Sabtu, 21 Mei 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Gunung Api Batutara dan Perjalanan ke Larantuka, Flores Timur

Gunung api Batutara di subuh hari
Para anggota rombongan yang ingin melihat pesona dan keindahan letupan gunung api Batutara telah bangun di awal subuh. Saat saya tiba di lobby hotel, sebagian anggota rombongan telah duduk betebaran di kursi-kursi lobby menunggu keberangkatan ke pelabuhan guna menumpang kapal cepat ke lokasi gunung api Batutara. Beberapa sedang berdiri dan merokok sambil ngobrol di teras hotel. Pesona, keelokan dan keindahan letupan Batutara hanya bisa dilihat dan dinikmati saat langit masih gelap sehingga panitia mengatur keberangkatan kami di subuh hari. Saat semua anggota rombongan telah siap, kami diminta naik ke bis-bis yang telah siap sedia di halaman hotel. Perjalanan hotel ke
Gunung api Batutara di subuh hari
pelabuhan ditempuh sekitar 10an menit. Tiba di pelabuhan, kapal cepat yang akan kami tumpangi telah menunggu. Satu per satu anggota rombongan memasuki kapal di keremangan subuh. Setelah semua anggota rombongan, panitia dan kru kapal telah berada dalam kapal, nahkoda menghidupkan mesin dan mulai menjalankan kapal meninggalkan pelabuhan. Kami akan menempuh perjalanan laut selama 2 jam karena itu saya memilih kembali tidur di kapal yang kadang-kadang terangkat dan terhempas gelombang. "Untung gelombang tidak terlalu besar sehingga tidak ada anggota rombongan yang pusing dan muntah-muntah", demikian kata-kata Denny salah satu pemimpin rombongan, saat kami tiba di lokasi gunung api Batutara. "Saat kami membawa rombongan wartawan foto, ada beberapa yang muntah-muntah karena gelombang besar", lanjut Denny. Saya hanya tersenyum kecut mendengar kalimat-kalimat Denny.

Gunung api Batutara di subuh hari
Subuh masih gelap di sekitar pulau tempat gunung api Batutara berada. Kapal terus menerus diombang-ambingkan gelombang karena kapal tidak membuang jangkar dan berlabuh di pantai sekitar gunung api Batutara. Semua anggota rombongan telah terbangun dan siaga di tempat masing-masing menunggu semburan lava api berwarna merah terang di tengah kegelapan subuh. "Wow, demikian dengung kekaguman para anggota rombongan saat melihat semburan lava pijar Batutara. Semburan lava pijar terus menerus terjadi dalam rentang waktu 20-25 menit. Dari jendela kapal bagian dalam, saya beralih ke luar dan bergabung dengan anggota rombongan lain yang sedang duduk atau berdiri
Gunung api Batutara di subuh hari
menikmati pesona semburan lava. Kapal terus menerus bergoyang sehingga menyulitkan posisi stabil kamera memotret pesona semburan magma pijar merah menyala. Saking asyik memotret menggunakan kamera DSRL, saya lupa menggunakan kamera HP yang seharusnya lebih stabil. Beruntunglah dalam kondisi memotret yang tidak stabil karena goyangan kapal, foto-foto yang dihasilkan justru terlihat seperti lukisan abstrak :).

Gelombang dan arus laut membuat kapal kadang menjauh dari titik pandang sehingga nahkoda kapal beberapa kali menghidupkan
Lagi sarapan di kapal
mesin kapal guna mendekatkan kembali kapal ke semburan lava hingga matahari tersibak sempurna di horizon Timur. Saat lingkungan sekitar telah terang benderang, pesona merah api magma yang tersembur ke langit gelap pun menghilang berganti gumpalan debu setinggi puluhan meter saat sang gunung mengeluarkan lava dari perut bumi. Kapal cepat yang kami tumpangi bergerak mengelilingi pulau kecil yang menjadi lokasi gunung api Batutara - seolah mengucapkan selamat tinggal - lalu melaju kembali ke  Pulau Lembata yang terentang dalam jarak waktu tempuh kapal cepat sekitar 2 jam dari lokasi gunung api Batutara. Anggota rombongan dan para ABK sempatkan sarapan teh dan kopi serta kue-kue yang disediakan panitia sebelum kapal meninggalkan lokasi Batutara.

Hanya debu yang terlihat di pagi hari
Setelah menempuh waktu sekitar 2 jam, kapal cepat yang membawa rombongan tiba kembali di dermaga Pulau Lembata. Satu demi satu anggota rombongan meninggalkan kapal. Matahari pagi telah bersinar cerah menerangi alam sekitar di bawah langit Lembata yang berwarna biru terang dihiasi gumpalan-gumpalan awan kecil seperti lukisan raksasa buah tangan sang Pencipta. Sebelum kami meninggalkan dermaga, saya meminta semua anggota rombongan berkumpul untuk foto bersama sebagai kenangan kami, karena setelah meninggalkan Pulau Lembata saat tour berakhir, kami belum tentu akan bertemu kembali. Selesai foto-foto, masing-masing anggota rombongan berjalan ke bis dan truk yang telah menunggu sekitar 20an meter dari dermaga.

Para anggota rombongan di dermaga Lembata
Rencana hari ini, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke desa Lamalera, tanah para pemburu ikan paus yang telah terkenal hingga ujung dunia. Karena saya dalam kondisi tidak sehat disebabkan serangan batuk terus-menerus, saya memutuskan tidak meneruskan perjalanan di Pulau Lembata. Saya memisahkan diri dari rombongan yang meneruskan perjalanan ke Lamalera untuk melihat perburuan ikan paus secara tradisional. Staf hotel menginformasikan 2 pilihan transportasi laut dari Lembata ke Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, yakni kapal cepat atau kapal kayu dengan jam keberangkatan, waktu perjalanan dan harga tiket yang berbeda. Perjalanan menggunakan kapal cepat Lembata - Larantuka ditempuh dalam waktu 2 jam sedangkan dengan kapal kayu memakan waktu sekitar 4 jam. Dengan menggunakan ojek yang saya bayar 20 ribu rupiah dari hotel ke pelabuhan Lembata, saya tiba sekitar jam 12 siang di pelabuhan. Saya memilih menggunakan kapal kayu dengan pertimbangan bisa menikmati landscapes sepanjang perjalanan.

Pelabuhan Lembata
Kapal kayu bercat hijau pupus yang saya tumpangi berangkat jam 12.30 di siang hari nan cerah. Kapal yang saya tumpangi ini berukuran lebar sekitar 10 meter dan panjang 20an meter terdiri atas 2 dek penumpang. Saya memilih dek atas sehingga bisa memotret secara leluasa sepanjang perjalanan. Kapasitas muat kapal melebihi jumlah penumpang yang hanya puluhan sehingga beberapa penumpang memilih tidur di bangku-bangku kapal yang kosong. Bangku yang saya duduki juga kosong - sepertinya para penumpang lain tidak berminat duduk dekat saya yang menenteng kamera sehingga mungkin disangka wartawan.

Ile Ape dari pelabuhan Lembata
Saya tidak salah memilih kapal kayu dalam perjalanan ke Larantuka. Kapal melaju pelan di lautan yang sangat tenang. Gelombang laut hanyalah riak-riak kecil yang tak sedikitpun menggoyangkan kapal. Saya bebas berjalan ke sana-sini mencari posisi terbaik untuk memotret berbagai obyek sepanjang perjalanan. Ile Ape masih berdiri tegak di belakang kapal seakan mengucapkan selamat jalan. Nun jauh di sisi kanan, Ile Boleng di Pulau Adonara tersenyum dan melambai sendu mengantar perjalanan saya menuju Larantuka. Perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan berayun-ayun di lautan
Panorama Pulau Lembata di sebelah kiri kapal 
lepas di sebelah kanan bersamaan dengan tarian camar-camar laut yang melayang di langit biru cerah dan sesekali menukik ke lautan menyambar ikan untuk makan siangnya. Pantai-pantai indah bersama perbukitan coklat dan hitam dengan sedikit pepohonan sebagai selingan terlihat bagaikan lukisan raksasa goresan sang Pencipta di sebelah kiri kapal kayu yang terus melaju tenang.

Empat jam perjalanan laut seperti tak terasa karena saya asyik menikmati panorama alam luar biasa yang terpampang di kiri dan kanan kapal sepanjang perjalanan. Kapal kayu singgah sekitar 20an menit di pelabuhan lokal Pulau Adonara. "Pelabuhan Waiwerang", kata anak lelaki penjual pisang goreng yang saya beli saat anak tersebut
Ile Boleng di Pulau Adonara dari Pelabuhan Waiwerang
bersama teman-temannya menaiki kapal dan bekeliling menjual makanan dan minuman. Sekantong plastik pisang kapok setengah matang yang digoreng garing menemani sisa perjalanan saya dari pelabuhan Waiwerang ke Larantuka. Pisang kapok merupakan salah satu favorit saya saat sarapan ataupun minum teh sore di kampung halaman ketika liburan sekolah. Ayahanda tercinta secara khusus menanam pisang kapok di halaman samping rumah di kampung guna bisa dipanen saat saya liburan sekolah menengah sampai dengan menyelesaikan kuliah dan bekerja selama beberapa tahun di Kupang sebelum hijrah ke Jakarta. Mendapatkan pisang kapok goreng di pelabuhan Waiwerang merupakan suatu keistimewaaan bagi saya dalam perjalanan laut Lembata - Larantuka. Rasa manis gurihnya berbeda jauh dengan kue pisang yang dijual para penjual gorengan di seantero Jakarta.

Pelabuhan Larantuka 
Sore hari telah menghampiri Kota Rainha Larantuka saat kapal kayu yang saya tumpangi merapat ke pelabuhan kapal-kapal kayu. Deretan rumah dan bangunan diselingi pepohonan terlihat bagaikan lukisan lain yang terhampar di pandangan saat kapal mengayun perlahan mendekati pelabuhan. Ile Mandiri berdiri kokoh menopang langit Kota Larantuka. Lengan-lengannya terentang untuk memeluk dan mengucapkan selamat datang bagi warga yang pulang ataupun para pelintas seperti saya. Di sisi kanan pelabuhan terlihat satu kapal penumpang PELNI sedang berlabuh. Saat kapal berlabuh sempurna, para porter berhamburan masuk. Dengan menenteng ransel kamera dan menarik koper,
Pelabuhan Larantuka
saya turun ke pelabuhan menghampiri para tukang ojek yang telah siap sedia di sekitar lokasi tersebut. "Kemana pak?, tanya salah satu pengojek. "Ke hotel terdekat", jawab saya. Koper saya diambil-alih salah satu pengojek yang menempatkannya di bagian depan sepeda motor dekat kakinya. Saya menaiki ojek yang melaju meninggalkan pelabuhan menyusuri jalanan kota Larantuka. Tak sampai 10an menit, pengojek memasuki halaman hotel bernama Lestari. Saya turun dan masuk ke lobby hotel menuju meja resepsionis yang dijaga seorang perempuan muda. Hotel ini terlihat seperti rumah besar dari halaman depannya. Meja resepsionis berada di sebelah kiri pintu masuk, sedangkan di sebelah
Tempat saya menginap di Larantuka
kanannya terdapat 2 stel sofa bagi para tamu. "ada kamar kosong?", tanya saya. "ada, kata resepsionis sambil menyodorkan daftar harga kamar yang diprint pada kertas HVS ukuran A4 dan telah dilaminating. Hanya ada 2 tipe kamar, yakni tipe ekonomi dan standar. Saya memilih kamar standar yang dilengkapi fasilitas AC seharga 250 ribu rupiah per malam.

Saya memilih bermalam di hotel daripada di rumah saudari sepupu yang menikah dan tinggal di Larantuka. Sorenya, saudari sepupu bersama suaminya menjemput serta meminta saya pindah ke rumah mereka, namun saya menolak karena saya telah membayar kamar serta saya tidak ingin merepotkan mereka :). Walau terus didesak oleh sepupu perempuan saya, namun saya bertahan tetap nginap di hotel. Akhirnya kami berkompromi, saya mengunjungi rumah mereka yang berjarak 10an menit kendaraan bermotor dari hotel. Kami mengakhiri malam dengan makan bersama 2 ponakan perempuan saya di rumah makan ikan bakar yang terletak di depan hotel Lestari tempat saya menginap malam itu. Saya dan keluarga sepupu berpisah
Teras depan kemar-kamar Hotel Lestari Larantuka
di rumah makan. Saya kembali ke hotel dan mereka kembali ke rumahnya. Dari suami sepupu, saya mendapatkan nomor HP pemilik mobil yang dapat saya sewa dan gunakan dari Larantuka ke Ende dengan menyinggahi beberapa tempat dalam daftar yang telah saya buat dari Jakarta, termasuk Danau Kelimutu. Saya akan berganti mobil di Ende menggunakan mobil sewaan yang disopiri Yudi, salah satu pemuda Ende yang telah saya kenal tahun 2014 saat menyinggahi kota tersebut dan mengunjungi Danau Kelimutu (baca catatan perjalanan tahun 2014 di Ende dan Danau Kelimutu). Karena saya tidak mendapatkan sunrise di Danau Kelimutu pada jelajah tahun 2014, maka saya jadwalkan lagi perjalanan ke Danau Kelimutu pada Jelajah Flores : Timur ke Barat pada tahun 2015 ini.

Jalan depan Hotel Lestari Larantuka di pagi hari
Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...