Minggu, 20 Maret 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Pantai Waijarang, Wolor Pass / Bukit Cinta dan Bukit Doa Waijarang

Aksi Aken Udjan di Pantai Waijarang
Kendaraan yang kami tumpangi belok kanan di suatu tempat di tepi pantai. Pantai ini sepertinya telah dikelola karena memiliki lahan parkir dan beberapa pondok tempat istrirahat bagi pengunjung sekaligus mungkin tempat bagi para pedagang makanan dan minuman - yang tidak terlihat di sekitar situ saat rombongan kami tiba. Daun-daun kering pohon ketapang yang kemungkinan sengaja ditanam guna memberikan kesejukan di sekitar lokasi terlihat bersebaran campur aduk dengan rerumputan kering berwarna kecoklatan karena musim kemarau. Beberapa sepeda motor terlihat berada di tempat parkir. Sepertinya kendaraan-kendaraan tersebut milik panitia yang telah terlebih dahulu tiba di
Sekeping Pantai Waijarang
lokasi tersebut. Satu demi satu anggota rombongan turun dari bis dan truk lalu berhamburan ke tepi pantai berpasir kecoklatan sepanjang sekitar 1km. Foto sana foto sini dilakukan oleh masing-masing orang. Beberapa terlihat berjalan menjauh mencoba menyusuri pasir pantai menjauh ke sebelah kiri dan kanan saya mencoba mencari obyek foto. Nun jauh diseberang terlihat Ile Boleng berdiri kokoh dan sedang bercengkerama dengan gumpalan awan putih  yang sepertinya enggan meninggalkan puncak gunung berapi tersebut. "Pantai Waijarang", kata Aken Udjan seorang pemuda setempat saat saya bertanya dan minta tolong memotret beberapa pose saya di pantai tersebut.

Sedang berkenalan di Pantai Waijarang
Sekitar 30an menit menikmati keindahan Pantai Waijarang, panitia mengumpulkan seluruh anggota rombongan di bawah kerindangan pepohonan di lokasi tersebut. Acara perkenalan dipimpin seorang lelaki paru baya (saya lupa namanya). Rombongan berdiri dalam lingkaran tak beraturan lalu satu demi satu memperkenalkan dirinya. Acara perkenalan yang berlangsung sekitar 15an menit tersebut berakhir dengan informasi panitia bahwa rombongan akan berpindah ke lokasi berikut bernama bukit Wolor Pass atau disebut juga bukit Cinta. Rombongan kembali ke kendaraan masing-masing guna melanjutkan perjalanan ke Wolor Pass. Iring-iringan kendaraan keluar lokasi parkir lalu belok kanan menyusuri jalan raya menuju Wolor Pass.

Ile Boleng dari Wolor Pass
Truk yang saya tumpangi meliuk-liuk mendaki jalan perbukitan yang kadang berubah menjadi jalanan tanah dan berbatu sehingga menimbulkan kegoncangan dan juga debu beterbangan saat sang pengemudi harus mengerem truk karena adanya lubang di jalan yang sedang kami lewati. Udara sore segar bersama sepoi angin sangat terasa diantara goncangan truk. Jalanan yang kami lalui seperti membelah perbukitan berwarna kecoklatan dan kadang hitam karena habis terbakar. Di beberapa tempat, bis melewati jejeran perbukitan di sebelah kiri, sedangkan lautan biru dan Ile Boleng berada nun jauh di sebelah kanan. Rimbunan pohon kelapa bersama garis pantai yang sedang dicumbui lidah-lidah ombak berwarna putih meninggalkan kesan mendalam hingga akhirnya kami tiba di Wolor Pass.

Landscape Pulau Lembata dari Bukit Doa Waijarang
Beberapa tukang laki-laki terlihat masih sedang bekerja membenahi kawasan Wolor Pass saat saya dan rombongan tiba. Konon banyak pasangan menjadikan bukit ini sebagai tempat berkasih mesra sambil menikmati senja sehingga Wolor Pass mendapatkan nama Bukit Cinta. Jalan setapak dari semen selebar setengah meteran menghubungkan beberapa pondok yang telah dibangun di lokasi tersebut dengan pondok utama yang bertengger di puncak bukit - tempat rombongan turun dan menyebar ke sekitar lokasi tersebut. Pondok-pondok tersebut menjadi lokasi strategis bagi pengunjung menikmati senja hari ataupun sunset yang pastinya terlihat sangat elok dari lokasi tersebut. Kondisi geografis dengan spots
Landscape Pulau Lembata
kontur bertingkat di Wolor Pass memberikan pilihan bagi anggota rombongan mencari
Landscape Pulau Lembata dari Bukit Doa Waijarang
foto terbaik bagi diri sendiri ataupun group masing-masing. Panitia telah menyediakan kelapa muda bagi semua peserta. Saya duduk di salah satu tangga di halaman pondok utama menikmati perjalanan senja di kejauhan. Pulau Adonara dan Ile Boleng terlihat anggun di seberang. Dua kapal kayu terlihat melintas selat yang memisahkan Pulau Adonara dan Pulau Lembata dari Wolor Pass. Kesejukan angin sore terasa membelai kawasan sekitar. Selesai memotret beberapa obyek di sekitar lokasi tersebut, saya duduk santai menikmati suasana menjelang senja. Jejeran perbukitan di kiri, kanan dan belakang seperti tirai bergelombang yang memagari Wolor Pass. Nun jauh di lembah, riak biru air
laut yang sedang dilayari kapal kayu berlatar Pulau Adonara dan Ile Boleng serta sang mentari yang sedang berjalan kembali ke peraduannya telah menjadi lukisan raksasa nan indah dan elok.

Landscape Pulau Lembata dari Wolor Pass
Air kelapa yang disajikan dalam  buah kelapa berwarna hijau saya seruput pelan-pelan menikmati rasa manis dan segarnya. Mata saya tak lepas dari lukisan raksasa yang tersaji di depan. Beberapa anggota rombongan masih asyik berfoto. Beberapa mulai berjalan menyusuri setapak semen menuruni Wolor Pass menuju jalan raya di bawah bukit. Lainnya, sama seperti saya sedang menikmati keindahan alam senja yang mungkin tidak akan kami temukan di tempat lain. Wolor Pass bukan akhir perjalanan kami sore ini. Panitia meminta kami kembali ke kendaraan masing-masing karena kami akan bertolak ke lokasi terakhir kunjungan hari ini, yakni Bukit Doa Waijarang. Di Bukit Doa Waijarang, kami akan menikmati jingga senja sang mentari kembali ke haribaannya. Panitia dibantu beberapa anggota rombongan berteriak memanggil anggota rombongan yang telah berjalan ke bawah bukit agar kembali ke kendaraan. Namun entah mendengar atau tidak, mereka terus berjalan menuju jalan raya yang akan dilalui kendaraan kami menuju Bukit Doa Waijarang. Akhirnya kami membiarkan anggota rombongan yang memilih berjalan kaki meneruskan perjalanan mereka. Saat kendaraan kami berpapasan dengan para pejalan kaki di jalan raya, mereka memilih melanjutkan jalan kaki.

Diorama Jalan Salib di Bukit Doa Waijarang
Kendaraan yang kami tumpangi kembali meliuk-liuk menelusuri jalanan yang membela perbukitan disekitarnya hingga tiba di bawah Bukit Doa. Dari lokasi tersebut, kami harus berjalan kaki ke puncak bukit melewati jalan setapak buatan yang masih sangat sederhana. Jalan setapak ini merupakan jalan salib bagi umat Khatolik menuju puncak bukit tempat Bunda Maria sedang berdiri agung memberkati alam sekitarnya sambil menatap sang senja menuju peraduannya. Di lokasi tertentu telah dibangun diorama perjalanan salib Yesus hingga disalibkan, mati dan dikuburkan. Diorama-diorama seukuran tubuh orang-orang dewasa tersebut dibangun sepanjang setapak ke puncak bukit. Saya berlomba dengan anggota rombongan lainnya menyusuri jalan yang terus menanjak demi sunset yang akan segera tiba. Perjalanan ke puncak bukit tidaklah mudah karena saya harus mendaki
3/4 perjalanan mendaki Bukit Doa Waijarang
kemiringan terjal bukit tersebut di beberapa lokasi. Jalan setapak selebar 1 meteran tersebut dibangun memutari  setengah punggung bukit menuju puncak. Pengunjung ataupun umat tidak perlu mendaki lurus ke puncak bukit sehingga lebih hemat tenaga. Namun saya tetap saja ngos-ngosan dan harus berhenti sejenak di puncak lokasi-lokasi terjal yang telah saya lalui sebelum mendaki lagi. Keringat mengalir deras seiring perjalanan saya mendekati puncak bukit. Warna jingga sang mentari semakin membuncah saat saya telah mencapai 3/4 pendakian yang saya tempuh. Saya sempatkan memotret keindahan itu dari suatu pohon gersang yang sendirian berdiri teguh di lokasi tersebut diapit karang-karang bukit yang sedang saya daki.

Sunset di Bukit Doa Waijarang
Saya terus mendaki hingga tiba di puncak tempat Bunda Maria tersenyum syahdu dengan posisi tangan terbuka seperti sedang menyambut kehadiran saya  yang telah menempuh jalan salib yang cukup  melelahkan. Seorang anggota rombongan telah tiba terlebih dahulu dan telah mengambil posisi strategis memotret sang mentari yang terus berjalan menuju sarangnya. Saya mengambil tempat di sebongkah batu cadas berwarna hitam dikeliling rerumputan berwarna coklat setinggi pinggang orang dewasa. Mata saya tak pernah lepas dari lubang pengintip kamera Canon sahabat setia saya di setiap perjalanan. Jari saya terus menerus menekan tombol pemotretan mendokumentasikan keelokan senja Bukit Doa Waijarang hingga sunset menghilang di horizon. Anggota rombongan telah susul-menyusul tiba di lokasi tersebut. Namun semuanya terhipnotis keindahan jingga senja sehingga hanya
Para pemburu sunset di Bukit Doa Waijarang
 desau goyangan rerumputan kering yang terdengar di sore itu sampai hilangnya matahari dari pandangan. Semua menikmati keelokan alam senja itu tanpa suara bahkan napas masing-masing orang sepertinya ikut terhisap dalam keindahan itu sehingga tidak terdengar tarikan ataupun hembusannya. Saya akhirnya sadar masih ada Bunda Maria yang berdiri anggun di belakang lokasi saya menikmati keelokan senja. Saya bangun dan berjalan perlahan ke lokasi Bunda Maria untuk mengamati lebih dekat sang Bunda sekaligus memotret.

Sunset di Bukit Doa Waijarang
Kendaraan yang kami gunakan ternyata telah berada di sekitar lokasi tersebut melalui jalan bagi kendaraan yang telah dibangun hingga puncak bukit dari sisi lain punggung bukit yakni di belakang sang Bunda. Sedangkan jalan salib yang saya dan anggota rombongan lainnya telah lalui berada di sisi kiri Bunda Maria. Satu demi satu anggota rombongan meninggalkan puncak bukit Doa Waijarang menuju kendaraan masing-masing. Setelah semua lengkap, kendaraan yang kami tumpangi beringsut perlahan meninggalkan puncak bukit kembali ke jalan raya menuju Hotel Palem Indah tempat rombongan menginap
Sekeping Pantai Waijarang
menghabiskan malam guna acara lain esok hari. Kegelapan telah sempurna memeluki bumi mengiringi perjalanan kami kembali ke hotel. Sesekali terlihat kerlap-kerlip lampu di Pulau Adonara saat truk yang saya tumpangi melewati punggung bukit yang terbuka di sebelah kirinya. Ile Boleng sudah tidak terlihat karena telah terlelap dalam kesunyian dan kemesraan kegelapan malam. Saya lupa bertanya ke Aken Udjan mengapa Pantai Waijarang dan Bukit Doa Waijarang punya nama yang sama walau keduanya berjarak puluhan kilometer?...


Bersambung

Jumat, 11 Maret 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Negeri di Balik Samudera

Ile Boleng dari Pulau Lembata
Ile (Gunung) Boleng di Pulau Adonara terlihat menawan dan seperti sedang tersenyum hangat menyambut kehadiran saya di Pulau Lembata saat pesawat Susiair yang saya tumpangi dari Kupang melayang rendah di atas perairan Pulau Lembata. Puncak Ile Boleng sedang berpayung arak-arakan gumpalan awan putih bermandikan teriknya matahari. Kegersangan puncak berapi berpadu hijau rimbunan pepohonan serta savana coklat di perbukitan dan lereng hingga lautan biru berbuih putih di dasarnya bagaikan lukisan raksasa tak terbeli. Susiair terus melayang menuju landasan melewati pepohonan dan rumah-rumah penduduk hingga akhirnya mendarat mulus di airport Wunopito Lewoleba, Pulau Lembata. Kaki saya menapak di tanah pulau Lembata sekitar jam 10 pagi hari pertengahan September 2015. Aiport Wunopito masih sederhana dan hanya bisa didarati pesawat kecil seperti Susiair yang barusan saya tumpangi atau Wingsair. Susi dan Wings merupakan 2 maskapai yang melayani mobilitas udara Kupang - Lewoleba PP.

Landscape Pulau Lembata dari udara
Lembata atau yang saya kenal pada masa kecil sebagai pulau Lomblen merupakan salah satu pulau di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal kering dan tandus. Provinsi ini selalu didera busung lapar dan menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia yang berbanding terbalik dengan kemewahan dan kemakmuran hidup para pejabatnya. Para pemburu paus gagah perkasa yang dikenal sebagai orang-orang Lamalera berasal dari pulau ini. Walau nama Lomblen berubah menjadi Lembata pada tahun 1967, namun nama Lembata baru dikenal luas sejak tahun 1999 saat Lembata  menjadi wilayah administratif kabupaten sendiri terpisah dari Kabupaten Flores Timur.

Landscape Pulau Lembata
Jelajah saya ke Lembata merupakan bagian dari rencana jelajah Flores yang telah saya rencanakan setahun silam. Vitri - seorang rekan kerja - menginformasikan adanya paket tour murah seharga 1 juta rupiah per orang selama 4 hari  di Lembata. Saya memutuskan bergabung mengikuti tour tersebut setelah membuat beberapa skema perjalanan dari ujung timur Flores, yakni kota Larantuka ke Lembata lalu ke Alor atau sebaliknya. Setelah membuat simulasi beberapa skema perjalanan, termasuk menghitung ketersediaan waktu, akhirnya saya memutuskan memadukan jelajah Lembata dan Flores. Rencana kunjungan ke Alor saya tunda ke lain waktu. Melalui Vitri, saya dikenalkan pada Donny yang menjadi tour leader sekaligus mengurus administrasi pendaftaran, termasuk biaya keikutsertaan 4 hari di Lembata.

Airport 
Rombongan jelajah Lembata disambut panitia di pintu keluar bangunan terminal. Setelah jabat tangan dan saling sapa, para anggota rombongan dipersilahkan menaiki 1 bis sedang seukuran kopaja atau metromini di Jakarta dan 1 truk yang telah dimodifikasi sebagai kendaraan angkutan penumpang. Truk angkutan penumpang seperti ini sangat umum di seluruh Flores. Ruang kosong truk diberi jejeran bangku kayu dari depan ke belakang dengan lorong di tengah untuk akses masuk dan keluar penumpang. Sebagian besar anggota rombongan memilih naik truk bercat hijau itu. Saya dan 5 orang lain memilih menggunakan bis berwarna dasar putih dengan sejumlah asesoris tambahan seperti lukisan kepala orang Indian, tulisan berbahasa Inggris dan Indonesia serta nama bus itu sendiri, yakni Firdaus. Tipikal kendaraan angkutan umum khas NTT, pikir saya. Setelah semuanya mengambil tempat dalam bis dan truk, kedua kendaraan tersebut bergerak beriringan meninggalkan parkir bandara menuju hotel yang juga telah disediakan panitia setempat di Lembata.

Spanduk panitia penyelenggara
Kami tiba di hotel Palem Indah sekitar jam 11 siang dengan waktu tempuh 30an menit dari bandara ke hotel. Hotel ini disediakan Pemda setempat yang bertindak sebagai panitia lokal yang bekerja sama dengan Donny dan timnya di Jakarta. Selain hotel, panitia juga menyedikan kendaraan dan konsumsi, termasuk mengorganisir penyambutan penduduk setempat di lokasi-lokasi kunjungan pada hari kedua dan ketiga. Sekali lagi kami disambut panitia lokal di lobby hotel dan diarahkan ke resepsionis untuk check in. 2 staf hotel di meja resepsionis melayani anggota rombongan yang check in. 1 set sofa warna hitam ditempatkan sekitar 1 meter dari depan meja resepsionis. 2 sofa tunggal masing-masing ditempatkan di bawah tangga dan samping kiri pintu masuk. Beberapa anggota rombongan yang telah selesai check in ataunpun sedang menunggu giliran terlihat duduk selonjor atau sedang ngobrol. "Mas satu kamar dengan pak Yohanes, kata staf perempuan yang melayani saya di meja resepsion sambil
menyerahkan kunci kamar. Setiap kamar ditempati 2 tamu sebagaimana telah diinformasikan panitia
Sambutan pejabat provinsi NTT
Jakarta. Ternyata Yohanes telah berada di lobby sehingga kami berkenalan satu sama lain lalu jalan bersama ke kamar kami di lantai 2. Seorang staf hotel menemani dan mengarahkan kami berjalan melalui lorong di sebelah kiri pintu masuk lurus ke belakang lalu belok kiri menaiki tangga yang terletak sekitar 5 meter dari belokan. Sebenarnya, tangga akses ke lantai 2 tersedia di 2 area, yakni depan lobby dan satu lagi di bagian belakang. Namun staf hotel mengarahkan kami melewati lorong lantai dasar mungkin dengan maksud mengenalkan kami ke area dalam hotel tersebut. Saya dan Yohanes menempati kamar cukup luas dan bersih. Kamar ini memiliki balkon ke taman di bawah yang dipenuhi rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Kamar dilengkapi 2 tempat tidur berukuran semeteran, 2 bantal bersarung putih di masing-masing tempat tidur, meja kecil (nakas) yang ditempatkan diantara kedua tempat tidur, kursi dan meja, AC, TV dan lemari. Kamar mandi dilengkapi wastafel, closet duduk, bathtube dan air panas yang hanya terasa hangat-hangat kuku saat digunakan.

Pengalungan seledang ke perwakilan rombongan
Selesai membersihkan badan dan ganti pakaian, saya kembali ke lobby lalu berjalan ke ruang pertemuan berjarak duapuluan meter di belakang lobby hotel. Panitia membuat acara penyambutan dan menyediakan makan siang di ruang pertemuan tersebut. Saat saya memasuki ruangan pertemuan, acara telah sedang berlangsung. Selamat datang dan sambutan-sambutan mengisi acara penyambutan yang ditutup dengan pengalungan selendang ke perwakilan rombongan, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Selesai acara penyambutan dan arahan kegiatan oleh panitia,  kami semua antri mengambil makan siang prasmanan yang telah disediakan di ruangan penyambutan. Kebanyakan anggota tour telah memakai kaos berkerah warna biru muda yang disediakan dan dibagikan panitia.

Landscape Pulau Lembata
Selesai makan siang dan istirahat, rombongan memulai perjalanan jelajah ke tempat-tempat yang telah ditentukan panitia. Masing-masing anggota rombongan memilih tempat di bis dan truk yang akan mengantar kami ke lokasi jelajah hari ini, yakni pantai Waijarang, bukit Wolorpass (bukit Cinta) dan bukit Doa Waijarang. Kendaraan yang kami tumpangi keluar gerbang hotel lalu belok kiri berjalan beriringan ke arah Barat. Kali ini saya memilih truk guna memudahkan saya memotret obyek-obyek menarik di sepanjang jalan yang kami lalui. Truk melewati rumah-rumah penduduk yang bertebaran di sepanjang jalan, melewati pasar tradisional terus meliuk-liuk menelusuri jalan beraspal yang dipenuhi lubang di sana
Ile Boleng dari Pantai Waijarang Pulau Lembata
-sini. Kadang debu beterbangan karena jalan beraspal tiba-tiba berubah menjadi jalan tanah, aspalnya telah hilang entah kemana. Selain kebun dan dan pekarangan, landscape didomininasi savana warna coklat. Beberapa lahan perbukitan berwarna hitam karena habis terbakar. Lahan lain didominasi pohon lontar atau pohon tertentu yang hanya bisa bertahan hidup di Lembata pada musim panas yang kering. Nun jauh di horizon, pantai berhiaskan perahu nelayan dan kapal-kapal kayu serta lautan biru menjadi selingan diantara warna coklat savana pulau Lembata. Ile Boleng dan pulau Adonara terlihat gagah perkasa di kejauhan. Kemolekan dan keindahan Indonesia yang tidak saya peroleh di Jakarta. Lembata, negeri di ujung samudera dengan keterbatasan infrastruktur jalan sedang bersolek menarik para penjelajah dan pengunjung menikmati keelokan alam serta senyuman ramah dan tawa ceria wajah-wajah sangar penduduknya.

Bersambung


Minggu, 06 Maret 2016

JELAJAH INDONESIA. JAWA TENGAH: Gua Maria Kereb Ambarawa, Vihara Buddhagaya Watugong, Klenteng Sam Poo Kong

Bunda Maria di Gua Maria Kereb
"Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) atau yang dikenal dengan Gua Kerep bukanlah nama yang asing lagi di telinga umat Katolik Keuskupan Agung Semarang (KAS). Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, nama Gua Kerep juga mulai diakrabi oleh umat dari berbagai keuskupan di Indonesia.
Lokasinya cukup strategis, tak jauh dari jalan raya Semarang - Magelang, yakni di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dari arah Semarang, GMKA cuma berjarak 900 meter dari jalan raya Semarang. Bagi peziarah yang baru pertama kali berkunjung ke gua ini, cukup mengikuti petunjuk papan nama yang berada di seberang jalan depan Terminal Ambarawa. Atau tepatnya di sebelah kanan SD Pangudi Luhur Ambarawa atau sebelah Timur SMP Pangudi Luhur Ambarawa kemudia ke arah utara", www.guamariakerep.org.

Matarahari sedang bersinar terik saat kami tiba di tempat parkir yang cukup lenggang di kompleks GMKA yang sangat tenang. Kompleks GMKA terbagi 2 oleh jalan raya yang memisahkan tempat parkir, gedung pertemuan dan Patung Bunda Maria di atas tugu setinggi sepuluan meter di sebelah kiri jalan berhadapan dengan taman hijau di kanan jalan.
Lukisan hari-hari akhir Yesus
Setelah memotret dari kejauhan guna mendapatkan foto keseluruhan Bunda Maria bersama tugu penopangnya, saya berjalan mendekat sambil terus memotret hingga tiba di pagar pembatas terbuka dekat tugu. Tugu penopang Bunda Maria terbagi atas tiga bagian, yakni bagian bawah berupa bangunan bulat berhias lukisan hari-hari terakhir Yesus bersama para murid dan pengikutnya. Bagian kedua berupa tiang-tiang yang menopang suatu wadah berbentuk mangkuk. Bagian ketiga adalah wadah mangkuk berisi susunan bebatuan yang dikeliling para mailaikat kecil sebagaimana tertulis dalam Alkitab.
Penyaliban Yesus di lukisan dinding tugu penopang Bunda Maria Kereb
Seorang  ibu muda bersama anak laki-lakinya sedang asyik memotret diri di tempat tersebut menggunakan tablet. Saya menawari jasa memotret ibu dan anaknya bersama-sama sebagai kenangan kehadiran mereka di GMKA. Selesai gantian memotret, saya meneruskan langkah ke tugu yang dikitari taman kecil. Saya berjalan mengeliling bagian bawah tugu menikmati keindahan dan keelokan lukisan hari-hari akhir Yesus hingga penyalibanNya.

Diorama air dan anggur
Selesai menikmati lukisan dan taman di bawah tugu penopang Bunda Maria, saya berjalan kembali melewati tempat parkir menuju taman hijau dan sejuk di seberang jalan. Selain rerumputan dan pepohonan, taman juga dihiasi kolam kecil dan berbagai diorama kehidupan Yesus dan para muridnya serta juga kutipan-kutipan ayat Alkitab yang ditulis pada lempengan-lempengan batu. Dua perempuan muda sedang duduk merenung menikmati semilir angin di tepi kolam kecil berisi diorama pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Dari kolam tersebut saya berpindah ke lempengan batu bertuliskan ayat Alkitab. Selesai membaca ayat Alkitab dan berfoto di
Lempengan baru bertuliskan ayat Alkitab di GMKA
lempengan batu tersebut, saya berjalan lurus lalu belok kiri menuju diorama Yesus memegang roti dan ikan merupakan gambaran dari perumpaan 5 roti dan 2 ekor ikan yang digunakan Yesus memberi makan 5000 orang sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Baru.  Saya terus mengeliling taman hijau tersebut sambil mampir di diorama-diorama perjalanan kehidupan Yesus yang tersebar di berbagai sudut  taman tersebut. Setelah menikmati sejenak semilir angin di ujung akhir Taman dan merenung di depan diorama Yesus bersama para muridnya di kapal dalam danau, saya putar balik berjalan menyusuri sisi kanan taman diorama menuju taman doa di sisi kanan melewati sepasang orang tua muda bersama anak lelaki berusia 6 tahunan yang masih asyik berfoto. Selain tempat doa dengan patung kecil Bunda Maria, di Taman Doa terdapat diorama proses penyaliban Yesus di sisi kanan tempat doa serta
Lempengan baru bertuliskan ayat Alkitab di GMKA
Yesus yang sedang tersalibkan menghadap tempat doa. Di area sembahyang juga disediakan air yang dialirkan melalui kran yang dapat digunakan umat dan pengunjung untuk membasuh muka ataupun minum. Airnya terasa dingin ketika saya gunakan membasuh muka, tangan dan minum. Setelah itu saya melangkah hati-hati ke lokasi sembahyang merenung dan berdoa beberapa saat. Puluhan umat terlihat sedang khusuk berdoa, ada yang berlutut ada yang duduk di bangku-bangku kecil yang telah disediakan di tempat tersebut.  Dari lokasi sembahyang tersebut, saya  berjalan kembali ke lokasi parkir. Sebelum keluar dari Taman Doa, saya mampir dan memberikan donasi ke kotak donasi yang telah disediakan pengelola di samping pintu keluar Taman Doa. Sebelum tiba di tempat parkir, saya melewati beberapa kios souvenir yang menjual souvenir dan pernak-pernik sembahyang. Setelah mengeliling seluruh kompleks Gua Maria Kereb Ambarawa, saya menjadi tahu bahwa kompleks tersebut terdiri dari tiga bagian, yakni bagian berisi Patung Bunda Maria, gedung  pertemuan?, parkir dan kios-kios sovenir sebagai suatu kesatuan yang berada di salah satu sisi jalan. Bagian kedua adalah Taman Diorama dan bagian ketiga adalah Taman Doa.

Depan Pagoda Avaloketisvara
Dari Gua Maria Kereb Ambarawa, saya meneruskan perjalanan ke Vihara Buddhagaya Watugong di Ungaran. Tujuan saya ke Vihara Watugong adalah mengunjungi Pagoda Avaloketisvara atau Pagoda Metakaruna yang artinya cinta dan kasih sayang. Setelah itu saya akan menuju Klenteng Sam Poo Kong di Kota Semarang. Saya tiba di kompleks Vihara sekitar jam 3 sore. Vihara dan Pagoda dibangun dalam kompleks seluas 2,25 hektar di pinggir jalan Semarang-Solo sehingga akses ke lokasi ini sangat mudah. Pengunjung dan umat hanya perlu memberikan donasi secukupnya saat memasuki kawasan yang terletak di depan Markas Kodam IV Diponegoro, Watugong, Ungaran. Setelah Udin memarkir mobil di tempat parkir yang cukup lenggang - hanya ada 4  mobil lain yang sedang parkir - saya keluar dan berjalan ke arah Pagoda yang berjarak puluhan meter dari tempat parkir. Saya mendaki beberapa tangga sebelum mencapai pelataran utama Pagoda. Sebelum tangga menuju Pagoda - di sebelah kanan saya - terdapat pohon Bodhi dengan  patung Budha berwarna keemasan dalam pose bersila di bawah pohon. Sebagaimana aturan pada kuil-kuil di seluruh dunia, umat dan pengunjung harus melepaskan alas kaki, maka saya melepaskan sepatu sebelum mencapai pelataran utama Pagoda. Panas lantai keramik terasa menyengat saat telapak kaki saya menapaki tangga di
Dewi Kwan Im di ruang utama lantai dasar Pagoda
siang terik tersebut. Asap dan harum dupa sembahyang seperti sedang menyambut saya saat tiba di depan ruang sembahyang di lantai dasar Pagoda. Ruang sembahyang ini menghadap lurus ke tangga naik dan turun bagi umat ataupun pengunjung. Tangga dari arah pelataran Pohon Bodhi atau sebaliknya dibagi dua oleh pagar pembatas yang berawal dan/atau bermuara pada wadah pembakar dupa berjarak beberapa anak tangga dari pelataran utama Pagoda - mungkin untuk umat atau pengunung yang naik dan turun. Karena saat saya berada di lokasi tersebut sedang sepi, maka saya bebas memilih sisi kiri atau kanan untuk naik dan turun.

Saya menunduk memberi hormat pada Dewi Kwan Im yang duduk bersila didampingi beberapa patung kecil dan peralatan sembahyang di ruang utama. Saya meminta izin mengamati dan memotret
Di bawah Pohon Bodhi 
arsitektur dan interior ruang utama dari sisi luar. Setelah itu, saya perlahan berjalan mundur lalu belok kiri memutari lantai dasar Pagoda yang memiliki empat ruang lain berisi berbagai pose Dewi Kwan Im. Pagoda Avaloketisvara yang didominasi warna merah dan kuning pada atap dan warna putih pada dindingnya adalah bangunan berbentuk segi delapan bertingkat tujuh setinggi 45 meter. Patung Dewi Kwan Im berada di setiap lantai menghadap empat penjuru mata angin sebagai simbol menyebarkan cinta dan kasih sayang bagi semua makluk di empat penjuru. MURI pada tahun 2006 menobatkan Pagoda ini sebagai
Dewi Kwan Im di salah satu ruang pendamping
bangunan tertinggi di Indonesia. Di sebelah kiri ruang sembahyang, pengelola menjual pernak-pernik sembahyang dan juga souvenir. Setelah berkeliling menikmati dan memotret keindahan Pagoda, saya menghampiri rak penjualan souvenir yang dijaga dua lelaki muda. Setelah mengamati jejeran souvenir sambil bercakap-cakap dengan para penjaga, saya memilih dan membeli 1 paket miniatur berwarna keemasan seharga 110.000 rupiah berisi miniatur Dewi Kwan Im, Panglima We Do dan Dewa Kongcu.  Selesai belanja souvenir, saya pamit ke para penjaga lalu menuruni tangga. Sepatu saya pegang hingga anak tangga terakhir di pelataran Pohon Bodhi. Ranting-ranting Pohon Bodhi dihiasi ratusan kain merah berbagai ukuran berisi tulisan kaligrafi China berwarna kuning emas. Setelah berpose dan memotret beberapa kali di lokasi tersebut, saya kembali ke tempat parkir.

Klenteng Sam Poo Kong 
Sekitar jam 4 sore saat saya dan Udin tiba di parkiran Klenteng Sam Poo Kong di Semarang. Pagar tinggi memisahkan areal parkir dengan kompleks Klenteng. Saya berjalan menghampiri loket karcis membeli tiket masuk dari seorang gadis berparas China memakai baju warna merah dengan motif burung hong dan naga berpotongan gaya China sebagaimana saya lihat di film-film China. Setelah melewati petugas pemeriksa tiket, saya masuk ke dalam kompleks Klenteng yang cukup luas. Di depan saya berjarak 50an meter dari pintu masuk terdapat bangunan terbuka berwarna merah dengan atap berukir khas Tiongkok. Bangunan ditopang puluhan tiang berukuran sepelukan orang dewasa didominasi warna merah dan abu-abu semen berukir.
Gerbang di samping patung Sam Poo Kong
Bangunan ini memiliki pelataran terbuka seperti panggung menghadap ke dua kompleks bangunan kuil berjarak puluhan meter dipisahkan lapangan terbuka berbentuk huruf U seperti mengurung bangunan dan pelataran terbuka tersebut. Saya menaiki tangga menuju lantai dasar bangunan dan pelataran terbuka yang dibangun dalam ketinggian 3-5 meter dari permukaan tanah. Dari pelataran bangunan terbuka di ketinggian tersebut saya bisa mengamati keseluruhan kompleks dalam Klenteng. Selain 2 bangunan kuil di depannya, di sebelah kanan terdapat bangku-bangku di bawah pepohonan rindang tempat ratusan orang sedang duduk santai menikmati kesejukan sore hari. Di
Patung Sam Poo Kong
sebelah kiri di ujung kompleks terdapat patung raksasa Sam Poo Kong bersisian dengan gerbang berwarna merah dengan pintu raksasa berwarna coklat gelap yang sedang tertutup rapat diapit 2 pintu kecil di sisi kiri dan kanannya. Puluhan pengunjung terlihat berpose di lokasi tersebut. Setelah puas mengamati dan memotret keindahan arsitektur bangunan dan pelataran terbukanya, saya menuju sisi kiri lalu turun melalui tangga di sisi tersebut. Saya berjalan ke patung Sam Poo Kong dan pintu gerbang raksasa guna melihat lebih dekat sekaligus memotret.

Saya menghabiskan 1 jam di dalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong. Senja mulai turun di Semarang saat saya dan Udin keluar dari tempat parkir menuju Lawang Sewu. Rencana jelajah tempat-tempat di Semarang saya susun seperti memakan bubur panas. Saya memulai dari lokasi terjauh di luar Kota Semarang lalu bergerak mendekati kota hingga berlabuh di hotel mengistirahatkan tubuh di malam hari. Saya masih punya dua tempat lain untuk dikunjungi di Semarang sebelum istirahat malam lalu melanjutkan perjalanan ke Dieng di Kabupaten
Banguan dan panggung terbuka dalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong
Wonosobo pada esok harinya. Karena belum malam, saya meminta Udin mengantar saya ke Gedung Lawang Sewu sebelum menuju hotel untuk check in. Rencananya setelah check in, mandi dan ganti pakaian, saya akan menjelajah Kota Lama Semarang sekalian mencari makan malam di kawasan tersebut.

Bersambung


Jumat, 04 Maret 2016

JELAJAH JEPANG: MIYAJIMA

Dari Pintu Utara stasiun Hiroshima, saya naik 1 lantai menggunakan eskalator ke pelataran peron
Depan gerbang Torri Kuil Miyajima
Shinkansen lalu sedikit belok kiri menuju pintu berpalang ke pelataran sisi Selatan. Jika saya berjalan lurus melewati pintu berpalang di depan, maka saya masuk ke peron kereta Shinkansen. Namun karena saya akan ke Miyajima menggunakan kereta lokal, maka saya menuju pintu bagian Selatan bangunan terminal. Saya menunjukan kartu JR Pass ke seorang petugas yang berjaga di loket samping pintu berpalang lalu saya keluar melalui jalan di samping loket yang tidak berpalang bagi para pengguna JR Pass. Lima meter dari pintu berpalang, saya belok kiri dan berjalan lurus ke arah Selatan. Di langit-langit stasiun dan juga di ujung bangunan bagian Selatan tersedia petunjuk digital ke berbagai arah. Karena saya akan ke Miyajima, maka saya belok kanan turun menggunakan eskalator ke peron kereta lokal yang akan berangkat ke stasiun Miyajimaguchi yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan kereta dari stasiun Hiroshima. Saat saya sedang turun menggunakan eskalator, saya telah melihat papan penunjuk arah peron kereta ke Miyajimaguchi yang berada di sebelah kanan. Saat kaki saya menapak di lantai bawah tanah, saya langsung bergegas ke kereta yang terlihat penuh.
Selat pemisah Miyajimaguchi dan Pulau Itsukushima
"Miyajimaguchi?", tanya saya ke seorang lelaki yang berdiri di dalam gerbong depan pintu kereta. Lelaki tersebut mengangguk sehingga saya bergegas masuk ke dalam gerbong. Tak lama kemudian kereta bergerak meninggalkan stasiun Hiruoshima. Menggunakan aplikasi google online di HP, saya memantau rute perjalanan kereta dan stasiun-stasiun yang disinggahi sebelum tiba di stasiun Miyajimaguchi. Google map menunjukan 2 jalur kereta yang dikelola 2 perusahaan kereta berbeda dimana salah satunya adalah adalah Japan Rail (JR) yang sedang saya gunakan Pass-nya keliling Jepang. JR Pass merupakan fasilitas berbayar yang disediakan perusahaan kereta JR bagi pengunjung dari negara lain. Pass ini harus dibeli di negara asal sebelum tiba di Jepang. Di beberapa stasiun yang
Daratan Miyajimaguchi di kala senja
disinggahi kereta, penumpang mulai berkurang sehingga saya mendapatkan tempat duduk di samping seorang ibu tua berhadapan dengan seorang ibu paruh baya dan anak lelakinya. Saya tersenyum dan mengangguk ke si ibu yang membalas ramah.

Pengalaman ke Minoo park di Osaka membuat saya kuatir terlambat tiba di kuil Miyajima yang tutup pada jam 5 sore waktu Jepang. Sekitar 30an menit menempuh rute stasiun Hiroshima - Miyajimaguchi, kereta tiba di stasiun. Saya turun lalu mengikuti petunjuk arah yang terpampang jelas menunjuk ke pelabuhan ferry. Saya harus berjalan kaki sekitar 10 menit dari stasiun Miyajimaguchi ke dermaga
Gerbang masuk ke dermaga Ferry non JR
tempat kapal ferry menaik-turunkan penumpang setiap 5-10 menit. Akses ke dermaga harus melalui lorong bawah tanah dari stasiun. Untuk itu tersedia pilihan menggunakan tangga atau lift. Saya memilih menggunakan tangga menuju dan keluar dari lorong. Saat keluar dari lorong saya telah berada di seberang jalan yang melintas di depan stasiun JR Miyajimaguchi. Berbagai kios berjejer rapi menjual berbagai souvenir dan juga makanan kecil, terutama kue-kue berbentuk daun maple berbagai ukuran dan warna. Saya terus berjalan menyeberangi jalan menuju dermaga ferry.

Di ujung jalan dekat pelabuhan terdapat cabang jalan ke kiri atau ke kanan. Karena saya melihat ratusan orang berjalan ke arah saya dari sisi kanan, maka saya memilih berjalan ke sisi kiri yang lebih sepi dengan asumsi sebelah kiri adalah tempat naik sedangkan kanan untuk turun. Sebelum masuk melewati gerbang menuju gedung pelabuhan, saya sempatkan berfoto di depan pintu gerbang dengan meminta seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri di lokasi tersebut. Kami berdua berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat karena si lelaki tidak bisa berbahasa Inggris, namun dengan ramah memotret saya di depan gerbang pelabuhan. Sebelum melewati gerbang, saya sempatkan mampir ke toilet umum di sebelah kanan saya saat saya
Pelabuhan Ferry Miyajimaguchi
menghadap ke gerbang masuk bangunan terminal. Dari toilet saya buru-buru melewati gerbang dan berlari kecil ke dermaga. Tiba di loket pemeriksaan tiket yang dijaga 2 petugas, saya mengeluarkan dan menunjukan JR Pass ke mereka. Sambil tersenyum, seorang lelaki paruh baya yang sedang menjaga loket bersama temannya mengatakan ke saya bahwa ferry JR berada di sisi sebelah alias di sisi kanan saya di pertigaan jalan yang telah saya tinggalkan. Dermaga di sisi kiri yang saya tempuh saat ini merupakan dermaga ferry non JR. Saya mengucapkan "arigato" sambil mengangguk lalu bergegas balik arah dan berlari kecil melewati jalan yang barusan saya lalui menuju gerbang keluar dan masuk. Dari gerbang saya berjalan lurus sekitar 10an meter lalu belok kiri menuju dermaga ferry JR yang berjarak sekitar 100an meter dari pelataran gerbang.

Aktifitas senja di selat Miyajimaguchi
Saya antri di belakang calon penumpang lain yang telah terlebih dahulu berada di tempat tersebut. jalan masuk dan keluar penumpang dibagi 2 dan dibatasi tali temali sebesar ibu jari kaki orang dewasa. Para penumpang yang turun dan meninggalkan ferry berjalan di sebelah kanan saya, sedangkan para penumpang yang akan naik, termasuk saya berada di sebelah kiri. Tak menunggu lama, ferry dari pulau Itsukushima tiba dan menurunkan penumpangnya. Seorang petugas berdiri menghadap ke para calon penumpang mengawasi tali pembatas yang terpasang rapi di tempatnya. Seorang lainnya berdiri mengawasi para penumpang yang turun dan meninggalkan ferry. Setelah penumpang terakhir menginjakan kaki di daratan, petugas yang mengawasi para calon penumpang membuka tali penghalang mempersilahkan para calon penumpang berjalan dan memasuki ferry yang baru saja kosong. Saya berjalan santai menuju ferry lalu naik ke geladak atas yang terbuka sehingga memudahkan para penumpang mengeksplorasi pemandangan di kiri dan kanan kapal. Saat semua penumpang telah masuk ferry, pintu ditutup lalu kapal bergerak meninggalkan pelabuhan. Kapal ferry bercat putih ini sangat bersih walau baru saja ditinggalkan para penumpang yang telah turun beberapa menit lalu di dermaga Miyajimaguchi. Bangku-bangku kayu dan kursi-kursi fiber berwarna oranye menyediakan tempat duduk yang cukup nyaman bagi para penumpang yang ingin duduk.

Gerbang Torri Kuil Miyajima dari atas kapal Ferry
Semilir angin sore menjelang malam terasa kuat di geladak atas saat kapal ferry secara perlahan menyeberangi selat yang memisahkan daratan Miyajima dengan pulau Itsukushima. Saya berpindah dari satu sisi ke sisi lain untuk mendapatkan foto berbagai obyek yang berada di daratan maupun di selat seperti kapal-kapal yang sedang berseliweran, benda lain yang terlihat seperti bagan / alat penangkap ikan secara tradisional di Indonesia, langit senja yang sedang memerah dan berawan, suasana pelabuhan, bangunan-bangunan di sisi daratan Miyajima, bayangan kelabu kerimbunan pepohonan di daratan Itsukushima dan gerbang Torri kuil Itsukushima yang terlihat di kejauhan seperti muncul dari dalam laut. Saat kapal ferry bergerak perlahan menuju dermaga lalu berhenti dan pintu mulai terbuka, petugas berseragam putih melempar tali kapal ke daratan. Tali tersebut diambil dan diikatkan ke tiang besi oleh petugas lain di darat guna menahan kapal tetap berada di tempatnya saat penumpang turun dan naik. Para calon penumpang yang akan pulang ke daratan Miyajimaguchi telah antri dalam barisan panjang yang dipagari tali sebagai pembatas dengan area jalan yang akan dilalui penumpang yang turun.

Gerbang Torri Kuil Miyajima dari Pulau Itsukushima
Saat pintu kapal terbuka sempurna, saya keluar dan berjalan bersama penumpang lain menuju bangunan terminal berjarak puluhan meter dari kapal ferry. Dari bangunan terminal saya keluar mengikuti jalur jalan yang telah disediakan menuju kuil Miyajima. Tak ada mobil, motor ataupun sepeda terlihat berseliweran di jalan tersebut. Toko, kios dan hotel terlihat berjejer di sebelah kanan jalan  jalan tanah seller 8an meter yang sedang saya susuri. Sedangkan sebelah kiri adalah tanggul beton sebagai pembatas daratan dan lautan. Saya berpapasan dengan para pengunjung siang hari yang berjalan ke pelabuhan ferry akan kembali ke daratan Miyajima. Jalan dibuat memanjang mengikuti garis pantai ke bangunan kuil Miyajima.
Pagoda dan Kuil Miyajima
Puluhan rusa jinak berkeliaran di jalanan yang dilalui ratusan manusia dari berbagai bangsa. Satu dua rusa mecoba mendekati saya saat saya berhenti untuk memotret beberapa obyek di lokasi yang sedang saya lalui. Sekitar 1km dari pelabuhan, saya tiba di belokan menuju kuil Miyajima. Gerbang Torri yang sedang terendam air pasang berada di sebelah kanan saya saat saya berdiri menghadap kuil. Saya terus menerus memotret dan meminta tolong pengunjung lain memotret diri saya mengabadikan kunjungan saya ke kuil yang telah sangat terkenal di dunia para penjelajah maupun wisatawan. Malam mulai turun saat saya berjalan ke gerbang bangunan kuil. Seorang lelaki berkimono sedang menyapu halaman saat saya melewati gerbang menuju loket karcis di sebelah kanan gerbang. Loket karcis yang masih buka dijaga seorang petugas kuil berkimono putih bersih. Saya menyerahkan 300yen kemudian menerima sepotong karcis. Petugas mengingatkan saya bahwa kuil akan tutup 30menit lagi. Saya mengangguk lalu berjalan ke dalam bangunan kuil yang telah menyalakan lampu-lampunya karena malam hari telah tiba.

Kuil Miyajima
Bangunan kuil Itsukushima atau lebih terkenal sebagai kuil Miyajima merupakan kuil Shinto yang didominasi warna merah dengan aksen putih dan hitam di beberapa bagian. Seluruh bangunan terbuat dari kayu, termasuk lantainya. Kuil dibangun mengikuti kontur tanah tepi pantai berbentuk U dan L menjorok ke atas laut dalam suatu teluk kecil. Saat air laut pasang, bangunan kuil terlihat mengapung. Gerbang Torri yang sangat terkenal di dunia wisata terlihat berjarak seratusan meter dari bangunan kuil. Gerbang Torri terlihat masih mengapung karena air laut masih sedang pasang. Bangunan kuil sangat tamaram, bahkan di beberapa lokasi terlihat gelap karena lampu-lampu kertas khas Jepang tidak bisa menerangi seluruh area. Saya berjalan hati-hati mengamati arsitektur kuil yang terlihat kokoh dan sederhana namun sangat elok. Saya tiba di pelataran terbuka yang berada dalam satu garis lurus dengan gerbang Torri.

Dari pelataran ini saya bisa melihat dan memotret sebagian bangunan kuil termasuk Pagoda yang menjulang di belakang Kuil. Setelah itu saya berjalan ke ujung pelataran yang dibatasi tugu
Kuil Miyajima
berwarna abu-abu setinggi 2 meter. Gerbang Torri, Tugu dan Ruang Sembahyang dalam Kuil berada dalam satu garis lurus imajiner. Di kiri saya terlihat satu bangunan kecil terbuat dari kayu dalam kondisi gelap. Di belakangnya dalam jarak 10an meter, beberapa petugas berseragam kimono putih sedang menjaga kios kecil menjual souvenir dan pernak-pernik kebutuhan sembahyang. Saya berjalan ke Tugu dan antri dengan pengunjung lain menunggu giliran foto di Tugu dengan latar gerbang Torri. Sayangnya setelah mencoba beberapa kali, saya  menyerah karena hasil pemotretan selalu buram disebabkan ketiadaan tiang penyangga kamera / treepot sebagai alat bantu menahan kamera dalam pemotretan minim cahaya seperti saat ini.


Ruang sembahyang Kuil Miyajima
Dari lokasi tugu, saya berjalan kembali ke bangunan utama menyusuri jalan yang telah saya lewati menuju gerbang masuk. Saat tiba di ujung bangunan berhadapan dengan halaman dan gerbang, loket karcis dan juga gerbang telah ditutup. Tak ada seorang pun terlihat di lokasi tersebut agar saya bisa menanyakan pintu keluar. Karena itu, saya berjalan kembali ke arah pelataran melewati bangunan dan ruang sembahyang terus ke kios penjualan souvenir menanyakan jalan keluar dari kompleks kuil. Petugas menunjuk ke sebelah kiri bangunan kuil atau sebelah kanan saya saat bicara berhadapan dengan petugas. Saya
Kuil Miyajima
mengucapkan terima kasih sambil mengangguk kemudian berjalan ke kiri melewati lorong-lorong kuil yang sangat tamaram hingga tiba di pintu keluar yang berbatasan dengan ruang terbuka di luar kompleks kuil. Setelah berjalan sekitar 20an meter dari gerbang keluar di bagian samping belakang kuil, saya tiba di pertigaan yang sangat sepi. Saya ingat gerbang masuk dan loket karcis berada di sebelah kiri sehingga saya belok kiri menyusuri jalan tanah selebar 3 meteran. Sebelah kanan saya berjejer bangunan khas Jepang yang telah menutup rapat pintu dan jendelanya karena udara malam yang makin dingin. Di sebelah kiri saya terdapat sungai kecil dengan air mengalir yang sangat jernih sehingga saya dapat melihat dasar sungai dalam tamaram lampu jalan.  Saya terus berjalan mengikuti kontur jalan yang agak mendaki
Kuil Miyajima
mengitari kompleks samping dan belakang kuil hingga saya tiba di jalan depan gerbang masuk kuil. Dari situ saya terus berjalan kembali menyusuri jalanan yang telah saya lewati saat berkunjung ke kuil. Saya melewati beberapa orang yang sedang menyusuri jalan yang sama, termasuk sepasang kekasih yang mengenakan kimono dengan sandal terompah. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan dan bercakap-cakap dalam bahasa yang tak saya kenal. Lelakinya terlihat seperti orang Jepang, sedangkan perempuannya bertampang bule. Di beberapa lokasi sepanjang tepi pantai terlihat masih ada pengunjung yang bertahan  menikmati keindahan malam Itsukushima dan keelokan gerbang Torri yang sedang bermandikan cahaya lampu. Saya sempat memotret satu speed boat yang sedang melintas dekat gerbang Torri.

Pemukiman di belakang Kuil Miyajima
Saya terus berjalan menyusuri jalan pulang ke terminal pelabuhan guna menunggu kapal ferry kembali ke Miyajimaguchi. Jalanan yang saya susuri terlihat mulai sepi dalam dinginnya malam. Saya masuk ke bangunan terminal, menunjukan JR Pass ke petugas yang berjaga di pintu lalu berjalan terus ke arah pelabuhan. Saya antri di belakang pengunjung lain yang telah terlebih dahulu antri menunggu kapal kembali ke Miyajimaguchi. Prosesi yang sama seperti kedatangan saya ke Itsukushima kembali diulangi guna pulang ke Miyajimaguchi  hingga tiba dan menghabiskan malam di Hiroshima.
Berbagai jenis rasa kue mapel di Miyajimaguchi
Saat berjalan kembali ke stasiun dari dermaga ferry. Saya mampir di salah satu kios membeli kue daun maple rasa coklat dan vanilla untuk mengisi perut yang telah keroncongan. Saya tiba di stasiun Hiroshima sekitar jam 10 malam. Karena hotel terletak di samping stasiun Hiroshima, maka saya hanya perlu waktu 7 menit jalan kaki dari peron kereta JR di Selatan ke hotel Grandvia di Utara stasiun. Air hangat hotel terasa menyegarkan tubuh sebelum tertidur dalam kelelapan malam Hiroshima. Sebelum meninggalkan Hiroshima menuju Kyoto pada jam 8 pagi keesokannya, saya sempatkan memotret subuh hari di jalan dan perempatan dekat hotel yang sangat sepi dan sangat dingin di musim gugur menjelang musim dingin di Jepang.

Gerbang Torri Kuil Miyajima di malam hari
Bersambung..


JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...