Sabtu, 04 Januari 2014

NAPAK TILAS SUATU LAMARAN KERJA

Ini juga posting JADUL tahun 2007. Saat bongkar-bongkar blog baru ketahuan kalo posting ini belum dipublikasikan pada tahun 2007... lama amaat ya? hhehehhe
=========================

Setelah melalui suatu rangkaian seleksi ketat selama sekitar 4 bulan, akhirnya saya menjadi staf UNDP untuk Program Pembangunan Papua (Papua Development Program / PDP) dalam posisi sebagai Program Officer untuk wilayah Provinsi Irian Jaya Barat.


Pengalaman pribadi saya lolos seleksi di UNDP telah menggugurkan berbagai rumor dan gosip yang mampir ke telinga saya tentang praktek-praktek KKN saat rekruitmen di lembaga tersebut. Nyatanya saya lolos seleksi walau tidak mengenal seorangpun di lembaga tersebut. Mungkin saja ada orang lain yang mengalami sebaliknya dari pengalaman saya saat melamar ke lembaga tersebut - yang lalu menimbulkan berbagai gosip dan rumor tentang KKN saat rekruitmen di lembaga tersebut. Namun untuk pengalaman pribadi saya, harus saya nyatakan bahwa saya lolos seleksi melalui suatu proses yang cukup selektif, independen dan obyektif, karena saya tidak memiliki hubungan ataupun mengenal para anggota panel juri yang menginterview saya melalui teleconference.

Saat saya diberitahu melalui email bahwa saya merupakan salah satu applicant yang terpilih untuk diinterview, saya kaget karena telah lupa akan aplikasi saya ke UNDP. saya lalu memeriksa semua file yang tersedia di rumah namun tidak menemukan file lamaran ke UNDP. Akhirnya saya mencoba melalui website UNDP untuk mencari no kode posisi pekerjaan yang saya lamar sebagaimana tertulisa pada email pemberitahuan tentang interview yang akan dilakukan. Di website UNDP saya masuk ke bagian vacations lalu menelusuri berbagai situs internal yang terkait pada lowongan kerja. Menggunakan nomor referensi tersebut, saya akhirnya menemukan job yang saya lamar berisi berbagai persyaratan dan kualifikasi yang dibutuhkan. setelah membaca sekilas, saya akhirnya putuskan untuk print out dokumen tersebut guna dipelajari sebagai persiapan interview.

Interview melalui teleconference dilakukan oleh 4 orang, yakni Pak Paul, Pak Handoko, Ibu Yanti dan Pak Haryo. Orang-orang yang belum pernah saya dengar namanya ataupun kenal wajahnya. Setelah menandatangi kontrak barulah saya diperkenalkan dengan mereka satu demi satu, kecuali Pak Handoko - yang hingga saya menulis catatan harian ini belum pernah saya temui.

Kurang lebih seminggu setelah interview teleconference tersebut, saya menerima email bahwa saya termasuk salah satu kandidat yang dipertimbangkan. Untuk itu saya harus mengisi form personal history yang dikirimkan melalui email yang sama. Di form tersebut saya juga harus menyertakan nama dan alamat lengkap dari minimal 3 referensi yang bisa memberi informasi tentang kompotensi saya. Saya lalu mengirim 4 referensi yang lalu dihubungi bagian HRU UNDP Indonesia di Jakarta dan diminta mengisi format referensi yang disediakan. Setelah syarat dan prosedure tersebut dilalui, sekitar 1 minggu kemudian saya dikirimi draf kontrak dan berbagai persyaratan lainnya yang harus dipelajari dan dinegosiasikan jika perlu. Komunikasi dilakukan melalui email menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi UNDP. Setelah saya setuju dengan semua persyaratan yang diajukan, seminggu kemudian bagian HR menelpon saya untuk memberitahukan tanggal penandatanganan kontrak di kantor UNDP - Jakarta.

Hari pertama tanggal 1 November 2006, saya datang ke kantor UNDP Indonesia di Jakarta. Kedatangan saya ke kantor tersebut langsung berhadapan dengan security prosedure yang cukup ketat. Setelah melalui prosedur tersebut saya lalu bertemu bagian HR untuk menanda-tangani kontrak kerja selama 1 tahun yang berlaku efektif pada tanggal 1 Nov 2006 s/d 31 Okt 2007. Selesai urusan kontrak saya langsung dihadapkan ke bagian security untuk mengikuti security training. Di ruangan security saya berhadapan dengan komputer selama 4 jam untuk mempelajari berbagai bahan training yang tersedia di komputer sekaligus mengikuti ujian akhir guna mendapatkan sertifikat lolos training safety and security UNDP sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat ke tempat tugas saya di ibukota Provinsi Irian Jaya Barat - Manokwari. Saat akan menandatangani kontrak, saya langsung terkejut melihat my duty station is Manokwari. Setahu saya, saya melamar untuk duty station di Jayapura ibukota Provinsi Papua, bukan Manokwari ibukota Provinsi Irian Jaya Barat. Person in charge dari bagian HR memberitahu saya bahwa hal tersebut telah tercantum di draf kontrak yang telah dikirim pada saya 1 minggu sebelumnya. Menyadari bahwa saya yang tidak teliti mempelajari draft kontrak tersebut, saya akhirnya menandatangani kontrak tanpa komentar lagi. Setelah mendapatkan sertifikat security saya lalu dipertemukan dengan kepala keamanan UNDP untuk mendapatkan briefing singkat tentang situasi keamanan di Indonesia dan tempat tugas saya. Selesai briefing saya dipertemukan dengan bagian admin keamanan untuk dibuatkan ID Card sebagai pas masuk keluar kantor UNDP Indonesia di Jakarta sekaligus sebagai tanda pengenal saat saya berada di tempat tugas. Tiada terasa, jam demi jam telah berlalu. Pagi telah menggapai senja saat saya mendapatkan ID card. Dari bagian keamanan saya dipertemukan dengan bagian admin PDP di MSU UNDP. Sekali lagi bagian admin PDP MSU mengecek semua prosedur yang telah saya lalui, lalu membolehkan saya pulang karena hari telah sore dan jam kerja resmi UNDP sampai jam 5 sore telah lewat beberapa menit. Tentu saja, saya diingatkan untuk kembali esok hari.

Saat senyuman surya kembali menyapa bunda pertiwi, saya pun meninggalkan peraduan menapaki lantai memulai hari baru sebagai seorang pembawa ember. Fungsi dan peran ku penggali saluran pipa (baca Catatan Harian Warung Ceker), yakni sebagai manajer dan supervisor penggali saluran pipa Warung Ceker telah ku alihkan ke mitra bisnis Warung Ceker dan juga seorang karyawan yang diangkat sebagai supervisor - saat mengetahui bahwa saya akan menjadi karyawan / alias pembawa ember lagi. Tekat untuk memperkuat dan memperluas bisnis Warung Ceker telah memotifasi saya untuk kembali bekerja sebagai pembawa ember oleh karena omset penjualan Warung Ceker yang masih sedikit berbanding terbalik dengan kebutuhan untuk memperkuat bisnis tersebut. Hari kedua kehadiran ku di contry office UNDP tetap mengikut prosedur keamanan yang sama. Namun karena kali ini saya telah memiliki ID card sebagai bagian dari keluarga UN Indonesia, maka secara pribadi saya merasa bahwa para security menjadi lebih ramah, walau tetap saja menerapkan prosedur yang sama seperti saat telapak ku menapak di kantor tersebut. Hari kedua, saya tidak lagi dikawal dari pagi sampai sore oleh escort sebagaimana hari pertama yang selalu dikawal oleh seorang anggota satuan keamanan kantor UNDP. Hari kedua tersebut, saya hanya ditemani oleh Hermin (bag admin MSU-PDP) untuk kegiatan tertentu saja, seperti mengikuti briefing IT dan intra training. Setelah itu saya mempersiapkan sendiri segala keperluan saya, terutama melengkapi berbagai persyaratan administrasi sebelum meninggalkan Jakarta ke tempat tugas di Manokwari. Pada hari itu, saya dipertemukan dengan Mr. Paul Sutmuller yang adalah Programme Coordinator UNDP - yang menginterview saya melalui teleconference, Mz. Yanti yang adalah Program Manager - yang juga menginterview saya melalui teleconference, Mz. Jiah dari China yang adalah Head of Office. Setelah berbasa basi dan diskusi singkat, mereka kembali ke kesibukannya masing-masing, saya juga kembali mengurus berbagai hal administratif. Satu diantaranya adalah Medical Check Up ke klinik Medikaloka di salah satu gedung yang terletak di kawasan Kuningan.

Saat selesai medical check up hari telah sore, saya putuskan untuk menginformasikan ke bagian admin (Hermin) bahwa saya tidak kembali lagi ke kantor. Dari klinik tersebut saya menuju ke Gerai Warung Ceker di mal Ambasador. Saya sempatkan diri untuk berkunjungan dan ngobrol dengan karyawan sekaligus berjualan - meski masih menggunakan pakaian kantor. Tentu saja ID Card telah saya sembunyikan di dalam kantong kemeja saya :).

Pada hari ketiga sebagai karyawan, saya masih datang ke contry office untuk menyelesaikan berbagai keperluan admin sekaligus memperkenalkan diri kepada beberapa orang yang bertanggung-jawab terhadap implementasi beberapa program di Papua yang menjadi wilayah kerja saya. Saat bertemu Programme Coordinator sehari sebelumnya, saya dipesan untuk mengenal sebanyak mungkin orang-orang di country office agar suatu hari nanti saat melakukan komunikasi terkait pada urusan program, maka minimal saya mengetahui dengan siapa saya berkomunikasi, beberapa diantaranya adalah dengan Sinta - yang adalah Program Officer Gender Mainstreaming, Ari - yang adalah Program Officer HIV/AIDS serta Keiko - yang adalah seorang JPO asal Jepang yang akan tugas belajar selama 4 bulan di Papua. Di country office ini saya bertemu berbagai orang dari berbagai bangsa. Karena itu bahasa Inggris merupakan bahasa sehari-hari yang juga merupakan bahasa resmi di kantor. Karena keterbatasan bahasa Inggis saya, maka saya masih kagok gaul dengan orang-orang kantor. Namun semakin lama, saya akhirnya menjadi lancar juga berbahasa Inggris. kemampuan speaking dan listening saya berkembang dengan sendirinya, karena situasi keseharian. Apalagi saat berada di lapangan, dimana beberapa kolega saya berasal dari negara lain sehingga komunikasi harus dilakukan dalam bahasa Inggris membuat saya mulai terbiasa walau kadang masih belepotan :)

Tiada terasa senja kala kembali merengkuh hari-hari kerja saya sekaligus mengakhiri kesibukan saya di contry office lalu menjejakan saya kembali menghirup polusi udara Jakarta saat menapak ke luar gedung perkantoran di Jl. Thamrin. Saat sang Dewi Malam tersenyum hangat, saya telah nangkring di gerai Warung Ceker Mal Ambasador. saat-saat meninggalkan bisnis Warung Ceker semakin dekat, karena itu saya selalu menyempatkan diri untuk hadir di gerai Warung Ceker. Gerai di Kalimalang terlalu jauh untuk dikunjungi di sela-sela kesibukan baru saya sebagai karyawan pembawa ember, karena itu saya dan mitra bisnis saya mengatur jadwal kerja giliran para karyawan di gerai guna memungkinkan saya bertemu dan ngobrol dengan mereka sebelum saya meninggalkan tempat tugas menuju pos saya di tanah Papua nun jauh di ufuk Timur negeri tercinta.

Bersambung ke Bagian 2 : Menapak Jejak Tanah Papua

2 komentar:

  1. Selamat sore Pak, kaalu boleh tau persyaratan melamar di UNDP apasaja? trims

    BalasHapus

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...