Rabu, 22 April 2009

OBROLAN DUA SETAN tentang Dampak Petisi Penolakan Taman Nasional di Sulawesi

Esai ini saya tulis pada tanggal 16 Agustus 2005 yang dipublikasikan pada salah satu milis lingkungan di Indonesia.
**************************************

Alkisah, di dunia antah beranta hiduplah para setan dengan berbagai aktivitas masing-masing. Mereka diperintah oleh seorang pemimpin besar yang biasanya dipanggil BOS. Diantara setan-setan tersebut terdapat 2 setan yang ditugasi mempengaruhi berbagai aktivitas manusia yang bekerja di LSM atau sering disebut sebagai Ornop. Kedua setan tersebut masing-masing bernama MUKA PUCAT dan ARANG ITEM. Muka Pucat dan Arang Item selalu bersaing satu sama lain dalam menjalankan fungsi, peran, tugas dan tanggung-jawab masing-masing. Persaingan tersebut bertujuan mendapatkan penghargaan dari bos mereka, yakni medali dari berbagai batu permata yang relevan dengan keberhasilan capaian masing-masing setan. Jumlah medali yang berhasil dikumpulkan dari prestasi kerja masing-masing akan menentukan kenaikan jabatan di kepengurusan organisasi para setan. Karena itu, setiap setan terutama Muka Pucat dan Arang Item selalu berusaha bekerja dengan sangat baik untuk mendapatkan penghargaan sebanyak-banyaknya.

Dalam melakukan pekerjaannya, Muka Pucat dan Arang Item selalu bertugas begiliran dalam periode tugas bulanan. Pada bulan Juli silam, si Arang Item yang bertugas. Singkat cerita, masa tugas Arang Item berakhir di bumi dan kembali lah dia ke dunia antah beranta untuk melaporkan hasil kerjanya. Saat Arang Item kembali bertemu Muka Pucat, Arang Item memamerkan 1 medali berlian pemberian bos para setan sebagai penghargaan terhadap prestasi kerjanya pada bulan Juli tersebut. Salah satu prestasinya yang menyebabkan Arang Item mendapatkan medali berlian tersebut adalah keberhasilannya memprovokasi beberapa aktivis LSM untuk membuat PETISI PENOLAKAN TERHADAP TAMAN NASIONAL DI SULAWESI.

Medali yang diperoleh Arang Item telah memotivasi Muka Pucat untuk bekerja lebih giat guna mendapatkan medali yang sama dengan Arang Item. Karena itu, sebelum melakukan tugasnya menggantikan Arang Item pada bulan Agustus, Muka Pucat telah membuat konsep kerja yang merujuk ke keberhasilan Arang Item. Idenya adalah melakukan upaya adu domba di masing-masing lembaga penanda-tanganan petisi penolakan Taman Nasional di Sulawesi. Ide yang telah dijadikan konsep kerja tersebut lalu diaplikasikan pada masa tugasnya dimulai. Ternyata, sebelum berakhirnya masa tugas Muka Pucat, keberhasilan penerapan konsep tersebut mulai nampak. Catatannya per tanggal 15 Agustus menunjukan bahwa telah terjadi pemecatan terhadap 5 penandatanganan petisi, 3 diperingatkan dengan keras, 2 dalam proses pengunduran diri dari lembaga masing-masing karena tidak kuat menghadapi tekanan kelembagaan yang dilakukan dengan berbagai cara.

Saat Muka Pucat bertemu Arang Item di malam minggu tanggal 13 Agustus sambil kongkow di salah satu café di PS, mereka mengobrolin beberapa hal, satu diantaranya adalah capain hasil kerja yang telah diperoleh Muka Pucat menjelang pertengahan bulan. Mendengar informasi Muka Pucat tentang hasil kerjanya, Aram Item jadi penasaran dan bertanya bagaimana caranya sehingga Muka Pucat memperoleh hasil sebegitu cemerlang. Ringkasan obrolan kedua setan tersebut saya catatkan di bawah ini :
Arang Item berkata kepada Muka Pucat, “wow hebat, bagaimana caranya”
Muka Pucat membalas “terus terang saja sebenarnya saya iri terhadap keberhasilan kamu bulan kemarin. Dari situ muncul ide menumpangi saja keberhasilan kamu untuk membuat kekacauan lebih besar dan luas”.
Arang Item : “oh yachhhh.. gimana dong”. Sambil senyum-senyum Muka Pucat berkata, “saya pelajari petisi tersebut, lalu saya dapatkan satu peluang untuk memulai perluasan provokasi guna menimbulkan kekacauan lebih lanjut dan makin meluas”.
Sambil menyeruput cappuccino hangatnya, Aram Item mengangguk-anggukan kepalanya menyemangati Muka Pucat untuk meneruskan ceritanya. Muka Pucat melanjutkan, “pertama-tama saya lakukan survey di beberapa lembaga, terutama mencari tahu hubungan pertemanan diantara lembaga-lembaga tersebut”, dari survey tersebut saya mendapatkan informasi dan data bahwa beberapa lembaga yang menanda-tangani petisi memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat dengan lembaga-lembaga lain yang tidak mempermasalahkan keberadaan taman nasional, bahkan beberapa dari lembaga tersebut terlibat bekerja mendukung penetapan suatu wilayah sebagai kawasan taman nasional. Setelah itu saya membisiki salah satu staf di lembaga tersebut yang saya ketahui memiliki hubungan pertemanan dengan lembaga yang menanda-tangani petisi. Kepada staf-staf itu, saya bisikan informasi tentang keberadaan petisi tersebut. Setelah itu saya dorong dia untuk membaca petisi tersebut dan saya bisikan hasutan-hasutan agar lakukan perlawanan, hasutan saya diterima sehingga orang-orang yang berhasil saya hasut lalu menelpon beberapa orang di beberapa lembaga yang menandatangani petisi penolakan tersebut” demikian nyerocos Muka Pucat ke Arang Item yang mendengarkan sambil mengangguk-anggukan kepalanya menyemangati Muka Pucat agar memaparkan cara kerjanya.
“Bagaimana bisa semudah itu”, tanya Arang Item penasaran.
“Mudah dong”, timpa Muka Pucat sambil cengar cengir. “karena ikatan sebagai teman lebih kuat daripada ikatan sebagai sesame rekan kerja di suatu lembaga” jelaskan Muka Pucat panjang lebar. Ikatan itulah yang saya gunakan sebagai peluang untuk membuat hasutan saya bekerja efektif” tandas Muka Pucat.
“Tapi itu khan kolusi namanya”, bantah Arang Item.
“Tidak seperti itu cara melihat hubungan pertemanan”, balas Muka Pucat. “Apalagi untuk kalangan kita para setan malah lebih baik”, lanjut Muka Pucat. “Mau temanan keq mau kolusi keq, kita ga perlu peduli hal-hal seperti itu, yang penting adalah tujuan kita berhasil memperluas dan menambah kekacauan he he he”, bantah muka pucat sambil ketawa ketiwi.
“Benar juga si Muka Pucat”, kata Arang Item dalam hati.
“Ok ok”, kata Arang Item.. lalu cerita selanjutnya gimana? tanya Arang Item untuk memenuhi rasa penasarannya mengetahui lebih jauh cerita Muka Pucat.
“Setelah orang-orang yang saya hasut tersebut menelpon beberapa lembaga, di lembaga-lembaga tersebut lalu mulai muncul berbagai reaksi dari tindakan pemecatan, peringatan hingga munculnya permusuhan diantara sesama staf”ha ha ha, kata Muka Pucat sambil mentertawakan keberhasilan hasutannya.
“Wah jitu juga nih cara si Muka Pucat”, gerutu Arang Item dalam hati… tapi di bibirnya Arang Item berucap “wah hebat banget cara menghasut mu itu yach” Arang Item sengaja memuji sohib sekaligus saingannya itu.
Dipuji demikian, Muka Pucat makin berseri-seri jadinya. Saking gembiranya, Muka Pucat berkata pada Arang Item, “nih aku punya rekaman pembicaraan telpon dan juga catatan email-email mereka”, sambil meletakan audio player mini dan beberapa kaset rekaman serta beberapa lembar kertas print out komputer diatas meja café.
“Wow sampai sedetail itu?” tanya Arang Item makin penasaran. “iya dong, aku harus mempersiapkan bukti-bukti bagi bos” kata Muka Pucat, sambil tangannya menekan tombol player yang memperdengarkan perdebatan di suatu lembaga yang para stafnya telah berhasil dihasut…… tangan yang satu lagi mengangsurkan kertas-kertas diatas meja tersebut ke Arang Item. Sambil membaca dan mendengarkan rekaman kaset, Arang Item terus menikmati cappucinonya....
Sekitar 10 menit berlalu, saat Muka Pucat kembali bersuara, „bagaimana?“, tanya Muka Pucat.
„Email dan rekaman kaset tersebut tidak mempersoalkan substansi petisi“, komentar Arang Item. „Mereka pada dasarnya sepakat tentang substansi petisi tersebut. Masalah yang mengemuka justru ke aspek2 prosedural seperti siapa yang memberi kewenangan terhadap staf lembaga untuk tanda-tangan petisi atas nama lembaga, dan juga tentang mengapa tanda-tangan tidak pake izin direktur“, lanjut Arang Item. “mengapa masalahnya beralih dari substansi ke prosedural yach?“ komentar Arang Item dalam bentuk pertanyaan?....
“He he he he...” timpal Muka Pucat sambil tertawa ceria?.. nih baca lagi satu catatan email yang ku simpan.. kata Muka Pucat sambil menarik keluar sehelai kertas terlipat rapi dari kantong bajunya…
Setelah lewat beberapa saat, Arang Item nyeletuk…”ohhhhh, aku tahu sekarang masalahnya, mengapa mereka tidak meperdebatkan substansi petisi, tapi malah mengalihkan masalah substansi ke prosedur kelembagaan.. he he he he he” Arang Item terbahak-bahak sambil mengelus-elus perut gendutnya…. Ha ha ha ha ha

“Eh kenapa kamu tertawa-tawa seperti itu..“ tanya Muka Pucat penasaran.....“Ha ha ha ha ha…“ tawa Arang Item makin terbahak-bahak… setelah tawanya mereda, Arang Item berkata sambil senyum-senyum... “hmmmmm pada dasarnya manusia-manusia itu memang bego karena mau saja dihasut oleh kita para setan.... he he he.. sekarang mereka saling telingsut dan juga gontok-gontokan satu sama lain hanya karena membela teman masing-masing…,… ha ha ha ha, dasar manusi-manusia lemah yang selalu penuh kemunafikan, bermuka dua, menerapkan standar ganda..he he he hehe, pantas saja kita selalu berhasil.. kita selalu berhasil menghasut dan mengadu domba mereka satu sama lain, karena kemunafikan-kemunafikan mereka itu.. ha ha ha ha ha… kalo keluar mereka teriak korupsi.. tapi didalam lembaga lakukan korupsi.. kalo ke dalam menyepakati tolak taman nasional, tapi kalo ke luar jangan dibicarakan terbuka… ha ha ha ha harus tenggang rasa.. harus tepo seliro terhadap teman ha ha ha ha” Kata Arang Item tertawa-tawa sambil matanya tidak lepas dari kertas yang masih sedang dipegangnya…. “Wah aku yakin nih, kamu bisa dapat 2 medali pada akhir bulan masa tugas mu, kata Arang Item sambil menatap penuh kekaguman terhadap Muka Pucat… dalam hatinya Arang Item berkata, aku harus cari cara yang lebih baik lagi untuk bisa mengalahkan Muka Pucat bersaing mendapatkan medali dan penghargaan dari BOS… kepada Muka Pucat, Arang Item berujar “baru di pertengahan bulan saja, hasutan mu telah berdampak luas… kalau sampai akhir bulan pasti akan lebih besar lagi dampaknya…” sambil jarinya mengetuk-ngetuk meja café…..”lihat saja si penulis cerita ini”, lanjut Arang Item…. Apa? tanya Muka Pucat… “tuh liat saja tulisan di awal email ini yang menyatakan : CERITA INI TIDAK MEWAKILI PANDANGAN LEMBAGA TENTANG TAMAN NASIONAL”… wah kalo dia juga takut menyuarakan pendapatnya, sampai harus kasih pengumuman berwarna merah seperti itu, kenapa dia masih kerja di lembaga tersebut yach??? tanya Muka Pucat…“Ha ha ha ha ha”, Arang Item hanya membalas dengan terbahak-bahak sambil diam-diam memikirkan cara untuk makin memperluas kekacauan di bumi pada bulan masa tugasnya di bulan September yang akan datang.

2 komentar:

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...