deretan bangunan megah yang rata-rata setinggi 3 lantai bangunan bertingkat di Indonesia. Warna abu mendominasi bangunan-bangunan tersebut memberi kesan teduh dan megah. Saya terus berjalan hingga tiba di jalan kecil yang terhubung dengan jalan besar Passeig de Colom. Di sebelah kiri jalan kecil tersebut atau sebelah kanan saya berdiri megah bangunan kantor pos yang sangat besar. Nampaknya bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang difungsikan sebagai kantor pos.  Di halamannya yang terbuka terdapat kran air yang bisa diminum sehingga saya sempatkan mampir dan minum dari kran tersebut sekaligus mengisi botol air yang telah kosong. Sepertinya semua bangunan dan gedung yang telah saya lihat dan lewati tidak memiliki pagar pembatas seperti rumah-rumah di Indonesia.

Area Barri Gothic
Sore telah memayungi kota Barcelona sehingga saya dapat menyusuri jalan kecil diantara bangunan-bangunan tinggi di kiri dan kanannya tanpa sengatan matahari. Menggunakan software Tripomatic (baca catatan perjalanan di London), saya menyusuri berbagai jalan kecil yang terbuat dari potongan-potongan baru andesit yang tersusun rapi. Jalan-jalan ini tidak dilalui mobil, hanya para pejalan kaki yang nampak berseliweran di jalan-jalan tersebut. Bangunan-bangunannya berbentuk kotak tebal berwarna abu-abu muda sampai dengan gelap dan rata-rata berlantai dua. Walau beberapa bangunan telah mengalami perubahan pada abad 19 dan awal abad 20, mayoritas bangunan masih dalam bentuk aslinya bergaya arsitektur abad pertengahan bahkan beberapa bergaya era Romawi. Saya tiba di sekelompok bangunan tua yang dikelilingi tembok tinggi sehingga menciptakan semacam pelataran
Interior Katedral St. Peter
terbuka antara bangunan tersebut dengan tembok penutup di depannya. Pintu-pintu bangunan tersebut tertutup rapat. Puluhan pengunjung nampak sedang duduk, berdiri dan memotret di tempat ini. Saya ikut memotret kemudian duduk beristrahat di anak tangga salah satu bangunan sambil menikmati suasana sekitar dan mengamati lebih teliti arsitektur bangunan-bangunan tersebut. Setelah itu saya kembali menyusuri jalan kecil keluar dari area tersebut hingga tiba di area lain. Pada area ini terdapat satu Katedral bernama St. Peter Cathedral di sebelah kiri jalan yang sedang saya lalui. Nampak seorang lelaki tua duduk bersimpuh di depan pintu masuk setengah terbuka, sepertinya pengemis. Saya melintasi halaman terbuka yang langsung terhubung ke jalan yang sedang saya telusuri. Saya berjalan melewati lelaki tua tersebut memasuki Katedral yang bagian dalamnya didominasi warna kuning emas, krem dan hitam berkilau seperti warna kayu eboni Sulawesi Tengah. Saya menelusuri bagian dalam Katedral untuk mengamati keindahannya dari dekat sekaligus memotret di beberapa bagian. Tidak terlihat pengunjung lain dalam Katedral ini sehingga saya bebas berkeliling dan menikmati suasana tamaran dan kesyahduannya.

Area Barri Gothic
Keluar dari Katedral St. Peter, saya kembali menyusuri jalanan kecil depan Katedral hingga tiba di jalan besar yang cukup ramai dilalui kendaraan dan juga lalu lalang manusia. Saya berdiri sejenak memikirkan dan memutuskan apakah saya belok kanan atau kiri menyusuri keramaian jalan besar itu atau menyeberang menelusuri jalan lain di antara jejeran bangunan-bangunan di kiri dan kanan jalan tersebut. Saya akhirnya memutuskan menyeberang. Jalan yang saya telusuri membawa saya ke Katedral Barcelona - satu lagi karya Antoni Gaudi, selain Casa Mila, Sagrada Familia dan Park Guel (lihat catatan Barcelona sebelumnya). Bangunan tinggi besar dengan tembok tebal berwarna abu-abu tersebut mendominasi area sekitar. Ternyata saya berada di bagian samping gedung Katedral.
Pintu samping Katedral Barcelona
Beberapa turis bule sedang berdiri di depan pintu Katedral. Pintu dengan tinggi sekitar 5 meter tersebut terdiri dari 2 helai yang hanya dibuka satu bagiannya saat itu untuk masuk dan keluar pengunjung. Saya masuk ke dalam Katedral melalui pintu samping itu. Bagian dalam Katedral agak tamaram karena hanya beberapa lampu hias yang dinyalakan. Namun kondisi itu justru menghasilkan foto-foto dramatis. Hampir sama dengan gedung-gedung gereja dan katedral di negara-negara Eropa yang telah saya kunjungi, misalnya Perancis (lihat catatan perjalanan di Paris), bagian dalam Katedral Barcelona terbagi ke dalam 3 kolom dimana kolom tengahnya diperuntukan bagi umat beribadah. Pilar-pilar besar berwarna abu-abu berdiri tegak menopang langit-langit nun jauh di atas. Bangku-bangku berwarna coklat terpasang berjejer di kolom tengah menghadap altar di tengah bagian belakang. Beberapa pengunjung terlihat duduk merenung dan berdoa menghadap altar. Karena itu saya berjalan perlahan tanpa suara mengeliling bagian dalam Katedral guna mengamati lebih dekat dan mengambil foto-foto yang saya perlukan. Jendela-jendela Katedral dihiasi kaca patri warna-warni yang saat terkena sinar matahari atau cahaya lampu terlihat berpendar indah dan menyejukan.

Interior Katedral Barcelona
Selesai di bagian dalam, saya berjalan keluar ke samping kiri altar berlawanan dengan pintu samping yang saya gunakan untuk masuk ke Katedral. Berbeda dengan bagian samping yang telah saya lewati. Di bagian ini terdapat selasar sepanjang Katedral dengan lebar sekitar 5 meter. Setelah selasar samping tersebut terdapat taman kecil dan tempat air suci yang mengalirkan air sepanjang waktu. Saya ikut antrian beberapa pengunjung untuk minum sekaligus membasuh wajah serta mengisi botol air saya yang telah kosong. Beberapa pengunjung tampak membuat tanda salib di wajah dan dadanya sebagaimana
Bagian samping tempat air suci di Katedral Barcelona
kepercayaan Khatolik sebelum minum ataupun membasuh wajah mereka. Berbeda dengan bagian samping yang memiliki pintu dan halaman terbuka terhubung ke kawasan sekitarnya, bagian samping yang memiliki selasar, taman dan tempat air suci itu berada dalam halaman tertutup yang dipagari keliling sehingga tidak bisa diakses dari luar. Antara selasar samping dan taman dengan tempat air suci juga dibatas pagar besi yang saat itu dibuka sehingga pengunjung dapat mengakses tempat air suci dan taman kecil di bagian tersebut. Selesai minum, membasuh wajah dan mengisi botol air, saya beranjak kembali ke selasar samping mengambil beberapa foto untuk mendokumentasikan keindahan arsitektur luar Katedral. Oleh karena bagian samping ini tidak memiliki pintu keluar, maka saya kembali masuk ke Katedral lalu mengambil jalan keluar ke pintu depan.

Saya sempatkan menikmati arsitektur bagian depan Katedral yang sangat indah. Warna krem mendominasi bagian depan. Warna yang berbeda dengan bagian dalam yang didominasi abu-abu.
Bagian depan Katedral Barcelona
Setelah mengambil beberapa foto, saya melintasi halaman Katedral menuruni tangga menuju jalanan kecil di depannya. Dari depan Katedral Barcelona, saya mengambil jalan ke kiri menyusuri dan menikmati bangunan-bangunan indah di kiri dan kanan jalan pada sore menjelang malam hari. Jalanan itu membawa saya ke suatu ruang publik lain dimana ratusan orang sedang berkumpul menikmati pertunjukan seni jalanan di tempat tersebut. Ruang publik ini dikelilingi berbagai jenis bangunan tua maupun baru serta menghubungkan pedestarian dari berbagai sudut. Saya berhenti sejenak diantara kerumunan orang di tempat tersebut menikmati suasana sore dan keramaiannya. Setelah itu, menggunakan tripomatik, saya mengambil jalan ke arah Placa de Catalunya. Ratusan orang tumpah ruah berjalan searah maupun berlawanan arah dengan saya di pedestarian selebar 10an meter. Jam saya menunjukan 6.30 malam, namun suasana masih tamaram seperti sore hari jam 5 di Jakarta. Karena tiket kereta saya ke Madrid adalah jam 8 malam, maka saya memutuskan telah tiba saatnya mengambil koper di tempat penitipan.

Pedestarian penghubung Catalunya dan Barri Gothic
Pedestarian yang saya susuri terhubung ke tempat penitipan koper di jalan Carrer d'Estruc sehingga saya langsung belok kiri menuju tempat penitipan yang berjarak sekitar 40an meter. Saya langsung menuju loker tempat saya menyimpan koper, memasukan pin sehingga pintu loker terbuka. Koper saya turunkan dan tarik menuju resepsionis. Saya  mengucapkan terima kasih lalu keluar kembali ke jalan Carrer d'Estruc. Dari pintu keluar saya langsung belok kanan kembali ke arah pedestarian yang telah saya susuri sebelumnya. Saya menyeberang ke kiri di pertigaan jalan Carrer d'Estruc dan Carrer de Fontanella menyusuri jalan tersebut menuju stasiun metro dekat Placa de Catalunya sampai saya tiba di pertigaan jalan Carrer de Fontanella dengan Placa de Catalunya. Di pertigaan ini saya
menyeberang ke kanan lalu menyusuri jalan Av. Portal de l'Angel hingga tiba di pertigaan Av. Portal de l'Angel dengan Ronda de la Universitat. Di pertigaan ini saya menyeberang ke kiri menyusuri Ronda de la Universitat beberapa puluh meter lalu belok kiri ke stasiun Metro yang terletak hanya beberapa puluh meter dari Place de Catalunya. Sama seperti semua stasiun Metro di kota-kota Eropa Barat lainnya, stasiun Metro Catalunya terletak di bawah tanah sehingga saya menuruni tangga ke bawah. Saya menuju loket tiket kemudian membeli tiket sekali jalan seharga 2,15 euro ke stasiun
Ruang publik antara area Barri Gothic dan Catalunya
Metro Sants Estacio yang terhubung ke stasiun Barcelona Sants (seperti stasiun Gambir di Jakarta) sebagai stasiun yang melayani perjalanan kereta antar kota, termasuk Barcelona - Madrid. Untuk tiba di stasiun Barcelona Sants, saya mengambil jalur metro warna hijau ke zona Universitaria lalu turun di stasiun ke 6. Barcelona Sants merupakan stasiun besar dan megah yang menjadi penghubung bagi kereta antar kota, antar negara, metro dan juga stasiun Bis di Barcelona sehingga memudahkan akses publik berganti alat transportasi sesuai kebutuhan. Sekitar jam 7.30 malan saat saya tiba di Barcelona Sants. Saya berjalan mengikuti petunjuk arah menuju stasiun Renfe (kereta antar kota di Spanyol) hingga tiba di konter Renfe. Saya menunjukan copy reservasi kursi yang telah saya pesan online seharga106,70 euro. Petugas laki-laki yang menerima copy reservasi saya memeriksa dan menscan copy reservasi tersebut kemudian mempersilahkan saya menuju eskalator yang terletak sekitar 5 meter di sebelah kiri konter. Eskalator membawa saya ke deretan kereta yang sedang parkir di basement Barcelona Sants. Renfe yang akan saya tumpangi ke Madrid berada di sebelah kiri. Saya berjalan mencari gerbong nomor 7 sebagaimana tertulis di copy reservasi. Bagian dalamnya sangat bersih dan sejuk karena AC sehingga wajah dan tubuh saya langsung terasa segar.

Stasiun Metro Catalunya

Setelah menemukan kursi 9D sebagaimana tertera di kertas copy reservasi yang saya pegang, saya menyimpan koper ke kabin di atas saya kemudian duduk melepaskan lelah. Tepat saat pantat saya menjejak kursi, kereta berangkat meninggalkan stasiun Barcelona Sants. Ternyata kereta berangkat lebih awal dari jam yang tertera di copy reservasi, yakni jam 8 malam. Terima kasih Tuhan, kata saya dalam hati bersyukur atas keberuntungan saya tidak ketinggalan kereta yang harga tiketnya cukup mahal tersebut. Perjalanan Barcelona - Madrid berlangsung selama 3 jam 10 menit. Saya akan turun di Atocha Stasiun di Madrid lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Metro ke stasiun Puerta de Sol (dalam peta Metro di Madrid hanya ditulis SOL) guna menuju hotel Alhambra Suites yang telah saya booking 3 bulan sebelumnya. Saya akan menginap di hotel tersebut selama berada di Madrid dan juga pada saat berkunjung ke Cordoba yang adalah salah satu kota bersejarah dalam peradaban Barat dan Timur. Karena perjalanan Barcelona - Madrid berlangsung selama 3 jam, maka saya akan tiba sekitar jam 11 malam di Madrid. Saya menutup mata menikmati perjalan malam itu sambil memutar kembali kenangan petualangan saya di Barcelona.


 Bersambung...