Selasa, 21 Januari 2014

JJ EROPA BARAT: KELILING LONDON - ISTANA BUCKINGHAM

Tulisan Kedelapan

Brosur city sight seeing
Telah hampir jam 10.30 pagi waktu London saat saya menaiki bis City Sight Seeing di bagian Utara kawasan Trafalgar Square - sekitar 50 meter arah kanan Gedung Galeri Nasional. Hujan mulai menderas saat kaki saya melangkah ke dalam bis bertingkat 2 tersebut. Tiket saya tunjukan ke sopir yang hanya tersenyum sambil mengangguk. Pemandu yang duduk tepat di sebelah kanan pintu masuk membagikan peta dan juga mantel plastik transparan berwarna bening. Keinginan duduk di dek terbuka di atas tidak bisa dilaksanakan karena hujan masih sedang berlangsung. saya lalu mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong di dalam bis. Setelah semua calon penumpang memasuki bis, sopir menutup pintu dan menjalankan bis tsb. Pemandu yang duduk di dekat pintu masuk meraih microphone dan memperkenalkan dirinya, mengucapkan selamat datang kepada para penumpang baru dan mulai menjelaskan tempat wisata yang dituju. Saya mendengarkan sambil membuka peta warna merah di pangkuan saya untuk mengetahui tempat yang dijelaskan pemandu dan rute yang ditempuh. Tidak semua bis menggunakan pemandu yang menjelaskan secara langsung / live rute dan tempat wisata yang dilalui. Ketiadaan pemandu digantikan oleh rekaman - dimana penjelasan rekaman tersebut cocok dengan tempat-tempat wisata yang akan dilalui sebagai indikator manajemen pengelolaan tour tersebut sangat profesional.

Rute dalam peta dikelompokan dalam 3 warna untuk kunjungan ke tempat-tempat wisata berbeda dalam 3 kategori yang disebut orginal tour berwarna kuning, city sightseeing tour berwarna merah dan museum tour berwarna biru dongker. Di beberapa tempat, ketiga rute tersebut bertemu sehingga pengunjung bisa berpindah ke bis lain yang menempuh rute ke tempat wisata tertentu yang ingin dikunjungi di rute tersebut. Rute berwarna merah, yakni city sightseeing tour merupakan rute terbesar yang mencakup sebagian besar wilayah kota London.  Dalam peta juga tersedia keterangan atau legenda yang memudahkan pengguna mengetahui informasi-informasi penting terkait kunjungan, antara lain titik utama memulai tour, titik pertemuan antar rute, stasiun kereta bawah tanah, tempat-tempat wisata dan dermaga tempat naik kapal untuk menyusuri sungai Thames. Pada sudut kiri bawah peta juga tersedia informasi naratif tentang tempat-tempat hop on dan hop off menggunakan semua bis wisata tersebut dengan tiket yang saya miliki. Saat saya hitung masing-masing tempat wisata di tiga rute berbeda tersebut, ternyata jumlah tempat wisata yang akan dilalui bis dalam rute kuning hanya selisih 1 dengan bis rute warna merah. Rute warna kuning melalui 35 tempat wisata, sedangkan rute warna merah melalui 36 tempat wisata. Saya tidak terlalu mengetahui perbedaannya dalam pelaksanaan, karena saat berkeliling, saya ternyata bisa naik turun atau hop on dan hop off di berbagai halte tempat perhentian bis tersebut guna mengunjungi tempat-tempat wisata di sekitar / dekat halte-halte tersebut.

Brosur berisi informasi dan peta kota London
yang dilalui dann disinggahi bis city sight see in
Oleh karena masih hujan, saya lalu memutuskan untuk berkeliling saja terlebih dahulu alias tidak turun dari bis sejak pemberangkatan dari halte Trafalgar square sampai bis kembali lagi ke halte tersebut. Dengan demikian, saya bisa mengetahui kondisi kota sambil mempelajari peta lalu mengambil keputusan tempat wisata mana yang akan saya kunjungi - dimana saya bisa masuk gratis menggunakan London Pass yang telah saya miliki. Karena itu, setelah memperlajari peta, saya juga mempelajari buku saku London Pass - untuk menemukan titik-titik temu antara rute yang dilalui bis City Sight Seeing dengan tempat wisata London Pass - yang ternyata lumayan banyak sehingga saya harus memutuskan dengan cepat mengunjungi beberapa saja karena adanya keterbatasan waktu menggunakan bis tersebut maupun waktu masuk ke tempat-tempat wisata tersebut. Saat berkeliling, saya sempat juga berpindah ke dek atas bis ketika hujan reda dan hanya gerimis. Ternyata saya tidak sendiri, beberapa turis bule juga duduk di dek atas dengan memakai mantel dan juga payung. Saya pun menggunakan mantel plastik yang disediakan serta juga payung. Syukurlah angin tidak terlalu kencang, sehingga saya bisa duduk santai menggunakan payung dalam gerimis menikmati kota London yang mulai beranjak siang - sehingga kesibukan kota mulai terlihat. Saya tidak ingat sama sekali jalan kota yang saya lalui malam sebelumnya saat menggunakan bis umum mengunjungi kota tersebut. Walau duduk di dek atas, saya masih bisa mengikuti penjelasan pemandu melalui earphone warna merah yang juga telah disediakan bagi pengunjung. Jalan-jalan kota sangat bersih, namun tidak selebar jalan Sudirman-Thamrin di Jakarta. Walau demikian tidak terjadi kemacetan seperti yang setiap hari terjadi di Jakarta.

Dari halte di Trafalgar Square, bis mengarah ke Selatan melewati Royal Courts of Justice, St. Paul's Chatedral menyeberangi sungai Thames melalui London Bridge lalu berbelok ke kiri melewati City Hall lurus mengarah ke Tower Bridge lalu menyeberangi lagi sungai Thames melalui Tower Bridge tersebut lalu menyusuri jalan antara Tower Bridge dan Tower of London, berbelok ke kiri di salah satu sudut jalan depan Tower of London lurus melewati Shakespeare's Globe dan Tata Modern, menyeberangi sungai Thames lagi menuju Horse Guard's Parade dan Downing Street, House of the Parliament,  menyeberangi sungai Thames lagi mengarah Westminster Pier berbelok ke kiri melewati  Lambeth Palace, menyeberangi sungai Thames lagi di Lambeth Bridge mengarah ke Buckingham Palace, Victoria, Wellington Museum, melewati Hyde Park, lurus ke Marble Arc, berbelok ke arah Regents Park lalu berbelok di sudut Regents Park memasuki Oxford Street lurus ke Regent Street mengarah ke Eros Statute atau Piccadilly Circus lalu belok kanan sekitar 30 derajat mengarah Leicester Square untuk kembali memasuki kawasan Trafalgar Square - dengan total waktu sekitar 45 menit. Saya tidak turun saat bis tiba kembali di halte Trafalgar Square, saya memutuskan untuk mengunjungi kawasan istana Buckingham guna menonton prosesi pergantian pengawal istana yang telah dikenal dunia, terutama para turis yang pernah berkunjung ke London.

Prosesi pergantian pasukan pengawal istana 
Berbagai informasi di internet menyatakan bahwa prosesi pergantian pengawal istana dilakukan pada jam 11 siang. Saat saya tiba di depan istana yang telah dipenuhi ratusan turis, prosesi baru akan dimulai. Langit yang berawan tebal diiringi gerimis tak henti tidak menyurutkan keinginan ratusan turis menonton prosesi tersebut. Dengan menggunakan payung warna warni dan juga berbagai jenis mantel warna warni, para turis berjejal di depan pagar istana sampai dengan taman depan istana. Jalan yang akan dilalui para pengawal saat itu kosong dan diberi pagar penghalang / pembatas agar para turis / penonton tidak berjejal di jalan yang akan dilalui para pengawal tersebut. Prosesi pergantian diiringi musik drumband yang dimainkan para pengawal dalam seragam khas baju merah dan celana panjang hitam bersama topi tinggi berbulu warna hitam khas pasukan pengawal istana kerajaan Inggris. 2 pengawal mengendarai kuda di depan dan di belakang barisan pasukan pengawal dan drumband yang berjalan keluar istana melewati jalan depan istana lurus melewati taman yang dipenuhi turis dan penonton dalam gerimis yang terus menerus mengguyur kawasan tersebut. Pada saat prosesi berlangsung, para penonton seperti tersihir sehingga tidak ada sedikitpun suara terdengar. Demikian juga kendaraan pribadi dan taxi yang semuanya berwarna hitam berhenti di jalan depan istana. Hanya suara musik dan perintah komandan upacara yang terdengar diiringi bunyi gerimis yang jatuh di payung dan mantel para penonton. Tepuk tangan dan sorak para penonton baru terdengar saat prosesi selesai dimana para pengawal yang selesai tugas dikawal pengawal berkuda dan drumband keluar dari area tersebut. Para penonton lalu mulai membubarkan diri.

Depan Istana Buckingham
Saat kawasan depan istana mulai sepi, saya bertemu sekolompok turis Philipina yang meminta tolong diambil fotonya. Beruntunglah gerimis mulai reda walau belum berhenti sama sekali - namun payung dan mantel telah dapat dilepas untuk pengambilan foto.  Setelah mengambil beberapa foto para turis Philipina tersebut, saya lalu ganti meminta salah satu dari  mereka mengambil foto saya yang berpose di seberang jalan depan istana. Setelah selesai, saya beranjak mendekati gerbang istana yang tertutup rapat - yang mulai ditinggalkan para turis dan penonton. Gerbang dan pintu istana tertutup rapat - bahkan Ratu Elizabeth sedang berlibur musim panas di istananya di Irlandia demikian informasi yang saya peroleh di internet dari salah satu agen perjalanan yang menawarkan kunjungan ke dalam istana, karena dibuka untuk umum saat itu. Dengan membayar 19 pound atau sekitar 360.000 rupiah, para turis dapat memasuki area tertentu di dalam istana. Pintu masuk untuk kunjungan turis berbeda dengan pintu masuk ke istana untuk keluarga kerajaan dan tamu-tamu kerajaan. Turis yang telah membeli tiket online akan masuk melalui pintu gerbang di samping kanan yang berjarak sekitar 30 meter dari pintu gerbang istana. Penjualan dan pembelian tiket kunjungan ke istana juga di jual di tempat melalui loket khusus yang terletak sekitar 15 meter dari pintu masuk. London Pass yang saya miliki tidak berlaku untuk kunjungan ke dalam istana. Dan juga karena keterbatasan waktu, saya memutuskan hanya menyaksikan prosesi pergantian pengawal dan berfoto di depan istana. Jika membeli tiket yang cukup mahal tersebut, maka saya akan menghabiskan sekitar 2 - 3 jam menikmati istana sebagaimana pengalaman saya di istana raja dan ratu Spanyol di Madrid. Padahal hari semakin siang, sedangkan London Pass belum sempat saya gunakan dan juga masih banyak tempat wisata di kota itu yang masih harus dikunjungi.

Gerimis mulai turun lagi, saya lalu bergegas kembali ke halte bis City Sight Seeing. Beruntunglah ada pohon besar berdaun lebat yang menaungi halte tersebut sehingga saya tidak perlu mengenakan mantel dan menggunakan payung lipat yang selalu saya bawa dalam ransel. Karena saya melihat banyak turis duduk di tembok pembatas halaman satu gedung di belakang pohon tersebut dengan pedestarian, saya pun ikut duduk sambil mengamati turis berbagai bangsa dari berbagai negara yang lalu lalang ke arah istana maupun sebaliknya. Saya kembali membuka peta dan buku panduan London Pass mencari tempat wisata lain yang akan saya kunjungi menggunakan kartu London Pass. Saya lalu memutuskan mengunjungi the Big Ben - impian masa kecil yang membuat saya selalu ingin ke kota ini suatu hari - yang akhirnya bisa dipenuhi.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...