Rabu, 20 November 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: Reservasi Tiket Pesawat, Kereta dan Hotel

Pada edisi Tulisan Kedua, saya telah menginformasikan syarat-syarat dan dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk pengurusan visa ke kedua kedutaan guna melancong ke London dan berbagai kota di negara-negara Uni Eropa. Karena saya mendapatkan informasi bahwa pengurusan visa ke London membutuhkan waktu yang cukup lama sampai dengan keluarnya visa, maka saya memutuskan untuk mengurus visa ke kedutaan Inggris terlebih dahulu. Oleh karena saya memutuskan untuk menggabungkan perjalan yang saya urus sendiri dengan yang diurus oleh tour dari Eropa - dalam hal ini Expat Explorer yang telah saya pilih dan berkomunikasi secara intensif, maka saya mulai mempersiapkan diri secara serius untuk mendapatkan visa. Untuk itu, saya memastikan semua syarat dan dokumen saya lengkapi. Pengurusan surat keterangan bank saya lakukan 2 kali, karena perubahan waktu pengurusan visa. Untuk mendapatkan keterangan bank tempat saya menabung dan menggunakan dana di tabungan tersebut secara aktif, saya harus membayar 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) rupiah untuk mendapatkan surat keterangan dan rekening koran tabungan.

Karena saya mengurus visa ke dua kedutaan, maka saya harus membayar 500.00 (lima ratus ribu) rupiah untuk mendapatkan 2 surat keterangan bank yang ditujukan ke dua kedutaan berbeda. Komunikasi intensif juga saya lakukan dengan Monika di Expat Explorer yang merupakan staf Customer Service tour tersebut. Sesuai dengan syarat dan ketentuan Agen Tour yang berpusat di kota London tersebut, saya harus membayar 100% biaya tour untuk mendapatkan semacam surat sponsor pengurusan visa, itinerary dan juga daftar hotel yang akan digunakan. Tentu saja urusan dengan Expat Explorer seperti berjudi alias untung-untungan karena hanya mengandalkan informasi yang tersedia di website Agen tersebut yakni www.expatexplorer.com, facebooknya dan juga email komunikasi dengan Monika. Setelah mempertimbangkannya dengan matang, akhirnya saya memutuskan untuk membayar biaya tour sebesar 845 Poundsterling atau sekitar 15 juta rupiah waktu itu (saat saya menulis catatan harian ini, harga berbagai paket yang ditawarkan telah menggunakan kurs dollar Amerika, dimana untuk paket yang saya ambil waktu itu ditawarkan senilai 1.390 US Dolar atau sekitar 16.000.000 (enam belas juta rupiah dengan kurs 11.500 rupiah per dolar). Harga tersebut merupakan harga diskon yang ditawarkan di website Expat Explorer. Expat Explorer menawarkan beberapa paket dengan periode waktu berbeda-beda dan untuk kategori umur berbeda yang dibagi ke dua kategori usia, yakni muda dan dewasa. Untuk para calon pelancong usia muda, akomodasi yang disediakan beramai-ramai sekitar 6 orang dalam satu kamar. Sedangkan untuk usia dewasa hanya dibatasi 2 orang per kamar. Calon konsumen punya kebebasan memilih dan menyesuaikan dengan ketersediaan waktu, usia dan juga dananya. Untuk itu, saya mengambil paket bernama Europe Escape dalam durasi waktu 12 hari ke 7 negara.

Pada awalnya saya melakukan pemesanan dulu terhadap paket yang saya pilih, sambil mencari berbagai informasi tambahan secara online untuk memastikan saya tidak sedang ditipu. Untuk pemesanan tersebut saya harus membayar 10% dari biaya keseluruhan paket yang saya beli. Setelah pemesanan, saya menerima bukti pesanan dari Expat Explore. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membayar penuh biaya paket yang saya ambil. Setelah menerima pembayaran penuh, pihak Expat lalu mengirim invoice pembayaran dan berbagai instruksi terkait rencana perjalanan tersebut - yang waktunya  masih 2 bulan lagi. Sebagaimana janjinya, dalam periode 1 minggu, Expat Explorer mengirimkan surat sponsor pengurusan visa, itinerary dan daftar hotel. Surat sponsor langsung ditujukan ke Kedutaan Inggris dan Kedutaan Italia.

Satu bulan sebelum pelunasan biaya tour dan penyelesaian urusan administrasi dengan Expat Explorer, saya telah melakukan booking pesawat untuk penerbangan Jakarta - London dan Madrid Jakarta. Saya akhirnya memesan tiket pesawat Emirates di Agen Perjalanan Dwidaya Tour. Biaya yang harus saya bayarkan untuk tiket tersebut adalah 1.440 US Dollar atau sekitar 16.700.000 (enam belas juta tujuh ratus ribu) rupiah. Keputusan pembelian tiket Emirates saya lakukan setelah mengecek dan mempertimbangkan berbagai tawaran maskapai lain. Maskapai yang memiliki rute langsung Jakarta - London - Madrid - Jakarta hanya ada 2 yang "murah", yakni Emirates dan Etihad. Harga tiket Etihad lebih murah sekitar 100 dolar dari Emirtes. Namun, karena mempertimbangkan jam terbang dan juga transit - dimana saya lebih familiar dengan Airport Dubai yang akan membantu menghemat waktu transit pergantian pesawat, maka saya memutuskan membeli tiket Emirates saja walau lebih mahal 1 juta lebih dibanding Etihad.

Saya juga kemudian melakukan booking hotel di London, Amsterdam dan Madrid untuk melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam pengurusan visa. Melalui www.kayak.com, www.bookpanorama.com, www.tripadvisor.com, www.agoda.com, www.hostelbookers.com, www.booking.com, www.easytobook.com dan banyak web penyedia hotel, saya mulai mencari informasi hotel dan hostel di ketiga kota tersebut. Setelah melakukan riset singkat terkait harga dan letak berbagai hotel di kota-kota tersebut, akhirnya saya memutuskan memesan kamar di Hotel Holiday Inn Express yang terletak di daerah Geenwich London, tepatnya di jalan Bugsby Way. Pertimbangannya adalah salah satu lokasi pick up point Expat Eplorer adalah di hotel tersebut, dengan demikian akses saya menjadi lebih mudah. Saya juga memilih menginap di hotel dan daerah tersebut karena ingin mengunjungi tugu GMT yang terletak di Taman Kota Greenwich yang telah saya riset beberapa bulan lalu. Setelah memutuskan memesan kamar di hotel tersebut, saya lalu melakukan komunikasi langsung melalui email dengan pihak hotel guna mendapatkan informasi alat transportasi dan rute yang harus saya lalui dari stasiun terdekat. Pihak hotel menginformasikan kepada saya untuk menggunakan Tube (kereta bawah tanah) lalu turun di stasiun North Greenwich. Dari stasiun saya menggunakan bus nomor 204 lalu turun di halte pertama setelah stasiun kereta. Dari halte tinggal berjalan kaki ke hotel yang terletak tidak jauh dari halte tersebut. Dengan informasi yang sangat jelas dan membantu tersebut, saya akhirnya memesan 1 kamar double bed non smoking with breakfast untuk 2 malam, yakni 21 dan 22 Agustus seharga 256 US Dollar atau sekitar 3.000.000 (tiga juta) rupiah alias 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu) rupiah per malam. Dengan demikian saya punya 2 hari setengah menghabiskan waktu di London sebelum berangkat bersama Expat Explorer ke Paris pada tanggal 23 Agustus.

Untuk hotel di Amsterdam, saya baru melakukan pemesanan 1 minggu sebelum keberangkatan ke Eropa. Hal tersebut disebabkan keragu-raguan saya memutuskan lokasi dimana saya akan menginap di Amsterdam, apakah menginap di dekat airport atau menginap di tengah kota. Keragu-raguan tersebut berakibat fatal, karena hotel-hotel yang telah saya pelajari secara online seperti Ibis yang berlokasi di kawasan airport ataupun tengah kota telah penuh pada tanggal 2 September saat saya akan menginap untuk transit di Amsterdam menuju Barcelona. Akibat memesan kamar pada minggu terakhir sebelum berangkat, semua penuh, saya menjadi panik dan akhirnya memesan 1 kamar dengan 2 tempat tidur (twin share bed) di Hotel Dam Amsterdam. Saya memutuskan mengambil penginapan kelas hostel tersebut setelah membaca berbagai komentar tamu yang pernah menginap dan juga memperhitungkan jaraknya yang sangat dekat dengan Stasiun Kereta Amsterdam (Centraal Station) - tempat saya akan menumpang kereta ke Airport Schipool Amsterdam pada subuh hari tanggal 3 September ke Barcelona Spanyol. Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya saya memesan kamar di hotel tersebut melalui www.HostelBookers.com, dimana harga 1 malam untuk twin share bed adalah 170 Euro atau sekitar 2.600.000 (dua juta enam ratus ribu) rupiah untuk 1 malam. Nah mahal banget khan alias tidak sesuai dengan berbagai informasi yang beredar bahwa menginap di penginapan kelas hostel di Eropa akan lebih murah daripada hotel. Dari jumlah 170 Euro tersebut, pihak HostelBooker langsung mengklaim pembayaran 10% dari kartu kredit yang digunakan sebagai jaminan pemesanannya kamar tersebut. Sisanya sebesar 153 Euro akan dibayarkan pada saat melapor (check in). Ternyata saat check in, harga yang dibayar jauh lebih tinggi dan kamar yang disediakan tidak sesuai dengan kamar yang saya pesan online yang merupakan pengalaman berharga untuk para pelancong lain jika memesan hostel agar jangan terlalu percaya pada berbagai komentar atau review online, karena standar kenyamanan masing-masing orang tentunya berbeda-beda saat menginap di penginapan kelas hostel. Detail kekecewaannya akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya terkait Amsterdam.

Untuk penginapan di Madrid, saya memesan kamar di hotel yang pernah saya gunakan saat melancong ke kota Madrid di Bulan Oktober 2011 yakni Hotel Alhambra (www.alhambrasuites.com). Saya menemukan hotel tersebut secara online juga pada tahun 2011 saat mencari-cari lokasi dan penginapan di Madrid. Saat itu saya melakukan pesanan  online melalui salah satu website online yag saya tidak ingat lagi. Saat check out di Bulan Oktober 2011, staf hotel memberikan kartu nama dan berpesan jika akan berkunjung ke Madrid lagi, silahkan pesan secara lansung melalui email (orang Spanyol memang selalu ramah dari pengalaman saya berkunjung 2 kali ke negara tersebut). Karena saya masih menyimpan kartu nama hotel, akhirnya saya mengirim email yang segera mendapatkan balasan dari staf hotel, bahwa pesanan saya terkonfirmasi untuk 3 malam, yakni tanggal 3 - 6 September dengan harga 95 Euro alias sekitar 1.450.000 (satu juta empat ratus lima puluh ribu) rupiah per malam, sudah termasuk sarapan untuk 2 orang. Harga tersebut jauh lebih murah dari harga per malam kamar Hostel Dam di Amsterdam. Saya senang dengan hotel bintang 3 ini karena lokasinya yang sangat dekat dengan stasiun Metro Puerta de Sol (SOL) yang adalah pusat kota Madrid. Hotelnya juga sangat nyaman dengan staf yang ramah dan kamar yang lumayan luas dan bersih dengan tema hitam putih.     

Selain bukti pemesanan hotel, saya juga melengkapi dokumen pengurusan visa saya dengan bukti tiket pesawat dan kereta. Untuk Jakarta London, Madrid Jakarta telah tersedia tiket Emirates. Untuk perjalanan London, Paris dan kota-kota lainnya sampai dengan Amsterdam telah tersedia surat keterangan dari Expat Explorer. Untuk itu, saya masih harus melengkapi tiket perjalanan Amsterdam ke Barcelona dan Barcelona ke Madrid. Untuk perjalanan Amsterdam - Barcelona saya memutuskan menggunakan pesawat yang waktu tempuhnya lebih singkat dibandingkan menggunakan kereta, yakni 2 jam 10 menit. Berbagai pilihan maskapai tersedia untuk rute Amsterdam - Barcelona. Setelah meneliti beberapa maskapai dengan tawaran harga masing-masing, akhirnya saya memutuskan menggunakan pesawat Vueling Air yang merupakan salah satu maskapai tiket murah di Eropa. Tiket saya pesan online di www.vuelingair.com. Tiket sekali jalan dari Amsterdam ke Barcelona pada saat itu adalah 91 Euro atau sekitar 1.400.000 (satu juta empat ratus ribu) rupiah. Sedangkan untuk perjalanan Barcelona - Madrid dan Madrid - Cordoba PP, saya memilih menggunakan kereta cepat yang tiketnya saya pesan online di www.raileurope.com/asean. Tiket Barcelona Madrid adalah 110,7 Euro atau sekitar 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu) rupiah. Melancong ke Cordoba saya lakukan dari Madrid. Karena itu, saya membeli tiket kereta PP Madrid Cordoba. Saya berangkat pagi hari jam 7.30 dari Madrid, lalu kembali pada malam hari jam 8.30. Tiket kereta PP untuk perjalanan ini seharga 95,45 Euro atau sekitar 1.450.000 (satu juta empat ratus lima puluh ribu) rupiah.

BERSAMBUNG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...