Saturday, September 20, 2014

MYANMAR: ONCE UPON A TIME. Bagian II: Yangon

Para lelaki Myanmar mengenakan longyi (longji)
Good morning sir, sapa staf resepsionis saat saya menghampiri mejanya untuk mengkonfimasi mobil pesanan saya saat check in. Sambil tersenyum, saya balas mengucapkan "morning, how about the car for me today"?. It is ready, balas karyawan hotel. "you are lucky, we got a 1000 kyat (diucap chaat) discount for you, so you only pay 5000 kyat per hour", lanjut karyawan tersebut. Thanks you so much, balas saya sambil tersenyum lebar. "you are welcome sir, your car and driver are waiting for your journey. As your request, the driver can speak English, lanjut karyawan hotel tersebut. "that's great, balas saya sambil beranjak dari meja resepsionis. "enjoy your day, sir", demikian kata penutup karyawan hotel. "sure" balas saya mengakhir pembicaraan kami dan beranjak menuju pintu keluar lobby hotel.

Seorang lelaki berusia sekitar 30 tahunan tersenyum dan menyapa "good morning sir" saat kaki saya melangkah keluar dari pintu lobby. Saya tersenyum sambil membalas ucapan selamat paginya. 2 staf hotel yang menjaga pintu luar memperkenalkan saya ke sopir taksi yang akan saya gunakan tersebut. Sopir yang barusan menyapa saya membuka pintu mobil dan mempersilahkan saya masuk. Sopir juga memasuki mobil dan duduk pada tempatnya di bagian depan kemudian menghidupkan mobil dan mulai menjalankannya. Where are we going first sir, tanya sopir. we go to a travel agent to buy an airfare ticket, balas saya. Alright, we go to the travel agent recommended by the hotel staffs, kata sopir. Okay, balas saya. Mobil menyusuri jalan-jalan kota Yangon. Sepanjang jalan saya terus bercakap-cakap dengan sang sopir untuk mendapatkan berbagai cerita tentang kota tersebut. Di beberapa tempat, perjalanan kami tersendat karena kemacetan di jalan yang sedang kami lalui. Taxi berjalanan melewati gedung-gedung apartemen sangat tua yang berjejer sepanjang jalan. Kadang melewati jejeran ruko-ruko tua yang ditandai oleh warna kehitam-hitaman dan juga kelupas cat di sana-sini. Jalan-jalan yang kami lalui tidaklah selebar jalan Sudirman dan Thamrin. Jalan-jalan tersebut terlihat seperti jalan-jalan di beberapa propinsi di kawasan Indonesia Timur yang pernah saya kunjungi. Di beberapa sudut kota, terlihat pembangunan gedung-gedung baru sedang dilakukan. Jalan yang  kami lalui kebanyakan dipenuhi taksi yang semuanya berwarna putih, sama warnanya dengan taksi yang saya gunakan. Kota juga dipenuhi berbagai taman nan hijau dan asri. Sepertinya taman-taman di kota ini terawat sangat baik dibandingkan dengan jalan dan gedung-gedung tuanya.

Staf travel agent
Sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di tempat tujuan, yakni Seven Diamond Express Travel. co. ltd. Travel agent tersebut terletak di salah satu jejeran ruko di No 93, Thein Phyu Road. Botahtaung Township, Yangon. Sopir taksi memarkir mobil, membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk ke kantor travel agent tersebut. Saya disambut seorang lelaki tua berwajah Asia Timur mengenakan baju lengan pendek motif kotak-kotak berwarna biru lembut dipadu dengan longyi warna biru tua motif kota-kotak kecil. Lelaki tersebut sepertinya menyapa dan menanyakan maksud saya dalam bahasa setempat yang tidak saya pahami, sehingga saya hanya menanggapi dengan tersenyum dan mengangkat bahu. Melihat hal tersebut, seorang perempuan muda yang duduk dekat pintu masuk memempersilahkan saya masuk dan menuju ke lantai 2 kantor tersebut. Sambil berjalan masuk yang dipandu oleh lelaki tua tersebut, saya memperhatikan ruang bawah kantor tersebut yang panjangnya sekitar 10 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter. Di sebelah kanan saya berjejer para staf travel agent yang sedang bekerja di komputer masing-masing. Sedangkan pada sisi kiri saya berjejer bangku panjang yang diperuntukan bagi tamu yang menunggu giliran. Di depan masing-masing meja karyawan disediakan 1 kursi bagi tamu yang langsung berhadapan dengan karyawan yang melayani penjualan tiket. Pada ujung di sudut bagian dalam ruangan tersebut, duduk seorang lelaki yang juga berwajah Asia Timur berusia sekitar 35 tahun yang saya duga adalah manajer travel agent tersebut dari gaya pakaian serta meja yang dilengkapi kursi kantor yang terpisah dari staf lainnya. Lelaki tersebut duduk menghadap tangga ke lantai 2 yang akan saya lalui. Saat tiba di depan tangga ke lantai 2 yang terletak sekitar 1, 5 meter dari meja manajer tersebut, sang manajer  berbicara dengan lelaki tua yang mengantar saya. Setelah itu, lelaki tua tersebut dengan menggunakan bahasa isyarat meminta saya melepas dan meninggalkan sandal saya di bawah tangga. Saya perhatikan si lelaki tua juga tidak memakai alas kaki sama sekali. Saya teringat banyak sandal dan sepatu terletak di depan pintu masuk kantor tersebut yang saya duga adalah milik para karyawan dan tamu travel agent tersebut.

Tiket seharga 105 dollar US
Saya mengikuti lelaki tua tersebut menaiki tangga ke lantai 2 setelah melepaskan dan meninggalkan sandal. Saya langsung dibawa menuju seorang karyawan perempuan berwajah khas campuran bule dengan rambut hitam legam bergelombang. Saya dipersilahkan duduk di depan karyawan tersebut yang fasih berbahasa Inggris. Saya mengutarakan kebutuhan saya mendapatkan tiket pesawat ke Bagan. Karyawan tersebut menginformasikan ke saya beberapa maskapai yang menjalani rute Yangon - Bagan PP. "I am looking the cheapest one for you" kata karyawan tersebut sambil tersenyum ramah. "that's great, thanks a lot, balas saya. Dia kemudian menelpon beberapa kali setelah itu kembali berbicara dengan saya. "the cheapest flight is Mandalay Airways. However, it won't operate tomorrow". Another flight is Bagan Air, but the price is higher". "I am okay with any flights and prices, balas saya. "okay sir, wait for a moment please, balasnya lalu  mulai menelpon lagi. Setelah telpon diletakan, dia menginformasikan harga yang harus saya bayar, yakni 105 dollar ditambah 1000 kyat untuk airport taxi. Jika tidak punya kyat, maka airport tax bisa dibayar menggunakan dollar juga. "okay, you can proceed further", kata saya. Karyawan tersebut lalu memanggil seorang rekan kerjanya kemudian berbicara dalam bahasa Myanmar. Sambil menunggu, saya mengamat-amati kantor tersebut. Panjang dan lebarnya sama dengan ruangan bawah yang telah saya lewati sebelumnya. Mayoritas karyawan, keduanya perempuan dan laki-laki mengenakan longyi. Beberapa dari mereka juga memakai bedak dingin khas Myanmar yang kemudian saya ketahui namanya adalah tanaka. Seorang karyawan lelaki yang duduk dekat dengan rekan perempuannya yang sedang mengurus tiket saya, terlihat duduk melipat kakinya ke atas kursi yang sedang diduduki sambil sesekali melirik saya, mungkin berpikir tentang asal usul saya yang berwajah sama dengan dia, namun hanya bisa berbicara bahasa Inggris :). Singkat cerita, saya mendapatkan tiket yand saya butuhkan, sambil tersenyum lebar, saya mengucapkan terima kasih lalu bangun dari tempat duduk saya menuju ke lantai bawah terus ke luar menuju taksi. Lelaki tua tersebut terus menemani saya sampai di taksi. Pada saat saya akan memasuki taksi, dengan bahasa isyarat lelaki tua tersebut meminta duit. Saya agak kaget, namun dengan ramah saya mengambil 500 kyat lalu menyerahkan pada lelaki tua tersebut. Dia menerimanya sambil tersenyum. Tangannya bergerak menutup pintu taksi kemudian beranjak pergi. Saya mengatakan kepada sopir taksi agar kami mencari makan siang di restoran yang menjual makanan khas Myanmar.

Makanan khas Myanmar
Sepertinya taksi mengarah ke pinggiran kota, karena makin sedikit bangunan bertingkat serta makin  banyak pepohonan di jalan-jalan yang kami lalui. Taksi juga bergerak mendaki ke arah perbukitan. Saya tidak menanyakan nama tempat tujuan, karena saya yakin tidak akan mengingat nama tersebut serta menuliskannya, karena ucapan dan tulisan kadang berbeda jauh. Sekitar 10 menit sejak berangkat dari kantor travel agent, kami tiba di suatu tempat yang sangat ramai di jam makan siang tersebut. Taksi di parkir di sebelah jalan, lalu sopir taksi mempersilahkan saya menuju restoran tersebut.  Dari luar terlihat restoran tersebut penuh, ramai dan sibuk. Saya terus berjalan ke dalam restoran mencari meja kosong. Seorang pelayan restoran menghampiri saya dan mengarahkan saya ke satu meja kosong yang sedang dibersihkan rekannya. Pada saat saya duduk, seorang pelayan restoran membawakan menu dan sepiring  besar berbagai jenis sayuran yang disusun melingkar dalam piring tersebut mengikuti bentuk bulat piringnya. Kumpulan sayuran tersebut terlihat seperti sayur pecel dalam kuliner Jawa. Piring penuh sayuran tersebut disertai dengan 1 mangkuk kecil kuah asam yang diberi gingseng dan kacang yang rasanya agak asam. Untuk lauk pauk, pengunjung dipersilahkan memilih sendiri beragam daging dan ikan yang telah tersedia dalam berbagai mangkuk kecil di bagian tengah antara dapur dan ruang makan. Saya beranjak ke jejeran mangkuk yang dijaga oleh puluhan perempuan dan laki-laki  muda yang semuanya mengenakan longyi warna hijau muda motif kotak-kotak serta baju lengan pendek berwarna putih. Saya memilih kari ayam, sayur bayam dan ikan kecil-kecil yang digoreng garing - seperti ikan dari danau Maninjau di restoran padang, namun ukurannya lebih besar. Saat saya makan, rasanya gurih. kedua lauk pilihan saya tersebut dipanasin terlebih dahulu sebelum diantar ke meja saya. Selesai memilih saya kembali ke meja saya dimana seorang pelayan mengantar nasi dalam tempat nasi bulat berbagan stainless - yang disusul dengan lauk pesanan saya. Sekitar 45 menit saya habiskan di restoran tersebut menikmati makanan khas Myanmar - yang mana bumbunya tidak terlalu terasa seperti makanan Indonesia atau Thailand. Selesai makan, saya beranjak ke kasir membayar makanan dan minuman yang telah saya habiskan. Total yang saya bayar adalah 8000 kyat atau sekitar 96.000 rupiah.

Bersambung ke Bagian III