Sabtu, 26 September 2009

JAKARTA : Antara Halte Layur dan Matraman

Sebagaiamana kebiasaan ku peri dan pulang kantor adalah menggunakan Bus Transjakarta, tidak terkecuali pada hari ini Jumat, tanggal 25 September 2009.


Pagi masih berkabut saat kaki ku menyusuri jalan yang ku lalui setiap hari ke halte bus di Layur. Aku tak pernah tau sejarah tempat tersebut sehingga dikenal dengan nama Layur. Agak berbeda dengan saat menggunakan bus patas AC, para kondektur lebih mengenal daerah tersebut sebagai Pertamina karena ditepi jalan terletak gedung Pusdiklat Pertamina yang selalu ramai digunakan untuk kegiatan-kegiatan pelatihan yang telah berdampak signifikan menghidupkan perekonomian penduduk sekitar karena penyediaan jasa kos-kosan, jualan kue, voucer hp, kue hingga rokok yang mulai bertebaran di sekitar gedung Pusdiklat tersebut. Saat malam, banyak pula penjual makanan warung tenda yang membuka tenda di sisi jalan pemuda depan gedung Pusdiklat yang menghadap ke Halte Layur. setahun silam, hanya ada 1 arung tenda yang berjualan ayam dan lele goreng. Namun saat ini ketika malam memeluk bumi, selain warung tenda tersebut, disisi kirinya telah ada pula penjual ayam goreng krispi, bakso dan nasi uduk. Di sisi kanan ke belakang berjejer di tepi jalan ke perkampungan, tersedia jus buah, karedok, gorengan hingga 2 warung makan lainnya yang menempati tempat permanen semacam kios.


Mungkin saja, Layur berasal dari kata Ikan Layur yang di kampung kelahiran ku disebut Ikan Parang-parang - salah satu dari makanan kesukaan ku yang merupakan masakan ibunda. Ikan yang dimasak menggunakan air jeruk nipis atau cuku, bersama cabe hijau dan merah serta bawang putih dan bawang merah... alangkah nikmatnya bila dimakan bersama nasi hangat...


Namun, tentu saja tidak ada orang yang bisa menceritakan kepada ku tentang asal usul Layur yang menjadi nama Halte Bus Transjakarta di depan gedung Pusdiklat Pertamina di Jl. Pemuda Rawamangun tersebut. Bahkan tukang cuci ku yang asli orang betawi pun tidak mengetahui asal usul penggunaan nama tersebut.. jadi aku terpaksa melupakan rasa penasaran ku menegtahui asal muasal penggunaan nama Layur bagi Halte tersebut dan juga mungkin daerah sekitarnya.


Sebagiamana biasa setelah membeli tiket seharga Rp. 3,500, aku pun berdiri di depan pintu utama menunggu bus sambil mata ku berkeliling daerah sekitar. Di seberang jalan depan halte merupakan kompleks ruko yang digunakan untuk berbagai fungsi, antara lain kantor perbankan karena aku melihat ada BNI, Niaga dan juga 1 bank swasta lainnya yang tidak ku ingat namanya. Ada pula bank pengkreditan, show room mobil, servis dan penjualan kartu hp hingga tempat penjualan tinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...