Selasa, 27 Desember 2011

HONGKONG : Perjalanan Yg Meyenangkan dan Luar Biasa


Changi Airport - Singapore
Pada tanggal 18 - 25 Agustus 2011 saya berkesempatan mengunjungi Hongkong dan Macau untuk liburan. Tiket pesawat telah saya pesan beberapa bulan sebelumnya. Agar mendapatkan tiket murah, saya mengunjungi suatu travel fair di Jakarta Convention Center lalu membeli tiket maskapai Singapore Airlines yang dijual cukup murah, yakni Jakarta Hongkong PP hanya sekitar 3 juta. Bayangkan perbandingannya dengan Jakarta-Kupang PP harga normal yang berkisar 4,5 juta. Pembayaran tiket tsb dapat dilakukan dengan cara mencicil berbunga 0% bila menggunakan kartu kredit tertentu. Tentunya kesempatan emas tersebut tidak saya sia-siakan, walau waktu keberangkatan yang masih sekitar 4 bulan kemudian, namun kesempatan mendapatkan tiket murah tidak akan tersedia setiap minggu. Karenanya, saya pun membeli tiket tersebut. Namun, ternyata untuk mendapatkan tiket PP dengan waktu stay yang pendek, misalnya 3 hari atau 4 hari saja tidak bisa dilakukan, karena telah fully booked, sehingga setelah mengecek tanggal-tanggal yang tersedia, akhirnya saya dan travel agent penjual tiket menyepakati tanggal keberangkatan dan kepulangan sebagaimana tersebut di atas yakni sebanyak 8 hari.

the terminal 3
Setelah tiket dibeli, saya lalu mulai membuat itinerary kunjungan dengan cara mencari informasi dari teman maupun website. Ternyata, di internet tersedia sejumlah informasi yang disediakan oleh otoritas Hongkong bagi first visitor to the city yang memudahkan pengunjung mengatur jadwal dan tempat-tempat yang dikunjunginya. informasi tersebut dapat ditemukan di www.discoverhongkong.com, yang tersedia dalam berbagai bahasa. web discoverhongkong tersebut sangat informatif dan membantu karena menyediakan informati lengkap seperti pengurusan visa, tempat2 wisata untuk kunjungan pagi, siang hingga malam hari (night life), transportasi, sampai dengan simulasi rencana kunjungan. Menggunakan dua rujukan, yakni website dan informasi teman-teman, saya lalu membuat agenda kunjungan saya selama 8 hari yang akan disesuaikan dengan kondisi real di lapangan sesampainya saya di Hongkong.


Changi airport
 Karena waktu kunjungan yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk mengalokasikan 1 hari kunjungan ke Macau yang dapat ditempuh menggunakan berbagai moda transportasi dari Hongkong, antara lain TurboJet, ferry, kapal hingga pesawat. Setelah agenda selesai disusun, maka perburuan hotel secara online pun di mulai. Berbagai informasi hotel di Hongkong yang tersedia secara online, saya telusuri dan teliti satu persatu selama 2 minggu. Pencarian hotel tersebut mempertimbangkan kemudahan akses ke moda transportasi guna menghemat biaya transportasi. Setelah meneliti selama 2 minggu, akhirnya saya memutuskan menginap di hotel Ibis - yang tentunya berstandar internasional, sehingga saya lebih mudah membayangkan hotel seperti apa yang akan saya tempati di Hongkong. Setelah urusan hotel selesai, saya kembali menelusuri dan meneliti informasi yang tersedia secara online terkait tempat2 wisata yang akan saya kunjungi lalu membuat penyesuaian-penyesuaiannya di agenda yang telah saya buat sebelumnya. Selain itu, saya juga mencari informasi tentang pengurusan visa, cuaca dan juga transportasi publik guna memudahkan akses ke berbagai tempat wisata.

Kunjungan ke Hongkong dan Macau tidak memerlukan visa masuk dengan waktu maksimum kunjungan adalah 30 hari. Karena itu, saya tidak mengurus visa, namun untuk memastikan informasi online tersebut, saya juga mencari konfirmasi dari teman yang telah pernah berkunjung ke kota tersebut, sehingga tidak ragu-ragu lagi. Setelah itu, tiga minggu sebelum tanggal keberangkatan, saya menelpon travel agent untuk memastikan kembali keberangkatan saya sekaligus ketersediaan tempat yang telah saya beli.


moving from terminal 2 to 3
Akhirnya, saya berangkat pada tanggal 18 Agustus pagi menggunakan pesawat SQ yang tiketnya telah saya beli 4 bulan silam. Pesawat transit di Singapore selama 6 jam, namun otoritas setempat tidak mengizinkan saya keluar dari area Airport Changi untuk sekedar jalan-jalan di kota tersebut, dengan pertimbangan waktu transit 6 jam sangat beresiko jika digunakan untuk berkunjung ke kota. Untuk itu, saya diminta tetap di area airport. Beruntunglah airport Changi telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk free internet sehingga waktu tunggu pun terisi dengan berbagai aktifitas dalam airport, termasuk perpindahan antar terminal menggunakan kereta penghubung antar terminal. Oleh karena pesawat yang berangkat ke Hongkong tersedia di terminal 3, maka saya harus berpindah dari terminal 2 ke terminal 3. Namun, perpindahan tersebut sangat mudah, karena informasi tertulis maupun melalui staf informasi airport sangat mudah diakses. Airport Changi Singapure memang harus diacungin 2 jempol untuk pelayanannya terhadap semua orang yang melewatinya. Selain informasi, free internet services, banyak outlet yang menjual berbagai jenis barang, makanan dan juga minuman. Toiletnya juga sangat bersih dan harum. Pokoknya tokcer banget jika dibandingkan dengan airport Soekarno Hatta misalnya. Perbedaannya masih sangat jauh dalam semua aspek. Waktu tunggu yang cukup lama tidak terasa membosankan karena bisa diisi dengan berbagai aktifitas dalam airport. Sekitar pukul 3 siang, saya akhirnya masuk ke pesawat Singapore airlines yang akan berangkat ke Hongkong. TO BE CONTINUED....

Kamis, 28 Juli 2011

RESEP IKAN LAWAR PARITI

Resep ini merupakan modifikasi dan pengembangan dari resep tadisional ikan lawar khas Kupang.

BAHAN-BAHAN

1. Ikan Teri (1/2 kg)
2. Daun Kemangi (1 ikat)
3. Daun Ketumbar (1 ikat)
4. Daun Bawang (batang kecil 1 ikat)
5. Daun Mint (1/2 ikat)
6. Bawang Putih (10 - 15)
7. Bawang Merah (10 - 15)
8. Cabe rawit (secukupnya)
9. Royco (1 seondok teh)
10. Gula pasir (1 sendok makan)
11. Garam (secukupnya).
12. Jeruk nipis (10 - 15 buah)

CARA BUAT:
Ikan teri dikeluarkan kepala dan isi perutnya lalu dicuci bersih. Daun ketumbar, kemangi dan mint diprintil dan dipilih yang segar lalu dicuci bersih. Daun bawang disiangi lalu di cuci bersih dan di potong-potong sepanjang 2 -3cm. Bawang putih dan bawang merah dibersihkan, dicuci lalu diiris sesuai selera. Cabe rawit dibersihkan, dicuci bersih lalu diulek halus sambil diberi garam dan royko secukupnya. Jeruk nipis dicuci bersih, dipukul-pukul menggunakan gagang pisau, lalu dipotong dan diperas sambil disaring menggunakan sendok makan, bijinya dibuang.

Campurkan cabe ulek dan jeruk nipis sampai merata dalam 1 wadah, kemudian masukin ikan teri bersih lalu dicampur jadi satu. Campurkan bawang merah, bawang putih, daun ketumbar, kemangi, mint dan daun bawang menjadi satu lalu diaduk agar bercampur satu sama lain. Lalu campurkan keduanya (campuran ikan teri cabe dan daun2an tersebut) menjadi satu. Diaduk-aduk lalu biarkan sekitar 5 menit. Lalu tambahkan garam secukupnya dan gula pasir. Diaduk hingga tercampur menjadi satu. Diaduk setiap 1 jam. Diamkan minimal selama 4 jam guna fermentasi ikan oleh jeruk nipis dan bahan lainnya.

Setelah itu, ikan lawar siap dimakan bersama nasi hangat atau jagung bose khas Timor :). Lebih nikmat lagi jika disajikan bersama daging Se'I sapi dari Kupang.

CATATAN:
1. Jangan menggunakan wadah stainless ataupun aluminium sebagai media penyimpanan ikan lawar karena akan beroksidasi menjadi racun.
2. Porsinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. misalnya untuk porsi 2 orang, ikan dan bahan lainnya dapat dikurangi.

Selasa, 12 Juli 2011

TIPS : Jalan-Jalan ke Italy

Untuk acara kantor, maka pada tanggal 13 - 19 June 2011, saya berkesempatan ke Italy mengikuti acara International Forum on Aid Effectiveness di Kota Foligno, Italy. Selain ke Foligno, saya juga mengunjungi Florence (Firenze sebutan orang Italy untuk kota tersebut) dan juga bermalam di Roma selama 2 malam, yakni pada hari tiba dan akan kembali ke Jakarta.

Penerbangan Jakarta - Roma berlangsung selama sekitar 15jam karena adanya perbedaan waktu yang

Dubai Airport
  cukup panjang, yakni sekitar 6 jam. Penerbangan menggunakan maskapai Emirates tersebut transit di Dubai sekitar 5 jam. Dengan demikian total waktu yang dihabiskan adalah sekitar 21 jam. Berangkat pukul 00.45am waktu Jakarta dan tiba di Roma pukul 13.30 waktu Roma tentunya, dengan transit di Dubai

Dari airport Leonardo Da Vinci ke Kota Roma masih sekitar 25kilo yang dapat ditempuh menggunakan 2 moda transportasi, yakni kereta, bus dan taxi. Di lokasi airport, setelah keluar dari area klaim bagasi, tersedia loket 2 loket informasi, yakni 1 bersifat umum untuk menanyakan apa saja, dan yang ke-2 bersifat khusus untuk para pengguna taxi. setelah berdiskusi cukup lama dengan teman seperjalan tentang apa yang harus digunakan dari airport ke kota Roma, akhirnya kami memutuskan menggunakan taxi. Untuk itu, saya lalu beranjak ke loket informasi taxi menanyakan harga yang harus dibayar dari airport ke hotel. Sebenarnya kami tidak punya hotel yang pasti di kota Roma saat tiba di Leonardo Da Vinci Airport. Beruntunglah saat masih di Jakarta, saya sempat search beberapa hotel - yang menurut teman saya orang Italy adalah cari hotel dekat central station alias Roma Termini. Menggunakan referensi tersebut, saya mendapatkan 2 hotel via internet di Jakarta, namun tidak pasti apakah kami berdua akan menginap di hotel tersebut atau tidak. Akhirsnya, saya dan teman sepakat untuk coba saja go show ke hotel Select yang menurut informasi internet terletak sekitar 500 meter dari Roma Termini / central station.


Train station in Foligno
 Petugas loket lalu menggunakan google.com mencari letak hotel tersebut di kota Roma, lalu menginformasikan kepada saya berapa harga yang akan harus kami bayar jika menggunakan taxi. Harga tersebut adalah kisaran saja, karena taxi yang kami gunakan adalah taxi meter - yang ternyata hasilnya tidak terlalu jauh dari perkiraan yang diberikan oleh petugas hotel, yakni sekitar 45 Euro. Bersama tip yang kami berikan ke sopir taxi, total yang kami bayar adalah 50 Euro. Tentunya, termasuk harga yang cukup mahal jika dibandingkan dengan ongkos taxi dari Airport Sukarno Hatta ke tengah kota Jakarta mungkin hanya menghabiskan sekitar 150 ribu rupiah. Sementara di Roma, kami harus membayar sekitar 13ribu rupiah x 50 euro = 650 ribu rupiah. Mahal khan?.

anyway, sesuai dengan judul tulisan ini yakni TIPS, maka berikut adalah tips saat anda yang membaca blog ini akan ke Eropa baik karena berlibur ataupun karena urusan kerjaan, tapi anda punya waktu untuk jalan-jalan sekitar beberapa jam, terutama di Italy, yakni:
1. Cari hotel sekitar central station / Roma Termini. Dekat stasiun pusat tersebut bertebaran berbagai hotel butik dari harga 1 juta sampe dengan 3 jutaan per malam. Di tambah pajak per kepala per malam 2 euro.

2. Jika menggunakan kereta dari Airport, maka jangan lupa validasi tiket kereta yang telah anda beli di kotak berwarna kuning yang terletak di jalur kereta yang akan anda naiki. Jika anda lupa memvalidasi tiket tersebut, anda akan didenda, tidak peduli apakah anda orang baru sehingga belum mengetahui aturannya.

3. Untuk tiket kereta dapat dibeli di kios majalah, loket khusus penjualan tiket khusus untuk tiket kereta airport ke Roma Termini atau sebaliknya. Harganya fix, yakni sebesar 14 euro sekali jalan. Untuk kereta antar kota ataupun antar negara tersedia di lokel penjualan dan di mesin penjualan self service oleh pembeli. Selain kereta Leonardo Express yang murah yang berangkat setiap 30 menit, tersedia juga kereta Eurostar yang lebih mahal dan hanya berangkat pada jam-jam tertentu. Informasi tentang kereta Leonardo Express dapat dengan mudah ditemukan di internet melalui google mesin pencari tentunya.

4. Pada umumnya tulisan di tempat2 umum adalah dalam bahasa Italy. Demikian juga di tiket kereta. Karena itu, sebaiknya anda mengantongi kamus jika berjalan-jalan tanpa tour guide.

5. Makanan umum yang tersedia adalah roti dan pizza dalam berbagai ukuran dan bentuk serta isinya pun macam-macam seharga 3 - 5 euro. Harga makanan di restoran lebih mahal, yakni berkisar 10 - 15 euro sekali makan, sudah termasuk air minum kemasan.

6. Bawalah saus tomat dan cabe sendiri, jika anda ingin makannnya berasa seperti makanan di Indonesia, karena hampir dapat dipastikan bahwa saus tersebut tidak dapat ditemui di outlet-outlet penjualan makanan di pinggir jalan. Di restoran pun hanya tersedia sous tomat yang rasanya beda jauh dengan di Indonesia.

7. Waspada terhadap pengemis yang bergaya seperti pengunjung mall di Indonesia.


A corner in Foligno
 8. Semua petunjuk arah dll di tempat-tempat umum tertulis dalam bahasa Italy. Karena itu bawalah kamus jika anda berjalan sendiri atau hanya ber 3. Bukan group yang menggunakan tour guide. Jika anda ingin bertanya, sebaiknya bertanya di Hotel tempat anda nginap. Tidak di jalan, karena orang yang ditanyai di jalan ataupun stasiun cenderung menghindar, mungkin karena alasan bahasa ataupun alasan lainnya. Umumnya orang Italy tidak berbahasa Inggris. Bahkan di hotel pun sangat terbatas bahasa Inggrisnya, apalagi hotel sekelas Ibis Slipi di Jakarta. Hotel di luar kota Roma akan lebih parah, karena bahasa Inggrisnya sangat minim.

9. Wapada terhadap orang-orang yang dengan ramah menawarkan jasanya untuk membantu membeli tiket metro/subway karena mereka akan meminta tip setelah tiket anda peroleh. Mereka bukan petugas penjaga tempat penjualan tiket, tapi orang-orang yang ingin mendapatkan duit dengan cara membantu membelikan anda tiket di mesin-mesin penjualan tiket.

10. Jika anda tidak berkenan memberikan tip pada orang yang menawarkan jasa angkut koper saat anda naik kereta Leonardo Da Vinci dari Roma Termini ke Airport, maka usahakan menolak tawarannya dengan ramah. Biasanya mereka telah berdiri di pintu masuk, lalu menawarkan jasa mengangkat koper anda ke tempat penyimpanan koper, kemudian dia akan berkeliling meminta tip di gerbong. Jika anda menerima tawarannya, maka minimal anda harus menyediakan 1 euro sebagai tip atas jasanya.


The colloseum in Rome
 11. Hati-hati ke toilet umum di Roma Termini station, jika anda berjalan sendiri atau hanya berdua. Karena ada kemungkinan anda akan ditolak, jika anda bukan berkulit orang Eropa, tidak semua petugas berperilaku seperti itu. Hari pertama saya bisa menggunakan toilet umum dengan membayar 70 sen, namun hari berikutnya saya dipimpong oleh petugas yang menjaga. Saat saya akan masuk, petugasnya dalam bahasa Italy menunjuk ke toilet sebelah, saat saya ke toilet sebelah, petugas di situ menunjuk saya ke toilet sebelah dimana saya telah ditolak sebelumnya. Jika anda naik kereta antar kota, maka hal yang sama mungkin saja dapat menimpa anda, karena tidak semua orang Italy merasa nyaman duduk berdampingan dengan orang yang kulitnya berbeda, apalagi tidak bisa berbahasa Italy.

12. Jika anda Muslim, maka anda harus waspada terhadap makanan, karena tidak semua makanan yang dijual adalah halal untuk Muslim.

13. Tiket metro/subway seharga 1 euro dapat juga digunakan untuk bus juga, demikian sebaliknya. masa valid tiket tersebut adalah selama 70 menit yang dihitung dari saat anda melakukan validasi tiket tersebut di mesin validasi di bus ataupun di metro.

14. Waspada terhadap para pencopet (pick pockets di bis terutama), semua teman dan juga orang hotel selalu mengingatkan saya tentang hal tersebut.


At St. Peter in Vatican City
 15. Jika anda ingin mengunjungi Vatikan dan masuk sampai ke dalam gereja ataupun museum, maka usahakan datang pagi-pagi. Jam 9am, antrian sudah mengular. Akes ke Vatikan paling murah adalah mengunakan metro/subway dan bis dari Roma Termini. Bis yang dapat anda gunakan adalah nomor 40 dan 46 yang tersedia di area bis di Roma Termini station.

16. Jam check out hotel adalah 11am ato 12. Kalo anda masih punya waktu untuk jalan-jalan, maka bagasi anda dapat ditinggalkan di loby hotel, tentunya sepengetahuan dan seizin hotel. Dijamin aman.

17. Makan pagi di hotel tempat saya nginap, semuanya disajikan dalam bentuk dingin. Hanya minumunya yang tersedia 2 pilihan, yakni dingin dan hangat/panas.

18.Jika anda ingin ke negara lain di Eropa menggunakan kereta, maka dapat dipastikan biaya yang anda keluarkan akan lebih mahal dibanding menggunakan pesawat. Budget flight ke negara-negara Eropa tersedia informasinya di internet, dan anda dapat membeli tiket secara online.


between Metro Station and the Colloseum
 19. Jika anda menggunakan kereta ke kota-kota lain di Italy, atau ke negara lain di Eropa, anda harus memperhatikan nomor kereta yang terpampang di sign boards yang dapat dilihat dengan mudah karena tersedia di beberapa tempat. Jangan terkecoh dengan nama kota. Saya hampir ketinggalan kereta ke Florence, karena menunggu kereta yang akan ke Florence. Padahal kereta yang akan saya tumpangi, yakni Eurostar akan menuju Milan yang transit di Florence/Firenze.

20. Nomor kereta yang akan berangkat akan muncul di sign boards 15 menit sebelum keberangkatan.

21. Tidak semua petugas di tempat-tempat umum seperti airport dan stasiun kereta bersedia melayani anda dengan ramah, sebagaimana cara orang Indonesia melayani orang asing yang bertanya. Karena itu usahakan untuk melayani diri anda sendiri alias mandiri.

Demikian tips yang dapat saya bagikan dari pengalaman perjalanan saya ke Italy beberapa waktu lalu.

Semoga bermanfaat

Selasa, 09 November 2010

KOTA KUPANG : Karang-Karang Yang Merangas

KOTA KUPANG : Karang-Karang Yang Berubah, Karang-Karang Yang Merangas, Karang-Karang Yang Teguh.

Bagian kedua: Karang-Karang Yang Merangas.

Hari kedua, saya berpindah dari rumah adik bungsu di Oesapa ke rumah adik perempuan di Oesao. Dia satu-satunya adik perempuan kami 6 bersaudara dengan 5 laki-laki dan 1 perempuan semata wayang yang menjadi kesayangan keluarga. Karena itu, saat perkawinannya, ayahanda rela mewariskan sebagian harta kekayaannya, termasuk tanah - yang dalam tradisi asli Rote merupakan hak waris anak lelaki saja. Dalam sejarah pewarisan adat Rote, warisan kepada anak perempuan hanya terjadi pada beberapa keluarga, terutama keluarga kepala suku / Manek yang tidak memiliki anak laki-laki, maka harta warisan dipastikan akan diperoleh anak perempuan.

Perjalanan ke rumah adik perempuan di Oesao harus berganti 2 kali angkot dan 1 ojek. Dari rumah adik lelaki bungsu di Oesapa, saya menggunakan angkot ke Terminal Noelbaki. Belum banyak perubahan yang terjadi di sini, jalan berlubang memaksa angkot yang ku tumpangi harus terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Sepanjang jalan dijejeri oleh rumah-rumah beratap daun gewang dan berdiding bebak - pohon khas Pulau Timor - berlantai tanah silih berganti tertangkap pandangan mata ku yang harus mengintip diantara sela-sela poster-poster yang memenuhi angkot. Rumah-rumah itu terlihat renta karena usia dan juga berselimut debu coklat keputihan. Kemiskinan terlihat kasat mata. Tak ada perubahan yang berarti dalam perjalanan bulan berganti tahun.

Memasuki terminal, mata ku menangkap jejeran sayur mayur, sirih pinang dan hasil bumi lainnya yang dijual dalam jejeran lapak para pedagang kecil di samping kiri terminal. Para calo berebut penumpang yang baru turun dari angkot guna mendapatkan jasa dari angkot yang akan berangkat dari Terminal Noelbaki ke Oesao. Keriuhan itu berpadu serasi dengan debu yang beterbangan karena tiupan angin kemarau. Saya hanya menanggapi para calo sekeliling ku dengan senyuman sambil mata ku menyapu sekilas wajah mereka satu per satu. Kulit coklat gelap bertato dengan rambut awut-awutan yang diminyaki tertempel debu di sana-sini bersama bibir kemerahan dan gigi berangkat kehitaman karena menyirih dan merokok tiada henti menyajikan sesuai yang khas. Kaki ku terus manapak memasuki bangunan terminal yang lantainya telah berlubang-lubang dan tanpa dinding sekat sehingga debu dan angin leluasa berseliweran. Senyum tak lepas dari bibir ku menyikapi tawaran para calo sambil kepala ku terus menggeleng memberikan penolakan halus terhadap tawaran mereka hingga kaki ku menapak masuk angkot terdepan yang telah siap berangkat sekaligus mengakhiri kerubungan para calo yang beralih mencari mangsa lain. Angkot yang ku tumpangi lalu berputar ke kanan keluar dari terminal menapaki jalan berlubang dan berdebu menggapai jalan Timor Raya yang beraspal bagus. Dentuman musik rock terus bergetar dari speaker di langit-langit dan kolong tempat duduk angkot. Aku akhirnya harus memaksa diri untuk terbiasa dengan hingar bingar tersebut, karena itulah kebiasaan angkot di Kota Kupang - yang didukung oleh perilaku penumpangnya juga. Dulu saat masih pelajar SMA dan Mahasiwa di kota tersebut, rasanya tidak afdol jika tidak menumpang angkot yang musiknya paling keras dengan dentuman bass yang kalo bisa telah terdengar 100 meter jauhnya dengan hiasan warna warni. Makin keras raungan musik dan makin ramai hiasan suatu angkot akan membuat angkot tersebut laris, jadi rebutan dan buah bibir. Kebiasaan ini belum berubah, walau polisi setempat telah sering melakukan razia.

Lanscape sepanjang jalan yang ku lalui belum banyak berubah yang didominasi warna kecoklatan karena musim kemarau. rumput, debu hingga rumah dan bangunan sepanjang jalan serasa berbalut coklat juga karena debu. Semuanya seperti merangas karena kemarau panjang yang telah menjadi bagian dari Kota Kupang dan Pulau Timor. Keringat yang melelehi badan terasa bercampur debu-debu halus membuat tubuh ku juga seperti merangas bersama kehidupan dan bumi di luar angkot. Saat angkot menyusuri jalan Tuapukan, mata ku tak lepas mengintip kemiskinan nyata dari jejeren rumah para pengunsi yang mulai reot dan renta. Atap daun, dinding dan juga lantai tanah itu telah menua dan merangas karena kekeringan dan juga kemiskinan. Kehadiran para pengungsi itu makin melengkapi kemiskinan penduduk setempat yang telah berjalan tahun berganti tahun.

Keriuhan perempatan Oesao masih seperti dulu. Pasar tumpah sepanjang jalan hingga ke perempatan menghasilkan campuran hiruk pikuk dan bau khas pasar yang harus diterima dan dijalani oleh para pembeli, penjual, pelintas hingga penduduk sekitar. Sedikit perubahan yang terjadi adalah jalan yang dilalui telah diperbagus sehingga tidak lagi berlubang dan berlumpur seperti dulu. Panas menyengat terasa menampar-nampar tubuh ku saat kaki ku melangkah turun dari angkot. Dentuman musik angkot terasa membekas di belakang telinga ku seiring dengan masuknya keriuhan perempatan. Kaki ku menghampiri salah satu pengojek yang stanby di atas motornya sambil merokok. Saat ku sebut tempat tujuan, dia bertanya rumah siapa? saat ku sebut nama adik perempuan ku dan nama suaminya, mengalirlah obrolan akrab antara si pengojek dan saya. Karena dia cukup mengenal keluarga adik perempuan ku - hingga kami tiba di tempat tujuan. Kesejukan terasa mengalir dari rimbunan pepohonan dan bunga-bungaan yang mengelilingi rumah adik ku dalm sambutan keponakan kembar perempuan ku. Mereka berebut mengambil alih ransel yang membebani punggung ku. Kedua tangan ku merangkul pinggul keduanya di samping kiri dan kanan. Tak terasa mereka telah tumbuh menjadi 2 gadis cantik yang tidak lagi bisa ku gendong dan kelonin seperti saat mereka kecil dulu. Ibu dan ayah mereka ternyata sedang di tempat hajatan keluarga, sehingga Inda dan Intan demikian nama kedua keponakan kembar ku - yang lalu sibuk menyiapkan minuman dan makan siang untuk ku, sambil ngobrol antara teras belakang tempat aku duduk dengan ruang tengah dan dapur tempat mereka berdua menyiapkan makan siang. Berselang beberapa menit kemudian, aku beralih ke teras depan menikmati hamparan sawah yang membentang di seberang jalan depan rumah, menikmati sepoi-sepoi angin sejuk tanpa terasa mata ku terpejam dengan kaki yang berselonjor di atas sofa.

Sabtu, 11 September 2010

PEREMPUAN PEREMPUAN KIE RAHA: Waris Jejak Sang Tiahahu

Catatan Perjalanan :


Menikmati senja Tidore dari Pulau Ternate telah menjadi kebiasaan baru ku saat berkunjung ke bumi Kie Raha, demikian julukan setempat terhadap keempat bekas kerajaan Islam tertua dalam sejarah Nusantara masa lampau. Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo demikian yang tertulis dalam buku-buku sejarah yang ku pelajari di bangku SD. 2 dari 4 itu yang paling terkenal adalah Ternate dan Tidore. Saat zaman berubah, penguasa berganti, mereka pun berbenah dan bertransformasi menjadi bagian dari Republik. Sekarang, Ternate menjadi ibukota Provinsi Maluku Utara, sementara Tidore menjadi salah satu kota di provinsi tersebut dengan masih menggunakan nama yang sama. Sisa-sisa kejayaan masa lalu masih bisa dijejaki di Pulau Ternate. Istana Kesultanan, kompleks alun-alun, hak-hak tenurial kesultanan masih tetap lestari dalam desakan arus privatisasi dan liberalisasi. Penghormatan mutlak komunitas-komunitas masyarakat yang memiliki sejarah dan ikatan dengan kesultanan masih terpelihara dan terwariskan dari generasi ke generasi. Walau sang Sultan telah menjadi anggota parlamen, demikian pula Sang Ratu, namun kekuasaan tradisional pemimpin tertinggi Kesultanan tetap melekat sebagaimana galipnya jabatan-jabatan tradisional warisan zaman. Dia yang konon terpilih oleh pilihan magis Mahkota Kerajaan tetap memegang mandat sebagai sang Pemimpin tertinggi dibantu oleh sejumlah pejabat kesultanan yang memegang tanggung-jawab dan fungsi masing-masing.

Seiring derasnya desakan liberalisasi dan privatisasi, kehidupan komunal suku dan marga di bumi Kie Raha juga mulai berubah. Desakan eksploitasi sumberdaya alam setempat oleh para pemegang konsesi pertambangan telah memicu pertikaian horizontal dan vertikal di warisan wilayah Bacan dan Jailolo. Mereka yang asal muasal satu keluarga, satu marga, satu suku, hingga satu bangsa mulai merasa berbeda dalam banyak hal yang lalu menjadi alasan untuk berdiri terpisah karena kepentingan yang berbeda sebagai dampak dari provokasi para eksploitir sumberdaya alam. Bumi Kie Raha saat ini sedang bergolak. Pemilihan dan keputusan gubernur defenitif dari pemerintah pusat yang tak tuntas, telah menjadi pemicu demonstrasi tak henti. 33 Kontrak Karya Pertambangan di Halmahera merupakan pijar-pijar besi pencetus bara konflik di bumi rempah-rempah itu. Pembangunan infrastruktur dan tuntutan zaman atas nama pembangunan menambah benih-benih baru konflik karena ancaman penggusuran terhadap kelompok-kelompok miskin dan terpinggirkan dari rumah dan halaman mereka yang tidak seberapa semakin nyata dan mendekat.

Mungkin sejarah selalu berulang sehingga diberi nama sejarah. Penjajahan Belanda dan Portugis di negeri seribu pulau pada zaman lalu telah memicu perlawanan penduduk setempat yang lalu melahirkan nama-nama bersejarah seperti Pattimura, Martha Chirstina Tiahahu hingga Nuku. Penjajahan gaya baru atas nama Kontrak Karya dan pembangunan juga mulai memicu perlawanan di Bumi Kie Raha. Ketenangan samudra yang membentang dan memisah Tidore dan Ternate mulai mengombak karena kegelisahan dan kegulauan anak-anak negeri menghadapi berbagai desakan pergusuran dan pengambil-alihan sumber-sumber kehidupan mereka. Teriakan diam putra-putri negeri Kie Raha mulai mengalir dan mengusik nurani kemanusiaan, 3 diantaranya adalah perempuan-perempuan yang saya kenali sekilas karena keberanian mereka mengorganisir dan bertindak memimpin perlawanan terhadap penindasan dan pengisolasian. Mereka datang dari latar sosial dan ekonomi berbeda, namun terikat dalam suatu kesamaan yakni melakukan perubahan dari lingkungan masing-masing tidak hanya bagi kaumnya, tetapi juga bagi umat manusia.

Diana, demikian namanya, berusia 30an, energik, bicara meledak-ledak, berasal dari suatu desa nun jauh di pelosok Kie Raha di Halmahera Timur. Di musim hujan, desanya terisolasi karena akses jalan darat putus. Jalan udara dapat dilalui menggunakan pesawat Trigana, namun sangat terbatas karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki duit untuk naik pesawat. Praktis di musim hujan, penduduk tidak bisa kemana-mana, mereka berkonsentrasi mengurus kebun dan sawah mereka. Namun saat ini, kebun dan sawah-sawah itu teracam diambil alih oleh perusahaan pertambangan dengan harga tanah yang sangat murah dan tidak masuk akal bagi penduduk setempat. Tekanan dan intimidasi oleh aparat keamanan semakin meningkat. Dalam negosiasi-negosiasi ganti rugi, rasanya perusahaan dan pemerintah berdiri satu pihak lalu menggunakan aparat keamanan melakukan intimidasi diam dengan cara melakukan penjagaan bersenjata lengkap di sekitar tempat negosiasi. Pada awalnya, Diana adalah perempuan desa biasa yang pasti merasa terintimidasi melihat aparat bersenjata. Namun, saat selesai mengikuti suatu pelatihan paralegal yang diadakan oleh suatu LSM di Kota Ternate, kesahayaan perempuan ini pun berubah. Dia secara perlahan mulai maju dan memimpin perlawanan komunitas dalam negosiasi-negosiasi ganti rugi lahan. Tidak itu saja, sepak-terjangnya pun meluas mendampingi korban-korban kekerasan dalam rumah tangga maupun korban-korban kekerasan aparat terhadap rakyat di wilayah-wilayah terisolir seperti desa-nya yang jauh dari jangakauan LSM ataupun aparat pemerintah yang lebih bijak di Kabupaten ataupun kota Provinsi.

Naomi, seusia Diana, guru sekolah di suatu Kelurahan di Kota Ternate. Naomi berasal dari suatu kampung yang disebut minoritas di Kota Ternate, yakni kampung Tabanga. Mayoritas keluarga di kampung ini beragama Kristen, sehingga mereka disebut minoritas dalam populasi Ternate yang Muslim. Konon nenek moyang mereka didatangkan oleh kesultanan Ternate dalam suatu era kesultanan tersebut guna membantu Sultan mengatasi hama babi hutan. Karena itu Sultan meminjamkan tanah kesultanan sebagai tempat tinggal mereka. Zaman berlalu, demikian juga dengan Sultan yang berganti, generasi baru minoritas pun lahir dan beranak pinak di wilayah tersebut. Mereka lalu menjadi bagian dari kehidupan sosial dan politik setempat hingga kesultanan menjadi bagian dari Republik. Namun, kondisi kehidupanan para minoritas ini tetap tidak mengalami perubahan. Konflik sosial beberapa tahun silam makin menyulitkan mereka, karena mereka harus mengungsi dari tanah kelahiran mereka itu. Tanah pinjaman yang telah memberikan kehidupan dan menghidupkan generasi baru. Saat damai bersemi, para pengungsi itu kembali ke kampung halaman-nya itu, dengan segala keterbatasan yang ada dan ketidak-pastian haknya atas tanah. Tetangga mereka yang Muslim hanya bisa meminjamkan lahan ala kadarnya bagi mereka untuk berusaha menyambung hidup di bumi satu-satunya yang mereka kenal sebagai tempat kelahiran. Menyadari kesulitan komunitasnya, Naomi yang mendapatkan dukungan salah satu LSM di Kota Ternate, mulai aktif mengorganisasi komunitasnya untuk mendapatkan perhatian pemerintah daerah setempat. Lobby2 ke Kantor Pemberdayaan Perempuan dilakukan untuk mendapatkan pendampingan bagi kelompok-kelompok perempuan di kampung tersebut guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka agar memiliki kemampuan usaha sendiri guna secara bertahap membebaskan diri dari keterbatasan ketersediaan sumberdaya alam dan lahan usaha. Bersama beberapa teman sekampung dan pendampinan LSM, mereka juga meloby pemerintah daerah guna mendapatkan bantuan dan fasilitas kredit usaha. Loby intensif dan tak kenal lelah akhirnya berbuah jua. Walikota Ternate memimpin suatu team mengunjungi kampung tersebut sebulan silam guna bedialoq langsung dengan warga. Suara diam mereka akhirnya terdengar telinga bijak sang pemimpin negeri. Walau jalan masih panjang demi memperoleh kepastian hak sebagai warga, namun Naomi telah menyemai benih dan menjembatani suatu dialog melintasi perbedaan minoritas – mayoritas.

Nurjani, perempuan berjilbab yang selalu berbicara dalam ketenangan terukur. Matanya bersinar saat berbicara menyingkapi kabut di wajah teduhnya karena memikirkan kondisi komunitasnya. Nurjani berasal dari kampung Toniku, suatu kampung yang sangat terisolir dari hiruk pikuk pembangunan dan fasilitas, terutama fasilitas pendidikan dan kesehatan dasar. Satu sekolah hanya diajari oleh satu guru merupakan suatu kondisi yang luar biasa sekaligus bukti keterisolasian kampung Nurjani. Kondisi komunitasnya yang terisolir makin memiskinkan komunitasnya. Mereka hanya bisa hidup dari apa yang ada tanpa bisa berbuat lain guna mendapatkan bantuan fasilitas Negara untuk mengangkat harkat hidup mereka sebagai manusia sekaligus warga negeri ini. Etah dari mana pengetahuan itu diperoleh Nurjani. Nurjani lalu mengajak beberapa ibu untuk membentuk kelompok ibu-ibu pengolah hasil laut yang lalu berlanjut menjadi kelompok simpan pinjam. Di tempat lain, mungkin apa yang dilakukan Nurjani adalah hal biasa saja, namun di Toniku hal tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa karena butuh ketekatan, kenekatan dan juga kerja keras. Ketekunannya berbuah, sehingga Nurjani yang hanya tamatan SD itupun diangkat menjadi Ketua PKK di desa-nya. Padahal Nurjani bukan lah istri seorang Kepala Desa – yang biasanya secara otomatis menjadi Ketua PKK. Kerja keras itu terus berlanjut, saat ini, Nurjani dan kelompok-kelompoknya sedang bernegosiasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten setempat guna memperoleh bantuan 50 juta rupiah bagi pengembangan ekonomi kelompok yang tentunya akan berdampak pada ekonomi kampung. Dalam keterisolasian itu tersimpan mutiara talenta yang sangat berharga.

Dahulu kala, sejarah mencatat seorang perempuan Maluku bernama Martha Christina Tiahahu melakukan perjuangan bersenjata melawan penjajahan kolonialis. Apakah sejarah juga akan mencatat perjuangan Diana, Naomi dan Nurjani melawan penindasan, pemiskinan dan peminggiran mereka? atau kaumnya ataupun komunitasnya?. Mungkin ya, mungkin juga tidak… karena mereka hanyalah perempuan-perempuan kecil yang melakukan hal-hal kecil bagi negeri ini, namun perbuatan mereka merupakan hal-hal besar bagi kaum dan komunitasnya. Walau mungkin apa yang mereka lakukan tidak tercatat dalam sejarah Kie Raha apalagi negeri Indonesia tercinta ini, namun paling tidak saya telah menceritakannya kepada anda yang membaca email ini. Bahwa nun jauh di ufuk Timur, ada 3 dari ribuan perempuan tak dikenal negeri dan dunia sedang memimpin perlawanan dan peperangan terhadap keterisolasian, keterpinggiran, kemiskinan dan ketidakberdayaan komunitasnya atas pergusuran dan penindasan pembangunan. Jejak waris Tiahahu di Bumi Kie Raha!!! Perempuan-perempuan itu sedang menorehkan sejarahnya dalam perjalanan komunitasnya dan bangsa ini.

Sabtu, 14 Agustus 2010

KOTA KUPANG: Karang-Karang Yang Berubah, Karang-Karang Yang Merangas dan Karang Karang Yang Teguh

Karang-Karang Yang Berubah

Senja di pantai Kota Kupang
Setelah 3 tahun lebih tidak mengunjungi kampung halaman akhirnya pada Juli 2010, saya berkesempatan pulang kampung. Keberangkatan pesawat Garuda yang sedianya terjadi pada jam 7an pagi akhirnya molor hingga jam 11an karena 2 alasan, yakni masalah teknis yang membuat pesawat rem mendadak saat akan tinggal landas, lalu berbalik ke apron. Masalah kedua, saat pesawat akan tinggal landas ada seorang penumpang yang sakit sehingga pesawat balik lagi ke apron untuk menurunkan penumpang tersebut. Tentu saja, semua penumpang mengerutu, namun kondisi tersebut diluar kontrol sehingga harus diterima dengan lapang dada. Kedua kejadian tersebut juga membuat para
Bandara El Tari 
penumpang akhirnya saling bertukar sapa karena merasa sama sama senasib sepenanggungan. Apalagi saat keinginan-tahuan dari mereka yang tidak tau ditanggapi oleh mereka yang tau sedikit-sedikit sehingga bisa terangkai suatu cerita utuh tentang mengapa pesawat Garuda penerbangan Jakarta-Kupang harus balik 2 kali ke apron. Komunikasi akhirnya muncul diantara penumpang untuk paling tidak berbagi cerita tentang apa yang terjadi.

Sejak memasuki pesawat saya sudah kesal, karena saat check in, saya minta seat sebelah aisle (gang) tapi koq malah nomor kursi ku di tengah. Tentu saja saya hanya bisa kesal diam-diam terhadap petugas check in yang tak bisa lagi saya omelin. Saat berada dalam pesawat, saya duduk diapit 2 laki-laki, yakni seorang anak muda yang bekerja di kantor BPS Jakarta - duduk dekat jendela, sementara yang sebelah gang adalah seorang lelaki paruh baya dimana dari gayanya seperti seorang pengusaha. Akhirnya, saya asyik ngobrol dengan karyawan BPS tersebut, karena sebagai orang yang baru pertama kali akan berkunjung ke kota Kupang, banyak hal yang ingin diketahuinya. Dengan mengandalkan ingatan saya yang terbatas tentang kota kelahiran yang saya kunjungi sekitar 3 tahun silam, saya membagikan beberapa informasi umum seperti oleh-oleh, makanan, penduduk, budaya dll, termasuk julukan Kupang sebagai Kota Karang yang ternyata telah diketahui juga oleh pemuda tersebut.

Sekeping Kota Kupang dari udara
Singkat cerita saat sore menjelang pukul 4, pesawat yang saya tumpangi melayang-layang di atas Kota Kupang. Perubahan iklim membuat beberapa bagian kota yang tidak diokupasi pemukiman penduduk masih nampak hijau. Namun ciri khas padang rumput berwarna kecoklatan terhampar luas di bawah sejauh mata memandang. Pesawat akhirnya soft landing di Bandara Eltari. Saat saya keluar dari pintu pesawat, terpaan angin dan udara panas menyengat langsung menyambut. Cepat-cepat saya melangkahkan kaki ke terminal. Saya menyerahkan tag bagasi ke salah satu porter yang berdiri berjejer bersama rekannya di bagian dalam depan pintu terminal. Sambil menunggu porter membereskan bagasi, saya diam-diam menguping pembicaraan 2 orang pria paruh baya di belakang saya. Mendengar betapa serunya pembicaraan mereka, secara perlahan saya berbalik untuk
Dominasi warna coklat musim kemarau di Kota Kupang
memperhatikan dan mendengar lebih jelas percakapan yang sedang terjadi. Ternyata salah satu pria tersebut menceritakan peristiwa penundaan penerbangan pagi tadi sambil menunjukan kartu Garuda Frequent Flayer (GFF)nya yang berwarna biru. Dengan yakin dan bangga, pria pemegang kartu GFF menceritakan bahwa pesawat sebenarnya tidak bisa berangkat hari itu, namun dia berhasil meyakinkan pilot untuk berangkat karena kartu yang dipegangnya, sambil menambahkan dengan penuh percaya diri, bahwa dengan kartu tersebut, dia bisa memerintahkan apa saja kepada Garuda, termasuk memprioritaskan keluarga dan teman-temannya terbang bersama garuda. Pria pendengarnya juga hanya terkagum-kagum sambil mengamati kartu GFF biru di tangan pria satunya lagi. Tentu
Hutan buatan yang juga merana di dekat Bandara El Tari
saja, saya diam-diam tersenyum geli memperhatikan kejadian tersebut dan mendengar bualan pria paruh baya tersebut. Salah satu ciri khas para lelaki di kota kelahiran ku "pikir saya sambil tersenyum geli". Sebagai pemegang kartu GFF Platinum, saya mengetahui dengan pasti status, hak dan juga level pemegang kartu GFF warna biru... ha ha ha ha... ada-ada aja, demikian komentar saya dalam hati.

Akhirnya, bagasi saya diangkut keluar menuju taxi oleh porter yang gembira menerima duit 20 ribu rupiah yang saya sodorkan untuk jasanya mengangkut satu tas sedang dan 1 dus printer yang dipesan adik lelaki ku. Taxi-taxi bandara
Gerbang masuk wilayah kampus almamater saya
ternyata tidak berubah sejak era saya masih anak-anak. Taxi biru kusam dengan fisik yang telah rapuh dan rombeng, namun masih tetap dipakai antar jemput penumpang. Walau taxi telah rombeng-rombeng dan tanpa AC yang membuat keringat mulai mengalir membasahi Polo Tshirt yang saya kenakan, namun alunan musik tempo tinggi dan cepat yang diperkuat boaster berdentam-dentam tiada henti dalam taxi tersebut. Salah satu ciri khas kota Kupang yang belum berubah, pikir saya sambil mencoba menikmati suasana tersebut. Saya membiarkan saja sopir memutar musik seenaknya, tanpa mengomentari. Sambil menahan napas mendengarkan dentaman musik yang serasa memukul-mukul gendang telinga dan jantung, saya mengarahkan pandangan ke lanscape jalanan yang dilalui. Pohon-pohon merangas
Jalan depan kampus Universitas Nusa Cendana
bergoyang dalam angin sore dikelilingi hamparan-hamparan rumput yang didominasi warna kecoklatan. Tidak banyak yang berubah di sekeliling bandara, termasuk jalan raya yang membentang dari bandara ke arah kota yang dibuat 2 jalur, namun tetap saja kelihatan sempit. Di jalur keluar bandara depan penjara Penfui sedang dilakukan pelapisan jalan. Hanya itu aktifitas yang berarti di sore itu. Saat taxi membelah jalan di depan Kampus Universitas Nusa Cendana, saya mengamati kampus almamater tenpat saya menghabiskan beberapa tahun belajar hukum. Lumayan banyak perubahan yang terjadi seperti gerbang megah, pagar dan pepohonan hijau depan gerbang. Selain itu, semuanya masih seperti dulu. Karang-karang, rumput-rumput liar dan semak-semak di sekeliling kampus sepanjang jalan yang dulu saya lalui bersama teman-teman saat kuliah masih tidak berubah. Warna khas kecoklatan dan udara gersang itu masih seperti dulu saat saya mahasiswa. Ada satu penambahan kecil lain di tepi jalan depan gerbang, yakni adanya bengkel sepeda motor.

Bundaran Penfui
Saat ibunda belum almarhumah, setiap kali berkunjung ke kampung halaman saya akan langsung ke desa tempat bunda tercinta menunggu rumah bersama ayahanda dan berbagai ternak peliharaan mereka. Saat bunda telah almarhumah, maka kunjungan dan menginap saya harus dibagi secara adil ke suadara-saudara kandung yang telah tinggal tersebar karena menikah dan juga bekerja. Malam pertama tiba di Kupang, saya nginap di rumah sekaligus tempat bisnis adik bungsu di Kelurahan Oesapa. Si bungsu mengajak saya makan malam, tentu saja dengan senang hati. Saat ditanya ingin, makan apa dengan segera saya jawab daging se'i dan bunga pepaya. Si bungsu lalu mengajak saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan yang terletak di Kelapa Lima. Sepiring nasi panas bersama sepiring se'i bakar, 10 tusuk sate, semangkuk kacang brene bon dan bunga pepaya seharga 46 ribu rupiah tandas ke perut saya dan si bungsu,a... Malam makin larut sehingga tubuh penat pun harus dibringkan, namun tidur ku tak bisa lelap karena rumah merangkap tempat bisnis tersebut terletak di tepi jalan Timor Raya yang setiap saat selalu dilalui kendaraan. Kebisingan jalan raya terasa sangat mengganggu, namun akhirnya kepenatan membuat saya terlelap jua di penghujung pagi.

Angkot di Kota Kupang
Setelah sarapan dan mandi di hari kedua, saya menuju ATM di kompleks hotel Kristal Oeba menggunakan angkot. Saat memasuki angkot, napas saya langsung pengap karena remang-remangnya ruang angkot diakibatkan oleh tempelan stiker berbagai bentuk, motif dan warna yang memenuhi seleruh permukaan kaca jendela samping atas dan bawah hingga kaca depan. Stiker Yesus disalib bersanding stiker Marlin Monroo dan Acnes Monika. Stiker facebook dan yahoo messenger bersanding dengan stiker berbahasa Indonesia dialek Kupang berbunci Su Tapee Saa :). Berbagai hiasan seperti boneka warna warni berbagai model, gantungan berbentuk hati warna warni hingga player khusus untuk mobil, sekarang telah berganti flash disk atau cakram cd. Bagian bawah tempat duduk dipenuhi speaker yang dipagari ram-ram kawat sehingga kaki penumpang tak bisa beranjak ke kolong tempat duduk karena terhalang pagar kawat yang melindungi jejerean speaker di bawah tempat duduk penumpang.
asesoris lainnya meramaikan angkot yang saya tumpangi bersama dengan dentuman musik tiada henti. Jika dulu setiap angkot menggunakan

Pantai Kelapa Lima
Saya ingin memperhatikan lanscape di luar angkot, namun terhalang berbagai stiker yang memenuhi kaca angkot dari depan hingga belakang. Akhirnya saat kembali dari ATM, saya memilih duduk di depan dekat sopir sehingga bisa mengamati perubahan yang terjadi sepanjang jalan yang dilalui angkot. Beberapa tempat di sebelah kiri jalan yang saya lewati dari Oeba hingga Pasir Panjang dan Kelapa Lima telah berubah. Karang-karang pantai Paradiso mulai berubah karena sedang dibangun serta dipagari dan diberi tulisan besar, Bukan Jalan Umum.. jejeran restoran pun mulai berbaris sepanjang pantai tersebut yang telah mengubah ruang publik itu menjadi tempat-tempat pribadi milik para pengusaha restoran dan hotel. Di beberapa hamparan tepian pantai pun mulai bermunculan lapak-lapak penjual ikan yang tidak tertata secara baik oleh Pemkot. Kesan kumuh dan jorok itu tak bisa dihindarkan lagi. Bau menyengat ikan kering bersama angin yang menerpa hidung terasa menyesakan dada saat angkot melewati lapak-lapak di tepi jalan raya Oeba - Oesapa, yah karang-karang itu telah mulai berubah... kumuh, jorok dan bau. Akses ke ruang-ruang publik semakin sulit karena mulai beralih menjadi ruang-ruang privat.. tapi SIAPA PEDULI???.  Saya bukan pejabat daerah, saya bukan anggota parlamen daerah yang punya kuasa dan wewenang mengurus tata ruang dan izin pembangunan hotel dan restoran... Ah saya hanya lahir dan besar di kota karang nan cantik ini... saya hanyalah seorang pengelana, seorang penjelajah yang melihat, mendengar, memotret dan menulis...

Bersambung

Kamis, 15 April 2010

TRANS JAKARTA : yaaa bus waeeee

Jakarta, 15 April 2010.

Pagi hari ini sekitar jam 7.30, para calon penumpang, termasuk saya telah memenuhi halte Layur di Jl. Pemuda Rawamangun. Tak lama berselang muncul 1 bus trans-jakarta yang telah dijubeli penumpang dari halte TU GAS. Karena terburu waktu, maka saya tidak bisa menunggu bus berikutnya, sehingga walau telah penuh aku masuk saja dan mencari tempat menempatkan diri ku diantara penumpang yang telah berjejalan dalam bus. Penumpang makin bertambah, saat bus menyinggahi halte-halte yang ada sepanjang jalur Layur - Mampang Prapatan. Karena makin padat, petugas penjaga pintu harus menolak beberapa penumpang yang mencoba masuk, namun di pintu bagian belakang, tetap saja ada penumpang yang memaksa masuk karena petugas hanya berjaga di pintu depan.

Mayoritas penumpang yang duduk sepertinya sedang tertidur sambil menikmati musik dari BB maupun HP masing-masing yang terpasang ke telinga melalui headset. Jejalan penumpang membuat suasana bus tidak nyaman, namun tidak ada pilihan, karena trans-jakarta merupakan moda transportasi alternatif mengarungi kemacetan Jakarta.

Sayangnya, perjalanan bus banyak kali terjebak macet juga walau telah menggunakan jalur khusus yang dibangun menghabiskan duit bermiliar rupiah. Biasanya, jalur Pramuka sejak halte BPKP hingga Pasar Genjing pasti selalu macet. karena jalur tersebut selalu diserobot kendaraan pribadi baik motor maupun mobil. Meskipun dijalur tersebut terpasang penghalang yang dijagai petugas, namum mereka seperti tak berdaya, karena hanya mengenakan seragam trans Jakarta. Jalur yang paling banyak diserobot adalah menjelang halte Utan Kayu, pasti selalu macet karena kendaraan-kendaraan pribadi selalu berusaha masuk walau telah dipasangi penghalang juga dan dijagai 2 petugas, namun sama seperti 2 petugas sebelumnya, mereka tidak berdaya menghadapi penyerobotan tersebut. Apalagi mendekati halte Utan Kayu, terdapat putaran yang dijaga para Pak Ogah makin menambah parah kemacetan di jalaur tersebut. Jalur tersebut telah berbulan-bulan macet karena penyerobatan kendaraan pribadi, namun pengelola trans-jakarta sepertinya tidak berupaya membenahi jalur tersebut, misalnya dengan melakukan kerjasama dengan polisi lalu lintas untuk menilang paqra pelanggar jalur.

Perjalanan pagi ini makin lama, karena bus yang saya tumpangi juga terjebak kemacetan di jalur menuju halte Manggarai hingga Dukuh Atas. Praktis waktu tempuh dari halte Layur hingga Dukuh Atas pagi ini adalah sekitar 1 jam. Karena kelambatan tersebut, saya baru tiba di kantor Imigrasi Jakarta Barat pada pukul 9.30 pagi, terlambat 1 jam dari wakatu yang disepakati, sehingga saya harus terburu-buru menemui petugas untuk mengurus paspor saya.

Beruntunglah pengurusan paspor bisa dilakukan secara cepat, setelah pengambilan foto dan sidik jari, saya lalu menunggu dalam antrian untuk wawancara dalam rangka mendapatkan paspor baru pengganti paspor lama yang telah lewat masa waktunya. Setelah menunggu hampir 30 menit, nama saya dipanggil petugas untuk wawancara sekitar 10 menit. Selesai itu saya pun melangkah keluar dan berjalan dari kantor Imigrasi ke halte kota bus trans-jakarta melalui stasiun kota. Jalan kota tua yang saya lalui dari kantor Imigrasi, gedung bank BNI, stasiun Kota hingga Halte nampak apik dan bersih, nyaman dilalui para pejalan kaki. Walau untuk memasuki halte, jalan satu-satunya adalah melalui stasiun kemudian masuk ke lorong bawah tanah karena Pemkot telah membuat pagar pembatas dari pintu masuk keluar lorong hingga ke pintu stasiun guna mencegah para pejalan kaki dan pedagang kaki lima meluber ke jalan antara stasiun dan halte yang dahulunya sering kumuh dan macet karena bertumpuknya para pejalan, PKL, angkot, bus dan juga kendaraan pribadi mobil maupun sepeda motor.

Pengalaman pagi ini menggunakan bus trans-jakarta sepertinya mengulang kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya menggunakan trans-jakarta. Bus yang dijanjikan sebagai angkutan alternatif tersebut tidak lebih dari bus AC biasa walau telah menghabiskan uang miliaran rupiah sejak persiapan sampai dengan pengoperasiannya. Pengoperasian bus tersebut seperti tidak punya standar pelayanan baku yang harus ditaati oleh operator, termasuk sopir. Waktu tunggu yang lama, penumpukan penumpang di halte yang lama dan pengap, waktu tempuh yang sama seperti bis biasa, pengumuman otomatis yang kadang tidak dihidupkan oleh sopir, udara panas dan pengap dalam bis karena ada AC yang rusak, halte yang dipenuhi sampah, petugas tiketing yang tidak ramah merupakan beberapa bentuk nyata dari ketidak-profesionalan pelayanan trans-jakarta.

Pada akhirnya, saya harus mengatakan ohhh trans-jakarta, ternyata bus waeeeeee!!! ga punya nilai tambah apa pun walau telah menghabiskan uang negara dan rakyat... dan yang telah direncanakan sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan ibukota, sayangnya JAUH PANGGANG DARI API.

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...