Kamis, 14 November 2013

JALAN-JALAN KE EROPA BARAT: London (Inggris), Paris Perancis), Jungfrau, Interlaken dan Wilderswil (Swiss), Pisa, Florence, Roma dan Venice (Italia), Vatikan (Vatikan), Munich dan Boppard (Jerman), Schaans, Vollendam dan Amsterdam (Belanda), Barcelona, Madrid dan Cordoba (Spanyol)

Tulisan Pertama : RISET KOTA-KOTA YANG AKAN DIKUNJUNGI

Sejak kecil saya sangat suka pelajaran sejarah, terutama sejarah kerajaan-kerajaan di berbagai belahan dunia, Indonesia tentunya merupakan bagian dari kesukaan tersebut. Sebutlah Kerajaan Samudera Pasai, Sriwijaya, Majapahit dan seterusnya. Kesukaan tersebut berkembang juga ke arsitektur bangunan candi, gereja, katedral, masjid, istana dan lainya yang dibangun bersama perjalanan kerajaan-kerajaan tersebut. Kesukaan tersebut terus berkembang menjadi obsesi untuk melihat langsung berbagai arsitektur bangunan yang diwariskan dalam perjalanan sejarah. Obsesi tersebut semakin kuat saat telah bekerja dan memiliki duit sendiri untuk nonton film ataupun membeli dan membaca berbagai buku berbentuk novel yang memiliki setting sejarah.

Pada tahun 2011 saya berkesempatan berkunjung ke Italia pada bulan Juni dan Spanyol pada bulan Oktober untuk urusan pekerjaan. Oleh karena aturan kantor memungkinkan untuk memperpanjang waktu kunjungan dengan biaya sendiri, maka saya memutuskan mengambil cuti dan memperpanjang waktu kunjungan saya di Roma, Sevilla, Granada dan Madrid. Perjalanan tersebut membuat saya jatuh cinta pada kota-kota Eropa yang memiliki sejumlah warisan bersejarah yang masih sangat terpelihara dengan baik. Kondisi yang sangat bertolak belakang dengan Indonesia - yang cenderung menghancurkan dan mengganti bangunan-bangunan bersejarah dengan perkantoran, pusat perbelanjaan maupun perumahan.

Sejak kunjungan ke Italia dan Spanyol tersebut, saya semakin terobsesi untuk mengunjungi kota-kota lain di Eropa. Rencana kunjungan pun tersusun di kepala. Namun, tentunya dana harus tersedia cukup karena saya merencanakan untuk mengunjungi sebanyak mungkin kota dan tempat saat mendapatkan cuti kantor. Untuk itu, selain menabung setiap bulan, saya mulai melakukan riset terhadap kota-kota di Eropa yang akan saya kunjungi. Pertanyaannya kemudian, mengapa kota yang dikunjungi? mengapa bukan desa atau pantai atau wilayah-wilayah pegunungan yang sangat disukai oleh pelancong lainnya. Saya lebih suka mengunjuni kota-kota Eropa dengan pertimbangan facilitas transportasi dan penginapan yang mudah diakses dan digunakan serta kebanyakan warisan bangunan seperti katedral, puri, benteng dan istana terletak di kota-kota Eropa saat ini. Sebutlah misalnya Colosseum di Roma yang merupakan tempat pertandingan Gladiator pada masanya - terletak di kota. Demikian juga seperti Roman Forum, Air Mancur Trevi - semuanya terletak di Kota Roma. Akses ke tempat-tempat wisata tersebut juga sangat mudah menggunakan bus ataupun kereta (Metro) - tentunya dengan harga murah untuk ukuran Eropa, namun mahal untuk ukuran Indonesia.

Karena ingin mengunjungi Eropa lagi, terutama kota-kota di wilayah Eropa Barat, maka saya mulai menabung sejak tahun 2012. Saya juga melakukan riset online terhadap obyek-obyek wisata, sarana transportasi udara, darat dan laut, cara menggunakan alat-alat transportasi tersebut, rute dan waktu tempuh dari hotel ke tempat-tempat wisata, fasilitas pendukung lain yang untuk tujuan tersebut. Iklim dan perubahannya di kota-kota yang akan dikunjungi juga saya pelajari dari informasi online. Semuanya saya lakukan dalam waktu 4 bulan karena saya cicil di akhir pekan atau malam hari. Kadang riset malam hari di rumah saya lakukan hingga subuh, apalagi saat menemukan informasi menarik yang memiliki tautan (link) ke berbagai website lain. Informasi tersebut langsung saya cari dan pelajari sehingga tidak hilang karena lupa di esok hari. Namun, kadang kala fisik tidak mendukung untuk meneruskan pencarian informasi di tautan yang diperoleh. Untuk itu, tautan tersebut saya catat dan mulai akses pada riset hari berikutnya. Dari riset obyek-obyek wisata dan fasilitas pendukung untuk turis di berbagai kota di Eropa Barat, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi London (Inggris), Paris (Perancis), Jungfrau (Swiss), Roma, Pisa dan Venice (Italia) dan Vatikan serta Amsterdam (Belanda) dan Madrid, Cordoba serta Barcelona (Spanyol). Selain mempelajari informasi yang tersedia di web kota-kota atau obyek-obyek wisata di kota-kota tersebut, saya juga mempelajari informasi yang tersedia di wikipedia yang cukup lengkap. Saya juga mengunduh berbagai aplikasi perjalanan berbayar maupun gratis yang tersedia di Aple - termasuk peta-peta digital untuk mulai memperhitungkan jarak dan kebutuhan waktu di setiap kota yang akan dikunjungi.

Dalam pelaksanaannya ternyata saya melancong ke 18 kota di 8 negara alias lebih banyak dari rencana. Kota dan negara yang saya kunjungi pada Bulan Agustus sampai dengan September 2013 tersebut terdiri dari London (Inggris), Paris (Perancis), Jungfrau, Interlaken dan Wilderswil (Swiss), Pisa, Florence, Roma dan Venice (Italia) serta Vatikan, lalu Munich dan Boppard (Jerman), Schaans, Vollendam dan Amsterdam (Belanda), Barcelona, Madrid dan Cordoba (Spanyol).

Setelah memtuskan tempat-tempat wisata di kota-kota yang akan saya kunjungi, saya melakukan analisis cara mengunjungi kota-kota tersebut dan memperhitungkan kebutuhan biaya yang terdiri dari transportasi, akomodasi, konsumsi, tiket masuk, souvenirs dan oleh-oleh. Oleh-oleh merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia. Karena itu, jika mengunjungi suatu tempat tanpa membawa oleh-oleh untuk orang-orang terdekat, suatu perjalanan terasa tak bermakna.

BERSAMBUNG


Sabtu, 26 Januari 2013

KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK MENUJU TATA KELOLA INDONESIA YANG BERSIH DAN BAIK

Informasi publik merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan demoktratisasi penyelenggaraan pemerintahan dan Negara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Keterbukaan informasi publik dari lembaga-lembaga publik memberikan akses kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan Negara, terutama layanan publik yang menyangkut hayat hidup orang banyak, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan.  Keterbukaan informasi publik merupakan salah satu indikator kehadiran Negara demokratis yang memberikan akses kepada semua pihak untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan Negara – yang mana momentum tersebut untuk Indonesia telah dimulai dengan bergulirnya reformasi tahun 1997–1999. Momentum sosial politik tersebut mendapatkan pengesahan legal melalui pemberlakukan Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.  Melalui UU tersebut, badan-badan publik memiliki kewajiban menyediakan informasi bagi publik, baik diminta maupun tidak sedangkan publik memiliki hak untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dan diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemberlakukan UU tersebut melengkapi berbagai peraturan perundang-undangan yang diberlakukan, antara lain UU, 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia – untuk mendukung dan menegakan penerapan demokratisasi penyelengaraan pemerintahan dan Negara seiring dengan menguatkan pengarusutamaan penerapan nilai dan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance) yang mengikutsertakan akuntabiliti dan partisipasi dalam penyelenggaraan Negara dan pemerintahan, termasuk dalam hal pelayanan publik. Melalui UU tersebut, masyarakat memiliki basis hukum untuk mengakses informasi yang dibutuhkan dari lembaga-lembaga publik . Gani Bazar, dalam Kompasiana menulis”good governance pastilah bercirikan; adanya keterlibatan masyarakat dalam membuat suatu kebijakan publik, penegakan hukum yang adil tanpa pilih kasih, transparansi yaitu membangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi,reponsiveness dimana lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani kepentingan masyarakat dan berorientasi kepada kepentingan masyarakat, equity berarti setiap masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan,efficiency dan effectiveness dimana pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara berdaya guna dan berhasilguna, accountability bertanggung jawab kepada pihak atas setiap kegiatan yang telah dilakukan, memiliki visi yang jauh kedepan untuk menjangkau kenerja yang baik”.
Dalam suatu slide presentasi yang dimuat pada laman http://informasipublik.jogjaprov.go.id dikemukakan bahwa keterbukaan informasi merupakan “bagian dari hak azasi, syarat utama untuk pemberantasan korupsi, keharusan dalam paham pemerintahan terbuka (open government)”. Sebagaimana diketahui bersama bahwa korupsi merupakan salah satu masalah besar bangsa ini yang perlu diselesaikan secara sosial, politik dan juga hukum. Berbagai upaya pelamahan keberadaan KPK yang berseberangan dengan menguatnya dukungan publik terhadap lembaga tersebut dari berbagai lapisan masyarakat, seperti para tokoh agama, akademisi, praktisi hingga para tukang bakso dan kuli bangunan yang mendonasikan natura bagi pembangunan gedung KPK mengindikasikan kuatnya dukungan publik terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dimotori KPK.
Korupsi merupakan masalah laten dan akut bangsa dan Negara Indonesia. Berbagai modus korupsi dilakukan oleh berbagai elemen yang telah menggerogoti uang rakyat dan Negara yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBN). Korupsi telah terjadi di semua sektor dan semua lini sejak perencanaan (planning), pengadaan (procurement) hingga pelaksanaan (implementation). Proses hukum yang telah dan sedang dilakukan terhadap berbagai pejabat pemerintah, Negara hingga politisi menunjukan bahwa pencegahan dan pemberantasan korupsi membutuhkan komitmen, soliditas lintas pihak, kerja keras dari hulu hingga hilir sampai dengan hukuman yang memberikan efek jera.
Selain pemberantasan korupsi melalui proses hukum yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang ada dengan memaksimalkan fungsi dan peran KPK serta lembaga-lembaga penegak hukum lain, seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Peradilan. Seiring dengan itu, upaya pencegahan juga harus terus menerus dilakukan dan dimaksimalkan. Pendidikan publik melalui media dengan memberitakan secara konsisten temuan-temuan korupsi dan juga proses hukum terhadap para koruptor, menjadikan korupsi sebagai bagian dari kurikulum serta transparansi anggaran merupakan bentuk-bentuk pencegahan perbuatan korupsi.
Transparansi anggaran yang merupakan bagian dari keterbukaan informasi publik dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya dengan mempublikasikan APBN dan APBD di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota secara regular, memberikan akses kepada public yang ingin mengakses informasi anggaran yang dibutuhkan, menyediakan informasi online melalui website tentang program dan/atau proyek-proyek yang dilakukan oleh instansi/lembaga bersangkutan beserta dana yang dialokasikan dan yang diserap, dan berbagai cara lainnya sebagai perwujutan komitmen masing-masing pihak untuk tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih.
Melalui transparansi anggaran, publik dapat ikutserta dalam mengawasi perencanaan alokasi dan penggunaan dana-dana pembangunan yang bersumber dari APBN dan APBD maupun hibah yang telah dicatat dalam APBN dan APBD. Keterlibatan publik dalam aspek tersebut dengan sendirinya akan meminimalkan upaya-upaya koruptif dari para pejabat dan/atau pegawai yang terkait pada perencanaan dan penggunaan dana-dana tersebut. Keterlibatan publik akan meningkatankan rasa tanggungjawab para pemegang kuasa dan pengguna anggaran untuk menggunakan alokasi dana secara bertanggungjawab sesuai peraturan perundang-undangan. Dengan keterlibatan publik, maka penyimpangan penggunaan anggaran akan terdeteksi secara dini sehingga dapat meminimalkan jumlah yang dikorupsi sekaligus dilakukan upaya pemberantasan. Dengan demikian alokasi anggaran digunakan sesuai rencananya untuk pemberantasan kemiskinan demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Konsistensi keterlibatkan publik dalam rencana alokasi dan penggunaan anggaran dalam jangka panjang akan membentuk budaya tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik demi kemakmuran bangsa dan Negara sebagaimana diamanatkan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dan Sila Kelima Pancasila. 

Kamis, 22 November 2012

Palangkaraya : Primum and Optimum Remidium

22 November 2012
Sejak kemarin mendengarkan para profesor mengajar para peserta pelatihan, ilmu hukum saya berkembang dengan sendirinya. Prof Muladi, Prof Takdir, Prof Asep, dan sekarang Prof Komariah pada topik tindak pidana korporasi. Korporasi sebagai suatu badan hukum memiliki tanggungjawab sebagai suatu subyek hukum yang harus dimintai pertanggungjawabannya jika perusahaan tersebut melakukan tindak pidana.

Lalu siapa yang harus bertanggunjawab dalam suatu tindak pidana. Semua profesor tersebut sependapat dan sekata. Yang diminta pertanggungjawabnya di depan hukum adalah Dewan Direksi perusahaan yang melakukan tindak pidana. Setiap kebijakan yang diambil oleh suatu korporasi atau perusahaan tanpa memperhitungkan akibat yang ditimbulkan - maka perusahaan tersebut telah melakukan KELALAIAN yang dapat diminta pertanggungjawaban hukumnya. Kelalaian merupakan suatu ketidak hati-hatian tanpa unsur kesengajaan. Pada saat kerusakan terjadi merupakan delik formal, cara membuktikannya merupakan delik materil. Untuk itu, hakim diminta untuk mempelajari semua teknik-teknik pembuktian.

Primum remidium merupakan suatu senjata yang paling ampuh saat ini sampai beberapa tahun ke depan, sampai adanya efek jera. Menurut sang prof. dari pengamatannya dia melihat bahwa keputusan-keputusan yang dijatuhkan tidak belum pernah memenjarakan para pelaku kejahatan lingkungan. Denda yang dijatuhkan pun sangat ringan dibandingkan dengan eksploitasi yang telah dilakukan dan dampak kerusakan yang terjadi.

Primum remidium yakni pemidanaan terhadap para pelaku kejahatan, terutama lingkungan hidup, kehutanan dan lahan gambut seharusnya menjadi patokan satu-satunya dalam penuntutan JPU dan pertimbangan keputusan oleh para hakim. Optimum remidium sudah harus dikesampingkan dari proses-proses perkara pidana kejahatan kehutanan dan lingkungan hidup, korupsi, pencucian uang dll tindak pidana lain sejenis.

Namun, mainstream peraturan perundang-undangan saat ini masih menganut prinsip optimum remidium (pidana merupakan pilihan terakhir setelah upaya-upaya lain tidak efektif). Hal mana menunjukan bahwa para pemikir di balik peraturan perundang-undangan tersebut - yang lalu terejahwantahkan dalam draf peraturan peundang-undangan. Setali tiga uang, para anggota parlemen yang membahar aturan perundang-undangan tersebut juga tidak jeli melihat prinsip tersebut saat pembahasan di parlemen sehingga meminta dilakukan perubahan ke pemerintah yang mengusulkan draf aturan2 tersebut.

Bravo proffessors - all of you are very progressive - ga sia-sia nie habisin waktu ngurus manajemen training yang cukup lama :)

Selasa, 20 November 2012

Palangkaraya - Kota Cantik Nan Sepi

20 November 2012
ini hari ke enam, saya berada di Palangkaraya - Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Keberadaan saya di kota ini cukup lama, yakni dari tanggal 15 - 26 November 2012, karena bagian dari tugas, fungsi dan peran saya sebagai Koordinator Kelompok Kerja Kajian Perundang-Undangan dan Penegakan Hukum REDD+ - yang adalah salah satu proyek UNDP dalam kemitraan dengan UKP4.

Setelah vacum selama 2 bulan lebih sejak selesai memegang posisi sebagai Project Manager ART GOLD Indonesia - yang juga adalah salah satu proyek UNDP, saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai Koordinator Kelompok Kerja di SATGAS REDD+ which is scope of workngya lebih sedikit dari AGI. Namun karena membutuhkan pekerjaan guna mendapatkan duit menyelesaikan interior apartemen saya, maka tanpa banyak negosiasi, tawaran gaji yang lebih rendah saya terima dan langsung bekerja.

Awalnya saya melamar sebagai Project Manager SAJI. Sayangnya saya bukan bagian dari lingkaran dalam orang-orang Governance Unit. SAJI berada di bawah Governance Unit (GU) UNDP, usaha saya mendapatkan posisi sebagai PM di proyek tersebut tidak berhasil karena saya melakukannya sesuai aturan dan prosedur, tanpa melakukan PDKT ke orang-orang tertentu di GU yang menangani proyek tersebut. Saya tahu bahwa saya adalah the second best candidate yang lolos seleksi berdasarkan informasi informal. Pilihan pertama adalah preference DGU, namun candidate pertama tidak setuju dengan tawaran GU. Dengan mundurnya candidate pertama yang sangat disukai oleh orang-orang GU, maka terbuka peluang bagi saya sebagai kandidat 2 dan seorang lagi sebagai kandidat ke 3. Setelah menunggu hampir 2 bulan, akhirnya saya mendapatkan khabar dari HR bahwa saya tidak lolos seleksi.

Informaly saya mendapatkan informasi bahwa ketidaklolosan saya tersebut disebabkan oleh sikap dan perilaku saya yang tidak disukai oleh orang2 GU karena terlalu kaku dalam menerapkan aturan2 UNDP. Saya tidak bisa melakukan kompromi dan mentoleransi hal-hal yang bertentangngan dengan nilai, prinsip, aturan dan prosedur UNDP. Hal mana sering menimbulkan kesulitan dalam hubungan dengan pihak luar, terutama aparat pemerintah pusat yang menjadi mitra kerja terdekat proyek-proyek UNDP. Padahal kelancaran pelaksanaan proyek-proyek tersebut sangat tergantung pada relasi dan kompromi-kompromi yang bisa dilakukan. Karena saya adalah kandidat yang tidak disukai oleh user (pengguna) akhirnya posisi tersebut dibekukan dan diiklankan ulang yang lalu mendudukan salah seorang Program Officer di GU sebagai Project Manager proyek tersebut sampai dengan saat ini. Tentu saja hal tersebut sah-sah saja karena telah melewati proses dan prosedur, hanya jika dibandingkan dengan pengalaman kerja saya selama 20 tahun dan kualifikasi saya, rasanya sangat tidak adil dan proses rekrutmen tersebut jauh dari penerapan nilai serta prinsip-prinsip akuntabilitas dan tranparansi yang dianut dan dipromosikan oleh UNDP. Sangat disayangkan bahwa nepotisme dan kolusi seperti itu mencemari nilai dan prinsip2 yg dipromosikan oleh UNDP.

Saya lalu melamar posisi Working Group Coordinator di SATGAS REDD+ yang diiklankan di website UNDP. Tanpa mengenal satu pun orang di proyek tersebut dan juga tanpa katabelece apapun, akhirnya saya lolos seleksi dan ditempatkan sebagai Koordinator Working Group Legal Review and Law Enforcement. Working Group ini memiliki 2 kegiatan utama, yakni Kajian Peraturan Perundang-undangan dan Penegakan Hukum terhadap kasus-kasus yang terkait dengan pelaksanaan INPRES 11/2010 tentang Moratorium. Tugas, peran dan tanggungjawab utama saya adalah memastikan kelancaran kegiatan2 Kelompok Kerja yang secara administrasi dan manajemen sesuai dengan aturan dan prosedur UNDP. Dari 2 pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa penerapan nilai dan prinsip2 tranparansi dan akuntabilitas dalam proses rekrutmen sangat tergantung pada para pengambil keputusan di proyek dan unit-unit yang membawahi proyek-proyek tersebut. Jika para pengambil keputusan tersebut memiliki komitmen dan tekat serta konsistensi menerapkan nilai dan prinsip2 akuntabilitas dan transparansi, maka proyek akan bebas dari kolusi dan nepotisme. Namun, jika sebaliknya yang terjadi, maka telah dapat dipastikan bahwa proyek-proyek tersebut sejak awal sampai akhir akan penuh dengan kompromi dan toleransi yang melanggar nilai dan prinsip2 UNDP. Buktinya sangat jelas dalam proses lamaran saya ke 2 proyek yang berbeda dengan hasil akhir yang sangat berbeda.

Salah satu kegiatan penting dari Kelompok Kerja ini adalah serial training bagi penegak hukum dan juga serial seminar hakim tentang pendekatan Multi-door. Satu diantara wilayah tersebut adalah Kalimantan Tengah yang dipusatkan di Palangkaraya. Karena latar belakang tersebut, maka saat ini saya berada di Palangkaraya untuk memberi dukungan2 yang diperlukan bagi kelancaran training tersebut.

Selama 6 hari telah berada di kota ini, saya hanya sempat melakukan wisata kuliner dengan mencicipi makanan khas daerah sini, yakni Ikan Jelawat, Ikan Patin dan Ketupat Kandangan. Makanan yang paling saya sukai adalah ikan jelawat, karena sambalnya yang pedas dan enak luar biasa. Saya lupa tempatnya, namun lokasinya terletak di jejeran kios yang menjual berbagai souvenir bagi turis lokal, nasional dan internasional. Selama acara sejak tanggal 17-25, saya dan teman2 serta para peserta, narasumber, pelatih, fasilitator dan lain-lainya menginap di Hotel Swissbel - yang baru beroperasi selama 4 bulan. Satu-satunya hiburan di hotel ini dan mungkin kota ini adalah kolam renang hotel yang saya gunakan hampir setiap pagi. Walau tinggal di hotel dengan segala fasilitasnya, termasuk makan dan minum yang disediakan sejak pagi sampai malam, namun rasanya sangat membosankan. Satu-satunya kegiatan di luar rutinitas pelatihan dan seminar adalah renang di pagi hari di kolam renang hotel yang lumayan besar dibandingkan dengan kolam renang Fitness First GI tempat saya gym hampir setiap hari saat berada di Jakarta.

Pada hari pertama dan kedua, yakni tanggal 15 dan 16 November 2012, saya telah berkeliling kota Palangkaraya. Kota ini lumayan bersih dibandingkan dengan Kota Kupang tempat kelahiran ku dan Kota Jakarta tempat saya tinggal dan bekerja. Jalan-jalan utama sejak airport sampai hotel terlihat bersih dan lancar karena hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang, apalagi di hari libur serasa jalan tol aja jadinya. Sejauh mata memandang, hanya dataran luas yang nampak. sepertinya tidak ada gunung ataupun bukit di sekitar kota ini. Salah satu obyek wisata yang juga harus dilihat adalah orang utan - yang bisa dilihat di tempat rehabilitasinya ataupun di tempat bebas dengan cara menyusuri sungai di pagi hari. Saat saya menulis tulisan ini, obyek wisata tersebut belum sempat saya jajal. Saya juga sempat shopping sehingga akhirnya belanja batik Kalimantan dan juga cincin yang terbuat dari batu. Katanya baru2 tersebut berasal dari Martapura-Kalimantan Selatan. Harganya lumayan sangat murah sehingga seorang teman mencurigai batu2an tersebut sebenarnya plastik, namun setelah saya dicek lagi dengan teliti, emang batu sebenarnya. Akhirnya saya beli bebera baik yang telah berbentuk cincin yang bisa dipakai, maupun masih berbentuk batu yang telah diasah untuk saya gunakan sebagai mata cincin yang akan saya minta buatin saat telah kembali ke Jakarta.

Okay pembaca, cukup sekian saja dulu yach.
nyambung lagi besok atau hari-hari lain yang akan datang.
Salam sukses. Mr. Jo

Rabu, 09 Mei 2012

TOURIST SPOTS in HONGKONG : NGONG PING


Ngantri masuk ke cabel car

Saat tiba hari pertama tanggal 18 Agustus, waktu hanya dihabiskan di seputaran hotel Ibis di North Point untuk ekplorasi tempat makan dan minum, serta kios2 untuk kebutuhan seperti sabun, sampo, air mineral dan sejenisnya, termasuk urusan pulsa telpon. Bagi pengguna Iphone, akan sangat dimudahkan karena hampir seluruh penduduk kota ini menggunakan iphone, terlihat saat di MRT maupun seputaran hotel dan restoran.
Hari kedua tanggal 19, eksplorasi tempat wisata pun di mulai. Ngong Ping, merupakan tempat kunjungan pertama untuk menikmati pertunjukan kungfu Shaolin yang terkenal, sekaligus mengunjungi the Giant Budha. Akses ke tempat wisata ini menggunakan kereta kabel seperti di Taman Mini Indonesia Indah. Dari hotel ke t4 ini menggunakan kereta ke stasiun Tung Chung. Selain terhubung dengan kereta gantung ke Ngong Ping dan the Giant Budha, stasiun ini juga terhubung langsung dengan mall besar tempat barang murah. Banyak turis tumpah ruah ke mall ini berburu barang murah. Karena Hongkong adalah kota tanpa pajak, maka kaos Giordano yang di Jakarta seharga 250an ribu, di mall ini bisa dibeli dengan harga 15-19ribu rupiah. jadinya setelah puas jalan2 ke Ngong Ping, saat balik seklian belanja2.  
Perjalanan ke Ngong Ping via udara sangat mengasyikan. Melewati laut, bukit dan gunung hijau. Bisa melihat kota Hongkong dan the Giant Budha. sekitar 10 menit, kereta tiba di Ngong Ping, keluar dari kereta, langsung masuk ke toko souvenir.

Pada jam tertentu, tersedia juga pertunjukan teater tentang perjalanan Budha, Kungsu Shaolin dan teater kera. Saya hanya sempat menikmati perjalanan Budha dan Kungfu Shaolin. Pengunjung harus membeli tiket di tempat penjualan tiket masuk ke Ngong Ping, jika ingin menikmati teater perjalanan Budha dan Kera. Kungfu Shaolin dilakukan di panggung terbuka yang tidak memerlukan tiket.


the Shaolin Kungfu
 Setelah menikmati pertunjukan2 tersebut, maka perjalanan diteruskan ke the Giant Budha yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Ngong Ping village. Di Ngong Ping juga tersedia toko2 souvenir yang berjejer rapi menjual berbagai produk dan juga restoran. Hebatnya, tidak ada sampah yang bertebaran ataupun bau pesing seperti tempat wisata kota tua di Jakarta. Tempatnya ditata apik, bersih dan teratur. Perjalanan ke Giant Budha cukup menguras energi karena harus mendaki ratusan tangga untuk tiba di puncak.



Keringat dan lelah udah pasti, namun setiba di puncak, betapa luar biasanya pemandang yang tersaji. Sepoi2 angin musim panas bersama dengan cerahnya udara dan pemandangan spektakuler telah menghilangkan kepenatan pendakian. Tak berasa, sore hari pun tiba, saya bergegas kembali ke stasiun, antri masuk ke kereta gantung yang membawa saya kembali ke stasiun kedatangan untuk selanjutnya kembali menggunakan kereta dari Tung Chung ke North Point.

Selasa, 10 April 2012

HONGKONG : Tourist Spots

Saat tiba di hotel, hari telah malam, karena itu saya memutuskan untuk makan malam lalu beristrahat saja. Eksplorasi Hongkong dimulai keesokan harinya tanggal 19 Agustus 2011. Setelah selesai sarapan, saya keluar hotel lalu mulai eksplorasi daerah sekitar hotel di North Point. Selain stasiun kereta yang hanya berjarak beberapa meter dari Hotel, depan hotel juga terdapat terminal bus yang cukup tenang, tidak sesibuk terminal2 bus di Jakarta. Selain terminal, nampak pula dermaga, tempat kapal2 berlabuh, namun saya hanya mengamati saja tanpa masuk dan eksplorasi lebih jauh. Saya juga menjajaki daerah sekitar untuk mengetahui tempat2 belanja kebutuhan sehari-hari, seperti warung-warung kelontong di Jakarta. Ternyata belanja kebutuhan sehari-hari tersebut dapat dilakukan di Seven Eleven yang betebaran di seluruh Hongkong. Belanja di Seven Eleven juga dipermudah dengan menggunakan Octopus Card yang juga digunakan untuk pembayaran tiket kereta, bus dan trem. Sistem pembayarannya telah terintegrasi sehingga memudahkan para pengguna kartu tersebut untuk membayar transportasi publik dan juga belanja kebutuhan sehari-hari di warung-warung kelontong di seantero Hongkong.

Eksplorasi hari 1 tanggal 19 Agustus adalah tempat wisata pegunungan bernama Ngong Ping Hong. Semua tempat wisata alam dan juga belanja di Hongkong terhubung dengan kereta dan juga bus-bus yang nyaman. Kereta adalah moda transportasi yang paling mudah digunakan oleh turis, karena dengan bermodalkan peta Hongkong yang tersedia di Airport, turis dapat berkeliling ke seluruh Hongkong.

Minggu, 04 Maret 2012

Jawaban yang masuk untuk kuis tanggal 28 Februari 2012

Pertanyaan kuis : JIKA BOS MU BAWEL N NYEBELIN, APA YANG KAMU LAKUKAN?. Jawaban yang masuk dari BB dan FB: 1. Berusaha tetap tenang, selalu bersikap profesional dan berusaha untuk tidak bercerita masalah pribadi dengannya. 2. Ketawa 3. Senyum 4. Tonjok 5. Resiggggnnnnnnnnnn 6. Berdoa dan tumpangkan tangan di kepalanya, supaya roh kudus menjamah bos itu. 7. Ajak dia kencan. 8. Ajak bos lunch dengan menu ikan bawal goreng, pasti dia ga bawel lagi karena takut digoreng kayak ikan bawal. 9. Kiss him, abis bos gue ganteng yooooo 10. Berikan dia senyuman dan katakan terima kasih telah bawelin saya. 11. Ditidurin 12. Tetap sabar dan berdoa supaya bos cepat berubah 13. Sumpalin mulutnya dengan makanan sehingga si bos tidak bisa ngomong lagi (diam mulut terkunci) 14. Mengiyakan di depan si bos, setelah itu memaki maki di twiter dan FB 15. Sesekali bos perlu ditegur, please dont be over sir/madam, saya sudah bekerja sesuai kapasitas bagian saya, saya sudah cukup sadar akan kewajiban saya, jadi please talk less, do more for your team, sir/madam. 16. Konsentrasi di pekerjaan saja. Kalo dibawelin, masukin aja telinga kanan, keluar telinga kiri. Kalo bawelnya bermanfaat, baru diambil hikmahnya. 17. Sabar aja, karena hanya bawahan; sabar aja kale yee! 18. Fitness aja saat pulang kerja 19. Tetap giving my best 20. Lakukan aja kerjaan sesuai SOP 'how much i get, how much i give', masa bodoh dia bawel 21. Be the boss to yourself (jadilah bos untuk diri mu sendiri) oleh Rita Jayusman yang menjadi pemenang kuis. Ada beberapa jawaban yang persis sama, sehingga digabung menjadi 1 jawaban saja dalam catatan ini.

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...