Sabtu, 04 Januari 2014

Jejak Menjejak di Manokwari Irian Jaya Barat

Ini posting JADUL tahun 2007 yang selama ini hanya tersimpan di draf. Saat bongkar2 baru sadar kalo posting ini belum dipublikasikan..
==============================

Sudah 7 hari saya berada di kota Manokwari – ibukota Provinsi Irian Jaya Barat - yang adalah provinsi pemekaran dari Provinsi Papua. Kota Manokwari dikenal juga sebagai Kota Injil bagi Tanah Papua. Menurut cerita, Agama Kristen berkembang di Papua berawal dari penyebaran injil pertama kali di Manokwari - yang dibawa oleh seorang penginjil asal Belanda - yang mendarat di Pulau Mansinam - suatu pulau kecil di depan Kota Manokwari.

Hari pertama menjejak bumi Manokwari mengingatkan saya kepada dua kota yang pernah menjadi bagian kehidupan ku, yakni Kupang di tahun 80an dan Dili di tahun 90an. Kota Manokwari terletak di pinggir laut dan dikelilingi kawasan perbukitan hijau. Kadang di sore hari, asap mengepul dari kawasan perbukitan tersebut karena pembersihan dan pembakaran lahan oleh para petani.

Di kawasan kota sendiri sering terlihat penduduk membakar sampah di halaman rumahnya. Kondisi yang tidak pernah saya temukan di Jakarta. Saat ini, kota Manokwari sedang berbenah. Berbagai fasilitas swasta, pemerintah dan juga umum sedang diperbaiki ataupun dibangun baru. Banyak bangunan baru bermunculan seiring dengan geliat kota karena kehadiran banyak orang baru, seperti saya di kota tersebut. Kawasan pertokoan di Sanggeng seperti kawasan pertokoan di Jl. Kanaan Kuanino, Kupang.

Rumah-rumah penduduk yang berjejer di tepi pantainya mengingatkan saya pada jejeran rumah di kawasan Becora, Dili, ataupun di pantai Oeba dan Kampung Solor di Kupang. Agak berbeda dengan kawasan pertokoan di kota Jayapura, kawasan pertokoan di Manokwari terlihat bersih. Di sore hingga malam hari banyak penjual buah menggelar dagangannya di emperan-emperen toko, namun segera setelah itu kawasan tersebut dibersihkan oleh mereka. Biaya hidup di kota ini lumayan mahal, namun masih murah jika dibandingkan dengan kota Jayapura – yang pernah saya singgahi selama 2 minggu sebelum menuju Manokwari. Harga 1 buah mangga harum manis 500 gram Rp. 7.000 di toko buah sementara di pasar dapat diperoleh dengan harga Rp. 5.000. Mangga yang sama di Jayapura berharga Rp. 10.000. Harga 1 paket ayam goreng (ayam goreng, nasi, sambal dan lalapan) Rp. 15.000 sementara harga 1 paket ikan bakar (1 ikan bakar, nasi, sambal dan lalapan) berkisar Rp. 25 – 50.000. Sewa mobil per hari Rp. 500.000, angkot Rp. 2.000, sedangkan ojeck Rp. 3000 harga dasar, selanjutnya tergantung jarak antar.

Kaki ku menjejak bumi Irian Jaya Barat pada tanggal 1 Desember 2006. Saat roda pesawat Merpati yang menggunakan Boeing 737 – 200 menjejak bandara, mata ku menangkap kumpulan pempohonan dan rerumputan hijau di sekitar bandara yang juga terletak di tepian pantai seperti letak Bandara Ngurah Rai di Bali. Bandar udara kota Manokwari masih sangat sederhana walau telah memiliki kapasitas menerima pendaratan pesawat Boeing 737-200 yang saya tumpangi dari Jayapura.

Saat wajah ku nongol di pintu keluar pesawat, angin lembut dan kesegaran udara bersih langsung menyapa hangat dan membelai tubuh ku seperti mengucapkan salam selamat datang. Kaki ku melangkah dan menapak pasti bumi Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat yang akan menjadi bagian dari hari-hari hidup ku sebagai Program Officer UNDP untuk Provinsi Irian Jaya Barat.

Kaki ku menjejak dan menapak pasti menuju terminal kedatangan. Di ruang bagasi sejumlah porter yang berbaur dengan penjemput hingga para sopir taxi pribadi telah menunggu mendapatkan secerca rejeki dari para penumpang pesawat. Seorang lelaki tinggi kurus berwajah garang berkumis hitam tebal tersenyum kepada ku sambil menawarkan jasanya. Saya hanya mengangguk dan menyerahkan boarding pass yang ditempeli bagasi tag. Ternyata lelaki tersebut adalah seorang supir taksi pribadi pengganti temannya – yang sedang sembahyang Jumat. Tak lama kemudian bagasi yang hanya sedikit didorong masuk oleh para petugas lalu diambil alih oleh para porter, supir dan para penjemput. Supir taxi merangkap porter saya lalu mengangkut koper-koper saya ke mobilnya sambil ngobrol. Dia menawarkan hotel Metro sebagai tempat penginapan saya, saya katakan kantor UNDP Jayapura telah booking hotel Soribo sebagai penginapan saya selama berada di Manokwari. Dia hanya mengangguk lalu kami bercakap-cakap di mobil tentang berbagai topik lainnya.

Dari supir itu, sekilas saya mendapatkan gambaran tentang kota Manokwari. Setelah check in, istirahat beberapa menit, mandi lalu berganti pakaian, saya minta diantar ke kantor Bappeda. Ternyata kantor tersebut telah tutup sehingga saya tidak menemukan seorang staf pun sehingga saya minta diantar ke kantor Sekretaris Daerah. Di kantor tersebut, saya hanya bertemu sekretaris pribadi Sekda – yang lalu menginformasikan kepada saya bahwa urusan UNDP dan IFAD mission akan melalui BAPPEDA Provinsi. Saya hanya mengucapkan terima kasih lalu berlalu dari tempat tersebut. Karena masih merupakan provinsi baru, maka kantor-kantor pemerintahan provinsi masih sangat sederhana.

Hampir semua kantor pemerintah menempati bangunan panjang seperti barak militer yang disekat-sekat untuk berbagai instansi. Misalnya Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provinsi berada pada satu bangunan. Sama halnya dengan Kantor BAPPEDA yang sharing dengan KPUD Provinsi dan Kesatuan Bangsa (Kesbang). Karena tidak bisa menemui seorang pejabat pun, saya lalu meminta diantar ke kantor Capacity2015 – yang merupakan satu proyek kerjasama UNDP dan Pemerintah Indonesia. Di kantor tersebut saya juga hanya bertemu seorang staf administrasi – yang tinggal di dalam kantor tersebut. Setelah ngobrol beberapa menit, saya lalu mencoba mengontak satu konsultan proyek tersebut – bernama Mey. Kami janjian untuk bertemu sore hari tersebut. Saya lalu minta diantar ke hotel Fajar Roon untuk bertemu salah satu staf ILO dari Jayapura – untuk mendiskusikan tindak-lanjut dari suatu kerjasama UNDP – ILO yang telah disepakati sebelum saya menjadi PO UNDP untuk wilayah Irian Jaya Barat. Setelah bertemu dan berdiskusi sekitar 30 menit, kami lalu menyepakati beberapa hal sebagai tindak-lanjut teknis pelaksanaan kerjasama tersebut, terutama terkait pada rencana seminar kebijakan ketenaga-kerjaan di provinsi Irian Jaya Barat. Setelah itu kami bersama melakukan perjalanan ke kantor Capacity2015. Wakil ILO ingin melihat langsung kantor tersebut yang rencananya akan menjadi kantor bersama Cap2015 dengan UNDP dan ILO. Di kantor tersebut, kami juga hanya bertemu staf administrasi tersebut.

Saya lalu menelpon Mey untuk mengabarkan keberadaan kami di kantor-nya. Tak lama kemudian dia datang dan kami berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk rencana kantor bersama. Pada dasarnya dia tidak berkeberatan karena hampir semua konsultan proyek tersebut lebih banyak berada di kantor-kantor pemerintah untuk memfasilitasi berbagai kegiatan – dari pada di kantor. Namun, keputusan penggunaan kantor berada pada manajer proyek di Jakarta.

Tiada terasa kegelapan malam telah menjejak mayapada. Kami lalu pamit dan beranjak balik ke penginapan masing-masing guna sejenak mengistirahatkan fisik dan batin. Saat mentari Timur tersenyum bahagia, ku tinggalkan peraduan hotel untuk mempersiapkan diri bagi aktivitas hari itu.

Tiada terasa telah seminggu saya berada di kota Manokwari sebagai pos kerja ku untuk bulan-bulan yang akan datang. Kesibukan bertemu dengan berbagai pejabat pemerintah, para konsultan dari Universitas Papua (UNIPA) sampai dengan berkeliling mencari rumah / kamar yang layak sebagai tempat tinggal ku di Manokwari telah mengisi hari-hari ku di kota ini.

Berbagai aktivitas tersebut telah mempertemukan ku dengan berbagai orang – yang secara bertahap mengakrabkan ku dengan denyut kehidupan kota Manokwari dan seluk-beluknya. Sebagai perintis kantor UNDP di kota Manokwari, saya masih harus melakukan semuanya sendiri – mulai dari bertemu para pejabat pemerintah, konsultan independen, booking hotel, mobil bagi para tamu UNDP hingga urusan tiket perjalanan para tamu tersebut harus saya tangani dengan baik. Hanya bermodalkan pengalaman kerja masa silam, HP serta dana operasional penggunaan mobil, saya mengorganisir semua kegiatan tersebut yang cukup melelahkan namun sangat mengairahkan serta memberi kepuasan batin saat semuanya berjalan dengan baik.

Sejak pertama menapaki kota Manokwari, saya langsung menyukai kota ini dan penduduknya. Orang-orang di kota ini sangat ramah. Saat bertemu di jalan, mereka selalu tersenyum dan menyapa “selamat pagi / siang / malam”. Orang-orangnya sangat senang membantu orang lain. Sepertinya mereka selalu welcome terhadap siapapun. Sikap yang sama ditunjukan juga oleh para pejabat pemerintah yang saya temui. Murah senyum, memiliki selera humor yang tinggi serasa menjadi bagian integral dari kehidupan mereka setiap hari.

Dialek bahasa Indonesia mereka hampir sama seperti dialek bahasa Indonesia di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut memudahkan saya memahami percakapan sehari-hari mereka karena latar-belakang keluarga dan sosial saya yang berasal dari kota Kupang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan hingga menamatkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (UNDANA) pada tahun 1992 silam.

Di lingkungan sosial setempat, awalnya saya selalu disangka orang Jawa, apalagi dialek bahasa Jakarta yang saya gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saat mereka mengetahui saya orang Rote yang lahir besar di Kupang, semua komunikasi langsung berjalan lancar. Saya dianggap bagian dari mereka…. Ha ha ha ha Saat ini saya menempati satu kamar kost di rumah satu keluarga campuran Cina – Makassar dan Manado. Bapak kost saya adalah keturunan Cina – Makassar sementara Ibu kost saya orang Sangir. Keluarga ini memiliki berbagai macam usaha, termasuk kost-kost-an dan katering. Saya mendapatkan kamar kost tersebut melalui jaringan pertemanan saya dengan ibu Hanike – seorang dosen dan tenaga ahli di Universitas Papua (UNIPA). Saya bertemu dia saat project Gender Mainstreaming UNDP mengadakan dialog publik di Jayapura beberapa minggu silam. Saat telah berada di Manokwari beberapa hari, saya lalu menelpon dia memberitahu keberadaan saya di kota tersebut serta sedang mencari tempat tinggal. Dia lalu menyatakan kesediannya untuk membantu. Untuk itu, dia meminta waktu 1 hari mencarikan tempat tinggal (rumah ataupun kamar) sampai akhirnya saya mendapatkan kamar di keluarga tersebut diatas.

Kamar yang saya tempati cukup luas sekitar 5 x 5 m2 yang telah dilengkapi fasilitas AC, kamar mandi dan WC, lemari, tempat tidur lengkap hingga meja kerja dan layanan pembersihan kamar dan laundry. Makan pagi, siang dan malam juga disiapkan, tergantung kebutuhan saya. Seperti tinggal di hotel berkualitas layanan bintang 3, dengan harga yang jauh lebih murah .

BERSAMBUNG : Merenda Hari Mennghadapi Masalah

NAPAK TILAS SUATU LAMARAN KERJA

Ini juga posting JADUL tahun 2007. Saat bongkar-bongkar blog baru ketahuan kalo posting ini belum dipublikasikan pada tahun 2007... lama amaat ya? hhehehhe
=========================

Setelah melalui suatu rangkaian seleksi ketat selama sekitar 4 bulan, akhirnya saya menjadi staf UNDP untuk Program Pembangunan Papua (Papua Development Program / PDP) dalam posisi sebagai Program Officer untuk wilayah Provinsi Irian Jaya Barat.


Pengalaman pribadi saya lolos seleksi di UNDP telah menggugurkan berbagai rumor dan gosip yang mampir ke telinga saya tentang praktek-praktek KKN saat rekruitmen di lembaga tersebut. Nyatanya saya lolos seleksi walau tidak mengenal seorangpun di lembaga tersebut. Mungkin saja ada orang lain yang mengalami sebaliknya dari pengalaman saya saat melamar ke lembaga tersebut - yang lalu menimbulkan berbagai gosip dan rumor tentang KKN saat rekruitmen di lembaga tersebut. Namun untuk pengalaman pribadi saya, harus saya nyatakan bahwa saya lolos seleksi melalui suatu proses yang cukup selektif, independen dan obyektif, karena saya tidak memiliki hubungan ataupun mengenal para anggota panel juri yang menginterview saya melalui teleconference.

Saat saya diberitahu melalui email bahwa saya merupakan salah satu applicant yang terpilih untuk diinterview, saya kaget karena telah lupa akan aplikasi saya ke UNDP. saya lalu memeriksa semua file yang tersedia di rumah namun tidak menemukan file lamaran ke UNDP. Akhirnya saya mencoba melalui website UNDP untuk mencari no kode posisi pekerjaan yang saya lamar sebagaimana tertulisa pada email pemberitahuan tentang interview yang akan dilakukan. Di website UNDP saya masuk ke bagian vacations lalu menelusuri berbagai situs internal yang terkait pada lowongan kerja. Menggunakan nomor referensi tersebut, saya akhirnya menemukan job yang saya lamar berisi berbagai persyaratan dan kualifikasi yang dibutuhkan. setelah membaca sekilas, saya akhirnya putuskan untuk print out dokumen tersebut guna dipelajari sebagai persiapan interview.

Interview melalui teleconference dilakukan oleh 4 orang, yakni Pak Paul, Pak Handoko, Ibu Yanti dan Pak Haryo. Orang-orang yang belum pernah saya dengar namanya ataupun kenal wajahnya. Setelah menandatangi kontrak barulah saya diperkenalkan dengan mereka satu demi satu, kecuali Pak Handoko - yang hingga saya menulis catatan harian ini belum pernah saya temui.

Kurang lebih seminggu setelah interview teleconference tersebut, saya menerima email bahwa saya termasuk salah satu kandidat yang dipertimbangkan. Untuk itu saya harus mengisi form personal history yang dikirimkan melalui email yang sama. Di form tersebut saya juga harus menyertakan nama dan alamat lengkap dari minimal 3 referensi yang bisa memberi informasi tentang kompotensi saya. Saya lalu mengirim 4 referensi yang lalu dihubungi bagian HRU UNDP Indonesia di Jakarta dan diminta mengisi format referensi yang disediakan. Setelah syarat dan prosedure tersebut dilalui, sekitar 1 minggu kemudian saya dikirimi draf kontrak dan berbagai persyaratan lainnya yang harus dipelajari dan dinegosiasikan jika perlu. Komunikasi dilakukan melalui email menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi UNDP. Setelah saya setuju dengan semua persyaratan yang diajukan, seminggu kemudian bagian HR menelpon saya untuk memberitahukan tanggal penandatanganan kontrak di kantor UNDP - Jakarta.

Hari pertama tanggal 1 November 2006, saya datang ke kantor UNDP Indonesia di Jakarta. Kedatangan saya ke kantor tersebut langsung berhadapan dengan security prosedure yang cukup ketat. Setelah melalui prosedur tersebut saya lalu bertemu bagian HR untuk menanda-tangani kontrak kerja selama 1 tahun yang berlaku efektif pada tanggal 1 Nov 2006 s/d 31 Okt 2007. Selesai urusan kontrak saya langsung dihadapkan ke bagian security untuk mengikuti security training. Di ruangan security saya berhadapan dengan komputer selama 4 jam untuk mempelajari berbagai bahan training yang tersedia di komputer sekaligus mengikuti ujian akhir guna mendapatkan sertifikat lolos training safety and security UNDP sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat ke tempat tugas saya di ibukota Provinsi Irian Jaya Barat - Manokwari. Saat akan menandatangani kontrak, saya langsung terkejut melihat my duty station is Manokwari. Setahu saya, saya melamar untuk duty station di Jayapura ibukota Provinsi Papua, bukan Manokwari ibukota Provinsi Irian Jaya Barat. Person in charge dari bagian HR memberitahu saya bahwa hal tersebut telah tercantum di draf kontrak yang telah dikirim pada saya 1 minggu sebelumnya. Menyadari bahwa saya yang tidak teliti mempelajari draft kontrak tersebut, saya akhirnya menandatangani kontrak tanpa komentar lagi. Setelah mendapatkan sertifikat security saya lalu dipertemukan dengan kepala keamanan UNDP untuk mendapatkan briefing singkat tentang situasi keamanan di Indonesia dan tempat tugas saya. Selesai briefing saya dipertemukan dengan bagian admin keamanan untuk dibuatkan ID Card sebagai pas masuk keluar kantor UNDP Indonesia di Jakarta sekaligus sebagai tanda pengenal saat saya berada di tempat tugas. Tiada terasa, jam demi jam telah berlalu. Pagi telah menggapai senja saat saya mendapatkan ID card. Dari bagian keamanan saya dipertemukan dengan bagian admin PDP di MSU UNDP. Sekali lagi bagian admin PDP MSU mengecek semua prosedur yang telah saya lalui, lalu membolehkan saya pulang karena hari telah sore dan jam kerja resmi UNDP sampai jam 5 sore telah lewat beberapa menit. Tentu saja, saya diingatkan untuk kembali esok hari.

Saat senyuman surya kembali menyapa bunda pertiwi, saya pun meninggalkan peraduan menapaki lantai memulai hari baru sebagai seorang pembawa ember. Fungsi dan peran ku penggali saluran pipa (baca Catatan Harian Warung Ceker), yakni sebagai manajer dan supervisor penggali saluran pipa Warung Ceker telah ku alihkan ke mitra bisnis Warung Ceker dan juga seorang karyawan yang diangkat sebagai supervisor - saat mengetahui bahwa saya akan menjadi karyawan / alias pembawa ember lagi. Tekat untuk memperkuat dan memperluas bisnis Warung Ceker telah memotifasi saya untuk kembali bekerja sebagai pembawa ember oleh karena omset penjualan Warung Ceker yang masih sedikit berbanding terbalik dengan kebutuhan untuk memperkuat bisnis tersebut. Hari kedua kehadiran ku di contry office UNDP tetap mengikut prosedur keamanan yang sama. Namun karena kali ini saya telah memiliki ID card sebagai bagian dari keluarga UN Indonesia, maka secara pribadi saya merasa bahwa para security menjadi lebih ramah, walau tetap saja menerapkan prosedur yang sama seperti saat telapak ku menapak di kantor tersebut. Hari kedua, saya tidak lagi dikawal dari pagi sampai sore oleh escort sebagaimana hari pertama yang selalu dikawal oleh seorang anggota satuan keamanan kantor UNDP. Hari kedua tersebut, saya hanya ditemani oleh Hermin (bag admin MSU-PDP) untuk kegiatan tertentu saja, seperti mengikuti briefing IT dan intra training. Setelah itu saya mempersiapkan sendiri segala keperluan saya, terutama melengkapi berbagai persyaratan administrasi sebelum meninggalkan Jakarta ke tempat tugas di Manokwari. Pada hari itu, saya dipertemukan dengan Mr. Paul Sutmuller yang adalah Programme Coordinator UNDP - yang menginterview saya melalui teleconference, Mz. Yanti yang adalah Program Manager - yang juga menginterview saya melalui teleconference, Mz. Jiah dari China yang adalah Head of Office. Setelah berbasa basi dan diskusi singkat, mereka kembali ke kesibukannya masing-masing, saya juga kembali mengurus berbagai hal administratif. Satu diantaranya adalah Medical Check Up ke klinik Medikaloka di salah satu gedung yang terletak di kawasan Kuningan.

Saat selesai medical check up hari telah sore, saya putuskan untuk menginformasikan ke bagian admin (Hermin) bahwa saya tidak kembali lagi ke kantor. Dari klinik tersebut saya menuju ke Gerai Warung Ceker di mal Ambasador. Saya sempatkan diri untuk berkunjungan dan ngobrol dengan karyawan sekaligus berjualan - meski masih menggunakan pakaian kantor. Tentu saja ID Card telah saya sembunyikan di dalam kantong kemeja saya :).

Pada hari ketiga sebagai karyawan, saya masih datang ke contry office untuk menyelesaikan berbagai keperluan admin sekaligus memperkenalkan diri kepada beberapa orang yang bertanggung-jawab terhadap implementasi beberapa program di Papua yang menjadi wilayah kerja saya. Saat bertemu Programme Coordinator sehari sebelumnya, saya dipesan untuk mengenal sebanyak mungkin orang-orang di country office agar suatu hari nanti saat melakukan komunikasi terkait pada urusan program, maka minimal saya mengetahui dengan siapa saya berkomunikasi, beberapa diantaranya adalah dengan Sinta - yang adalah Program Officer Gender Mainstreaming, Ari - yang adalah Program Officer HIV/AIDS serta Keiko - yang adalah seorang JPO asal Jepang yang akan tugas belajar selama 4 bulan di Papua. Di country office ini saya bertemu berbagai orang dari berbagai bangsa. Karena itu bahasa Inggris merupakan bahasa sehari-hari yang juga merupakan bahasa resmi di kantor. Karena keterbatasan bahasa Inggis saya, maka saya masih kagok gaul dengan orang-orang kantor. Namun semakin lama, saya akhirnya menjadi lancar juga berbahasa Inggris. kemampuan speaking dan listening saya berkembang dengan sendirinya, karena situasi keseharian. Apalagi saat berada di lapangan, dimana beberapa kolega saya berasal dari negara lain sehingga komunikasi harus dilakukan dalam bahasa Inggris membuat saya mulai terbiasa walau kadang masih belepotan :)

Tiada terasa senja kala kembali merengkuh hari-hari kerja saya sekaligus mengakhiri kesibukan saya di contry office lalu menjejakan saya kembali menghirup polusi udara Jakarta saat menapak ke luar gedung perkantoran di Jl. Thamrin. Saat sang Dewi Malam tersenyum hangat, saya telah nangkring di gerai Warung Ceker Mal Ambasador. saat-saat meninggalkan bisnis Warung Ceker semakin dekat, karena itu saya selalu menyempatkan diri untuk hadir di gerai Warung Ceker. Gerai di Kalimalang terlalu jauh untuk dikunjungi di sela-sela kesibukan baru saya sebagai karyawan pembawa ember, karena itu saya dan mitra bisnis saya mengatur jadwal kerja giliran para karyawan di gerai guna memungkinkan saya bertemu dan ngobrol dengan mereka sebelum saya meninggalkan tempat tugas menuju pos saya di tanah Papua nun jauh di ufuk Timur negeri tercinta.

Bersambung ke Bagian 2 : Menapak Jejak Tanah Papua

Jumat, 03 Januari 2014

JJ EROPA BARAT. LONDON: Kota Para Ratu, Raja, Pangeran dan Putri

Tulisan Keenam.

Akhirnya pesawat Emirates yang saya tumpangi mendarat di terminal 3 Airport Heathrow London sekitar jam 3 sore setelah menempuh 8 jam perjalanan dari Dubai. Airport Heathrow terletak sekitar 18 kilometer dari pusat kota London. Walau airport ini melayani sekitar 200.000 penumpang yang datang dan pergi setiap hari, ternyata terminal 3 tidak terlalu ramai, bahkan terasa sepi banget karena begitu luasnya area terminal dibandingkan dengan jumlah penumpang yang turun dari Emirates. Dari airport ini menuju pusat kota London tersedia beberapa pilihan transportasi seperti taxi, bus dan kereta. Kereta adalah alat transportasi tercepat menuju pusat kota atau sebaliknya dari pusat kota ke airport. Untuk itu tersedia 3 jenis pilihan kereta, yakni Heathrow Express, Heathrow Connect dan Tube.

Heathrow Express merupakan kereta tercepat dari airport ke stasion Paddington di pusat kota London sebagai stasiun akhir atau stasiun transit. Waktu tempuh kereta ini dari terminal 1 atau 3 ke stasiun Paddington dan sebaliknya adalah sekitar 15 menit, sedangkan dari terminal 5 adalah 20 menit. Selain cepat, ongkosnya juga lebih mahal, seperti kata orang ada uang ada barang :). Harga tiket sekali jalan adalah 16.50 pound atau sekitar 300.000 rupiah. Pilihan kedua adalah Heathrow Connect dengan waktu tempuh lebih lama dari airport ke Paddington, yakni sekitar 30 menit dengan harga tiket yang lebih murah, yakni 8.50 pound atau sekitar 160.000 rupiah sekali jalan atau 16.50 pound PP. Jenis kereta ini akan berhenti di beberapa stasiun yang dilalui dari airport ke Paddington, namun tidak semua stasiun di jalur tersebut akan disinggahi. Pilihan termurah dari segi biaya namun terlama dari segi waktu adalah Tube.Tube merupakan kereta bawah tanah dengan berbagai jalur dalam warna berbeda di peta rute-rute yang dilaluinya. Untuk itu, jika memilih menggunakan Tube, maka pelajari terlebih dahulu rute dan stasiun terdekat ke hotel.  Karena sebelum berangkat, saya telah melakukan riset, maka saya telah memilih menggunakan Tube. Salah satu pekerja magang di kantor yang berasal dari Korea Selatan namun pernah kuliah di London juga sangat menyarankan saya menggunakan Tube, bahkan dia memberikan kartu Oysternya untuk dapat saya gunakan saat tiba di London. Harga tiket sekali jalan adalah 5 pound. Namun untuk pengguna kartu Oyster - kartunya berwarna biru tua dan muda dengan strip putih dan lebih tipis jika dibandingkan dengan kartu comuterline Jakarta ataupun Octopus Hongkong - biaya sekali jalan adalah 4.50 pound atau sekitar 80.000 rupiah. Jarak Heathrow ke tempat tujuan saya di Greenwich ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dengan 1 kali ganti kereta.


Setelah pengambilan bagasi yang ternyata sangat cepat, saya hanya perlu berjalan mengikuti para penumpang lain ke luar bangunan terminal. Tidak ada pemeriksaan bagasi sebagaimana yang dilakukan di bandara Soekarno Hatta misalnya. Di luar bangunan terminal juga tidak seramai terminal kedatangan Soekarno Hatta di Jakarta yang biasanya dipenuhi para penjemput, sopir, calo, pedagang hingga copet. Oleh karena telah melakukan riset dan telah memutuskan menggunakan Tube sebagai alat transportasi dari airport ke pusat kota London, maka setiba di luar bangunan terminal, saya hanya mencari petunjuk tertulis yang mengarahkan saya ke Tube. Petunjuk tersebut tertulis jelas dengan panah pengarah yang terletak sekitar 5 meter dari pintu keluar. Dengan penuh keyakinan saya berjalan melewati petunjuk tersebut yang mengarah ke lorong bawah tanah menuju stasiun Tube tentunya. Lorong yang saya lalui tidak terlalu ramai jika saya bandingkan dengan lorong-lorong MRT di Hongkong ataupun Singapura. Karena saking sepinya lorong yang saya lalui dari bangunan terminal 3 ke tempat tunggu Tube, saya jadi kuatir saya sedang salah jalan. Namun saya terus saja berjalan menyusuri lorong tersebut. Ternyata pilihan saya benar, karena saya lalu melihat mesin-mesin penjualan tiket Oyster yang berjejer di sebelah kiri lorong yang akan saya lalui.

Karena saya telah dibekali dengan tiket Oyster, maka saya tidak perlu membeli tiket baru lagi. Di lokasi tersebut terdapat 3 mesin penjualan yang bentuknya seperti mesin-mesin ATM. Area sekitar mesin-mesin tersebut juga sepi pembeli sehingga saya memiliki keleluasaan waktu untuk mengamati dan membaca informasi yang tersedia di berbagai tombol. Mesin warna biru tersebut dilengkapi berbagai tombol pilihan berbahasa Inggris tentunya :). Saya lalu menekan tombol top up kemudian mengikut instruksi selanjutnya. Mesin tersebut menyediakan 2 pilihan pembayaran, yakni cash dan kartu. Jika memilih cash dalam jumlah tertentu, maka setelah tombol dipencet, uang dalam jumlah yang telah dipilih sebelumnya dimasukan berupa koin atau kertas. Setelah itu, masukan kartu Oyster yang telah dimiliki ke tempat kartu yang tersedia untuk diproses lebih lanjut oleh mesin. Setelah selesai proses, kartu akan keluar dengan sendirinya. Prosedur yang sama berlaku juga untuk pembelian kartu baru. Bedanya adalah pada tombol beli / buy dan top up. Jika telah memiliki kartu, maka tombol top up yang dipilih lalu masukan berapa besar top up yang akan diambil. Setelah memasukan jumlah, maka duit atau kartu kredit/debit dimasukin ke mesin untuk proses lanjutan, kemudian kartunya juga sehingga top up langsung masuk ke kartu tersebut. Pemilik kartu bisa melihat berapa jumlah kredit yang tersedia di kartunya setelah proses top up selesai dilakukan. Kartu ini juga bisa digunakan di bis umum di seluruh kota London - sama seperti tiket kereta di kota Roma, Paris dan kota-kota lain di Eropa Barat yang dapat digunakan untuk kereta dan bis umum, tidak untuk bis wisata.

Setelah selesai urusan top up Oyster sebesar 15 pound, saya meneruskan perjalanan menelusuri lorong tersebut sampai saya tiba di pintu masuk ke ruang tunggu Tube yang dihalangi palang.  Di pintu masuk tersebut, tersedia 2 pilihan arah, yakni ke kiri atau ke kanan dengan informasi nama stasiun utama / akhir untuk berganti. Karena saya telah melakukan riset online, maka tanpa ragu saya memilih arah kiri yang tertulis Paddington station - untuk selanjutnya berganti ke North Greenwich. Di dalam area ini tersedia juga loket penjualan tiket dan informasi, tepat saat melewati penghalang jalan masuk. Karena telah memiliki Oyster card, maka saya hanya melewati jejeran loket informasi dan penjualan tiket yang terletak di sebelah kanan saya dan berjalan terus ke arah eskalator yang saya gunakan ke tempat tunggu Tube di bawah tanah. Hanya sekitar 2 menit berdiri menunggu dengan koper sedang dan 1 tas ransel, Tube yang saya tunggu tiba. Saya lalu masuk melalui pintu yang terbuka secara otomatis pintu terbuka lalu saya masuk karena tidak ada orang yang keluar melewati pintu tersebut.

Gerbong kereta dalam keadaan sepi, sehingga saya bisa duduk sambil memangku ransel dan meletakan koper di depan kaki saya agar tidak menghalangi penumpang lain yang keluar masuk. Ternyata pembawa koper bukan hanya saya. Di gerbong yang saya tumpangi ada 4 penumpang lain yang juga membawa koper yang ternyata lebih besar dari milik saya.  Jika 2 pembawa koper duduk berhadapan, maka hanya tersisa celah sempit sebagai tempat lewat penumpang. Kursi-kursi pada gerbong yang saya tumpangi adalah sofa warna biru dengan aksen kotak-kotak warna ungu dan merah maroon. Semakin jauh dari airport yang artinya semakin dekat ke pusat Kota, kereta makin penuh sehingga hawa dalam gerbong mulai panas dan pengap. Saya lalu melepaskan jaket yang saya pakai sejak dari Airport. Kereta berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Karena itu saya menyempatkan diri melongok stasiun-stasiun tsb dari cela-cela penumpang yang berdiri. Beberapa stasiun yang dekat ke aiport terletak di atas tanah, bukan bawah tanah sehingga kadang kereta melewati jalur atas tanah yang menyajikan alam pedesaan London dengan rumah-rumah batanya yang khas disinari matahari sore  yang masih terang benderang seperti jam 2 siang di Jakarta, padahal pada saat tersebut, jam saya telah menunjukan hampir jam 5 sore.

Sesuai dengan petunjuk online untuk penggunan Oyster card (www.tlf.gov.uk/journeyplanner), saya berganti kereta di stasiun Green Park lalu mengambil Jubelee line yang menuju stasiun North Greenwich. Pada saat saya mencari informasi online melalui web www.tlf.gov.uk, maka informasi pertama yang secara otomatis muncul adalah penggunaan kereta Heathrow Express terlebih dahulu ke Paddington lalu ganti ke Tube di stasiun Paddington ambil Bakerloo line kemudian ganti lagi di stasiun Bakerstreet. Dari segi waktu lebih cepat namun lebih mahal dan juga berganti 2 kali. Saya lalu mencari-cari lagi informasi lain di web yang sama dengan cara hanya membuka pilihan menggunakan Tube dari Heathrow ke North Greenwich. Cara lain adalah dengan membuka peta jalur Tube yang tersedia online (pengguna iphone dan ipad dengan mudah dapat download gratis aplikasinya). Dari peta tersebut dapat ditelusuri rute yang akan dilalui Tube sampai ke stasiun tertentu tempat bertemunya kereta dari jalur / line berbeda. Dari kedua cara tersebut, akhirnya saya menemukan rute dan stasiun bertukar kereta yakni Green Park karena tidak ada kereta bawah tanah yang dapat langsung dari Heathrow Airport ke North Greenwich station. Pergantian di stasiun Green Park tidak terlalu sulit, karena tersedia eskalator untuk perpindahan jalur di tempat berbeda. Akhirnyas sekitar jam 5 sore, saya tiba di stasiun North Greenwich.

Satu bulan sebelum keberangkatan, saya telah melakukan komunikasi email dengan pihak Hotel Holiday Inn Express Greenwich yang saya pilih untuk menginap di London. Selain karena merupakan tempat penjemputan Expat Explorer, hotel ini juga dekat dengan lokasi-lokasi wisata yang ingin saya kunjungi di kawasan Greenwich, yakni terutama Greenwich Meridian, Old Royal Naval College, Cutty Sark, National Maritime Museum, Royal Observatory dan Taman Greenwich. Greenwich Meridian. Sejak kecil saya penasaran melihat Greenwich Meridian dan Big Ben di London karena pelajaran sekolah SD tentang pembagian waktu dunia oleh orang-orang Inggris. Dalam komunikasi email tersebut, saya menanyakan jenis transportasi yang saya gunakan dari stasiun ke hotel. Pihak hotel membalas email saya bahwa saya dapat menggunakan bus nomor 422 yang tersedia di luar stasiun lalu turun di halte pertama dari stasiun karena halte tersebut terletak di depan hotel. Waktu tempuh bis dari stasiun ke hotel adalah sekitar 3 menit. Pembayaran ongkos bis dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni kartu atau cash. Ongkos sekali jalan adalah 2 pound, demikian informasi yang saya terima dari pihak hotel.

Oleh karena Tube merupakan kereta bawah tanah - sehingga dikenal dengan nama undergound saja di London - maka tentunya keluar dari kereta masih harus berjalan beberapa menit lagi menuju pintu keluar di atas tanah. Selain tangga, di stasiun North Greenwich juga tersedia lift dan eskalator yang dapat digunakan dari dalam tanah menuju pintu keluar. Karena hanya ada 1 pintu keluar, saya tidak kebingungan harus memilih arah saat keluar dari kereta. Kondisi yang berbeda dengan stasiun kereta dan bis di Kota Amsterdam dan Madrid - yang membuat saya kebingungan dan salah memilih jalan keluar sehingga harus jalan memutari stasiun ke tempat tujuan.  Tidak jauh dari pintu keluar stasiun Greenwich tersedia halte bus di pinggir jalan. Saya pun nongkrong bersama orang-orang lain yang juga sedang menunggu bus masing-masing. Area yang terletak diantara stasiun dan jalan raya merupakan kawasan terbuka yang tertata rapi sehingga banyak orang yang nongkrong di sekitar area tersebut. Beberapa kelompok turis Korea atau China lewat juga di kawasan tersebut, mungkin mereka juga sedang berkeliling karena tidak sedang membawa koper atau barang-barang lain seperti orang yang baru turun dari kereta untuk menginap di daerah tersebut.


Sambil menunggu bus, saya mengamati daerah sekeliling stasiun yang sangat datar dan sepi. Tidak ada ojek, bajaj dll sejenis seperti yang terdapat di stasiun Manggarai, Sudirman dan Tanah Abang. Langit sedang mendung, udara terasa basah dan segar diiringi angin sepoi, namun suasana masih terang benderang seperti jam 3 sore di Jakarta, padahal waktu telah menujukan pergerakan jarum jam ke arah pukul 6 sore. Hanya hilir mudik manusia masuk keluar stasiun mapun yang naik dan turun bis. Tak lama kemudian bus dengan nomor 422 pun tiba. Sebelum menaikan penumpang, bus tersebut menurunkan penumpang di lokasi lain berjarak sekitar 10 meter dari halte tempat penumpang naik. Penumpang yang naik bus ini tidak terlalu banyak, sehingga tempat duduk kosong masih tersedia. Saya perhatikan setiap penumpang yang naik menempelkan kartu ke tempat yang telah disediakan. Saya hanya mengikuti cara mereka dengan menempelkan kartu Oyster saya. Setelah tidak terlihat lagi penumpang lain yang naik, sopir lalu menutup pintu dan menggerakan bis menjauhi halte. Semua bis di London hanya memiliki 1 warna yakni merah hati. Identifikasi rute dan halte yang disinggahi berdasarkan pada nomornya. Sepertinya hanya 1 jenis bis, yakni jenis besar seperti bis 213 rute Grogol - Kampung Melayu. Semua bis berwarna merah hati 2 tingkat, bersih luar dalam dan tidak penuh sesak seperti bis-bis di Jakarta. Karena saya sedang membawa koper, maka saya memilih duduk di bawah, tidak naik ke lantai 2 yang memungkinkan saya dapat menikmati landscape London dengan lebih leluasa. Saya baru melakukannya setelah check in dan menyimpan koper serta ransel saya di hotel.

Sambil duduk, saya melongok-longok keluar memperhatikan halte tempat saya akan turun. Tidak terlalu jauh dari stasiun, ternyata sekitar 3 menit kemudian, bis tiba di halte yang diinformasikan oleh pihak hotel. Penumpung bis yang akan turun, tinggal menekan tombol bel yang tersedia dekat kursi jika tiba di halte tujuan. Karena saya belum terbiasa (di Jakarta biasanya teriak saja saat ingin turun atau kondektur yang malah meminta kita siap-siap dengan meneriakan nama halte, seperti mesjid, gereja, bonjol, tosari dll. Beruntunglah di halte tersebut ada penumpang lain yang akan naik sehinga bis berhenti. Namun karena bis akan menaikan penumpang, maka hanya pintu depan yang terbuka karena penumpang harus naik dari pintu depan dan turun melalui pintu belakang. Melihat pintu depan terbuka, saya lalu berjalan ke arah depan menggerek koper dan ransel saya. Penumpang perempuan yang akan naik lalu memberikan tempat bagi saya untuk lewat terlebih dahulu dan turun. Saya menuduga, para penumpang dan sopir pasti ngomongin saya karena turun melalui pintu depan. Cuek saja, kata saya dalam hati, yang penting saya tiba di hotel dan tidak tersesat karena salah turun halte.

Kawasan sekitar halte tersebut juga sepi. Saya berhenti sejenak sambil melempar pandangan kesana sini. Hotel terletak sekitar 20 meter sebelah kiri belakang halte. Satu-satunya bagunan menjulang tinggi berlantai 8 atau 9 di kawasan tersebut hanyalah hotel tersebut yang terletak di perempatan jalan sehingga sangat mudah ditemukan. Perjalanan dari halte ke hotel juga sangat nyaman dan mudah. Tidak ada PKL, parkir liar mobil ataupun motor, tidak ada pengemis dan lainnya seperti di jalan-jalan Jakarta. Pedestarianya bersih dan bagus sehingga koper hanya perlu ditarik sambil jalan menuju hotel. Saya harus menyeberangi jalan untuk masuk ke hotel. Untuk itu, saya menekan tombol yang tersedia di tiang lampu lalu lintas sambil menunggu warnanya berubah hijau dengan tanda orang berjalan sebagai tanda bagi penyebrang. Saya tidak berani menyeberangi jalan tersebut walau pada saat itu jalannya sepi. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya berada di negeri orang sehingga harus berperilaku sopan agar tidak memalukan bangsa dan negara asal.

Pintu hotel terbuka dan tertutup secara otomatis karena sepertinya menggunakan sensor panas tubuh mendeteksi kehadiran seseorang. Meja resepsionis terletak di lantai 1 yang dapat diakses menggunakan tangga atau lift. Saya memilih lift tentunya karena barang-barang bawaan saya akan merepotkan jika saya memilih menggunakan tangga. Di meja resepsion, saya disambut 2 staf hotel perempuan dan laki-laki berseragam putih biru. Saya menyerahkan print out booking saya bersama passport dan kartu kredit ke para staf tersebut. Dialeg Inggrisnya bagus dan unik, tidak seperti dialeg bahasa Ingriss yang digunakan orang2 Indonesia (yang sudah sangat fasih sekalipun) ataupun orang Australia, Amerika dan Singapura misalnya. Mengalun indah saat mereka berbicara yang membuat saya terpesona. Saya hanya berkata dalam hati "ya karena bahasanya sendiri sehingga pasti bagus pengucapannya". Setelah registrasi selesa, saya menerima kembali passport dan kunci kamar. Saya berjalan ke arah lift di sebelah kanan, menekan tombol lalu masuk saat pintu lift terbuka. Lift menggunakan kartu akses, yakni kunci kamar yang harus dicolokin ke lubang yang tersedia dalam ruang lift. Setelah kartu dimasukin, maka tombol lantai tujuan yang ditekan akan nyala mengindikasikan lantai tersebut dapat diakses tamu hotel.

Tiba di kamar, saya mendapatkan tempat tidur yang tidak sesuai dengan pesanan online saya. Saya lalu menelpon resepsionis mengatakan ketidak-setujuan saya terhadap kamar tersebut dan meminta gantinya. Resepsionis meminta maaf dan berjanji segera mencarikan kamar pengganti sesuai pesanan saya, yakni kamar dengan tempat tidur besar - bukan 2 tempat tidur kecil sebagaimana lazimnya kamar twin sharing di hotel. Sekitar 5 menit kemudian, seorang karyawan perempuan muncul dan mempersilahkan saya pindah ke kamar lain. Kamar yang ternyata lebih luas karena selain tempat tidur besar, di kamar tersebut juga tersedia 1 tempat tidur sofa yang sedikit lebih kecil dari tempat tidurnya. Semuanya minimalis dan didominasi warna putih sehingga kesannya sangat bersih dan rapi. Karyawan hotel menanyakan apakah saya membutuhkan juga tempat tidur sofanya, saya iyakan saja sehingga dia lalu menyiapkan tempat tidur tersebut yang saya gunakan berganti-ganti selama 3 hari saya nginap di hotel tersebut.

Saya duduk dalam kamar sambil mengawasi staf hotel yang sedang menyiapkan tempat tidur sofa. Saya mengajak staf tersebut ngobrol untuk mencari informasi bis, rute dan jarak dari hotel ke tempat-tempat wisata yang akan saya kunjungi sore hingga malam nanti -  yang dengan ramah dilayani oleh dia. Setelah tempat tidur sofa selesai disiapkan, staf tersebut lalu pamit yang saya iyakan sambil memberikan tip. Setelah itu, saya lalu mengisi perut dengan biskuit dan 1 apel lalu mandi dan berganti baju kemudian turun ke resepsionis menanyakan nomor bus yang dapat saya gunakan menuju Taman dan Museum GMT. Resepsionis menginformasikan kepada saya untuk naik bus 108 di halte yang terletak di belakang hotel. Setelah  mengucapkan terima kasih, saya pun melangkah keluar mengikuti petunjuk staf hotel.

BERSAMBUNG



Sabtu, 07 Desember 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: Perjalanan Jakarta - Dubai - London

Tulisan Kelima

Setelah urusan visa ke dua negara, yakni Inggris dan Italia (untuk negara-negara Uni Eropa yang menggunakan visa Schengen), maka persiapan fisik dan kebutuhan lain pun dimulai. Karena berbagai informasi online menasehatkan jangan meletakan semua barang berharga dalam 1 kantong, maka saya menyempatkan diri membeli tas pinggang tipis untuk penyimpanan uang tunai dan copy passport untuk penggunaan seketika saat dibutuhkan. Passport asli dan duit lainnya saya simpan dalam ransel. Copy semua dokumen perjalanan juga saya siapkan dalam 1 map dan simpan di koper untuk antisipasi kejadian tidak terduga, atau tindak kejahatan. Saya juga membeli sejumlah celana pendek dan kaus mengingat waktu kunjungan adalah musim panas di Eropa. Saya juga membekali diri dengan obat-obatan, terutama untuk diare, luka dan juga kelelahan di kaki dan betis yang pasti akan terjadi karena kunjungan ke berbagai obyek wisata di kota-kota yang akan saya kunjungi. Pakaian, termasuk topi dan syal yang akan dibawah pun dipilih yang benar-benar diperlukan sehingga tidak telalu memberatkan dan bisa dibawah dalam 1 koper saja untuk memudahkan perpindahan berbagai alat transportasi.Penyiapan fisik juga saya lakukan dengan terus mengintensifkan olahraga di gym yang telah biasa saya lakukan. Selain angkat beban untuk melatih fisik, saya juga semakin giat mengikuti kelas berbagai jenis yoga dan pilates untuk melatih kelenturan dan ketahanan tubuh. Makanan dan minuman juga saya perhatikan dan seleksi untuk mencegah sakit, terutama sakit perut karena perut saya sensitif terhadap makanan pedas dan asam. Fisik dan mental saya siapkan dengan matang, selain barang bawaaan dan juga obat-obat telah siap 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan.

Jam 8 malam tanggal 22 Agustus 2013, menggunakan taxi blue bird saya bertolak dari rumah di Matraman ke Bandara Soekarno Hatta, terminal 2E untuk keberangkatan Internasional. Saya tiba sekitar jam 9malam, dimana antrian di berbagai konter telah mengular. Saya lalu mengikuti antrian di salah satu konter online check in, karena menggunakan fasilitas check in online yang disediakan oleh Emirates, saya telah melakukan check in sebelumnya melalui internet. Saya hanya perlu melapor lagi dan menyerahkan koper untuk disimpan di bagasi pesawat. Ternyata calon penumpang yang melakukan online check ini juga lumayan banyak, sehingga saya harus sabar mengantri. Sambil antri dan menepis kebosanan dalam antrian yang panjang dan padat, saya bermain-main dengan iphone yang tidak pernah lepas dari tangan sambil sesekali mengamati berbagai tingkah pola para pengantri dari berbagai suku bangsa dan bahasa dengan berbagai gaya masing-masing. Akhirnya giliran saya tiba di depan petugas konter, saya menyerahkan bukti online check in dan passport saya untuk diproses lebih lanjut. Akhir dari proses adalah ketika saya menerima boarding pass dengan nomor kursi 47E, berangkat jam 00.40 tanggal 21 Agustus, alias subuh hari. Setelah itu saya berjalan dan mengantri ke bagian pemeriksaan passport dan visa yang tidak terlalu panjang antriannya. Sekitar 5 menit kemudian, passport daya telah mendapatkan cap petugas sebagai tanda persetujuan yang membuat saya bisa melewati batas pemeriksaan dan masuk ke area menuju ruang tunggu. Karena waktu masih menunjukan jam 11 malam, maka saya mampir dulu di starbuck cafe menyeruput segelas coklat panas dan sepotong kue coklat hangat. 45 menit kemudian saya beranjak ke ruang tunggu, namun ternyata pesawat yang akan saya tumpangi tidak dapat berangkat sesuai jadwal, yakni 00.40 pagi waktu Jakarta dengan perkiraan waktu tiba di Dubai pada jam 05.30 pagi waktu Dubai untuk transit dan melanjutkan dengan penerbangan 07.45 pagi dari Dubai dengan perkiraan waktu tiba di London pada jam 12.15 siang.

Masalah dimulai, ketika pesawat yang saya gunakan dari Jakarta ke Dubai tidak dapat berangkat sesuai jam keberangkatan yang tertera di boarding pass. Selain bosan dan gelisah menunggu dalam ketidak-pastian, saya mulai memikirkan dampak lanjutan keterlambatan tersebut ke penerbangan lanjutan saya dari Dubai ke London. Akhirnya ketidakpastian penantian tersebut, berakhir dengan pemanggilan bagi para penumpang untuk boarding pada jam 1.45 subuh dengan perkiraan pesawat akan berangkat dari Jakarta ke Dubai pada jam 2.30 pagi. Secara otomatis keterlambatan penerbangan dari Jakarta mempengaruhi penerbangan lanjutan saya dari Dubai ke London yang direncanakan berangkat 07.45 pagi tanggal 21 Agustus dari Dubai Airport yang akan tiba di Heatrow Airport pada jam 12.15 siang tanggal yang sama. Saat pesawat Emirates dengan nomor penerbangan 359 yang saya tumpangi tiba di airport Dubai pada pagi hari tanggal 21 Agustus 2013, pesawat yang akan saya tumpangi ke London telah berangkat.

Transit di Ariport Dubai cukup memakan waktu, karena harus berpindah dari terminal kedatangan ke terminal keberangkatan. Setelah keluar dari pesawat, saya menaiki bus yang telah disediakan Emirates untuk mengantar para penumpang ke terminal kedatangan. Tiba di terminal kedatangan, saya mencari konter Emirates untuk melapor dan mendapatkan pergantian pesawat, sekalian dengan boarding pass Dubai London, karena boarding pass yang telah saya peroleh di Jakarta secara otomatis tidak berlaku. Setiba di konter, saya harus antri namun beruntunglah antrian yang saya ambil tidak terlalu panjang. Setelah tiba di depan konter, saya lalu menyerahkan boarding pass dan menjelaskan bahwa saya harusnya berangkat menggunakan pesawat yang nomornya tertera di boarding pass tersebut. Petugas konter menginformasikan kepada saya, bahwa pesawat tersebut telah berangkat sesuai waktu yang tertera di boarding pass, karena itu saya akan diberangkatan dengan pesawat berikut pada jam 09.30pagi. Saya bertanya apakah tidak ada pesawat yang waktunya lebih dekat, sehingga saya bisa segera berangkat karena mempertimbangkan jadwal yang telah saya susun untuk kunjungan ke beberapa tempat saat tiba di London pada siang hari tanggal 21 Agustus 2013. Petugas menjawab bahwa pesawat yang akan saya tumpangi berikut adalah pesawat yang paling pagi akan ke London. Dia menambahkan bahwa saya cukup beruntung langsung mendapatkan penerbangan berikut, dibanding penumpang lain yang harus menunggu hari berikut. Saya lalu mengucapkan terima kasih kepadanya lalu meminta petugas tersebut untuk memproses lebih lanjut pergantian pesawat yang akan saya tumpangi. Akhirnya saya mendapatkan boarding pass pengganti denan kursi nomor 60E. Saya bersyukur bisa langsung berangkat pada hari dan tanggal yang sama. Tidak terbayangkan jikalau harus tertunda ke hari berikutnya, maka jabwal kunjungan yang telah saya susun dengan teliti pasti akan kacau balau.

Setelah mendapatkan boarding pass untuk penerbangan berikut menggunakan pesawat Emirates nomor EK 029, saya lalu mencari jalan menuju terminal keberangkatan. Saya masih sempat mengamati gedung tempat saya berdiri untuk mencari arah menuju terminal keberangkatan ke London. Saya lalu memilih satu lorong dan berjalan menyusuri lorong tersebut, karena tidak pasti apakah jalan yang saya pilih tersebut benar atau tidak menuju ke terminal keberangkatan, saya akhirnya memutuskan bertanya pada 2 petugas kebersihan yang sepertinya sedang beristrahat menjalankan tugasnya. Mereka menunjuk ke depan dan mengatakan kepada saya agar berjalan terus mengikut lorong tersebut. Setelah berjalan beberapa lama, saya melihat seorang staf darat perempuan Emirates (dari seragam yang digunakan, termasuk dasi dan lambang di dada kiri atas) berjalan berlawanan arah alias menuju ke arah saya. Saat berpapasan, saya memutuskan menyapa dan menanyakan arah sambil menunjukan boarding pass yang saya pegang. Staf perempuan tersebut dengan ramah memberikan informasi sekaligus membuka pagar pembatas dari tali dan mempersilahkan saya melewati jalan tersebut menuju area pemeriksaan penumpang yang datang dan pergi.

Di area tersebut berjejer mesin-mesin XRay dengan para petugas berpakaian jas yang sedang berjaga di depan komputer dan samping pintu XRay yang harus dilalui oleh setiao orang. Selain itu ada juga petugas dengan seragam berbeda dalam potongan baju dan celana biasa menjaga di depan mesin berjalan untuk mengatur berbagi nampan tempat para penumpang meletakan berbagai benda logam, termasuk jaket dan sepatu. Tentunya, saya juga harus melewati para petugas dan gerbang XRay tersebut. Untuk itu semua barang logam seperti cincin, kalung, sabuk (ikat pinggang), uang logam dan lain-lain sejenisnya, serta sepatu, kaos kaki dan jaket harus dilepas, diletakan dalam suatu nampan plastik yang telah disediakan lalu diletakan pada mesin berjalan yang akan melewatkannya ke mesin XRay. Setelah semuanya beres, saya masih memerlukan waktu untuk memakai kembali sabuk, cincin, kaos kaki dan sepatu. Setelah itu saya berjalan ke arah lift yang dijaga oleh beberapa petugas yang mengatur orang-orang untuk keluar masuk lift-lift tersebut. Melalui lift-lift tsb saya dan para penumpang lain yang transit menuju ke area kereta bandara yang akan akan kami tumpangi dari terminal kedatangan menuju terminal keberangkatan. Tidak lama menunggu, kereta, pintu-pintu terbuka secara otomatis, para penumpang naik dan pintu-pintu tertutup otomatis lalu kereta pun berjalan menuju terminal keberangkatan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing tentunya. Tiba di terminal keberangkatan, para penumpang berhamburan keluar dan mencari jalan masing-masing di dalam terminal yang terang benderang dan gemerlap dengan berbagai kesibukan. Toko-toko serbaada, toko pakian, parfum, jam tangan hingga perhiasan emas seeprtinya buka 24 jam. Saya bergegas menuju papan informasi elektronik besar yang terpampang di suatu area di tengah-tengah terminal keberangkatan untuk mencari ruang tunggu pesawat. Setelah mendapatnya nomor ruang tunggu, saya tidak langsung menuju ruang tunggu tersebut. Saya menyempatkan diri mencari toilet untuk bersih-bersih, termasuk sikat gigi - yang dilakukan oleh banyak penumpang. Kertas pembersih dan air tersedia dalam bilik-bilik toilet untuk digunakan bersih-bersih selesai buang air besar. Airnya agak panas, karena itu harus hati-hati jika tidak akan terkejut saat menggunakannya pertama kali. Tersedia juga cairan pewangi yang digunakan bersama kertas toliet bagi para penumpang yang terbiasa bersih-bersih menggunakan kertas toilet saja sebagaimana di negara-negara Eropa. Selesai bersih-bersih, saya lalu berkeliling di terminal untuk window shopping sambil mengisi waktu tunggu. Saya juga mampir di salah satu kafe untuk sarapan. Toko-toko dan kafe-kafe menerima pembayaran tunai dan kartu. Pembayaran tunai dapat menggunakan dollar atau euro atau dirham. Jika pembayaran menggunakan dollar atau euro, maka pengembaliannya akan menggunakan dirham. Karena itu paling aman adalah melakukan pembayaran menggunakan kartu.

30 menit sebelum jam keberangkatan yang tertera ti boarding pass tiba, saya berjalan ke pintu yang nomornya tertera di boarding pass. Di depan pintu telah antri beberapa orang dari berbagai bangsa. Saya ikut mengantri, tidak lama kemudian petugas melepaskan tali penghalang dan satu per satu calon penumpang berjalan menuju 2 petugas yang berjaga memeriksa boarding pass dan passport. Setelah selesai diperiksa dan discan ke mesin, saya selanjutnya berjalan menuju ruang tunggu yang secara bertahap mulai dipenuhi para calon penumpang. sekitar 15 menit kemudian, petugas melalui pengeras suara mempersilahkan penumpang klas bisnis untuk masuk terlebih dahulu diikut oleh penumpang zona tertentu sebagaimana tertulis di boarding pass. Akhirnya zona saya dipanggil, namun saya harus melewati kerumunan penumpang yang berdiri di depan pintu menunggu zona-nya dipanggil. Ada satu dua penumpang yang zona-nya belum dipanggil mencoba masuk, namun petugas yang ketat memeriksa boarding pass meminta mereka menunggu panggilan. Setelah berdesak-desakan sebentar, akhirnya saya berhasil juga melewati pintu dan berjalan dalam lorong berkarpet biru lembut menuju ke pesawat. Di depan pintu pesawat, saya di sambut 1 pramugara dan 1 pramugari yang berdiri di kiri dan kanan pintu, menanyakan nomor kursi dan mempersilahkan saya mengambil lorong kiri menuju ke kursi saya. Setelah semuanya beres, pesawat lalu berangkat menuju London pada jam 10.30 pagi waktu Dubai alias terlambat lagi 40 menit dari waktu yang tertera di boarding pass, yakni jam 09.40 pagi. Ternyata Emirates pun masih delay. Dengan pengalaman ini, saya akan mempersiapkan diri lebih baik untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya incase terjadi delays yang berdampak pada reservasi hotel dan lainnya.

Bersambung ke Tulisan Keenam.

Jumat, 22 November 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: Seni Mengurus Reservasi Tiket, Hotel dan Visa

Tulisan Keempat

Untuk reservasi tiket pesawat dan kereta serta hotel di Eropa, saya mengandalkan internet. Pada saat selesai jam kerja, saya menyempatkan diri memantau pergerakan harga tiket dan harga kamar berbagai hotel melalui situs-situs pelancongan seperti yang telah saya sebutkan di Tulisan Kedua. Dari pengamatan tersebut, saya mendapatkan kenyataan bahwa harga tiket dan juga kamar hotel selalu berubah-ubah. Harga pada hari-hari kerja berbeda dengan harga pada akhir minggu - yang biasanya dimulai pada Hari Jumat sore. Harga-harga yang saya sebutkan pada Tulisan Ketiga merupakan harga termurah pada saat itu - yang saya dapatkan pada hari kerja, yakni biasanya Rabu atau Kamis malam.

Tiket "murah" Valueing Air untuk penerbangan Amsterdam - Barcelona pada pagi hari tanggal 3 September 2013, saya peroleh setelah mengamati pergerakan harga di internet selamat 2 minggu. Saya mencari harga tiket melalui beberapa website, namun yang sering saya gunakan adalah www.kayak.com dan www.bookpanorama.com. Harga tiket kelas yang sama untuk maskapai yang sama memiliki perbedaan antara penyedia layanan online berbeda. Ada penyedia layanan online yang langsung melakukan claim pembayaran jasa melalui debit kartu kredit yang digunakan untuk bertransaksi pada saat transaksi pemesanan dilakukan. Model ini saya temukan pada saat saya melakukan pemesanan hostel di Amsterdam melalui www.HostelBookers.com. Penyedia jasa online ini langsung melakukan debit 10% dari harga kamar pada saat pemesanan dilakukan. Penyedia jasa lain memiliki cara berbeda, yakni mengikutsertakan fee jasa penjualan mereka ke harga tiket atau kamar sehingga harga yang dibeli melalui penyedia jasa online tersebut agak lebih mahal dibandingkan membeli langsung ke pihak maskapai atau hotel. Ada juga penyedia jasa layanan online yang mempromosikan tidak adanya fee yang dibayarkan pemesan ke pihaknya. Alias harga yang terpapar di website penyedia jasa tersebut adalah harga nyata pihak hotel.

Karena kondisi jual beli seperti itu, maka saya selalu mengusahakan semaksimal mungkin memesan langsung ke website maskapai atau ke hotel, jika bisa langsung mengakses website maskapai ataupun hotel. Saat saya memesan tiket Valueing Air, saya mencari perbandingan harga antar berbagai maskapai penerbangan di Eropa melalui website kayak.com. Setelah mendapatkan informasi harga termurah dengan waktu tercepat, saya lalu masuk ke website maskapai bersangkutan dan memesan tiketnya melalui website tersebut. Sebelum memesan tiket, saya melakukan pengamatan pergerakan harga tiket setiap hari untuk mendapatkan pola kisaran harga tertinggi dan terendah yang terjadi pada hari-hari tertentu. Harga tiket dipengaruhi oleh jam dan tanggal keberangkatan, lokasi tempat duduk yang dipilih dan berat bagasi yang dibawah. Untuk itu, pada saat pemesanan tiket, calon penumpang juga harus memilih kursi masing-masing yang telah diberi informasi harganya. Website vueling air menyediakan 3 pilihan harga, yakni dasar / basic, optima atau disebut juga best choice, dan excellence. Saya memilih pilihan tengah yakni best choice dimana harganya berada di antara basic dan excellence. Harga yang dipilih, masih akan ditambahkan dengan biaya manajemen sebesar 5 Euro untuk setiap tiket dan biaya tambahan sebesar 1,99 Euro jika pembayaran dilakukan menggunakan kartu kredit. Contoh saat saya memesan tiket perjalanan Amsterdam - Barcelona pada tanggal 3 September 2013, jam 7 pagi, harga tiket best choice adalah 99 Euro, ditambah biaya manajemen 5 Euro, ditambah biaya pembayaran menggunakan kartu kredit sebesar 1,99 Euro, maka total sebelum biaya tambahan untuk kursi dan bagasi adalah 105,99 Euro.

Sebelum memilih kursi, pemesan harus mengisi detail data penumpang berupa nama, email, nomor telpon, negara dan kota asal penumpang. Setelah itu, klik lanjutkan lalu akan muncul lembar isian customize your flights yang berisi informasi berat dan ukuran bagasi, biaya tambahan yang harus dibayar, asuransi dan juga kursi yang akan dipesan dengan melalui denah yang disediakan lengkap dengan informasi harga kursi atau biaya tambahan yang akan ditambahkan ke tiket. Karena saya memperkirakan bahwa berat dan ukuran bagasi yang saya bawah masih masuk dalam kategori bebas biaya tambahan, maka saya hanya melanjutkan ke pemilihan kursi, dimana saya memilih dekat gang agak ke depan, yakni nomor 6B seharga 6 Euro.Dengan demikian total harga tiket adalah 105,99 + 6 Euro (harga kursi) = 111,99 Euro.

Setiap naik pesawat saya selalu memilih duduk dekat gang dengan pertimbangan memudahkan ke toilet dan juga berdiri dan jalan-jalan dalam penerbangan jarak jauh. Setelah semua proses tersebut selesai, harga keseluruhannya muncul di lembar terakhir yakni payment details. Pada lembaran ini, saya mengisi data-data kartu kredit saya, lalu mengkonfirmasi pembelian tiket yang saya pesan. Secara otomatis, sistem mengirim boarding pass ke alamat email yang telah dicantumkan di lembaran ketiga. Boarding pas tersebut berisi  semua informasi yang diperlukan, yakni nama lengkap saya, nomor pesawat, tanggal dan jam keberangkatan, airport keberangkatan dan airport tujuan serta nomor kursi.

Penjualan tiket kereta raileurope juga menggunakan pola yang sama. Pada jam dan tanggal tertentu, harga tiket lebih murah atau lebih mahal dari jam dan hari tertentu lainnya. Secara tidak sengaja, pola tersebut saya temukan pada pemesanan tiket raileurope pertama kali pada malam hari Jumat. Karena saya mencoba melakukan pemesanan pada tengah malam menggunakan ipad di tempat tidur, saya ketiduran sampai pagi. Pdahal pada saat itu, saya telah mendapatkan informasi pilihan harga yang tersedia untuk waktu dan tanggal yang saya pilih dalam perjalanan Barcelona ke Madrid. Karena ketiduran, maka pemesanan tiket tidak saya selesaikan sampai dengan pengisian lembar informasi pemesan dan pembayaran. Saat saya mengulangi pemesanan pada esok harinya, harga semalam telah berubah jauh lebih mahal. Setelah menemukan pola harga yang berubah sesuai hari dan jam pemesanan, saya lalu memutuskan mengamati dulu pergerakan harga dari hari ke hari, sampai menemukan pola pergerakan harga antara harga terendah / termurah dan harga tertinggi / termahal. Setelah mendapatkan polanya, saya lalu memesan tiket RENFE harga termurah sekali jalan dari Barcelona ke Madrid dan tiket PP Madrid Cordoba. Kereta cepat antar kota di Spanyol disebut RENFE. Sedangkan kereta dalam kota, misalnya di Madrid dan Barcelona disebut METRO, sama dengan istilah bagi kereta dalam kota di Paris dan Roma. Raileurope menyediakan slot khusus bagi pemesan dari negara-negara Asean. Karena itu, pada saat melakukan pemesanan, sistem secara otomatis mengarahkan pemesan dari negara-negara Asean ke slot tersebut. Kemungkinannya sistem juga telah memiliki sistem deteksi koneksi internet pemesan, sehingga sistem langsung bisa mengidentifikasi pemesan dari negara-negara Asean yang diarahkan ke slot tiket bagi negara-negara Asean.

Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa penjualan tiket kereta baru dibuka 30 hari dari tanggal pengunaan tiket. Pada waktu awal mencoba, ternyata penjualan tiket belum dilakukan bagi calon pembeli atau pemesan dari negara-negara Asean, karena saya melakukannya terlalu awal alias tidak dalam periode 30 hari tersebut. Secara otomatis, sistem online penjualan meminta alamat email saya agar dapat diinformasikan waktu dimulainya penjualan tiket sehingga saya bisa melakukan pemesanan atau pembelian. Kantor penjualan raileurope yang berpusat di Singapura juga sangat responsif. Pada waktu melakukan pemesanan online untuk perjalanan PP Madrid - Cordoba, sistem tiba-tiba tidak merespon pengiriman tiket secara otomatis sebagaimana saat saya melakukan pembelian tiket Barcelona ke Madrid. Debit atas kartu kredit saya sebesar harga tiket telah dilakukan karena pada saat transaksi terjadi, saya langsung mendapatkan sms dari penyedia kartu kredit bahwa saya telah melakukan transaksi pembelian tiket kereta raileurope sesuai harga yang saya beli. Saya lalu menulis email melalui sistem yang telah disediakan di website raileurope. Dalam waktu 24jam, saya menerima jawaban bahwa dana yang telah didebet akan diproses pemulangannya dalam periode waktu 1 minggu. Untuk itu, tiket yang telah dipesan dibatalkan. Pembeli diminta melakukan pemesanan ulang. Saya melakukannya lagi sebagaimana diminta dan kenyataannya saat tagihan kartu kredit saya terima sebulan kemudian, transaksi yang dibukukan hanya 2 transaksi, yakni pembelian tiket kereta cepat Barcelona - Madrid dan Madrid - Cordoba PP.

Pola yang sama juga terjadi pada jual beli kamar hotel secara online. Pemesanan jauh-jauh hari sebelum tanggal nginap akan mendapatkan kamar dengan harga "murah". Hal yang saya tidak lakukan karena keragu-raguan saya tentang apakah akan menginap dekat Airport Schiphol Amsterdam atau menginap di salah satu hotel di tengah Kota Amsterdam. Di dekat Airport Schiphol tersedia banyak pilihan hotel dari hotel bintang lima seperti Sheraton dan Novotel sampai dengan hotel bintang tiga, antara lain Ibis dan Mercure atau yang sangat dekat dan bisa diakses dengan berjalan kaki adalah hotel Citizen Amsterdam. Di dalam airport juga tersedia hotel transit untuk istrahat dalam periode waktu maksimal 24 jam, yakni hotel Yotel Schiphol Amsterdam. Karena belum memilih dan melakukan booking jauh-jauh hari, maka saat saya akan melakukan pemesanan satu bulan sebelum tanggal nginap di Hotel Ibis atau Yotel atau Citizen, semua hotel tersebut telah penuh, sehingga pemesanan online ditutup. Hotel di tengah kota, terutama sekitar stasiun Centraal Amsterdam juga penuh, terutama Hotel Ibis dan Multatuli. Karena tidak punya pilihan, saya kemudian memesan satu hostel dekat Centraal Stasiun Amsterdam dengan harga yang menurut saya sangat mahal. Jika saya bandingkan dengan harga di hotel Ibis (Budget) sebesar 54 Euro, maka tentunya harga Hostel Dam sangat mahal karena harga 1 kamar twin share untuk 1 malam adalah 154 Euro. Dengan demikian berbagai berita bahwa biasanya harga kamar hostel lebih murah dari hotel belum tentu benar. Pengalaman saya merupakan pelajaran berharga agar melakukan pemesanan jauh-jauh hari sebelum tanggal penginapan dan juga harus rajin melakukan riset harga untuk membandingkan kelas, jarak dan harga kamar antar hotel, antar hostel / wisma dan antar hotel dengan hostel.

Sambil mempersiapkan kelengkapan dokumen. Saya juga mengisi aplikasi visa secara online ke Kedutaan Inggris. Pengurusan visa di kedua kedutaan, yakni Inggris dan Italia dilakukan oleh pihak ketiga sebagai penyedia jasa. Saat saya mengajukan aplikasi visa ke Keduataan Italia untuk perjalanan di tahun 2011, pengurusan visa masih ditangani langsung di kedutaan di Jalan Diponegoro. Pada saat itu, kita bisa melihat adanya antrian orang di depan kedutaan dan Jalan Diponegoro. Saat ini, antrian tersebut tidak pernah terlihat lagi, karena pengurusan visa ke Kedutaan Italia dan beberapa negara Uni Eropa, Australia dan juga Inggris telah dialihkan ke pihak ketiga, yakni VFS. Dari pencarian online saya menemukan website penyedia jasa tersebut, termasuk informasi syarat-syarat yang harus dipenuhi, kelengkapan dokumen dan biaya yang harus dibayarkan, yakni di www.vfs-uk-id.com. Dalam website tersebut tersedia beberapa menu pilihan sesuai kebutuhan pelamar. Salah satu informasi dan dokumen penting yang harus diisi dan disiapkan adalah passport sebelumnya, jika pernah memiliki passport lain dari passport yang sekarang sedang berlaku. Setelah mengisi semua informasi yang diminta pada formulir online yang kemudian harus diprint untuk dibawa dan diserahkan pada jam dan tanggal yang telah dipilih. Untuk itu, di website tersebut juga tersedia menu book an appointment yang harus dipilih untuk masuk ke pemilihan jam dan tanggal penyerahan dokumen aplikasi visa. Pada saat memilih menu tersebut, maka saya dibawa ke suatu formulir online yang harus diisi dengan nama lengkap, nomor passport, jumlah pelamar, lalu klik selanjutnya untuk masuk ke suatu format kalender yang menyajikan waktu dan tanggal dalam warna hijau untuk dapat dipilih sesuai kebutuhan. Jika tidak ada tanggal berwarna hijau, itu artinya semua tanggal yang disediakan dalam periode tertentu untuk pengajuan aplikasi visa telah penuh. Kita harus menunggu sekitar 1 minggu lagi untuk mendapatkan tanggal berwarna hijau sebagai tanda bahwa pengajuan aplikasi visa telah dibuka lagi.

Karena ketidak-tahuan di awal-awal usaha mendapatkan jam dan tanggal penyerahan aplikasi, maka saya sempat berpikir bahwa sistem komputer saya bermasalah. Namun setelah saya mencoba beberapa kali di hari berbeda, namun tidak menemukan perubahan, maka saya mencoba menelpon ke VFS melalui nomor telpon yang tertera di website tersebut. Dari telpon tersebut, saya mendapatkan penjelasan bahwa jika di kalender online tidak tersedia tanggal dalam kolom berwarna hijau, maka saya harus menunggu dan mencoba lagi di minggu berikutnya. Pada saat itu, pihak VFS juga menginformasikan tentang tanggal kalender online akan dibuka lagi untuk pelamar berikut - yang tentunya memudahkan saya untuk mengakses website tersebut di tanggal yang telah disebutkan. Setelah berhasil mendapatkan jam dan tanggal penyerahan dokumen aplikasi visa, saya sekali lagi memeriksa semua dokumen yang akan saya serahkan untuk memastikan bahwa semuanya telah tersedia. Dalam website juga telah diingatkan bahwa informasi yang akurat dan kelengkapan dokumen akan sangat membantu meyakinkan pihak kedutaan untuk menyetujui permintaan visa.

Singkat cerita, saya mendapatkan waktu penyerahan dokumen pada jam 10.30 pagi tanggal 3 Juni 2013. Sebelum jam 10 pagi, saya telah membawa formulir aplikasi visa yang telah saya isi dan tandatangani bersama semua dokumen pendukung lainnya ke kantor penyedia jasa pengurusan visa tersebut ke PT VFS Service Indonesia yang beralamat di Lantai 22, Zona B, Plaza Asia. Jalan Jendral Sudirman, Jakarta. Untuk sampai ke lantai 22, saya harus meninggalkan KTP di lantai dasar lalu diberi kartu pengunjung. Tiba di lantai 22, saya menginformasikan ke ke security tentang jam penyerahan dokumen yang telah saya book. Security meminta saya menunjukan passport dan bukti bookingan online yang telah saya print. Ransel saya diambil dan disimpan di loker yang tersedia di ruang security. Saya diminta mematikan semua alat komunikasi lalu dipersilahkan masuk ke ruang penyerahan dokumen.Di dalam ruangan tersebut tersedia banyak kursi tempat para pelamar menunggu panggilan. Di depan kursi-kursi pelamar visa, tersedia suatu meja panjang dengan kursi-kursi dalam kubikal yang diduduki para staf perempuan dan laki-laki berpakaian rapi yang menerima dan memeriksa semua dokumen. Selain pelamar yang datang sendiri mengurus pengajuan aplikasi visa, banyak juga karyawan agen perjalanan yang lalu lalang dengan tumpukan dokumen. Saya mulai kesal saat jam telah menunjukan 10.30 sebagaimana diperjanjian online yang telah saya print, namun nama saya belum juga dipanggil. Saya lalu bertanya ke security yang menjaga pintu ruang pengambilan foto dan sidik jari. Security meminta saya menunggu saja sampai dipanggil. Namun saya perhatikan sepertinya para karyawan agen perjalanan mendominasi semua tempat pengujuan aplikasi dan mereka sangat akrab dengan semua staf pengurus aplikasi visa. Karena jam telah menujukan jam 11 alias telah lewat dari jam yang ditentukan, saya lalu langsung maju ke salah satu konter yang kosong untuk menanyakan kapan saya akan dipanggil. Petugas meminta bukti booking online yang saya bawa sehingg saya lalu langsung dipersilahkan duduk. Petugas lalu meminta semua dokumen yang saya bawa, mencatat lalu memasukan ke dalam amplop khusus.

Sambil memeriksa dokumen-dokumen tersebut, secara sambil lalu, petugas menanyakan beberapa hal antara lain saya kerja dimana, tujuan perjalanan, berapa lama, siapa yang membiayai dan seterusnya. Meski kesannya sambil lalu, namun saya tahu bahwa petugas tersebut sedang melakukan tugasnya mewawancarai saya. Saya usahakan menjawab semuanya dengan benar dan tepat sebagaimana yang saya tuliskan di dokumen-dokumen yang sedang diperiksa. Biaya pengurusan visa dibagi ke dalam beberapa kategori, yakni kunjungan, bisnis, sekolah dan lain lain. Untuk kunjungan atau visit, waktu berlakunya visa akan menentukan biaya yang dibayarkan. Untuk itu, biaya paling murah adalah visa yang berlaku untuk 6 bulan. Pada saat saya menulis catatan ini, biaya visa untuk 6 bulan adalah sebesar 1.520.000 (satu juta lima ratus dua puluh ribu) rupiah. Saat saya mengurus visa pada bulan Juni 2013, biaya visa yang berlaku selama 6 bulan adalah 1.220.000 (satu juta dua ratus dua puluh ribu) rupiah. Petugas juga menanyakan apakah saya ingin menerima informasi dalam bentuk SMS dan email tentang status aplikasi visa saya, jika saya ingin menerima informasi tersebut secara otomatis, maka saya diminta membayar biaya sebesar 25.000 (dua puluh lima ribu) rupiah. Saya setuju saja, karena saya tidak mau repot sendiri memeriksa website secara reguler untuk mendapatkan informasi status aplikasi saya. Ternyata hal tersebut sangat membantu karena saya selalu menerima informasi melalui email maupun SMS tentang status aplikasi saya, misalnya telah dikirim ke Bangkok, telah diterima / tiba di Bangkok, telah dikirim kembali ke kantor Jakarta dan visa telah bisa diambil. Petugas juga menginfomasikan bahwa aplikasi saya bersama lainya akan dikirim ke Bangkok untuk diperiksa dan disetujui atau ditolak. Waktu yang dibutuhkan untuk urusan tersebut sekitar 10 sampai dengan 15 hari.Setelah semua selesai, petugas memberikan tanda terima sambil mengingatkan agar saya membawa tanda terima tersebut sebagai bukti untuk pengambilan kembali passport saya.

Selesai dengan urusan dokumen dan pembayaran, saya diminta menunggu untuk pengambilan foto dan sidik jari alias pengambilan data biometrik sebutannya. Saya hanya menunggu sekitar 5 menit untuk urusan foto dan sidik jari tersebut. Pengambilan foto dan sidik jari tersebut dilakukan oleh petugas yang juga ramah. Semuanya selesai dalam waktu sekitar 3 menit saja. Setelah itu, petugas mengatakan kepada saya bahwa semua telah selesai, saya boleh pulang dan menunggu panggilan pengambilan visa. Ternyata aplikasi visa saya selesai dalam waktu 10 hari. Saya menerima SMS yang menginformasikan hal tersebut sekaligus meminta saya mengambil kembali passport saya di kantor VFS.

Berbeda dengan formulis aplikasi visa ke Kedutaan Inggris. Formulir aplikasi visa ke Kedutaan Italia tersedia secara online, namun pengisiannya harus dilakukan secara manual alias tulis tangan. Karena itu, formulir aplikasi tersebut harus diunduh (download) dari website VFS Visa Italia, yakni www.vfsglobal.com/italy/indonesia. Saat masuk ke website tersebut, tersedia berbagai pilihan menu yang dapat dibuka untuk dibaca dan dipelajari isinya karena tersedia berbagai informasi yang sangat berguna bagi pengurusan visa. Untuk membuat perjanjian waktu penyerahan aplikasi dan dokumen mendukungnya, kita hanya perlu masuk ke menu: membuat perjanjian lalu mengisi beberapa informasi yang diminta sampai dengan lembaran kalender. Tanggal dalam kolom berwarna hijau artinya tanggal tersebut belum penuh sehingga bisa dibook untuk penyerahan dokumen.

Pengurusan visa ke Kedutaan Italia memerlukan kesabaran sendiri, terutama urusan booking jam dan tanggal penyerahan dokumen. Sistem pembookingan dibuat secara random, sehingga calon pelamar harus terus menerus memantau web VFS pengurusan visa Italia untuk mendapatkan waktu dan tanggal. Masalah yang hampir sama saya harus hadapi saat pertama kali mencoba. Saya lalu menelpon nomor telpon kantor VFS yang menangani urusan visa Italia. Dari telpon tersebut, saya diinformasikan bahwa jam dan tanggal penyerahan dokumen dibuat random oleh sistem untuk mencegah adanya monopoli dari agen atau calo. Karena itu, saya diminta harus rajin memonitor website pengurusan visa Italia. Dengan memonitor intensif website tersebut, saya bisa mengetahui kapan jam dan tanggal penyerahan dokumen dibuka yang diindikasikan oleh adanya warna hijau di kalender online sehingga saya bisa membook waktu yang saya inginkan. Awalnya kesal juga karena random tersebut membuat saya tidak dapat mengetahui secara pasti kapan kalender online bisa saya akses. Namun karena saya yang membutuhkan maka saya dengan sabar memonitor website, terutama di bagian kalender online. Kesabaran saya terbayar karena pada akhirnya saya melihat warna hijau di salah satu tanggal pada kalender online yang saya akses. Saya lalu cepat-cepat membook jam 8 pagi tanggal 4 Juli sebagai waktu penyerahan dokumen dengan pertimbangan kesibukan saya di kantor, terutama jadwal kunjungan ke lokasi proyek yang menjadi tanggungjawab saya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah serta juga waktu penyelesaian visa di Kedutaan Inggris yang saya perkirakan membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Membook tanggal 4 Juli 2013 memberikan saya waktu 1 bulan dari pengajuan aplikasi visa ke Kedutaan Inggris yang saya lakukan pada tanggal 3 Juni.

Ternyata sebelum jam dan tanggal penyerahan dokumen tersebut tiba, pada tanggal 26 Juni, saya menerima email dari VFS urusan visa Italia yang meminta saya membawa dokumen2 aplikasi visa agar diperiksa terlebih dahulu sebelum hari penyerahannya pada tanggal 4 Juli 2013. Karena saya sedang berada di Palangkaraya pada saat itu, saya membalas email tersebut dan meminta waktu 1 minggu. Pihak VFS setuju dengan permintaan tersebut. Saya lalu mendatangi kantor VFS urusan visa Italia di lantai dan gedung yang sama dengan kantor VFS urusan visa Inggris. Kedua kantor tersebut bersebelahan dan bertetangga dengan VFS urusan visa Australia dan beberapa negara Eropa lainnya. Kepada security yang membukakan pintu, saya memberitahukan panggilan tersebut. Saya lalu diberi nomor antrian, diminta mematikan alat komunikasi dan dipersilahkan masuk menunggu nomor saya dipanggil. Setelah sekitar 5 menit kemudian, nomor antrian saya dipanggil. Petugas meminta semua dokumen saya, lalu diperiksa satu demi satu. Dari pemeriksaan tersebut, petugas menyatakan bahwa dokumen-dokumen saya telah lengkap sesuai persyaratan untuk diserahkan pada jam dan tanggal yang ditentukan.

Pagi-pagi tanggal 4 Juli saya telah menuju kantor VFS di Geduang Asia, Jalan Sudirman untuk penyerahan dokumen. Sekali lagi saya mengikuti prosedur yang sama di lantai dasar sebagaimana saat saya datang dan menyerahkan dokumen ke VFS urusan Visa ke Inggris. Agak berbeda dengan pengurusan visa ke Inggris, untuk visa ke Italia, pelamar akan diberi nomor antrian oleh security lalu dipersilahkan masuk dan menunggu di bangku-bangku yang tersedia. Walau saya telah datang pagi, ternyata saat saya tiba, telah ada 3 orang yang antri di depan pintu. Saya lalu ikut mengantri sambil mengajak ngobrol orang-orang yang antri terlebih dahulu. Setelah lewat jam 8 pagi, security belum membuka pintu untuk para pengantri yang mulai gelisah karena antrian semakin panjang. 5 menit kemudian, security mempersilahkan para pengantri menunggu di ruangan lain karena listrik padam sehingga komputer tidak bisa dihidupkan dan sistem tidak dapat bekerja. Saya dan para pengantri lain lalu berinisiatif menentukan nomor antrian kami sehingga tidak terjadi saling sikut saat dipanggil masuk. Saya mendapatkan nomor 3 karena seorang ibu yang sebelumnya antri berdiri di depan saya akan mengurus visa ke kedutaan Norwegia, bukan ke Italia.

Setelah lampu menyala, security memempersilahkan kami masuk dengan memberikan nomor antrian dan meminta kami mematikan semua alat komunikasi. Saya lalu masuk dan menunggu di salah satu kursi yang tersedia. Sekitar 5 menit kemudian, nomor saya dipanggil. Semua dokumen diperiksa, lalu dimasukan ke dalam satu amplop. Saya diminta membayar biaya pengurusan sebesar 728.000 (tujuh ratus dua pulah delapan ribu) rupiah. Pada tanggal 8 alias 3 hari kemudian dari tanggal saya menyerahkan dokumen aplikasi, saya mendapat informasi melalui email bahwa visa dan passport saya telah bisa diambil kembali di kantor VFS tempat saya menyerahkan aplikasi.

Saya telah siap melancong karena visa masuk ke dua negara, yakni Inggris dan Italia telah disetujui. Persiapan selanjutnya adalah fisik dan kebutuhan harian selama perjalanan.

BERSAMBUNG KE TULISAN KELIMA : Perjalanan Jakarta - Dubai - London

Rabu, 20 November 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: Reservasi Tiket Pesawat, Kereta dan Hotel

Pada edisi Tulisan Kedua, saya telah menginformasikan syarat-syarat dan dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk pengurusan visa ke kedua kedutaan guna melancong ke London dan berbagai kota di negara-negara Uni Eropa. Karena saya mendapatkan informasi bahwa pengurusan visa ke London membutuhkan waktu yang cukup lama sampai dengan keluarnya visa, maka saya memutuskan untuk mengurus visa ke kedutaan Inggris terlebih dahulu. Oleh karena saya memutuskan untuk menggabungkan perjalan yang saya urus sendiri dengan yang diurus oleh tour dari Eropa - dalam hal ini Expat Explorer yang telah saya pilih dan berkomunikasi secara intensif, maka saya mulai mempersiapkan diri secara serius untuk mendapatkan visa. Untuk itu, saya memastikan semua syarat dan dokumen saya lengkapi. Pengurusan surat keterangan bank saya lakukan 2 kali, karena perubahan waktu pengurusan visa. Untuk mendapatkan keterangan bank tempat saya menabung dan menggunakan dana di tabungan tersebut secara aktif, saya harus membayar 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) rupiah untuk mendapatkan surat keterangan dan rekening koran tabungan.

Karena saya mengurus visa ke dua kedutaan, maka saya harus membayar 500.00 (lima ratus ribu) rupiah untuk mendapatkan 2 surat keterangan bank yang ditujukan ke dua kedutaan berbeda. Komunikasi intensif juga saya lakukan dengan Monika di Expat Explorer yang merupakan staf Customer Service tour tersebut. Sesuai dengan syarat dan ketentuan Agen Tour yang berpusat di kota London tersebut, saya harus membayar 100% biaya tour untuk mendapatkan semacam surat sponsor pengurusan visa, itinerary dan juga daftar hotel yang akan digunakan. Tentu saja urusan dengan Expat Explorer seperti berjudi alias untung-untungan karena hanya mengandalkan informasi yang tersedia di website Agen tersebut yakni www.expatexplorer.com, facebooknya dan juga email komunikasi dengan Monika. Setelah mempertimbangkannya dengan matang, akhirnya saya memutuskan untuk membayar biaya tour sebesar 845 Poundsterling atau sekitar 15 juta rupiah waktu itu (saat saya menulis catatan harian ini, harga berbagai paket yang ditawarkan telah menggunakan kurs dollar Amerika, dimana untuk paket yang saya ambil waktu itu ditawarkan senilai 1.390 US Dolar atau sekitar 16.000.000 (enam belas juta rupiah dengan kurs 11.500 rupiah per dolar). Harga tersebut merupakan harga diskon yang ditawarkan di website Expat Explorer. Expat Explorer menawarkan beberapa paket dengan periode waktu berbeda-beda dan untuk kategori umur berbeda yang dibagi ke dua kategori usia, yakni muda dan dewasa. Untuk para calon pelancong usia muda, akomodasi yang disediakan beramai-ramai sekitar 6 orang dalam satu kamar. Sedangkan untuk usia dewasa hanya dibatasi 2 orang per kamar. Calon konsumen punya kebebasan memilih dan menyesuaikan dengan ketersediaan waktu, usia dan juga dananya. Untuk itu, saya mengambil paket bernama Europe Escape dalam durasi waktu 12 hari ke 7 negara.

Pada awalnya saya melakukan pemesanan dulu terhadap paket yang saya pilih, sambil mencari berbagai informasi tambahan secara online untuk memastikan saya tidak sedang ditipu. Untuk pemesanan tersebut saya harus membayar 10% dari biaya keseluruhan paket yang saya beli. Setelah pemesanan, saya menerima bukti pesanan dari Expat Explore. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membayar penuh biaya paket yang saya ambil. Setelah menerima pembayaran penuh, pihak Expat lalu mengirim invoice pembayaran dan berbagai instruksi terkait rencana perjalanan tersebut - yang waktunya  masih 2 bulan lagi. Sebagaimana janjinya, dalam periode 1 minggu, Expat Explorer mengirimkan surat sponsor pengurusan visa, itinerary dan daftar hotel. Surat sponsor langsung ditujukan ke Kedutaan Inggris dan Kedutaan Italia.

Satu bulan sebelum pelunasan biaya tour dan penyelesaian urusan administrasi dengan Expat Explorer, saya telah melakukan booking pesawat untuk penerbangan Jakarta - London dan Madrid Jakarta. Saya akhirnya memesan tiket pesawat Emirates di Agen Perjalanan Dwidaya Tour. Biaya yang harus saya bayarkan untuk tiket tersebut adalah 1.440 US Dollar atau sekitar 16.700.000 (enam belas juta tujuh ratus ribu) rupiah. Keputusan pembelian tiket Emirates saya lakukan setelah mengecek dan mempertimbangkan berbagai tawaran maskapai lain. Maskapai yang memiliki rute langsung Jakarta - London - Madrid - Jakarta hanya ada 2 yang "murah", yakni Emirates dan Etihad. Harga tiket Etihad lebih murah sekitar 100 dolar dari Emirtes. Namun, karena mempertimbangkan jam terbang dan juga transit - dimana saya lebih familiar dengan Airport Dubai yang akan membantu menghemat waktu transit pergantian pesawat, maka saya memutuskan membeli tiket Emirates saja walau lebih mahal 1 juta lebih dibanding Etihad.

Saya juga kemudian melakukan booking hotel di London, Amsterdam dan Madrid untuk melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam pengurusan visa. Melalui www.kayak.com, www.bookpanorama.com, www.tripadvisor.com, www.agoda.com, www.hostelbookers.com, www.booking.com, www.easytobook.com dan banyak web penyedia hotel, saya mulai mencari informasi hotel dan hostel di ketiga kota tersebut. Setelah melakukan riset singkat terkait harga dan letak berbagai hotel di kota-kota tersebut, akhirnya saya memutuskan memesan kamar di Hotel Holiday Inn Express yang terletak di daerah Geenwich London, tepatnya di jalan Bugsby Way. Pertimbangannya adalah salah satu lokasi pick up point Expat Eplorer adalah di hotel tersebut, dengan demikian akses saya menjadi lebih mudah. Saya juga memilih menginap di hotel dan daerah tersebut karena ingin mengunjungi tugu GMT yang terletak di Taman Kota Greenwich yang telah saya riset beberapa bulan lalu. Setelah memutuskan memesan kamar di hotel tersebut, saya lalu melakukan komunikasi langsung melalui email dengan pihak hotel guna mendapatkan informasi alat transportasi dan rute yang harus saya lalui dari stasiun terdekat. Pihak hotel menginformasikan kepada saya untuk menggunakan Tube (kereta bawah tanah) lalu turun di stasiun North Greenwich. Dari stasiun saya menggunakan bus nomor 204 lalu turun di halte pertama setelah stasiun kereta. Dari halte tinggal berjalan kaki ke hotel yang terletak tidak jauh dari halte tersebut. Dengan informasi yang sangat jelas dan membantu tersebut, saya akhirnya memesan 1 kamar double bed non smoking with breakfast untuk 2 malam, yakni 21 dan 22 Agustus seharga 256 US Dollar atau sekitar 3.000.000 (tiga juta) rupiah alias 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu) rupiah per malam. Dengan demikian saya punya 2 hari setengah menghabiskan waktu di London sebelum berangkat bersama Expat Explorer ke Paris pada tanggal 23 Agustus.

Untuk hotel di Amsterdam, saya baru melakukan pemesanan 1 minggu sebelum keberangkatan ke Eropa. Hal tersebut disebabkan keragu-raguan saya memutuskan lokasi dimana saya akan menginap di Amsterdam, apakah menginap di dekat airport atau menginap di tengah kota. Keragu-raguan tersebut berakibat fatal, karena hotel-hotel yang telah saya pelajari secara online seperti Ibis yang berlokasi di kawasan airport ataupun tengah kota telah penuh pada tanggal 2 September saat saya akan menginap untuk transit di Amsterdam menuju Barcelona. Akibat memesan kamar pada minggu terakhir sebelum berangkat, semua penuh, saya menjadi panik dan akhirnya memesan 1 kamar dengan 2 tempat tidur (twin share bed) di Hotel Dam Amsterdam. Saya memutuskan mengambil penginapan kelas hostel tersebut setelah membaca berbagai komentar tamu yang pernah menginap dan juga memperhitungkan jaraknya yang sangat dekat dengan Stasiun Kereta Amsterdam (Centraal Station) - tempat saya akan menumpang kereta ke Airport Schipool Amsterdam pada subuh hari tanggal 3 September ke Barcelona Spanyol. Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya saya memesan kamar di hotel tersebut melalui www.HostelBookers.com, dimana harga 1 malam untuk twin share bed adalah 170 Euro atau sekitar 2.600.000 (dua juta enam ratus ribu) rupiah untuk 1 malam. Nah mahal banget khan alias tidak sesuai dengan berbagai informasi yang beredar bahwa menginap di penginapan kelas hostel di Eropa akan lebih murah daripada hotel. Dari jumlah 170 Euro tersebut, pihak HostelBooker langsung mengklaim pembayaran 10% dari kartu kredit yang digunakan sebagai jaminan pemesanannya kamar tersebut. Sisanya sebesar 153 Euro akan dibayarkan pada saat melapor (check in). Ternyata saat check in, harga yang dibayar jauh lebih tinggi dan kamar yang disediakan tidak sesuai dengan kamar yang saya pesan online yang merupakan pengalaman berharga untuk para pelancong lain jika memesan hostel agar jangan terlalu percaya pada berbagai komentar atau review online, karena standar kenyamanan masing-masing orang tentunya berbeda-beda saat menginap di penginapan kelas hostel. Detail kekecewaannya akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya terkait Amsterdam.

Untuk penginapan di Madrid, saya memesan kamar di hotel yang pernah saya gunakan saat melancong ke kota Madrid di Bulan Oktober 2011 yakni Hotel Alhambra (www.alhambrasuites.com). Saya menemukan hotel tersebut secara online juga pada tahun 2011 saat mencari-cari lokasi dan penginapan di Madrid. Saat itu saya melakukan pesanan  online melalui salah satu website online yag saya tidak ingat lagi. Saat check out di Bulan Oktober 2011, staf hotel memberikan kartu nama dan berpesan jika akan berkunjung ke Madrid lagi, silahkan pesan secara lansung melalui email (orang Spanyol memang selalu ramah dari pengalaman saya berkunjung 2 kali ke negara tersebut). Karena saya masih menyimpan kartu nama hotel, akhirnya saya mengirim email yang segera mendapatkan balasan dari staf hotel, bahwa pesanan saya terkonfirmasi untuk 3 malam, yakni tanggal 3 - 6 September dengan harga 95 Euro alias sekitar 1.450.000 (satu juta empat ratus lima puluh ribu) rupiah per malam, sudah termasuk sarapan untuk 2 orang. Harga tersebut jauh lebih murah dari harga per malam kamar Hostel Dam di Amsterdam. Saya senang dengan hotel bintang 3 ini karena lokasinya yang sangat dekat dengan stasiun Metro Puerta de Sol (SOL) yang adalah pusat kota Madrid. Hotelnya juga sangat nyaman dengan staf yang ramah dan kamar yang lumayan luas dan bersih dengan tema hitam putih.     

Selain bukti pemesanan hotel, saya juga melengkapi dokumen pengurusan visa saya dengan bukti tiket pesawat dan kereta. Untuk Jakarta London, Madrid Jakarta telah tersedia tiket Emirates. Untuk perjalanan London, Paris dan kota-kota lainnya sampai dengan Amsterdam telah tersedia surat keterangan dari Expat Explorer. Untuk itu, saya masih harus melengkapi tiket perjalanan Amsterdam ke Barcelona dan Barcelona ke Madrid. Untuk perjalanan Amsterdam - Barcelona saya memutuskan menggunakan pesawat yang waktu tempuhnya lebih singkat dibandingkan menggunakan kereta, yakni 2 jam 10 menit. Berbagai pilihan maskapai tersedia untuk rute Amsterdam - Barcelona. Setelah meneliti beberapa maskapai dengan tawaran harga masing-masing, akhirnya saya memutuskan menggunakan pesawat Vueling Air yang merupakan salah satu maskapai tiket murah di Eropa. Tiket saya pesan online di www.vuelingair.com. Tiket sekali jalan dari Amsterdam ke Barcelona pada saat itu adalah 91 Euro atau sekitar 1.400.000 (satu juta empat ratus ribu) rupiah. Sedangkan untuk perjalanan Barcelona - Madrid dan Madrid - Cordoba PP, saya memilih menggunakan kereta cepat yang tiketnya saya pesan online di www.raileurope.com/asean. Tiket Barcelona Madrid adalah 110,7 Euro atau sekitar 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu) rupiah. Melancong ke Cordoba saya lakukan dari Madrid. Karena itu, saya membeli tiket kereta PP Madrid Cordoba. Saya berangkat pagi hari jam 7.30 dari Madrid, lalu kembali pada malam hari jam 8.30. Tiket kereta PP untuk perjalanan ini seharga 95,45 Euro atau sekitar 1.450.000 (satu juta empat ratus lima puluh ribu) rupiah.

BERSAMBUNG


Sabtu, 16 November 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: Keputusan Melancong Sendiri Atau Menggunakan Tour.

Untuk memperhitungkan kebutuhan biaya perjalanan, maka saya mulai mencari informasi urusan tiket, hotel dan visa. Visa harus diurus di dua kedutaan,  yakni Kedutaan Inggris untuk masuk ke London dan visa Schengen di kedutaan salah satu negara Uni Eropa. Untuk visa Schengen, saya memiliki dua pilihan yakni ke Kedutaan Italia atau Spanyol sebagai negara yang telah pernah saya kunjungi di tahun 2011. Pertimbangannya adalah bahwa karena saya telah pernah berkunjung ke negara-negara tersebut, maka pengurusan visanya akan lebih mudah daripada ke negara yang belum pernah saya kunjungi. Setelah meneliti semua persayaratan, termasuk biaya pengurusan visa, akhirnya saya memutuskan mengurus visa ke Kedutaan Italia karena biayanya lebih murah dibandingkan ke Kedutaan Spanyol.

Pengurusan visa dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melalui agen perjalanan atau mengurus sendiri. Pengurusan melalui agen perjalanan akan lebih mahal, karena harus membayar jasa agen perjalanan tersebut. Namun tentunya akan lebih mudah dalam memenuhi semua persyaratan yang diminta pihak kedutaan. Untuk itu, saya terlebih dahulu mendatangi beberapa agen perjalanan seperti Dwidaya Tour, Anta Tour dan Bayu Buana untuk menanyakan persyaratan dan biaya-biayanya. Saya lalu membandingkan biaya pengurusan dari ketiga agen perjalanan tersebut yang satu sama lain besarnya berbeda-beda untuk pengurusan visa ke negara yang sama. Selain itu, saya juga mencari infomasi online ke website kedutaan Italia dan Inggris untuk mengetahui persyaratan dan biaya yang dibutuhkan dalam pengurusan visa tersebut. Setelah memperhitungkan dan mempertimbangkan semua informasi yang terkumpul, saya akhirnya memutuskan untuk mengurus sendiri visa ke Kedutaan Inggris dan Italia. Untuk itu, saya terlebih dahulu melengkapi semua persyaratan yang diminta - yang pada dasarnya sama untuk kedua kedutaan tersebut, yakni :
- Surat keterangan kerja dari kantor. Dalam surat tersebut harus tercantum, posisi / jabatan serta periode kerja dari bulan / tahun berapa sampai dengan berapa.
- Copy buku tabungan aktif selama 3 bulan dengan minimal tabungan 50 juta rupiah
- Surat keterangan dari bank tempat menabung yang menyatakan saya adalah nasabah bank tersebut yang memiliki tabungan dengan nomor ... dan telah menjadi nasabah sejak tahun...
- Rekening koran tabungan / copy print out buku tabungan 3 bulan terakhir untuk membuktikan bahwa rekening tersebut aktif digunakan
- Copy bukti reservasi hotel
- Copy bukti tiket pesawat dan kereta - jika menggunakan kereta antar negara di Eropa
- Passport yang masih aktif minimal selama 6 bulan ke depan
- Surat asuransi perjalanan - yang besar asuransinya sesuai dengan lama waktu kunjungan. Makin lama waktu kunjungan, biaya asuransinya juga makin besar. Surat ini dapat dibeli di agen-agen perjalanan
- Copy Kartu Keluarga
- Pas foto terbaru ukuran 3 x 4cm dengan latar belakang putih - ada petunjuk khusus di website tentang ini.
- Formulir aplikasi visa yang telah diisi lengkap dan ditandatangani. Formulir aplikasi Kedutaan Italia diunduh dari website lalu diisi dan diserahkan bersama persyaratan lainnya. Untuk Kedutaan Inggris, formulir aplikasi diisi online sampai selesai. Pada saat selesai, akan ada instruksi untuk print out aplikasi tersebut guna dibawa pada saat penyerahan aplikasi dan semua persyaratan lainnya.

Setelah mendapatkan persyaratan tersebut, saya mulai sibuk mengumpulkan satu demi satu dokumen yang dibutuhkan. Urusan tabungan sangat krusial karena ketersediaan dana di tabungan belum sampai 50 juta sebagai batas minimal yang sekaligus dapat meyakinkan pihak kedutaan untuk menyetujui aplikasi visa. Urusan surat keterangan kantor sangat mudah, karena kantor telah terbiasa memberikan surat keterangan bagi staf yang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Setelah memikirkan bagaimana mempercepat jumlah tabungan agar segera dapat memenuhi persyaratan, saya melakukan penghematan belanja bulanan dan juga menjajaki peminjaman dana tunai tanpa bunga ke penyedia kartu kredit yang saya gunakan.

Pendek cerita, syarat jumlah dana yang dibutuhkan telah terpenuhi. Namun, saya tidak buru-buru mengajukan aplikasi, karena selain persyaratan lain yang juga penting seperti tiket pesawat, kereta dan reservasi hotel belum tersedia, jika tabungan yang telah memenuhi syarat tersebut tidak aktif, justru akan menimbulkan kecurigaan petugas yang memeriksa copy buku tabungan pada saat aplikasi diajukan. Sudah menjadi cerita umum, bahwa banyak orang memenuhi persyaratan tersebut dengan cara meminjam duit salah satu anggota keluarga atau teman yang ditransfer ke tabungannya, kemudian pemegang rekening mengurus surat keterangan dan rekening koran untuk membuktikan ketersediaan dana, lalu dana yang dipinjam ditransfer balik ke rekening pemberi pinjaman - yang mana sering menimbulkan kecurigaan petugas pengurusan visa sehingga visa yang seharusnya diperoleh dalam periode waktu 10 hari bisa menjadi berbulan-bulan atau bahkan lebih buruk lagi ditolak. Karena itu saya tidak terburu-buru mengajukan aplikasi visa karena selain masih mengurus tiket dan reservasi hotel, tanggal melancong pun masih 3 bulan yang akan datang, yakni pada minggu ketiga Agustus sampai dengan minggu kedua September. Pada periode tersebut, saya pun mulai mencari tiket dan reservasi hotel.

Untuk urusan tiket pesawat, saya mencarinya melalui beberapa website, yakni www.kayak.com untuk perjalanan Jakarta - London - Madrid - Jakarta. Melalui website tersebut, langsung ada penyaringan dari harga termurah sampai dengan harga termahal. Namun ada masalah karena tidak semua maskapai dengan tiket termurah melayani rute yang saya inginkan. Saat pencarian dilakukan, muncul dua kandidat maskapai, yakni China Airlines dan Philippine Airlines sebagai yang termurah dengan rute Jakarta London PP. Hal ini tidak menguntungkan bagi saya, karena jika memutuskan menggunakan salah satu dari kedua maskapai tersebut, maka perjalanan saya harus pergi dan pulang dari London. Padahal saya ingin pergi ke London, Inggris dan baliknya dari Madrid, Spanyol. Jika akan tetap menggunakan salah satu maskapai tersebut, maka saya terpaksa hanya bisa membeli tiket sekali jalan, lalu balik ke Jakarta dari Madrid harus membeli tiket maskapai lain yang memiliki rute Madrid - Jakarta. Masalah kedua, dari segi harga, kedua maskapai tersebut menawarkan harga termurah dibanding maskapai lainnya. Namun, waktu tempuhnya lebih lama. Contoh jika menggunakan Emirates atau Etihad, waktu tempuh Jakarta - London adalah 16 dan 17 jam, sedangkan jika menggunakan China Airlines atau Philippine Airlines, waktu tempuhnya 36 dan 21 jam. Dengan harga tiket lebih mahal dengan waktu tempuh 18 jam 36 menit, pilihan ketiga adalah Malaysia Airlines.

Dalam masa pencarian tiket ini, secara kebetulan saya menemukan link suatu penyedia jasa tour Eropa bernama expatexplore (www.expatexplorer.com) yang menawarkan beberapa paket perjalanan ke kota-kota di Eropa dan Timur Tengah. Saya kemudian mempelajari paket-paket yang ditawarkan lalu membandingkannya dengan tempat-tempat wisata dan kota-kota yang akan saya kunjungi. Karena tertarik, saya lalu memutuskan mengontak agen perjalanan tersebut yang beralamat di London. Oleh karena secara fisik, agen perjalanan yang menawarkan tour tersebut tidak bisa dikunjungi secara langsung, maka saya melakukan komunikasi intensif dengan pihak Expat Explorer. Saya juga mencari informasi pembanding melalui google dan facebook untuk memastikan bahwa agen dan paket yang ditawarkan bukanlah suatu penipuan.

Dalam masa komunikasi tersebut yang berlangsung selama 3 minggu, saya juga mulai menghitung semua biaya yang akan saya keluarkan jika saya melakukan perjalanan sendiri tanpa tour. Tentu saja pilihan perjalanan sendiri atau bersama tour akan ada konsekuensi-konsekuensinya. Perjalanan sendiri akan memiliki keasyikan tersendiri karena bisa bebas mengatur waktu dan tempat yang akan dikunjungi. Jika melakunnya bersama tour, maka kebebasan waktu dan tempat sepertinya tidak diperoleh. Setelah berkomunikasi intensif dengan pihak expatexplorer, termasuk pembiayaan, hotel, tempat wisata, kota-kota yang akan dikunjungi yang saya bandingkan dengan perhitungan jika saya melakukannya sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk mengabungkan antara melancong sendiri di beberapa kota dan mengikuti tour dari Inggris ke beberapa kota lain. Pertimbangannya adalah dengan mengikuti tour, maka saya tidak akan kehabisan waktu saat tiba di suatu kota untuk urusan hotel dan transportasi. Pengalaman pertama saya saat ke Italia dan Spanyol adalah waktu habis untuk mencari transportasi, termasuk ke stasiun kereta (Metro) dan juga mencari alamat hotel yang telah dipesan online. Dengan mengunjungi belasan kota sekaligus, dapatlah dibayangkan waktu yang harus saya habiskan untuk mendapatkan transportasi yang sesuai dan hotel yang telah saya pesan di kota-kota yang saya kunjungi.

Setelah mempelajari berbagai paket yang ditawarkan, akhirnya saya memutuskan mengambil salah satu paket. Namun karena paket tersebut tidak melewati beberapa kota di Inggris dan Spanyol yang saya rencanakan untuk kunjungi, akhirnya saya memutuskan menggabungkan keduanya yakni melancong menggunakan jasa tour ke Perancis, Swiss, Italia, Vatikan, Jerman dan Belanda. Sedangkan melancong ke Inggris (London) dan Spanyol saya lakukan dan urus sendiri. Karena saya telah pernah melancong ke Madrid, Sevilla dan Granada pada tahun 2011, maka saya cukup percaya diri mengurus dan melancong sendiri ke Barcelona, Cordoba dan Madrid di Spanyol serta London di Inggris. Dengan demikian, saya akan memiliki dua pengalaman berbeda dalam perjalanan kali ini. Melancong menggunakan tour dari Eropa tentunya akan mempertemuakan saya dengan orang-orang lain dari berbagi negara yang bersama sama melakukan perjalanan tersebut.

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...