Sunday, September 25, 2016

JELAJAH INDONESIA. TN Komodo: Gili Lawa, Pulau Kanawa, Pulau Bidadari dan Labuan Bajo.

Sunrise di Puncak Gili Lawa 
Subuh masih menggantung di langit teluk Gili Lawa saat saya dan Anjas, sang kapten kapal beranjak ke anjungan kapal guna melompat ke pantai. Anjas  meloncat terlebih dahulu disusul saya. Kaki saya sempat merasakan dinginnya belaian lidah ombak yang dingin menjelang pagi hari. Kami berdua jalan beriringan di pasir pantai menuju setapak berdebu yang dipagari rerumputan coklat musim kemarau di Gili Lawa. Saat kami mulai mendaki, serombongan anak muda dari kapal lain yang berlabuh di sebelah kiri kapal kami menyusul di belakang kami. Jutaan bintang bersama sinar rembulan menemani pendakian kami ke puncak Gili Lawa untuk menunggu dan menikmati senyuman
Anjas - Sang Kapten Kapal di Puncak Gili Lawa
pertama kehadiran dewi pagi di langit Timur. Saya kembali menapaki setapak yang telah saya daki kemarin sore ke puncak Gili Lawa. Richard memilih tidur merenda mimpi di kapal yang berlabuh diam dalam ketenangan, kesunyian dan kedamaian teluk Gili Lawa. Angin subuh mengelus bagian-bagian tubuh saya yang tak tertutup baju dan celana. Perlahan namun pasti, saya dan Anjas terus melangkah ke puncak Gili Lawa disusul para pemuda dan pemudi yang riuh karena berjalan sambil ngobrol dan kadang tertawa cekikan dan terbahak-bahak. Keringat yang mengalir dan membasahi tubuh seiring nafas yang tersengal-sengal tak menghentikan langkah-langkah saya terus menapak ke puncak.

Anjas - Sang Kapten Kapal di Puncak Gili Lawa
Mentari pagi masih di peraduannya saat saya dan Anjas tiba di puncak. Tak lama kemudian saat subuh mulai tersibak, anak-anak muda yang berada di belakang kami telah menyusul tiba di puncak. Kami mengambil tempat masing-masing bersama kamera DSRL dan ponsel duduk diam menunggu kehadiran senyuman dan sapaan dewi pagi. Udara terasa dingin bersama sepoi angin subuh berpadu kesunyian savanna menghadirkan suasana ketenangan dan kedamaian romantik. Anak-anak muda yang telah berada di puncak bersama saya dan Anjas tak bersuara sama sekali. Semuanya sedang menikmati pesona keindahan Gili Lawa sambil menunggu senyuman pertama sang dewi. Arakan awan kelabu di langit Timur menambah indah lukisan alam yang telah sangat mempesona.

Sunrise di Puncak Gili Lawa
Tepat pada waktunya, goresan kuning emas pertama muncil di langit Timur menyibak layar jingga horizon penanda kemunculan sang dewi pagi. Goresan itu semakin membesar perlahan memunculkan tubuh molek emas matahari pagi secara utuh menyapa lautan biru, bukit dan savanna coklat di Gili Lawa. Semua kamera bergerak hampir bersamaan mengabadikan momen-momen emas kehadiran sang surya di pagi itu. Satu kapal nelayan sedang bergerak dari arah Utara ke Selatan melewati sinar mentari pagi yang masih berwarna kuning keemasan. Kehadiran kapal tersebut menciptakan  lukisan molek bagi foto-foto saya. Puas memotret dewi pagi, saya dan Anjas bergantian memotret diri kami masing-masing.
Sunrise di Puncak Gili Lawa
Puas memotret dewi pagi, saya dan Anjas Kami beranjak meninggalkan puncak Gili Lawa saat sinar emas surya pagi mulai berubah putih dan mulai menyengat kulit. Kami turun melalui setapak yang kami daki subuh hari tadi. Kami tidak memilih jalan melingkar melewati dinding dan punggung-punggung bukit seperti kemarin sore saat saya dan Richard serta rombongan lain selesai menikmati kehadiran surya senja di ufuk Barat.

Sunrise di Puncak Gili Lawa
Richard dan adik-adik Anjas yang bertindak sebagai kru kapal telah bangun saat saya dan Anjas tiba kembali di atas kapal. Richard telah mandi dan duduk santai di ruang tengah menikmati segelas teh panas. Selesai mandi dan ganti pakaian bersih, saya bergabung dengan Richard menikmati sarapan pagi yang disiapkan adik-adik Anjas. Kami masih menikmati landscape sekitar teluk Gili Lawa sekitar 30an menit setelah selesai sarapan. Setelah kapten dan kru kapal selesai sarapan, kapal mengangkat sauh dan berlayar ke Pulau Kanawa menempuh lautan biru yang tenang diiringi hangatnya sinar mentari pagi yang mulai meninggi.

Perjalanan sekitar 2 jam dari Gili Lawa ke Pulau Kanawa tak terasakan karena keindahan pemandangan lautan Flores yang dihiasi berbagai pulau berbeda ukuran, bentuk dan warna. Savana coklat mendominasi sebagaian besar pulau. Saat kapal kami tiba di perairan Pulau Kanawa, beberapa kapal telah tiba dan
berlabuh di dermaga ataupun di perairan lepas sekitar pulau. Perairannya sangat tenang dan jernih
Pelabuhan Pulau Kanawa
sehingga saya bisa melihat seliweran ikan berbagai ukuran dan warna berenang kian kemari di sekitar kapal. Anjas menyandarkan kapal kami ke kapal lain yang telah terlebih dahulu parkir di dermaga kayu Pulau Kanawa. Setelah kapal bersandar penuh dan terikat ke kapal tetangganya, saya dan Richard bersiap-siap turun ke dermaga kayu berwarna abu-abu gelap berukuran panjang 10an meter dengan lebar 3 meteran. 2 laki-laki paru baya sedang duduk-duduk sambil merokok dan bercakap-cakap di bangku kayu di atas dermaga tersebut. Atap dermaga yang terbuat dari daun kelapa melindungi kami dari sengatan matahari pagi menjelang siang. Dermaga dan daratan Pulau Kanawa dihubungkan oleh jembatan kayu sepanjang 100an meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Beberapa pengunjung dari kapal lain yang kebanyakan turis asing telah asyik snorkeling di sekitar dermaga dalam jarak puluhan meter.

Pulau Kanawa
Sambil memotret diri sendiri dan berbagai obyek di sekitar dermaga, saya dan Richard terus berjalan meniti jembatan kayu yang mulai terasa panas telapak kaki saya yang tidak memakai sandal menapak di jembatan kayu. Jejeran bungalow penginapan seperti menanti kami di daratan Pulau Kanawa yang menghadap ke jembatan kayu dan jembatan. Di bagian belakang dan sebelah kanannya dilindungi tebing setinggi 5 meteran sedangkan sisi kirinya terbuka menghadap ke pantai dan lautan lepas. Jarak puluhan meter yang terbentang antara ujung jembatan di daratan dan jejeran bungalow diisi hamparan pasir halus berwarna khaki. Keluar dari jembatan, kami belok kanan ke arah satu pohon ketapang besar berjarak sekitar 1 meter dari batas air pasang. Di bawah pohon ini tersedia satu para-para dari kayu setingi 75an centi meter yang bisa digunakan sebagai tempat duduk, tiduran ataupun tempat menaroh barang-barang seperti handuk, kamera dan lainnya. Ransel kamera saya taroh di para-para
Jembatan penghubung dermaga dan Pulau Kanawa
tersebut lalu saya duduk mencangklong di atas  pasir depan para-para menikmati kebeningan kristal air laut di depan saya. Beberapa turis asing berjalan ke arah kami. Sepasang lelaki dan perempuan berhenti di bawah pohon ketapang lalu  mempersiapkan diri untuk snorkeling. Keduanya bergantian mengosok tubuh telanjang mereka dengan sunblock. Rombongan berbeda berjalan terus melewati ketapang ke sisi lain lalu mulai bermain air laut. Secara keseluruhan, pantai dan perairan Pulau Kanawa masih sepi. Apakah karena hari masih belum terlalu siang sehingga belum banyak kapal atau karena bukan musim liburan. Kehadiran sedikit pengunjung di pantai dan pulau Kanawa membuat saya bisa menikmati keindahan dan keelokan alamnya sampai puas tanpa terganggu. Hanya ada ketenangan yang hadir di sekitar, karena para turis asing pun terpana dalam diam menyaksikan paparan kemolekan perairan Pulau Kanawa.


Perairan Pulau Kanawa
Kejernihan air laut Pulau Kanawa terus memanggil-manggil untuk dicicipi. Para turis asing di sebelah kiri saya telah asyik bermain air. Saya pun melangkah ke dalam air merasai belaian sejuknya sekaligus bermandi terik matahari yang terus bergulir ke puncaknya di siang hari. Air laut Pulau Kanawa bagaikan kristal tembus pandang sehingga saya dan pengunjung lainnya bisa melihat semua yang berada di bawah air. Puas bermain air, saya memasang peralatan snorkeling dan mulai snorkeling di perairan setinggi dada lalu secara perlahan melanjutkan ke perairan yang lebih dalam di sekitar dermaga.

Jembatan penghubung dan Pulau Kanawa
Setelah melewati perairan berpasir putih di dasarnya dengan ikan berbagai jenis dan warna, saya memasuki kawasan berumput di dasar laut sejauh mata memandang yang kemudian secara perlahan berubah menjadi campuran rumput dan karang. Semakin jauh saya dari pantai dengan kedalaman air yang semakin tinggi, topografi landscape dasar laut berubah menjadi bergelombang dan dipenuhi serakan karang. Jenis ikan yang berseliweran pun semakin beragam dengan ukuran lebih besar dibanding daerah sekitar tepi pantai. Saya beberapa kali bolak-balik periaran sekitar dermaga ke pantai dan sebaliknya sekitar 2 jam. Karena saya mulai kelelahan, saya memutuskan saatnya kembali ke darat. Saya langsung naik ke dermaga menggunakan tangga kayu yang tersambung langsung ke laut. Sebelum menaiki tangga,
Perairan Pulau Kanawa
saya melepaskan kaki katak yang sedang saya pakai. Tiba di atas dermaga, saya duduk-duduk di bangku panjang di atas dermaga yang saat kami tiba sedang diduduki dua lelaki paruh baya. Setelah cukup beristirahat, saya kembali ke kapal yang masih berada di tempat yang sama, yakni bersandar pada kapal lain yang sedang bersandar di dermaga.

Richard dan Anjas sedang duduk ngobrol di ruang terbuka kapal yang terletak di tengah - yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan.
Perairan Pulau Kanawa
Saya mengambil handuk lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuh dengan air tawar yang telah dibawa dan disediakan kru kapal dari Labuanbajo. Selesai berganti pakaian bersih, saya bergabung ke ruang tengah menikmati ayunan pelan kapal yang terayun-ayun dalam ketenangan perairan Pulau Kanawa. Para turis manca negara sedang asyik snorkeling berjarak puluhan meter dari kapal dan dermaga. Kumpulan ikan-ikan kecil seperti ikan teri asyik bermain di sekitar kapal - datang dan pergi tak henti bersama ikan-ikan lain yang lebih besar dengan warna-warna berbeda. Satu lagi pesona dan keindahan Indonesia di Taman Nasional Komodo yang mungkin tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Puas menikmati Pulau Kanawa dan perairannya yang sebening kristal, kapal kami mengangkat sauh
Perairan Pulau Kanawa
meninggalkan dermaga Pulau Kanawa menuju Pulau Bidadari. Setelah beberapa kilometer meninggalkan perairan Pulau Kanawa, kapal putih biru kami mengarungi lautan lepas yang gelombangnya cukup besar. Kadang pukulan ombak menghempas badan kapal menimbulkan semburan dan butir-butir air berwarna putih setinggi 2 meteran. Anjas, sang Kapten kapal dengan tenang mengendalikan kapal mengikuti ayunan gelombang setinggi 2 - 3 meter. Kadang saat bertabrakan dengan gerakan gelombang, kapal terhentak sejenak, terayun lalu terhempas kembali ke dinding-dinding gelombang yang terus bergulung datang dan
pergi silih berganti. Richard telah menghilang ke kamarnya, saya mulai merasa pusing sehingga
Perairan Pulau Kanawa
memutuskan masuk ke kamar menghempaskan tubuh di dipan kayu beralas kasur busa. Mungkin karena kelelahan snorkeling sekitar 2 jam, saya terlelap hingga kapal mulai memasuki perairan Pulau Bidadari. Gelombang laut masih tinggi dan kuat yang membuat kapal terombang-ambing dan kadang terhempas, namun terus maju mendekati Pulau Bidadari. Dari lambung kapal, saya beralih ke anjungan menikmati hamparan Pulau Bidadari serta beberapa pulau karang lain di sebelah kanan. Nun jauh di depan, kota Labuanbajo terlihat samar sebagai pembatas di cakrawala biru yang dihiasi arakan gumpalan-gumpalan awan putih dan kelabu. Langit di sekitar perairan Pulau Bidadari berwarna biru cerah, secerah warna biru lautan yang sedang mengayun kapal kami. Kapal pesiar berbagai warna dan bentuk terhampar menghiasi perairan sekitar menciptakan pesona lukisan alam tak terpuisikan.

Perairan Pulau Bidadari 
Kapal melambat dan berhenti di bagian Pulau Bidadari yang berhadapan dengan kota Labuanbajo di kejauhan. Di sekitar kami terdapat beberapa kapal lain yang telah lebih dahulu membuang sauh. Di bagian kanan depan, berjarak puluhan meter berlabuh satu kapal kayu berwarna putih coklat. Para turis manca negara berpakaian minim terlihat berada di atas kapal itu. Beberapa sedang asyik dengan tabung-tabung udara untuk diving. Di belakangnya dalam jarak sejajar dengan kapal kami, berlabuh kapal kayu lain yang cukup besar. Jejeran tabung udara memenuhi ruang terbuka di lambung kapal menandakan para penumpangnya adalah para penyelam. Puluhan penyelam dalam kelompok-kelompok kecil sedang menyelam di perairan sekitar Pulau Bidadari, tempat kapal kami dan kapal-kapal lain sedang berlabuh. Pulau Bidadari berada di sebelah kiri kami. Pulau Bidadari kelihatan masih alamiah karena
Bersama Anjas - Sang Kapten Kapal
pantainya yang tidak berhiaskan bangunan ataupun dermaga. Pepohonan dan semak belukar tumbuh hingga batas air laut tepi pantai. "Snorkeling?, tanya Anjas ke saya. "Sepertinya nggak, ombaknya cukup besar, balas saya sambil tersenyum kecut. Ketiadaan dermaga, membuat kami memutuskan hanya menikmati area sekitar dari atas kapal. Selama 2 malam 2 hari, kami belum sempat berleha-leha di tempat berjemur yang berada di atas atap dilengkapi bangku kayu berwarna biru. Karena beberapa jam lagi kami akan berpisah, maka kami lakukan sesi bareng sang kapten dan kru kapal di anjungan. Saat kami kembali ke Labuan Bajo, saya dan Richard akan langsung ke hotel Jayakarya Suites yang telah kami pesan untuk istirahat 1 malam sebelum kembali ke Jakarta esok harinya.

Perairan Pulau Bidadari 
Selesai foto-foto, kedua kru kapal meninggalkan kami di anjungan kapal. Sang Kapten kembali ke ruang kemudi. Saya naik ke atap kapal lalu duduk santai di bangku biru menikmati hembusan angin laut, terik matahari dan kegembiraan para turis manca negara yang sedang asyik diving di perairan sekitar. Tak lama menikmati suasana tersebut, para kru kapal memanggil kami untuk makan siang. Makan siang menjelang sore tentunya karena jam saya menunjukan pukul 2 lewat. Selesai makan siang, kami meminta Anjas kembali ke Labuan Bajo karena saya dan Richard ingin beristirahat. Kapal mengangkat sauh dan berlayar pulang ke Labuanbajo yang telah terlihat di kejauhan. Sekitar 30an menit dari perairan Pulau Bidadari, kami tiba kembali di dermaga pelabuhan rakyat Labuanbajo. Kapal merapat ke dermaga sambil membuang jangkar ke perairan sekitar. Saat kapal telah merapat, Anjas keluar dari ruang kemudi lalu melompat ke dermaga dan mengikat tali kapal ke salah satu tiang di dermaga untuk mencegah kapal dibawa ombak ke lautan lepas. Saya dan Richard beserta adik-adik Anjas yang menjadi kru kapal selama 2 malam 3 hari berjalan keluar dari kapal dan menjejaki dermaga kayu tempat kapal sedang bersandar. Saya memeluk dan menjabat tangan sang
Richard dan Anjas di Perairan Pulau Bidadari
Kapten, mengucapkan terima kasih telah mengurus kami selama 3 hari. Saya dan Richard bersama kedua adik Anjas beranjak meninggalkan dermaga berjalan menyusuri jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dengan daratan Pulau Flores di Labuanbajo. Saat tiba di tepi jalan yang hanya berjarak sekitar 5 meter dari jembatan penghubung, adik Anjas yang paling besar menghentikan satu angkot yang lewat untuk saya dan Richard. Saya memeluk mereka satu persatu, mengucapkan terima kasih lalu menaiki angkot yang telah distop dan berhenti menunggu kami. Kedua adik Anjas berjalan kaki menyusuri jalan lain yang terhubung ke jalan utama yang dilalui angkot.

Bersama Richard di perairan Pulau Bidadari
"Kasih berapa kalo antar kami ke hotel Jayakarta Suites?", tanya saya dalam dialek Kupang. "terserah bapak saja", balas sang sopir angkot. "Tiga puluh ribu, cukup ka?, tanya saya. Sang sopir mengangguk sebagai tanda setuju. "Mampir bentar di hotel Green Hill yach", lanjut saya. "Siap bapa", balas sang sopir. Hanya beberapa menit dari pelabuhan, angkot berhenti di pinggir jalan depan hotel Green Hill tempat saya menginap semalam dan menitipkan koper saya sebelum berangkat ke TN Komodo. Saya menghampiri resepsionis memperkenalkan diri dan meminta koper yang saya titipkan. Resepsionis bangun dan berjalan ke ruang penyimpanan di sebelah kanan lalu membawa keluar koper saya dan menyerahkan ke saya. Saya mengucapkan terima kasih lalu melangkah keluar bersama koper saya kembali ke
Richard dan kru kapal di perairan Pulau Bidadari
angkot yang sedang menanti di pinggir jalan. Angkot melaju menuju Jayakarta suites hotel yang terletak di luar kota Labuan Bajo. Sekitar 15an menit dari Green Hill hotel, angkot memasuki gerbang the Jayakarta suites komodo hotel yang terletak di tepi pantai.

Staff hotel menyambut ramah dan mengambil alih koper lalu mempersilahkan kami ke meja resepsionis setelah selesai membayar ongkos ke sopir angkot. Bangunan hotel dibuat terbuka, terutama di bagian resepsionis yang langsung berhadapan dengan lobby terbuka yang sangat luas. Depan dan belakang lobby dipenuhi tanaman berbagai jenis yang menyejukan panas dan terik matahari di Pulau Flores bagian Barat. Pepohonan bougenvile dengan bunga warna merah dan putih menghiasi halaman hotel bersama pohon kelapa dan tumbuhan lainnya yang ditanam dan dipelihara dengan baik.

Kamar hotel Jayakarta Suites Labuan Bajo
Saya mendapatkan satu kamar besar dengan tempat tidur kayu jati yang dilengkapi kelambu seperti tempat tidur masa kecil dulu. Semua asesoris kamar terbuat dari kayu jati berplitur coklat tua memberi kesan kuno / vintage terhadap kamar yang saya tempat. Sprei, sarung bantal dan kelambu semuanya berwarna putih bersih. Aha, setelah 3 hari di laut dan hanya tidur beralaskan busa matras, mendapatkan tempat tidur empuk dengan kasur tebal membuat saya memilih tidur menunggu sore untuk  menikmati kepergian matahari ke pangkuan langit malam. Sebelum jatuh tertidur, saya sempatkan memasang alam HP untuk membangunkan saya sebelum jam 5 sore sehingga saya bisa menikmati kepergian sang surya di penghujung senja di pantai Labuanbajo yang terletak di belakang hotel.

Sunset di pantai belakang hotel Jayakarta Suites
Jam 5 sore, alarm HP membangunkan saya yang langsung bangun menuju kamar mandi guna membersihkan sekaligus menyegarkan tubuh. Selesai ganti pakaian, saya keluar kamar dan turun ke lantai dasar lalu berjalan ke belakang hotel melewati kolam renang dan taman asri ditumbuhi berbagai bunga dan pepohonan. Saya dan Richard terus berjalan ke tepi pantai melewati pagar pembatas kompleks hotel. Di pantai telah ada beberapa pengunjung lain, termasuk sepasang perempuan dan laki-laki manca negara yang sedang berjalan-jalan di pasir pantai menunggu sang dewi kembali ke peraduannya. Dari gerbang belakang hotel, kami belok kiri berjalan terus menyusuri pasir pantai  di luar pagar pembatas kompleks hotel dengan
Sunset di pantai belakang hotel Jayakarta Suites
pantai yang dapat diakses umum. Kami tiba di satu tunggul pohon mati yang teronggok diam di pantai tersebut. Saya memilih duduk di atas tunggul pohon tersebut menunggu terus bergulirnya sang mentari di horizon Barat ditandai warna kuning yang lalu berubah jingga. Kedua kamera saya, DSRL dan HP tak berhenti mendokumentasikan momen-momen indah kepergian mentari hingga hilang di balik suatu pulau di horizon.

Catur raksasa di halaman belakang hotel Jayakarta suites
Saya dan Richard berjalan balik ke hotel saat mentari telah benar-benar menghilang di belakang pulau meninggalkan semburat jingga di langit Barat. Tiba di halaman belakang hotel, kami  bermain catur dengan anak catur seukuran tinggi betis dan pinggang orang dewasa di papan catur raksasa di halaman hotel dekat kolam renang. Bosan bermain catur, saya pindah ke gazebo yang terletak di dekat kolam menikmati keindahan taman belakang hotel. Richard duduk di pingggir kolam sambil bermain air menggunakan tangan dan kakinya. Saat sedang  asyik menikmati taman belakang hotel, di lobby terbuka hotel berhamburan puluhan anak tanggung usia SMA - yang sepertinya akan check in di hotel yang sama karena beberapa dari mereka terlihat menghampiri meja resepsionis.
Kolam renang hotel Jayakarta suites 
Ketika malam hadir, kami beranjak ke restoran hotel yang terletak di sebelah lobby terbuka hotel. Restoran ini juga dibuat semi terbuka menghadap kolam renang dan halaman belakang hotel sehingga kami bisa makan malam di bawah kesegaran udara malam Labuanbajo sambil menikmati suasana tamaram dan adem taman belakang hotel. Tamu yang makan malam bisa dihitung dengan jari dan didominasi tamu warga negara asing. Saat dalam perjalanan balik ke kamar setelah makan malam, kami bertemu rombongan anak-anak SMA di lift sehingga saya bisa mengajak ngobrol dan mengetahui asal-usul sekolah mereka. Ternyata mereka adalah anak-anak sekolah pariwisata yang sedang lakukan praktek di hotel tersebut.

Kamar tidur hotel Jayakarta suites 
Malam telah sempurna memeluki bumi Labuanbajo. Saya sempatkan sikat gigi sebelum menghempaskan diri ke tempat tidur berkasur empuk yang melelapkan saya hingga esok pagi. Saat terbangun, tubuh terasa sangat segar. Saya membuka pintu balkon kamar memberikan ruang bagi udara segar pagi memasuki kamar dan paru-paru saat saya berdiri di balkon menikmati pagi hari terakhir di Labuanbajo. Saya akan kembali ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda siang hari sehingga saya masih bisa santai dan bermalas-malasan menikmati keindahan dan pesona Labuanbajo pada hari terakhir perjalanan saya dari Timur ke Barat Flores, menikmati keelokan, pesona dan keindahannya yang hanya sebagian kecil bisa diceritakan melalui blog dan didokumentasikan dalam foto-foto kamera DSRL dan HP saya.

BERSAMBUNG
Bersama kru kapal di perairan Pulau Bidadari