Minggu, 05 Juni 2016

JELAJAH INDONESIA. FLORES: Moni, Danau Kelimutu dan Perjalanan ke Ende

Sunrise di puncak Kelimutu
Hanya sapuan angin dingin yang menyapa tubuh saat saya bangun di subuh hari guna bersiap mendaki ke Danau Kelimutu di Puncak Gunung Kelimutu. Saya sikat gigi dan cuci muka lalu mengenakan baju kaos lengan panjang agar bisa menghangatkan tubuh di udara dingin kaki gunung Kelimutu. Desa Moni masih tersekap dalam kelelapan subuh itu. Hanya para pelintas dan pengunjung Danau Kelimutu yang telah terjaga dan bersiap mendaki. Saat saya keluar kamar, om John telah berdiri menanti di pinggir jalan depan bungalownya. "selamat pagi om", sapa saya saat tiba di samping om John. "Pagi bapa", balas om John dalam dialeg Flores.

Sunrise di puncak Kelimutu
Saya melangkah dan bergabung ke dalam kelompok pengunjung yang duduk di tepi jalan trans Flores depan bungalow om John. Kami semua menunggu motor ojek masing-masing. Sepasang bule ikut bergabung dan duduk lesehan bersama kami orang-orang Indonesia di tempat tersebut.  "I am Sarah from Paris, France", kata si bule perempuan saat saya ajak kenalan. Mengetahui Sarah datang dari Paris, saya langsung bercakap-capap dengan dia menceritakan perjalanan saya di Paris dimana saya mengunjungi berbagai tempat terkenal di kota itu, seperti menara Effiel, Jembatan Cinta (jembatan tempat para pengunjung menggantung gembok cinta mereka lalu kunci gembok dibuang ke sungai Seine) - baca catatan perjalanan di Paris : mengapa disebut city of love atau kota cinta yang telah saya tulis dan publikasikan beberapa bulan silam di blog ini.. "Well, they are nothing compared to Indonesia", balas Sarah yang membuat saya terkejut. 'Why, tanya saya penasaran. "You have so many interesting things in Indonesia", kata Sarah. "You have fresh air, tropical forests, amazing lakes, dan masih banyak lagi yang disebut Sarah". Saya hanya mengangguk-angguk mendengar betapa kagumnya Sarah dan mungkin jutaan turis manca negara lainnya pada kekayaan negeri Indonesia.

Sunrise di puncak Kelimutu
Saat para pengojek yang kami tunggu tiba, masing-masing segera membonceng di ojeknya. Sarah dan lelaki pasanganya berboncengan motor sendiri alias tidak menggunakan jasa pengojek. Semua  anggota rombongan yang bertemu subuh itu di pinggir jalan depan bungalow om John beriringan dari desa Moni di kaki Kelimutu menuju danau Kelimutu di puncak gunung Kelimutu. Saya dibonceng Johanes namanya saat kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan. Johanes yang mengenakan sarung Ende saat mengendarai sepeda motor terlihat lincah mengendalikan sepeda motornya. Kami berhenti di depan gerbang dimana saya membeli tiket masuk di loket yang dijaga seorang perempuan. "10.000" rupiah demikian kata penjaga loket saat saya menanyakan harga tiket. Sarah antri di belakang saya. Saya menyodorkan uang 10.000 lalu menerima tiket dan lembar informasi / brosur tentang Danau Kelimutu dan Taman Nasional Kelimutu. "Sarah kaget saat penjaga loket menyebut angka 150.000 rupiah untuk harga tiket bagi orang asing alias Sarah harus membayar 300.000 rupiah bagi dirinya sendiri dan teman lelakinya. Saya melihat Sarah mundur teratur ke pinggir jalan menemui teman lelakinya lalu keduanya bercakap-cakap dalam bahasa Perancis. Sarah menaiki boncengan sepeda motor lalu keduanya kabur ke Danau Kelimutu tanpa membayar tiket masuk.

Setelah menempuh perjalanan 30an menit dari pinggir jalan depan bungalow om John, para pengojek
Petunjuk arah di depan tempat parkir TN Kelimutu
yang membawa para tamu, termasuk saya tiba di parkiran kendaraan berjarak sekitar 1km dari puncak Kelimutu. "Saya tunggu bapak di sini", kata Johanes, pengojek yang membonceng saya dari Moni. "Ok kaka", balas saya beranjak mengikuti pengunjung lain yang mulai berjalan meniti tangga-tangga yang telah dibangun pengelola TN Kelimutu dari pinggir tempat parkir menuju danau tiga warna. Menggunakan cahaya lampu baterai yang selalu tersedia dalam ransel kamera, saya bergegas menyusul lalu meninggalkan para pengunjung lain yang telah berjalan duluan. Anak-anak tangga tersebut berakhir di suatu pertigaan. Saya belok kiri mengikuti tanda panah berjalan di bawah
Menjelang sunrise di puncak Kelimutu
bayangan pohon-pohon cemara yang dibiarkan tumbuh dan meneduhi tepi jalan yang sedang saya lewati. Setelah berbelok beberapa kali, saya tiba lagi di anak-anak tangga lain yang harus didaki menuju puncak gunung Kelimutu guna menikmati terbitnya matahari di atas danau 3 warna. Jika puluhan anak tangga pertama dari parkiran letaknya sedikit datar sesuai kontur lahan, maka anak-anak tangga kedua di depan saya saat ini lebih menantang karena mengikuti kontur lahan terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Saya perlahan mendaki sambil memperhatikan arah Timur yang mulai terang mengawali kehadiran mentari. Goresan jingga kuning di horizon langit terlihat bagaikan lukisan yang makin cerah saat saya tiba di puncak Kelimutu.

Sunrise di puncak Kelimutu
Puluhan orang dari berbagai bangsa telah bertebaran di puncak Kelimutu menunggu sapaan pertama sang surya pagi. Goresan merah jingga di Timur menandai kedatangan dewi pagi semakin meluas bagaikan gelaran permadani bagi langkah-langkah sang dewi. Akhirnya senyuman sang dewi muncul di Timur bersama semakin cerahnya suasana di sekitar puncak Kelimutu. Kabut-kabut pagi yang memeluki jejeran punggung-punggung bukit di sekitar danau 3 warna secara perlahan tersibak dan menghilang seiring makin cerahnya hari karena kehadiran sang mentari pagi. Para pengunjung dan para juru kamera, termasuk saya tak henti mengabadikan pesona keelokan senyuman hangat sang surya pagi berpadu riak-riak danau 3 warna. Angin dingin cukup keras bertiup di puncak Kelimutu sehingga para pengunjung harus menjaga barang-barang ringan mereka, seperti topi, syal dll.

Sunrise di puncak Kelimutu
Setelah puas foto sana dan sini, saya turun dari puncak tugu menuju pagar pembatas ke danau Kelimutu. Saya menyapa dan mengajak ngobrol sejenak seorang pengunjung lelaki mengawali permintaan saya kepada lelaki tersebut memotret diri saya di puncak Kelimutu. Selesai difoto, saya mengucapkan terima kasih lalu beranjak pergi. Saya berjalan perlahan mengeliling puncak bertugu, mengamati tingkah pola para pengunjung dan juga pedagang minuman dan makanan ringan di sekitar tugu puncak gunung Kelimutu.


Danau berwarna hitam 
"Kopi pak?", sapa seorang perempuan paru baya yang mengenakan sarung tenun khas Ende. Saya mengangguk lalu duduk di salah satu anak tangga berjarak setengah meter dari ibu tersebut - yang sibuk membuatkan coffee mix dari kopi sasetan bersama air panas dalam termos yang dibawa ibu itu. Saya menikmati kopi panas dalam pelukan dingin udara puncak Kelimutu bersama pesona keelokan alam sekitar danau 3 warna. Warna air salah satu dari dua danau yang bersisian - hanya dibatasi tebing tinggi diantara keduanya - telah berubah menjadi abu-abu kental dibanding warna hijau daun saat saya bertandang tahun 2014 silam. Dalam jarak sepelemparan batu disisi kanan saya, danau yang lebih kecil dan terpisah jauh dari kedua saudaranya dengan air berwarna kopi bening masih belum berubah. Perhatian para pengunjung terkonsentrasi ke dua danau yang bersisian dibanding danau berwarna hitam yang berssemedi dalam diam dan sunyi di kesendiriannya.

Sunrise di puncak Kelimutu
Saya beranjak meninggalkan puncak saat mentari mulai memanas. Saya susuri satu demi satu ratusan anak tangga dari puncak bertugu ke hamparan datar di ujung anak tangga terbawah. Saya melewati beberapa pedagang kaki lima yang telah menggelar dagangannya di kedua sisi jalan di hamparan datar tersebut. Berbagai jenis minuman dan makanan ringan tersedia, bahkan ada yang menjual kain tenunan Ende dengan harga 300 ribu rupiah. Dalam jarak puluhan meter di sisi kiri saya di atas tebing dua danau yang bersisian terlihat 3 orang bule laki-laki dan 1 perempuan sedang asyik menikmati kedua danau 3 warna dari sisi lain. Saya berbelok ke jalan setapak menuju para bule tersebut. Perempuan bule itu
Sunrise di puncak Kelimutu
duduk mencangklong di pinggir tebing menghadap danau sementara pasangan laki-lakinya memotret perempuan itu dalam berbagai posisi. "Ah, sangat berbahaya, walau terlihat gaya", pikir saya sambil berjalan perlahan-lahan di sekitar tempat tersebut. Kelihatannya pasangan bule perempuan dan laki-laki itu bukan 1 kelompok dengan kedua bule laki-laki paruh baya yang berdiri agak jauh dari pinggiran tebing yang menjadi dinding luar untuk salah satu danau dari 2 danau yang bersisian tersebut. Saya tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang asyik foto-foto sehingga saya meminta tolong salah satu bule laki-laki paruh baya memotret saya menggunakan kamera iPhone saya. Puas menikmati kawasan sekitar danau dari sisi berbeda, saya mengucapkan selamat tinggal bagi kedua bule paruh baya itu sambil beranjak pergi.

Sunrise di puncak Kelimutu
Johanes sedang duduk dan asyik bercakap-cakap dengan beberapa lelaki dan seorang ibu yang  menjual tenunan sekaligus makanan dan miniman ringan di bangunan terbuka yang dibangun di salah satu ujung tempat parkir. Saya tersenyum ke Johanes yang lalu pamitan dari teman-teman ngobrolnya. Sebenarnya saya ingin membeli beberapa kain tenunan Ende yang menurut saya harganya cukup murah, namun saya memiliki uang cash yang sangat terbatas (lihat catatan sebelumnya) - hanya cukup untuk bayar penginapan, jasa ojek PP Kelimutu dan kendaraan ke Ende. Saya tidak menemukan jeringan ATM di desa Moni sehingga saya harus menghemat duit yang ada sampai saya tiba di Kota Ende siang ini.

Pemandian air panas tersembunyi di pemukiman
Saya dan Johanes meninggalkan puncak Kelimutu kembali ke desa Moni. Sepeda motor yang dikemudikan Johanes meliuk-liuk mengikuti kontur jalan yang berkelok-kelok melewati hutan dan sedikit persawahan di kawasan yang agak datar sebelum kami tiba di kaki Kelimutu. Johanes mengajak saya mampir ke satu sumber air panas di salah satu kampung setempat yang letaknya beberapa kilometer dari pertigaan jalan masuk dan keluar ke danau Kelimutu. Motor diparkir dan ditinggalkan di pinggir jalan saat saya mengikuti Johanes masuk ke kampung tersebut. Kami melewati rumah dan halaman rumah penduduk kampung menyusuri jalan semen dengan lebar kurang dari 1 meter menuju pemandian air panas di ujung kampung. Jalan menurun dari pemukiman ke pemandian tidak terlalu jauh dan telah diberi tangga-tangga semen yang masih sangat bagus. Saat kami tiba di pemandian berbentuk kolam persegi empat tersebut hanya ada seorang laki-laki muda yang asyik mandi dan berendam di pemandian tersebut. Saya membasuh muka, kaki dan tangan di saluran yang terletak di atas pemandian dalam jarak sekitar 3 meter. Airnya mengeluarkan utp dengan panas sekitar 60 - 70 derajat celsius dan sangat bening. Saya bertegur
Saluran air panas ke pemandian
sapa sejenak dengan lelaki muda yang sedang mandi dan berendam. "Pemandian ini pernah dibuka untuk umum, namun karena ada masalah diantara pengelola, maka pemerintah desa menutupnya dan hanya digunakan oleh warga kampung", cerita Johanes saat kami perlahan-lahan mendaki tangga-tangga dari pemandian ke pemukiman sampai kami tiba di pingar jalan - tempat kami memarkir dan meninggalkan speed motor.

"Kita mampir beberapa menit untuk melihat hamparan sawah dari ketinggian. Hamparannya sangat bagus sebagai obyek foto, kata Johanes saat sepeda motor melaju kembali ke Moni. "Siap, jawab saya penuh semangat. Tak sampai 5 menit, Johanes membelokan sepeda motor ke kanan jalan melewati jejeran bungalow kecil yang menurut Johanes merupakan penginapan milik pemerintah daerah. Sangat disayangkan, penginapan tersebut tidak terurus dan kelihatan terbengkalai karena halamannya dipenuhi rerumputan dan serakan kayu-kayu dan ranting-ranting. Johanes menghentikan motornya di
Hamparan sawah di kaki gunung Kelimutu
tengah-tengah lokasi tersebut lalu mengajak saya berjalan ke satu pendopo panjang di depan jejeran bungalow yang dipisahkan jalan. Jejeran bungalow mungil dan pendopo tersebut terletak di ketinggian yang menyediakan pandangan ke hamparan sawah dan rumah-rumah di lembah nun jauh di horison. Johanes membawa saya ke sudut kiri pendopo lalu meminta saya naik ke tembok pembatas setinggi dada orang dewasa. Wow, panorama pagi yang tersaji nun jauh di lembah bagaikan permadani hijau nan elok dalam dekapan kehangatan mentari pagi. Indah luar biasa yang hanya bisa dinikmati di lokasi tersebut. Seribu kata-kata indah tak bisa menggambarkan betapa eloknya pemandangan itu. Dalam perjalanan pulang dari lokasi tersebut, saya mensyukuri kasus Mo'at dipanggil pulang (baca catatan sebelumnya). Karina mobil sewaan meninggalkan saya di Moni, akhirnya saya bertemu Johanes yang telah mengenalkan saya ke 2 obyek lain yang tidak ada dalam agenda saya karena kedua obyek tersebut hanya diketahui penduduk setempat seperti Johanes.

Para pengunjung danau Kelimutu di puncak Kelimutu
"Terima kasih om John yang telah mengenalkan saya ke Johanes", kata saya ke om John (baca catatan sebelumnya) - yang saya lanjutkan dengan cerita tentang pemandian air panas dan panorama indah dari ketinggian yang terletak beberapa ratus meter dari pertigaan sekaligus belokan jalan menuju puncak Kelimutu. Om John mendengarkan sambil sibuk menyiapkan makan pagi bagi saya dan tamu lain yang menginap di bungalownya. Para tamu om John didominasi para turis manca negara. Hanya ada saya dan 1 laki-laki lain dari Jogja yang berada di meja makan berama 6 orang bule laki-laki dan perempuan dari negara-negara berbeda. Sarapan kami terdiri dari kue pancake berisi potongan-potongan pisang bersama buah markisa segar dan manis. Saya meminta teh panas ke om John yang segera menyiapkannya lalu meninggalkan kami para tamunya sarapan sambil bercakap-cakap satu sama lain.

Salah satu danau tiga warna
"Mobil masih dalam perjalanan dan sedang terhalang antrian buka tutup akibat ada pengerjaan jalan", kata om John ke saya sebelah saya selesai sarapan karena semalam saya telah meminta om John mencarikan saya mobil lain yang bisa saya sewa mengantar saya dari Moni ke Ende. Saya mengiyakan lalu kembali ke kamar. Saya duduk menuggu di teras kamar sambil membaca berbagai informasi online di HP. "Mobilnya sudah dekat", kata om John dari halaman bungalow yang letaknya lebih rendah sekitar 2 meter dari kamar saya. "Okay", balas saya sambil bergegas ke kamar mengambil koper dan ransel kamera lalu berjalan perlahan menuruni tangga hingga tiba di halaman lalu kembali naik beberapa anak tangga dari halaman ke pinggir jalan. "Bayar 200 ribu ke sopir yach", kata om John sambil mengambil-alih koper saya untuk diletakan di bagasi mobil yang akan saya tumpangi menuju Ende. "Terima kasih om John", kata saya sambil menjabat erat tangannya sebagai salam perpisahan kami.

Pemandangan dari pendopo bungalow yang terbengkalai
Setelah beberapa meter, mobil berhenti dan menaikan 2 turis bule laki-laki dan perempuan. Perempuan bule tersebut duduk di kursi belakang sedangkan pasangan lelakinya duduk bersama saya di kursi tengah. Sopir ditemani seorang lelaki muda duduk di depan. Beberapa puluh meter dari tempat kedua turis manca negara naik, mobil berhenti lagi untuk memberi tumpangan berbayar ke 2 calon penumpang lain yang berdiri di pinggir jalan. Saya mengomeli sopir dan pendampingnya karena mobil kijang yang kami gunakan telah penuh. Mendengar omelan saya,  sopir dan pendampingnya membatalkan renana mereka memberikan tumpangan berbayar lagi. Saya berkenalan dengan kedua turis bule teman perjalanan saya di mobil tersebut. Laki-laki bernama Titus, perempuan bernama Laura. Keduanya
Akhir sunrise di puncak Kelimutu
berasal dari Latvia dan telah mengelilingi dunia selama 2 tahun. Mereka telah menghabiskan 3 bulan di Indonesia, termasuk di Papua dan Sulawesi Selatan. Mereka dalam perjalanan ke Riung di Kabupaten Ngada. Sama seperti saya yang juga akan berganti mobil di Ende menuju Ngada dilanjutkan ke Manggarai dan Labuan Bajo. Namun tujuan saya di Ngada adalah air terjun panas Mengeruda di Soa, tempat ret-ret di Mataloko dan kampung adat Bena. Karena itu saya berpisah dengan Titus dan Laura di Ende saat saya turun dan menunggu dipinggir jalan untuk di jemput Yudi bersama mobilnya yang saya sewa beberapa hari hingga Labuan Bajo.


Bersambung ke NGADA: Negeri Para Pemilik Kopi

Minggu, 22 Mei 2016

JELAJAH INDONESIA. FLORES: Larantuka - Maumere - Moni

Pantai Larantuka di pagi hari
Udara subuh bertiup basah menghadirkan kesegaran saat pintu kamar saya buka di pagi ini. Kamar-kamar hotel berbaris sejajar menghadap halaman kecil penuh aneka bunga yang menyegarkan mata. Saya melangkah keluar kamar, mengunci pintu dan berjalan ke halaman depan yang masih sepi. Sama seperti jalan raya depan hotel yang juga sunyi sepi. Kesunyian yang menarik saya keluar halaman hotel lalu belok kanan menyusuri jalan raya melewati satu jembatan kecil di samping depan hotel. Saya tiba di depan Kapel Semana Santa yang sangat terkenal di dunia sebagai salah satu lokasi prosesi Semana Santa di setiap perayaan Paskah yang dihadiri ribuan umat Khatolik maupun pengunjung dari seluruh dunia.

Di depan Kapel terdapat taman Mater Dolorosa. Patung Bunda Maria
Taman Mater Dolorosa Larantuka
berwarna putih yang sedang memangku anaknya menarik saya memasuki taman yang dipagari namun pintunya terbuka seakan mempersilahkan saya masuk dan mengekplorasi taman tersebut. Taman ini langsung berbatasan dengan Pantai Larantuka yang sedang bermandikan cahaya mentari pagi. Puas mengamati Patung Bunda Maria dan Yesus, saya berjalan perlahan menuju pagar pembatas dengan laut - yang diberi atap. Di bagian ini terpampang foto-foto berbingkai yang disusun dalam suatu rangkaian cerita Jalan Salib dalam kepercayaan dan iman Khatolik. Saya berpindah dari satu foto ke lain foto mengamati-amati dan memotret.

Taman Mater Dolorosa Larantuka
Seorang lelaki muda bersama seorang anak lelaki berusia 4 tahunan berjalan melintasi taman menuju tepi pantai melewati gerbang terbuka di pagar pembatas Taman dengan lautan. "Selamat pagi", sapa saya sambil tersenyum ramah. "Pagi", balas sang lelaki tak kalah ramah. "Bawa jerigen untuk apa pak?, lanjut saya mengajak ngobrol. "Ambil air laut untuk dicampur ke dalam makanan babi", balas si lelaki. "Oh ya, kenapa pak?", tanya saya dalam keinginan-tahuan nan membuncah. "Supaya babinya cepat gemuk", balas si lelaki sambil tersenyum. Saya dan lelaki muda tersebut akhirnya bercakap-cakap sekitar 15 menit sampai saya menyadari telah menyita waktu si lelaki yang harus mengurus ternaknya pagi itu. "Silahkan lanjut pak, saya mo lihat-lihat dan foto-foto di sekitar sini",  kata saya mengakhir obrolan kami sekaligus pamit pada si lelaki dan anaknya. Kami bersalaman lalu berpisah melanjutkan  aktivitas masing-masing. Pesona keelokan laut Flores yang tenang diapit Pulau Solor, Pulau Adonara dan Pulau Flores di Pantai Larantuka tak saya tinggalkan begitu saja. Hidup serasa berhenti di tempat ini. Hanya desau angin yang menyapa ramah bersama senyuman mentari pagi yang mulai menghangat. Saya akhirnya meninggalkan taman Mater Dolorosa kembali ke hotel Lestari setelah puas menikmati dalam semedi keelokan pantai Kota Reinha Larantuka.

Selesai sarapan roti dan teh yang disediakan hotel, saya mandi dan mengepak kembali semua barang ke koper dan tas kamera. Saya meninggalkan kamar kosong yang saya kunci lalu berjalan ke ruang depan menuju resepsionis. Saya menghampiri meja resepsionis menyelesaikan pembayaran lalu duduk menunggu pemilik mobil yang akan saya gunakan menuju Moni di kaki gunung Kelimutu.
Sanrise di ujung Timur Pulau Adonara dari Pantai Larantuka
Setelah telpon-telpon 3 kali, sopir mobil dan seorang pemuda tiba di hotel Lestari. Saya mengajak keduanya masuk ke lobby untuk negosiasi harga. Saya menggambarkan rencana perjalanan jelajah beberapa tempat sepanjang jalan yang akan kami lalui kemudian kami beralih membicarakan harga. Dari harga 1juta per hari, akhirnya kami menyepakati harga 750ribu per hari untuk penggunaan 2 hari.  Saya dan sopir akan bermalam di desa Moni - desa di bawah kaki gunung Kelimutu.  Biaya kamar penginapan dan konsumsi sopir selama bersama saya menjadi tanggungan saya alias tidak masuk dalam kesepakatan sewa seharga 1juta 500 ribu selama 2 hari. Setelah menikmati sunrise di danau 3 warna Kelimutu, mobil akan mengantar saya ke Ende pada hari kedua dimana saya akan melanjutkan perjalanan ke Ngada dengan mobil lain yang juga telah saya pesan melalui telpon. Berganti mobil merupakan cara saya menjaga stamina sopir agar tetap stabil hingga akhir perjalanan saya menggunakan mobil ke Labuan Bajo, Manggarai Barat kemudian berganti kapal kayu menjelajahi Taman Nasional (TN) Komodo.

Ile Mandiri
Saya dan Mo'at - demikian nama sopir pengganti yang mengantar dan menemani perjalanan saya dari Larantuka ke Moni - meninggalkan Kota Larantuka sekitar jam 10 pagi. Saya tahu bahwa Mo'at adalah sebutan umum untuk para lelaki di Kabupaten Sikka - sama seperti sebutan mas di Jawa. Hingga kami berpisah di Moni, Mo'at bersikukuh itulah  namanya - walau saya berusaha mencari tahu nama sebenarnya :). Jalan masih sepi saat mobil menyusuri jalanan yang dibangun menyusuri pantai-pantai indah Kota Larantuka dan Kabupaten Flores Timur yang selalu berada di sebelah kiri bersanding dengan jejeran perbukitan dan gunung berada di kanan sampai kami tiba di wilayah Kabupaten Sikka . Kami akan menempuh perjalanan darat sekitar 200km dari Larantuka ke Moni melewati hamparan elok
Bentang alam perjalanan Larantuka - Maumere
bentang alam Pulau Flores bagian Timur yang sangat luar biasa. Saya dan Mo'at bergerak meninggalkan keramahan Ile Mandiri yang mulai terlihat semakin jauh di belakang. Lautan biru tenang diapit jejeran bukit dan gunung-gunung api serta tebing-tebing coklat dan hijau berpadu langit biru dihiasi arakan awan. Kadang jalan membelah bukit dan gunung, kadang melewati bentang kehijauan persawahan atau pemukiman yang halaman rumah masing-masing penghuninya dipenuhi berbagai jenis tanaman dan pepohonan hijau. Sesekali saya dan  Mo'at berhenti  untuk memotret kemolekan bentang alam sepanjang jalan yang sedang kami susuri. Kami tidak berhenti lama karena kemolekan tersebut terpapar di ujung langit. Hanya bisa dinikmati mata namun tak  bisa dijamah tubuh. Pesona lukisan Ilahi itu terus mengiringi perjalanan saya dan Mo'at hingga kami tiba di kaki Kelimutu saat sang molek mentari di jingga senja menyerahkan dirinya dalam dekapan mesra kegelapan malam.

Bentang alam perjalanan Larantuka - Maumere
Saya dan Mo'at mampir makan siang di satu restoran Padang di tepi jalan raya trans Flors di dalam wilayah Kabupaten Flores Timur. Restoran dalam pemukiman yang terletak di bawah perbukitan hijau tersebut sepertinya merupakan tempat singgah bis antar kota - yang biasanya memiliki kerjasama antara pemilik restoran dan para sopir - sebagaimana pola yang ada di kota-kota lain di NTT dan juga Jawa. Saya sebenarnya ingin mencari restoran atau warung yang menjual makanan lokal, namun Mo'at tidak memiliki informasi tersebut, sedangkan hari semakin siang dan perut kami mulai keroncongan. Salah satu kebiasaan saya dalam perjalanan adalah perut harus selalu kenyang guna mengantisipasi kondisi tak
Bentang alam perjalanan Larantuka - Maumere
terduga - seperti mobil mogok, pecah ban, terhalang perbaikan jalan atau bahkan berjam-jam harus melewati lokasi-lokasi tanpa pemukiman, apalagi warung makan.

Kami melintasi kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka sekitar jam 2 siang. Mobil terus melaju menuju Pantai Lela - salah satu pantai indah di Kabupaten Sikka bersama gereja tuanya. Setelah beberapa kilometer melewati kota Maumere, Mo'at membelokan mobil menyusuri jalan lebih kecil di sebelah kiri jalan raya trans Flores menuju Pantai Lela yang terletak sekitar 7km dari dari jalan raya Trans Flores. Mobil dihentikan dekat naungan satu pohon tamarin / tambaring raksasa di tepi pantai berpasir warna gelap yang merupakan ciri khas pasir pantai Pulau Flores karena biasanya mengadung unsur besi sehingga dikenal dengan istilah pasir besi oleh penduduk setempat. Pantai Lela sangat lenggang di siang hari itu.

Pantai Lela
Hanya saya dan Mo'at yang berada di pantai tersebut menikmati pesona hempasan gelombang di pasir pantai yang mencuatkan buih-buih putih yang menyebar dan berkejaran silih berganti tiada akhir bagaikan baris-baris puisi. Selesai foto-foto, saya dan Mo'at duduk berbincang di salah satu akar pohon tamarin raksasa yang muncul di permukaan tanah. Kami menikmati belaian angin segar bersama tarian gelombang lautan yang menghempas terus menerus ke pantai di depan kami. Seorang lelaki tegap berkulit kehitaman terlihat berjalan ke pantai membawa jerigen berukuran 7 literan. Nelayan lelaki itu berjalan ke dalam air laut setinggi mata kaki. Jerigen dimasukan ke air selama beberapa menit untuk
Pantai Lela
menampung air laut lalu sang lelaki kembali berjalan pulang. "Pasti untuk campuran makanan babi", pikir saya mengingat pengalaman pagi hari di tepian pantai Larantuka. Mo'at mengeser duduknya agak menjauh untuk menikmati rokoknya. Saya tenggelam dalam semedi keindahan alam Pantai Lela. Kami menghabiskan 45 menit di Pantai Lela lalu melanjutkan perjalanan menuju Pantai Paga. Kami kembali melewati jalanan kampung Lela yang cukup ramai karena ada pesta pernikahan di salah satu rumah penduduk di tepi jalan yang kami lalui. Kiri dan kanan jalan menjadi tempat parkir mobil dan motor para tamu yang juga sedang berseliweran di jalan tersebut. Para ibu dan lelaki paruh baya memakai sarung atau jas dari kain tenunan setempat. Para pemudi dan pemuda mengenakan pakaian produksi pabrik.

Pantai Paga
Mobil kembali melaju membelah jalan trans Flores menuju Barat. Sekitar 1 jam dari Pantai Lela, kami tiba di pantai Paga yang masih berada dalam wilayah Kabupaten Sikka. Pantai ini menyajikan panorama berbeda dari Pantai Lela. Pantai Paga didominasi bebatuan, berbeda dengan Pantai Lela yang didominasi pasir. Pantai ini terletak di sebelah kiri jalan trans Flores dari arah kota Maumere. Pantai dikitari bukit dan tebing terjal yang mudah longsor, terlihat dari masih adanya guguran batu dan tanah di seberang jalan yang memisahkan pantai dari perbukitan sekitarnya. Karena terletak di tepi jalan, maka pantai juga diberi tanggul penahan gelombang laut - yang kelihatan telah berantakan di beberapa tempat sehingga batu-batu cadas yang digunakan sebagai tanggul telah terpisah dari badan tanggul lalu berserakan di sekitar pantai membentuk landasan bebatuan bagi Pantai Paga.
Pantai Paga
Mata saya menangkap satu patung raksasa di puncak bukit berwarna coklat yang tebingnya menjadi batas dengan Pantai Paga. "Itu patung Yesus", kata Mo'at. Patung Yesus terlihat membelakangi Pantai Paga - tempat saya dan Mo'at sedang duduk menikmati hempasan gelombang di tanggul - saat saya menggunakan lensa tele kamera DSRL saya guna melihat lebih dekat ke Patung tersebut. "Patung tersebut menghadap dan memberkati Desa Paga di balik bukit", kata Mo'at saat saya bertanya mengapa Patung Yesus dibuat membelakangi Pantai Paga. Puluhan meter di sebelah kiri tempat saya dan Mo'at duduk
Patung Yesus di puncak bukit Paga
menikmati hempasan gelombang, beberapa perahu nelawan tertambat di sekitar pantai tersebut. Di sebelah kanan dalam jarak ratusan meter dari kami, di sekitar tebing terlihat juga puluhan perahu nelayan dalam berbagai warna sedang tertambat sehingga menciptakan lukisan lain di sekitar pantai Paga.

Saya dan Mo'at menuju Pantai Koka yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan dari Pantai Paga. Awalnya Mo'at ragu-ragu ke Pantai Koka yang dalam ingatannya berjarak cukup jauh dari jalan trans Flores. Kami berdiskusi dan menghitung ketersediaan waktu tersisa sebelum malam tiba. Mengunjungi pantai di malam hari di Pulau Flores bukanlah sesuatu yang kami inginkan bersama. Ketidaktahuan akan kondisi jalan dan waktu tempuh akan menjadi masalah bagi kami jika dipaksakan. Walau Mo'at berasal dari Maumere namun tidak semua orang setempat mengetahui kondisi dan lokasi pantai yang menjadi tujuan perjalanan sore ini. Saya mengandalkan sepotong informasi dari internet, sedangkan Mo'at hanya mengandalkan ingatan samarnya tentang Pantai Koka. Kami hampir saja melewati pertigaan jalan menuju pantai Koka karena asyik diskusi di mobil yang sedang melaju. Mata saya sempat melihat informasi tertulis dan gambar pada standing banner di sebelah kiri jalan samping pertigaan. Moa't menghentikan mobil di dekat banner sehingga kami bisa membaca informasi yang tersedia. "Ah jaraknya hanya 4km dari jalan ini", kata saya ke Mo'at. "Yuk kita jajal, toh masih sore, lanjut saya. Mo'at membelokan mobil memasuki jalan lebih kecil menuju pantai Koka melewati kebun-kebun kakao  / coklat yang bertebaran di kiri dan kanan jalan hingga kami tiba di Pantai Koka. Gerbang dijaga seorang lelaki paruh baya yang meminta kami membayar 5000 rupiah sebagai ongkos masuk.

Pantai Koka
Awalnya Koka bernama Ma'u Gerambesi, demikian Riki -  nama penjaga pantai dan loket penjualan tiket di Pantai Koka - memulai ceritanya, mengoreskan keramahan Timur. Karena pantai ini sering disinggahi kumpulan burung yang bermigrasi dari Australia yang
Pantai Koka
menikmati kelimpahan cacing laut di pantai tersebut sebagai makanan mereka, maka penduduk setempat menamai pantai ini dengan "koka", yakni suara yang keluar dari ribuan burung migran tersebut, lanjut Riki. Pantai Koka terbagi ke dalam 2 bagian yang dipisahkan satu  bukit kecil di tengah kedua pantai tersebut. Bagian kiri disebut Ma'u Ata Laki yang hanya boleh digunakan para lelaki untuk mandi. Bagian kanan disebut Ma'u Ata Fai yang hanya boleh menjadi tempat mandi para perempuan. Namun saat ini, para pengunjung tidak peduli lagi dengan aturan  tersebut. Keduanya, perempuan dan laki-laki sering mandi bersama di kedua lokasi Pantai Koka.

Pantai Koka
Pantai Koka menghadirkan pasir tepung berwarna khaki. Pantai berbentuk cekungan itu dikitari tebing-tebing tinggi yang menjadi dinding alam memisahkan pantai dari pemukiman dan ladang penduduk sekitar. Saat saya dan Mo'at tiba sore itu terlihat sepasang anak muda bersama keluarga dan seorang fotografer sedang melakukan foto pre-wedding di lokasi itu. Saya menikmati selingan tersebut sambil duduk di salah satu pondok beratap daun kelapa di bawah naungan satu pohon ketapang besar. Jejeren pondok penjual kelapa muda dan makanan serta minuman lain berjejer rapi dalam jarak 10an meter dari tepi pantai.
Bersama Mo'at di pantai Koka
Beberapa menit menikmati aktivitas foto pre-wedding, saya bangun dan berjalan-jalan menikmati pasir pantai nan lembut dari sisi kanan ke sisi kiri dan sebaliknya. Mo'at menemani saya sambil ngobrol. Sesekali kami berhenti untuk memotret panorama pantai ataupun memotret diri masing-masing secara bergantian. Kadang kami berdua melakukan selfie sehingga kami bisa punya foto bersama. Sebagaimana dalam perjalanan jelajah saya di tempat-tempat lain, para sopir saya beri latihan singkat dasar-dasar fotografi sehingga bisa membantu saya memotret, terutama memotret diri saya di tempat-tempat indah yang pernah kami datangi. Hal yang sama saya lakukan untuk Mo'at - sekaligus mencairkan relasi kami sebagai sopir dan penyewa mobil menjadi teman perjalanan.



Pantai Koka
Hari hampir gelap sehingga saya dan Mo'at pamit dari Riki yang sejak tadi menemani kami. Hanya kami bertiga yang tersisa di pantai tersebut. Saya dan Mo'at menikmati suasana sunyi pantai Koka sambil menikmati cerita Riki yang selalu berganti topik, termasuk pengalamannya merantau di Malaysia dan Jakarta sampai suatu saat memutuskan pulang kampung dan sekarang bekerja sebagai penjaga pantai sekeligus menyewakan ban bagi para pengunjung yang ingin bermain air laut pantai Koka. Saya menjabat erat Riki lalu kembali memasuki mobil guna melanjutkan perjalanan ke desa Moni di kaki gunung Kelimutu. Riki seperti enggan melepaskan kami pergi. Riki terus menemani dan mengobrol dengan saya melalui jendela mobil yang saya buka. Mo'at menjalankan mobil secara perlahan memberi waktu bagi saya dan Riki menyelesaikan obrolan perpisahan kami.

Mo'at di Pantai Koka
Setelah meninggalkan pantai Koka sekitar 3 jam membelah jalan trans Flores di malam hari, akhirnya kami tiba di Moni - kampung yang telah sedang berubah menjadi tempat singgah pengunjung manca negara untuk menjelajah Kelimutu dan sekitarnya. Saya telah merencanakan nginap di Moni guna memudahkan saya mengakses puncak Kelimutu di subuh hari menunggu terbitnya sang mentari menyapa danau 3 warna yang selalu berubah sepanjang perjalanan waktu dari tahun ke tahun. John - demikian nama lelaki berambut gimbal - yang adalah pemilik dan pengelola bungalow Watugana di Moni -  menyambut ramah saya dan Mo'at. Setelah mengantar saya ke kamar, John kembali mengantar secangkir teh panas bagi saya dan secangkir kopi bagi Mo'at guna menghangatkan tubuh kami yang sedang tenggelam dalam udara dingin malam itu di desa Moni.

Pantai Koka
Saya dan Mo'at harus berpisah di Moni, karena mobil yang saya gunakan harus dibawa kembali ke Maumere atas perintah pemilik mobil. Mo'at hanyalah sopir pengganti yang tidak punya akses langsung ke pemilik mobil untuk menjelaskan kesepakatan yang telah saya lakukan dengan sopir mobil yang sebenarnya, yakni mobil harus mengantar saya sampai Ende di esok hari. Sepertinya sopir asli menyembunyikan harga dan waktu sewa-menyewa mobil tersebut ke pemilik mobil sehingga pemilik mobil meminta mobil kembali ke Maumere malam itu guna mengantar pelanggan lain dari kota tersebut ke Larantuka. Setelah mendiskusikan segala konsekuensinya bagi Mo'at, akhirnya saya melepaskan Mo'at membawa pulang mobil sewaan tersebut pada malam hari itu juga ke Maumere. Karena kesepakatan mengantar saya sampai Ende dibatalkan sopir asli, maka saya juga hanya membayar 1 juta dari 1,5 juta yang kami sepakati. Karena Mo'at dan mobil yang saya sewa harus balik ke Maumere malam itu juga, maka saya menyibukkan om John mencarikan kendaraan pengganti bagi saya agar bisa mengakses puncak Kelimutu di subuh hari sekligus untuk mengantar
Pantai Koka
saya ke Ende. Om John hanya memperoleh ojek motor yang akan mengantar saya ke puncak Kelimutu dengan harga 150ribu rupiah. Ojek akan menjemput saya subuh hari, dimana saya akan berangkat bersama para pengunjung lain yang menginap di bungalow yang sama atau di penginapan lain sekitar situ. Perjalanan ke Ende akan menggunakan bis atau mobil lain yang akan dicarikan om John esok hari karena  malam telah larut. Setelah mendapatkan kepastian kendaraan ke puncak Kelimutu pada subuh esok hari, saya pamit kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh lalu tidur guna mendapatkan kesegaran dan tenaga baru. Kamar mandi dilengkapi air panas sehingga memudahkan saya mandi dalam udara dingin yang serasa mengigit tulang. Selesai mandi dan berganti pakaian bersih, saya membaringkan diri ke tempat tidur ukuran queen yang dilengkapi kelambu putih. Saya menurunkan kelambu memayungi dan menutup tempat tidur guna menghindari nyamuk dan serangga malam lainnya. Malam semakin sunyi di kaki Kelimutu sebelum saya terlelap. Saya memasang alarm HP agar membangunkan saya di subuh hari..
Pantai Koka
Bersambung..

Sabtu, 21 Mei 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Gunung Api Batutara dan Perjalanan ke Larantuka, Flores Timur

Gunung api Batutara di subuh hari
Para anggota rombongan yang ingin melihat pesona dan keindahan letupan gunung api Batutara telah bangun di awal subuh. Saat saya tiba di lobby hotel, sebagian anggota rombongan telah duduk betebaran di kursi-kursi lobby menunggu keberangkatan ke pelabuhan guna menumpang kapal cepat ke lokasi gunung api Batutara. Beberapa sedang berdiri dan merokok sambil ngobrol di teras hotel. Pesona, keelokan dan keindahan letupan Batutara hanya bisa dilihat dan dinikmati saat langit masih gelap sehingga panitia mengatur keberangkatan kami di subuh hari. Saat semua anggota rombongan telah siap, kami diminta naik ke bis-bis yang telah siap sedia di halaman hotel. Perjalanan hotel ke
Gunung api Batutara di subuh hari
pelabuhan ditempuh sekitar 10an menit. Tiba di pelabuhan, kapal cepat yang akan kami tumpangi telah menunggu. Satu per satu anggota rombongan memasuki kapal di keremangan subuh. Setelah semua anggota rombongan, panitia dan kru kapal telah berada dalam kapal, nahkoda menghidupkan mesin dan mulai menjalankan kapal meninggalkan pelabuhan. Kami akan menempuh perjalanan laut selama 2 jam karena itu saya memilih kembali tidur di kapal yang kadang-kadang terangkat dan terhempas gelombang. "Untung gelombang tidak terlalu besar sehingga tidak ada anggota rombongan yang pusing dan muntah-muntah", demikian kata-kata Denny salah satu pemimpin rombongan, saat kami tiba di lokasi gunung api Batutara. "Saat kami membawa rombongan wartawan foto, ada beberapa yang muntah-muntah karena gelombang besar", lanjut Denny. Saya hanya tersenyum kecut mendengar kalimat-kalimat Denny.

Gunung api Batutara di subuh hari
Subuh masih gelap di sekitar pulau tempat gunung api Batutara berada. Kapal terus menerus diombang-ambingkan gelombang karena kapal tidak membuang jangkar dan berlabuh di pantai sekitar gunung api Batutara. Semua anggota rombongan telah terbangun dan siaga di tempat masing-masing menunggu semburan lava api berwarna merah terang di tengah kegelapan subuh. "Wow, demikian dengung kekaguman para anggota rombongan saat melihat semburan lava pijar Batutara. Semburan lava pijar terus menerus terjadi dalam rentang waktu 20-25 menit. Dari jendela kapal bagian dalam, saya beralih ke luar dan bergabung dengan anggota rombongan lain yang sedang duduk atau berdiri
Gunung api Batutara di subuh hari
menikmati pesona semburan lava. Kapal terus menerus bergoyang sehingga menyulitkan posisi stabil kamera memotret pesona semburan magma pijar merah menyala. Saking asyik memotret menggunakan kamera DSRL, saya lupa menggunakan kamera HP yang seharusnya lebih stabil. Beruntunglah dalam kondisi memotret yang tidak stabil karena goyangan kapal, foto-foto yang dihasilkan justru terlihat seperti lukisan abstrak :).

Gelombang dan arus laut membuat kapal kadang menjauh dari titik pandang sehingga nahkoda kapal beberapa kali menghidupkan
Lagi sarapan di kapal
mesin kapal guna mendekatkan kembali kapal ke semburan lava hingga matahari tersibak sempurna di horizon Timur. Saat lingkungan sekitar telah terang benderang, pesona merah api magma yang tersembur ke langit gelap pun menghilang berganti gumpalan debu setinggi puluhan meter saat sang gunung mengeluarkan lava dari perut bumi. Kapal cepat yang kami tumpangi bergerak mengelilingi pulau kecil yang menjadi lokasi gunung api Batutara - seolah mengucapkan selamat tinggal - lalu melaju kembali ke  Pulau Lembata yang terentang dalam jarak waktu tempuh kapal cepat sekitar 2 jam dari lokasi gunung api Batutara. Anggota rombongan dan para ABK sempatkan sarapan teh dan kopi serta kue-kue yang disediakan panitia sebelum kapal meninggalkan lokasi Batutara.

Hanya debu yang terlihat di pagi hari
Setelah menempuh waktu sekitar 2 jam, kapal cepat yang membawa rombongan tiba kembali di dermaga Pulau Lembata. Satu demi satu anggota rombongan meninggalkan kapal. Matahari pagi telah bersinar cerah menerangi alam sekitar di bawah langit Lembata yang berwarna biru terang dihiasi gumpalan-gumpalan awan kecil seperti lukisan raksasa buah tangan sang Pencipta. Sebelum kami meninggalkan dermaga, saya meminta semua anggota rombongan berkumpul untuk foto bersama sebagai kenangan kami, karena setelah meninggalkan Pulau Lembata saat tour berakhir, kami belum tentu akan bertemu kembali. Selesai foto-foto, masing-masing anggota rombongan berjalan ke bis dan truk yang telah menunggu sekitar 20an meter dari dermaga.

Para anggota rombongan di dermaga Lembata
Rencana hari ini, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke desa Lamalera, tanah para pemburu ikan paus yang telah terkenal hingga ujung dunia. Karena saya dalam kondisi tidak sehat disebabkan serangan batuk terus-menerus, saya memutuskan tidak meneruskan perjalanan di Pulau Lembata. Saya memisahkan diri dari rombongan yang meneruskan perjalanan ke Lamalera untuk melihat perburuan ikan paus secara tradisional. Staf hotel menginformasikan 2 pilihan transportasi laut dari Lembata ke Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, yakni kapal cepat atau kapal kayu dengan jam keberangkatan, waktu perjalanan dan harga tiket yang berbeda. Perjalanan menggunakan kapal cepat Lembata - Larantuka ditempuh dalam waktu 2 jam sedangkan dengan kapal kayu memakan waktu sekitar 4 jam. Dengan menggunakan ojek yang saya bayar 20 ribu rupiah dari hotel ke pelabuhan Lembata, saya tiba sekitar jam 12 siang di pelabuhan. Saya memilih menggunakan kapal kayu dengan pertimbangan bisa menikmati landscapes sepanjang perjalanan.

Pelabuhan Lembata
Kapal kayu bercat hijau pupus yang saya tumpangi berangkat jam 12.30 di siang hari nan cerah. Kapal yang saya tumpangi ini berukuran lebar sekitar 10 meter dan panjang 20an meter terdiri atas 2 dek penumpang. Saya memilih dek atas sehingga bisa memotret secara leluasa sepanjang perjalanan. Kapasitas muat kapal melebihi jumlah penumpang yang hanya puluhan sehingga beberapa penumpang memilih tidur di bangku-bangku kapal yang kosong. Bangku yang saya duduki juga kosong - sepertinya para penumpang lain tidak berminat duduk dekat saya yang menenteng kamera sehingga mungkin disangka wartawan.

Ile Ape dari pelabuhan Lembata
Saya tidak salah memilih kapal kayu dalam perjalanan ke Larantuka. Kapal melaju pelan di lautan yang sangat tenang. Gelombang laut hanyalah riak-riak kecil yang tak sedikitpun menggoyangkan kapal. Saya bebas berjalan ke sana-sini mencari posisi terbaik untuk memotret berbagai obyek sepanjang perjalanan. Ile Ape masih berdiri tegak di belakang kapal seakan mengucapkan selamat jalan. Nun jauh di sisi kanan, Ile Boleng di Pulau Adonara tersenyum dan melambai sendu mengantar perjalanan saya menuju Larantuka. Perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan berayun-ayun di lautan
Panorama Pulau Lembata di sebelah kiri kapal 
lepas di sebelah kanan bersamaan dengan tarian camar-camar laut yang melayang di langit biru cerah dan sesekali menukik ke lautan menyambar ikan untuk makan siangnya. Pantai-pantai indah bersama perbukitan coklat dan hitam dengan sedikit pepohonan sebagai selingan terlihat bagaikan lukisan raksasa goresan sang Pencipta di sebelah kiri kapal kayu yang terus melaju tenang.

Empat jam perjalanan laut seperti tak terasa karena saya asyik menikmati panorama alam luar biasa yang terpampang di kiri dan kanan kapal sepanjang perjalanan. Kapal kayu singgah sekitar 20an menit di pelabuhan lokal Pulau Adonara. "Pelabuhan Waiwerang", kata anak lelaki penjual pisang goreng yang saya beli saat anak tersebut
Ile Boleng di Pulau Adonara dari Pelabuhan Waiwerang
bersama teman-temannya menaiki kapal dan bekeliling menjual makanan dan minuman. Sekantong plastik pisang kapok setengah matang yang digoreng garing menemani sisa perjalanan saya dari pelabuhan Waiwerang ke Larantuka. Pisang kapok merupakan salah satu favorit saya saat sarapan ataupun minum teh sore di kampung halaman ketika liburan sekolah. Ayahanda tercinta secara khusus menanam pisang kapok di halaman samping rumah di kampung guna bisa dipanen saat saya liburan sekolah menengah sampai dengan menyelesaikan kuliah dan bekerja selama beberapa tahun di Kupang sebelum hijrah ke Jakarta. Mendapatkan pisang kapok goreng di pelabuhan Waiwerang merupakan suatu keistimewaaan bagi saya dalam perjalanan laut Lembata - Larantuka. Rasa manis gurihnya berbeda jauh dengan kue pisang yang dijual para penjual gorengan di seantero Jakarta.

Pelabuhan Larantuka 
Sore hari telah menghampiri Kota Rainha Larantuka saat kapal kayu yang saya tumpangi merapat ke pelabuhan kapal-kapal kayu. Deretan rumah dan bangunan diselingi pepohonan terlihat bagaikan lukisan lain yang terhampar di pandangan saat kapal mengayun perlahan mendekati pelabuhan. Ile Mandiri berdiri kokoh menopang langit Kota Larantuka. Lengan-lengannya terentang untuk memeluk dan mengucapkan selamat datang bagi warga yang pulang ataupun para pelintas seperti saya. Di sisi kanan pelabuhan terlihat satu kapal penumpang PELNI sedang berlabuh. Saat kapal berlabuh sempurna, para porter berhamburan masuk. Dengan menenteng ransel kamera dan menarik koper,
Pelabuhan Larantuka
saya turun ke pelabuhan menghampiri para tukang ojek yang telah siap sedia di sekitar lokasi tersebut. "Kemana pak?, tanya salah satu pengojek. "Ke hotel terdekat", jawab saya. Koper saya diambil-alih salah satu pengojek yang menempatkannya di bagian depan sepeda motor dekat kakinya. Saya menaiki ojek yang melaju meninggalkan pelabuhan menyusuri jalanan kota Larantuka. Tak sampai 10an menit, pengojek memasuki halaman hotel bernama Lestari. Saya turun dan masuk ke lobby hotel menuju meja resepsionis yang dijaga seorang perempuan muda. Hotel ini terlihat seperti rumah besar dari halaman depannya. Meja resepsionis berada di sebelah kiri pintu masuk, sedangkan di sebelah
Tempat saya menginap di Larantuka
kanannya terdapat 2 stel sofa bagi para tamu. "ada kamar kosong?", tanya saya. "ada, kata resepsionis sambil menyodorkan daftar harga kamar yang diprint pada kertas HVS ukuran A4 dan telah dilaminating. Hanya ada 2 tipe kamar, yakni tipe ekonomi dan standar. Saya memilih kamar standar yang dilengkapi fasilitas AC seharga 250 ribu rupiah per malam.

Saya memilih bermalam di hotel daripada di rumah saudari sepupu yang menikah dan tinggal di Larantuka. Sorenya, saudari sepupu bersama suaminya menjemput serta meminta saya pindah ke rumah mereka, namun saya menolak karena saya telah membayar kamar serta saya tidak ingin merepotkan mereka :). Walau terus didesak oleh sepupu perempuan saya, namun saya bertahan tetap nginap di hotel. Akhirnya kami berkompromi, saya mengunjungi rumah mereka yang berjarak 10an menit kendaraan bermotor dari hotel. Kami mengakhiri malam dengan makan bersama 2 ponakan perempuan saya di rumah makan ikan bakar yang terletak di depan hotel Lestari tempat saya menginap malam itu. Saya dan keluarga sepupu berpisah
Teras depan kemar-kamar Hotel Lestari Larantuka
di rumah makan. Saya kembali ke hotel dan mereka kembali ke rumahnya. Dari suami sepupu, saya mendapatkan nomor HP pemilik mobil yang dapat saya sewa dan gunakan dari Larantuka ke Ende dengan menyinggahi beberapa tempat dalam daftar yang telah saya buat dari Jakarta, termasuk Danau Kelimutu. Saya akan berganti mobil di Ende menggunakan mobil sewaan yang disopiri Yudi, salah satu pemuda Ende yang telah saya kenal tahun 2014 saat menyinggahi kota tersebut dan mengunjungi Danau Kelimutu (baca catatan perjalanan tahun 2014 di Ende dan Danau Kelimutu). Karena saya tidak mendapatkan sunrise di Danau Kelimutu pada jelajah tahun 2014, maka saya jadwalkan lagi perjalanan ke Danau Kelimutu pada Jelajah Flores : Timur ke Barat pada tahun 2015 ini.

Jalan depan Hotel Lestari Larantuka di pagi hari
Bersambung...

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...