Minggu, 10 April 2016

JELAJAH DUNIA. JEPANG - KYOTO: Hutan Bambu Arashiyama, Kuil Kiyomizudera.

Hutan bambu Arashiyama di pagi hari
Kyoto masih sedang terlelap saat saya melangkah keluar ryokan Nishikiro menuju stasiun Kyoto. Perjalanan di subuh hari ini adalah menuju hutan bambu Arashiyama yang tidak dapat saya nikmati kemarin siang sampai sore karena ribuan orang berjejal di kawasan tersebut (baca catatan sebelumnya tentang Hiroshima, Stasiun Kyoto dan Hutan Bambu Arashiyama). Dinginnya udara pagi tidak menyurutkan niat dan semangat saya berangkat subuh hari. Sebelum meninggalkan ryokan, saya sempatkan minum teh yang saya buat menggunakan air panas dalam termos serta teh celup dan sepotong biskuit yang disediakan pemilik ryokan di dalam kamar saya. Keluar ryokan, saya ambil arah kiri lalu belok kanan di ujung gang menyusuri gang tersebut menuju jalan utama. Saya mampir di toko kecil - seperti seven eleven atau indomart di Jakarta - yang berada di gang yang sedang saya susuri. Saya membeli air mineral dan biskuit serta coklat batangan sebagai bekal perjalanan hari ini karena saya tidak akan kembali ke ryokan sebelum malam tiba.

Stasiun JR Arashiyama di pagi hari
Selesai belanja bekal, saya kembali menyusuri gang menuju jalan utama yang hanya berjarak dua-puluan meter dari toko. Saya belok kiri menyusuri pedestarian jalan utama sekitar lima puluhan meter hingga tiba di perempatan yang masih sepi. Saya antri menunggu lampu hijau menyala bagi para penyeberang di perempatan tersebut. Saat lampu menyala hijau, saya cepat-cepat menyeberang walau tidak terlihat kendaraan di sekitar situ. Saya menyeberang ke kompleks stasiun Kyoto yang bersisian dengan perempatan tersebut. Saya masuk ke dalam stasiun dan berjalan ke peron kereta JR ke stasiun Arashiyama. Sebagaimana biasa, saya melewati petugas loket JR yang hanya mengangguk saat saya menunjukan JR Pass. Rangkaian gerbong kereta ke stasiun Arashiyama juga masih sepi. Seorang perempuan muda berbalut jaket tebal bertopi bulu terkantuk-kantuk di depan saya saat saya duduk di salah satu bangku dalam gerbong kereta. Hanya beberapa gelintir penumpang yang mengisi gerbong itu saat kereta bergerak meninggalkan stasiun Kyoto menuju Arashiyama.

Hutan bambu Arashiyama di pagi hari
Sekali lagi saya melewati petugas loket JR di stasiun Arashiyama yang hanya mengangguk melihat ke JR Pass yang saya tunjukin. Seorang lelaki berjaket tebal mengenakan jeans dan kupluk penutup kepala terlihat berjalan ke arah stasiun JR Arashiyama saat saya keluar stasiun menuju jalan raya depan stasiun yang telah saya lalui kemarin siang. Dingin udara segar memacu semangat saya kembali menyusuri trotoar jalan yang sangat sepi menuju hutan bambu Arashiyama. Beberapa orang tua berjalan pagi dan sesekali satu atau dua sepeda melintas di jalanan yang sedang saya susuri - jalan ini menghubungkan jalan depan stasiun kereta JR Arashiyama dengan jalan raya depan Kuil Tenryuji menuju jalan kecil ke hutan bambu Arashiyama. "ah, sepi dan segarnya pagi hari ini", pikir saya sambil terus berjalan. Sesekali saya berhenti guna memotret lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan siang hari kemarin - hingga saya tiba di jalan kecil menuju hutan bambu Arashiyama.


Sunrise di hutan bambu Arashiyama
Matahari baru mulai menyembul saat saya menyusuri jalanan kecil yang membelah hutan bambu menjadi dua bagian. Melalui celah-celah pagar, saya mencoba mengabadikan moment sunrise di kawasan tersebut. Saya bertemu beberapa fotografer lain yang sepertinya telah lebih dahulu tiba di situ. Beberapa pejalan kaki - mayoritas berusia tua - berjalan perlahan melintasi jalan yang sama dengan saya, menikmati kesunyian dan kesegaran udara hutan bambu Arashiyama. Saat tiba di pertigaan lokasi kuil yang tidak saya singahi kemarin, saya berjalan lurus lalu masuk ke halaman kuil Nonomi di sebelah kiri jalan.

Kuil Nonomi di dalam kawasan hutan bambu Arashiyama
Dari gerbang dan warna bangunan kuil sangat jelas bahwa kuil Nonomi yang saya kunjungi dalam kompleks hutan bambu Arashiyama merupakan kuil Shinto. Kuil ini terlihat sederhana dibandingkan kuil-kuil lain yang telah saya jelajahi. Walau sederhana, namun keelokannya terlihat mempesona.  Bagian depan, samping dan belakang kuil dipenuhi rimbunan tanaman dan pepohonan berdaun kuning dan hijau. Halaman depan dan jalan kecil di samping sebagai penghubung bagian depan dan belakang dihampari kerikil sehingga debu tidak beterbangan saat umat dan para pengunjung sedang memenuhi kuil tersebut, terutama di siang dan sore hari seperti hari kemarin. Setelah puas melihat-lihat dan mengambil beberapa foto, termasuk foto diri, saya berjalanan meninggalkan kuil. Saya kembali ke pertigaan samping kanan depan kuil guna melanjutkan jelajah saya ke dalam kawasan hutan bambu Arashiyama.

Pre wedding di hutan bambu Arashiyama
Para fotografer dan orang-orang tua yang jalan pagi di hutan bambu itu semakin bertambah. Saya bertemu 2 pasangan berpakaian pengantin yang sedang foto pre-wedding di jalan yang sedang saya lalui. Saya tidak melewatkan kesempatan emas memotret salah satu calon pengantin yang asyik berfoto diatur pengarah gaya dan fotografernya. Saya terus berjalan dan berhenti di beberapa tempat menikmati keindahan dan pesona hutan bambu Arashiyama yang tidak dapat saya nikmati kemarin karena berjibunnya pengunjung. Desau daun-daun bambu tertiup angin pagi bersama pancaran sinar matahari pagi yang mengintip dari sela-sela daun dan pohon menciptakan keindahan lukisan yang mungkin tidak terjadi dua kali bagi masing-masing pengunjung. Kamera saya tidak pernah berhenti memotret sampai saya tiba di ujung seberang hutan bambu yang berbatasan dengan jalan lain sebagai batas akhir kawasan hutan bambu. Saya berdiri menikmati suasana pagi yang sejuk dan indah selama beberapa menit lalu berjalan sangat perlahan kembali ke jalan raya tempat saya masuk ke kawasan hutan bambu Arashiyama.

Jalan dalam kompleks pemukiman
Saya kembali ke stasiun Arashiyama melalui jalan dalam kompleks pemukiman yang membentang dari depan jalan raya di depan jalan kecil ke hutan bambu - sampai depan jalan raya di depan stasiun Arashiyama. Jalan ini berbeda dengan jalan yang biasa dilalui pengunjung yang menuju kuil Tenryuji ataupun hutan bambu Arashiyama. Di siang hari, jalan ini tidak terlihat karena terhalang ratusan orang yang hilir mudik di jalan utama. Karena saya menyusuri jalan dalam pemukiman, maka waktu tempuh menjadi lebih lama karena jalannya berkelok-kelok mengikuti pola pemukiman dalam kompleks yang berbeda dengan jalan bagi pengunjung dan turis yang lurus dari jalan depan stasiun hingga jalan utama depan kompleks Kuil Tenryuji (baca catatan sebelumnya tentang Kuil Tenryuji dan Kuil Kinkakuji). Melalui jalan dalam pemukiman tersebut, saya bisa menikmati berbagai bentuk dan ukuran rumah serta arsitektur minimalis rumah-rumah Jepang. Beberapa rumah memiliki kuil pribadi berukuran kecil di halaman depan. Saya tidak melihat dan menemukan secuil sampah ataupun tempat sampah sepanjang jalan dalam kompleks yang sedang saya lewati. Setelah berbelok beberapa kali - dimana saya tersesat satu kali ke kompleks gudang kereta yang dijaga seorang petugas kereta api - akhirnya saya tiba di jalan raya yang melewati depan stasiun JR Arashiyama. Dari stasiun ini saya menumpang kereta ke stasiun Kyoto karena saya akan menggunakan bis di terminal samping stasiun Kyoto menuju Kuil Ginkakuji yang gagal saya kunjungi kemarin sore.

Terminal bis Kyoto di samping stasiun Kyoto
Terminal bis berada di sisi lain bangunan stasiun sehingga setelah keluar dari kereta JR Arashiyama, saya memasuki bangunan stasiun mencari jalan ke sisi sebelah stasiun yang digunakan sebagai terminal bis. Di lokasi ini tidak terlihat tumpukan bis yang parkir seperti ti terminal-terminal bis di Jakarta. Terminal berbentuk huruf U yang lebar, luas, bersih dan modern tersebut dilengkapi petunjuk nomor bis (berupa huruf) dan nama-nama halte / tempat yang dilewati bis. Saya menuju papan bertuliskan huruf D untuk bis "raku", yakni bis wisata yang hanya melewati lokasi-lokasi wisata di Kyoto. Bis ini terlihat seperti bis reguler lainnya di Kyoto. Tidak seperti bis wisata di Jakarta yang bertingkat dan diberi tulisan "bis wisata". Antrian mulai memanjang saat saya ikut antri lalu memasuki bis yang berhenti di tempat tersebut. Bis penuh sesak dengan para penumpang yang terus berdesakan di dalam bis sampai  penumpang sulit bergerak - seperti naik bis PPD 213 jurusan Kampung Melayu - Grogol di Jakarta pada pagi atau sore hari. Tak berapa lama, bis berjalan keluar dari terminal menyusuri jalanan Kyoto. Sekitar 10an menit dari terminal, bis berhenti di halte terdekat ke kuil Kiyomizudera - yang diumumkan dalam 3 bahasa, sepertinya bahasa Jepang, Cina dan Inggris. Tentunya saya hanya paham pengumuman berbahasa Inggris yang selalu diucapkan paling akhir setelah 2 bahasa lainnya.

Pedestaarian mungil menuju Kiyomizudera
Walau tujuan awal saya adalah mengunjungi Kuil Perak atau Ginkakuji, namun Kuil Kiyomizudera juga berada dalam agenda sehingga saya memilih mengunjungi Kiyomizudera terlebih dahulu mengikuti rute bis. Dengan mengikuti rute bis akan memudahkan saya yang tidak perlu bolak-balik di rute yang sama. Mengikuti pengunjung lainnya, saya menyeberangi pertigaan depan halte lalu berjalan di sisi kanan jalan raya menuju Kuil Kiyomizudera. Bukan hanya kamar hotel yang mungil atau kecil di Jepang, pedestarian (jalan khusus bagi pejalan kaki) ini merupakan pedestarian paling mungil / kecil yang pernah saya temui dalam perjalanan jelajah selama ini. Saking kecilnya, pedestarian ini hanya bisa dilewati satu orang sehingga para pejalan kaki harus berjalan beriringan. Jika berpapasan, maka tubuh harus dimiringkan untuk bisa saling melewati satu sama lain. Beruntunglah sepanjang pedestarian yang sedang saya susuri tersebut saya tidak bertemu orang lain yang berjalan berlawanan arah. Pedestarian mungil tersebut membawa saya dan pengunjung lainnya tiba di suatu pertigaan yang terhubung dengan jalan utama yang barusan saya susuri pedestarian mungilnya. Kiri dan kanan jalan ini dipenuhi jejeran kios yang masih sedang tutup. Saya mengikuti saja orang depan yang belok kanan menyusuri jalan tersebut yang terus mendaki menuju Kuil Kiyomizudera - yang Pagodanya telah terlihat dari kejauhan.

Jejeran kios di jalan menuju Kiyomizudera
"Kiyomizudera secara harafiah artinya Kuil Air Sejati. Kuil ini merupakan salah satu kuil yang paling dihormati di Jepang. Kiyomizudera didirikan tahun 780 pada sisi tebing air terjun Otowa di bagian Timur Kyoto - darimana nama Kiyomizudera berasal, yakni air terjun sejati. Kuil ini diperuntukan bagi para penganut aliran Hosso yang awalnya adalah salah satu sekolah tertua dalam aliran Budha Jepang yang kemudian membentuk aliran tersendiri pada tahun 1965... Panggung kayu Kiyumizudera yang menjorok sejauh 13 meter di atas sisi tebing sangat terkenal. Dari panggung tersebut, para pengunjung mendapatkan pemandangan luar biasa ke rimbunan pohon cerri dan mapel di bawah tebing yang seperti memuculkan lautan warna di musim semi dan musim gugur serta kota Kyoto di kejauhan... "http://www.japan-guide.com/e/e3901.html.

Gerbang luar Kiyomizudera dari samping
Saya mendaki puluhan anak tangga dari gerbang menuju kompleks bagian luar Kuil Kiyomizudera. Saat saya tiba di halaman kompleks Kuil, saya melihat jalan penghubung lain di sebelah kiri yang terhubung langsung ke gerbang luar Kuil berwarna merah. Semua kuil besar di Jepang selalu memiliki 2 gerbang besar dan megah, yakni gerbang luar dan gerbang dalam. Gerbang luar ini langsung berhadapan
Gerbang luar Kiyomizudera dari depan
dengan jalan di bawahnya. Sama seperti jalan yang barusan saya lewati yang dipenuhi jejeran kios, jalanan di bawah gerbang juga dipenuhi jejeran kios yang baru mulai buka. Gerbang luar dan jejeran kios di kiri dan kanan jalan berjarak puluhan meter sehingga kompleks kuil bersih dari para pedagang. Saya berjalan ke sebelah kiri gerbang luar mencari jalan yang lebih sepi dari lalu lalang manusia. Jalan masuk utama yang bertangga-tangga dipenuhi para pengunjung yang semuanya bergerak ke atas menuju Kuil Kiyomizudera yang tersembunyi di balik Pagoda dan kuil-kuil lainnya dalam kompleks. 


Saya tiba di suatu pelataran terbuka yang dipenuhi jejeran pohon mapel berdaun merah karena musim gugur. Di pelataran ini tersedia satu bangku kayu sepanjang 2 meteran. Saya duduk mengasoh di bangku ini sambil menyiapkan kamera. Seorang perempuan muda berwajah kontinental (mungkin Jepang atau Cina atau Korea) terlihat asyik dengan kameranya di tempat tersebut. Praktis hanya ada kami berdua di lokasi tersebut. Sesekali beberapa pengunjung melintas di situ. Saya mulai memotret berbagai obyek, termasuk meminta perempuan tersebut memotret diri saya. Saat saya tawarin sebaliknya, perempuan itu menolak dan asyik sendiri dengan kameranya melakukan selfie. 

Pagoda Kuil Kiyumizudera
Selesai dari pelataran samping kiri kompleks kuil, saya berjalan kembali ke gerbang luar mendaki anak-anak tangga menuju Pagoda berwarna oranye sejauh ratusan meter dari gerbang luar. Di sebelah Pagoda agak ke belakang berjarak 7 meter terdapat satu bangunan kuil didominasi warna putih dengan aksen hitam pupus / coklat tua - seperti Kuil Tenryuji di Arashiyama. Kuil ini berhadapan langsung dengan gerbang jalan bertangga dan gerbang luar hingga jalan yang dijejeri puluhan kios yang menghubungkan kompleks kuil dengan jalan utama berjarak ratusan meter di bawah bukit. Di samping kiri depan Kuil terdapat Pagoda 3 tingkat berwarna oranye. Pagoda dibangun di pelataran yang ditinggikan sekitar 75cm lebih tinggi dari pelataran Kuil. Sebelah kanan Pagoda dan Kuil terhampar kebun yang dipenuhi pepohonan berdaun merah, hijau dan kuning. Di depan Kuil disediakan tempat bagi para pengunjung menaruh harapan dan doa. Perempuan yang saya lihat dan minta tolong memotret saya di pelataran depan juga telah tiba di tempat tersebut. Saya melihat perempuan itu sedang menggantung satu lempengan bertulisan kanji di tempat menggantung harapan dan doa tersebut. 

Keindahan daun musim gugur di kompleks kuil Kiyomizudera
Dari pelataran Pagoda, para pengunjung dan umat bisa melihat ke bawah - ke gerbang luar, jalan di dua sisi yang dijejeri kios souvenir dan makanan. Puas mengamati dan memotret di sekitar Pagoda, saya berjalan ke belakang Pagoda menyusuri halaman luas di belakang. Saya menuju sisi kiri kompleks di atas bukit untuk memotret warna-warni daun rimbunan pepohonan di bawah bukit. Pinggiran bukit diberi pagar besi sebagai pembatas sekaligus mencegah pengunjung jatuh. Sepasang lelaki dan perempuan asyik mengamati dan tersenyum saat saya melakukan selfie menggunakan kamera Canon yang bisa memotret otomatis sebanyak 10x. Ternyata mereka berdua menunggu untuk meminta bantuan saya minta tolong saya memotret mereka di lokasi yang telah saya gunakan. Dengan senang hati saya memenuhi permintaan mereka.

Pagoda kuil Kiyumizudera
Saya terus berjalan menuju tempat penjualan karcis yang dijaga perempuan dan laki-laki berkimono warna hitam pupus dengan
ikat kepala bertulisan kanji. Dua laki-laki dengan pakaian yang sama berjaga di halaman depan loket mengarahkan para pengunjung ke loket penjualan karcis tersebut. Karena daftar kunjungan saya masih banyak, saya memutuskan hanya mendokumentasikan kompleks luar Kuil Kiyomizudera. Saya kuatir tidak punya cukup waktu ke Kuil Ginkakuji yang menjadi tujuan utama jelajah saya hari ini. Walau tidak membeli karcis masuk, saya masih bisa mengelilingi kompleks sampai ke depan gerbang dalam yang dijaga para petugas pemeriksa karcis. Karena itu, dari depan loket penjualan karcis saya berjalan ke kiri mengikuti para pengunjung yang telah membeli karcis hingga tiba di gerbang dalam. Karena saya tidak memiliki karcis, maka saya tidak bisa masuk ke bagian dalam. Saya berjalan-jalan di sekitar gerbang mendokumentasikan berbagai obyek di sekitar situ, termasuk sisi luar kuil Kiyomizudera yang terlihat sangat tua dimakan usia.



Pengunjung berombongan di samping gerbang luar 
Selesai memotret berbagai obyek menarik di sekitar kuil utama, saya berjalan balik ke Pagoda dan meneruskan langkah ke gerbang luar. Sekelompok pelajar berseragam biru dongker ditemani para guru dan pemandu wisata sedang mengatur diri di atas tangga sisi kiri gerbang untuk berfoto dalam group yang lumayan besar karena mereka berjumlah puluhan orang. Saya menikmati keriuhan suasana tersebut sejenak lalu ikut mengambil foto saat mereka selesai mengatur kelompoknya. Setelah itu saya balik arah melanjutkan perjalanan menuruni tangga depan gerbang luar lalu berbaur dengan pengunjung
lain yang juga sedang berjalan ke jalan utama. Kami berpapasan dengan ratusan orang yang berjalan
Tempat doa dan harapan umat
sendiri atau berdua atau berkelompok mendaki ke kuil Kiyomizudera. Saya mampir ke berapa kios souvenirs melihat-lihat dan membeli barang yang cocok. Selain souvenir berbentuk samurai mini, saya juga membeli beberapa magnet kulkas sebagai oleh-oleh. Saya mampir juga ke kios penjual bakpau yang sedang mengukus bakpau di depan kios di pinggir jalan tersebut. Asap putih mengepul diiringi keharuman bakpau menarik saya mampir ke kios tersebut. Saya duduk di bangku panjang sepanjang dinding dalam kios yang diberi bantal-bantal empuk. Saya memesan satu bakpau yang disuguhkan dalam kantong kertas oleh penjualnya. Saya menikmati bakpau tersebut sambil bercakap-cakap dengan perempuan yang lebih muda. Sedangkan perempuan yang lebih tua terlihat seperti ibu perempuan muda tersebut tetap asyik dengan panci kukusan dan melayani para pembeli yang antri di pinggir jalan tersebut.

Bakpau yang saya beli di salah satu kios
Jalan yang dijejeri puluhan kios tersebut semakin sesak dengan manusia yang pulang atau sebaliknya yang baru tiba. Saya terus berjalan hingga tiba di pertigaan yang mempertemukan jalan ke Kuil dengan jalan utama. Saya belok kiri menyusuri pedestarian mini menuju pertigaan utama lalu menyeberang dan menunggu bis "raku" di halte tempat saya turun 3 jam lalu. Bis yang saya tunggu tiba dan menurunkan penumpang yang akan ke Kuil Kiyomizudera. Saya dan beberapa penumpang lain naik lalu bis melanjutkan perjalanan ke Kuil Ginkakuji. Dalam perjalanannya, bis berhenti di beberapa halte yang dekat dengan tempat-tempat wisata lain di Kyoto. Saya terus berada dalam bis karena tujuan utama hari ini adalah Kuil Ginkakuji. Sekitar 30an menit, bis menurunkan saya di halte terdekat ke Kuil Ginkakuji. Tidak ada petunjuk di halte tempat saya turun. Karena itu, saya berdiri di halte mengamat-amati sekeliling saya, terutama orang-orang yang lalu lalang di sekitar lokasi tersebut sambil membuka peta offline mencoba menemukan arah Kuil Ginkakuji.

Pedestarian ke kuil Ginkakuji
Setelah memperkirakan letak Kuil, saya menyeberangi jalan menuju pedestarian selebar 2 meter dalam naungan jejeran pohon sakura yang telah berguguran daunnya sehingga hanya terlihat batang dan ranting. Saya berjalan menyusuri pedestarian tersebut sampai tiba di satu pertigaan dimana saya melihat 3 pengemudi rickshaw sedang berdiri menunggu penumpang. Saya menyeberang lalu menghampiri salah satu dari mereka menanyakan harga. Dengan bahasa Inggris yang terbatas, pengemudi tersebut menunjukan rute jalan yang dilalui dengan masing-masing harga yang terdiri dari 4000, 6000 dan 7000yen. Karena saya hanya ingin merasakan sensasi naik rickshaw, maka saya memilih harga termurah, yakni 4000 yen atau sekitar 500ribu rupiah. Setelah berfoto dengan pengemudi, saya dipersilahkan naik dan duduk di bangku berlapis beludru merah. Di bawah bangku diberi pemanas, karena bangku yang saya duduki terasa hangat. Setelah saya duduk, pengemudi menutup bagian bawah tubuh saya dengan selimut tebal berwarna merah.

Bersama Taichi
Semua rickshaw dilengkapi kanopi yang dapat dibuka tutup untuk melindungi penumpang dari terik matahari atau hujan. Karena hari tidak hujan dan tidak terik, saya meminta kanopi tetap dibuka guna memudahkan saya menikmati landscape perjalanan sekaligus memotret. Saat saya telah duduk nyaman, pengemudi mengangkat 2 kayu penarik rickshaw di kiri dan kanan yang terhubung ke badan rickshaw yang sedang saya duduki. Kedua kayu penarik tersebut dipasang setinggi pinggang dan pengemudi mulai berjalan menarik rickshaw. Di bagian jalan yang mendaki, pengemudi berjalan membelakangi jalan atau menghadap saya sambil sesekali menjawab pertanyaan saya. Saya mencoba ngobrol, namun dengan keterbatasan bahasa Inggris pengemudi, saya akhirnya berhenti dan hanya menanyakan hal-hal singkat. Namanya Taichi, berusia 26 tahun. Menjadi pengemudi rickshaw telah dilakoni selama 4 tahun, demikian sepotong cerita yang saya peroleh sambil berjalan.

Bersama Taichi
Singkat cerita, Taichi mengantar saya hingga tiba di jalan depan gerbang Kuil Ginkakuji. Saya turun lalu membayar ongkos yang telah disepakati. Sebelum berpisah, sekali lagi saya dan Taichi sempatkan memotret diri kami dengan meminta bantuan teman Taichi yang sedang berada di lokasi tersebut. Taichi memberikan saya satu kartu bertulisan aksara Jepang. "ini kartu diskon untuk pemakaian richshaw di tempat lain" kata Taichi dalam bahasa Inggris. "is it valid in Tokyo?, tanya saya. "yes, balas Taichi. saya menerima dan mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke gerbang kuil Ginkakuji.

Bersambung...



Minggu, 03 April 2016

JELAJAH INDONESIA - JAWA TENGAH. SEMARANG: Lawang Sewu dan Kota Lama

Lawang Sewu di sore hari
Hari hampir senja saat saya tiba di Lawang Sewu yang terletak di depan Bundaran Tugu Pemuda / Muda. Sisi depan bangunan warisan Belanda ini menghadap jalan arteri yang cukup ramai. Sekeliling kompleks dipagari pagar besi berwarna hitam setinggi 3 meteran. Udin mencari tempat parkir di luar kompleks bagian samping yang dilintasi sungai. Saya keluar dari mobil dan berjalan ke gerbang yang cukup ramai oleh lalu lalang pengunjung yang masuk dan keluar. Loket karcis terletak di samping kiri gerbang dilihat dari jalan raya. Jika dilihat dari dalam kompleks, maka loket karcis terletak di sisi kanan. 2 petugas keamanan berjaga di depan gerbang. Mereka mengarahkan setiap pengunjung ke loket karcis, termasuk saya.
Lawang Sewu di malam hari
Setelah membeli karcis, saya melenggang masuk ke halaman. Di sebelah kanan saya terhampar halaman hijau yang cukup luas. Saya berjalan ke hamparan rerumputan secara hati-hati agar tidak menginjak rumput dan tanaman lainnya. Saya mencari posisi strategis pengambilan foto-foto Lawang Sewu dari sisi samping. Selesai sisi samping yang berhadapan dalam satu garis lurus ke bundaran dan tugu Pemuda di luar kompleks, saya berjalan ke belakang hingga tiba di pintu berpalang - seperti di stasiun kereta Jakarta - Bogor - yang dijaga seorang petugas keamanan berpakaian safari biru gelap. Saya menyerahkan karcis masuk yang telah saya beli di gerbang depan. Petugas merobek karcis sekaligus mempersilahkan saya melewati pintu berpalang. Saya berjalan lurus ke halaman belakang Lawang Sewu menuju satu pohon besar dan rindang yang mungkin usianya setua Lawang Sewi.

Halaman belakang Lawang Sewu
"Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Her hoodkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Semarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran. Akibatnya kantor NIS stasiun Semarang tidak lagi memadai... NIS mempercayakan rancangan kantor pusat NIS Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendang, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwasite plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903", https://id.wikipedia.org/wiki/Lawang_Sewu.

Jendela dan pintu-pintu Lawang Sewu - lantai 2 
Lawang Sewu atau Seribu Pintu merupakan sebutan masyarakat setempat terhadap bangunan yang memiliki pintu dan jendela sangat banyak. Bangunan ini berlantai dua dan berbentuk U. Di bagian belakang huruf U tersebut terdapat bangunan lain yang berdiri sendiri dengan arsitektur yang sama, namun berbentuk bangunan rumah daripada bangunan kantor sebagaimana Lawang Sewu. Konon, rumah tersebut merupakan tempat tinggal kepala kantor NIS. Seluruh bangunan didominasi warna putih dengan aksen hitam pupus / coklat tua pada pintu, jendela dan balok-baloknya. Setelah memotret sisi dalam, termasuk rumah kepala stasiun, saya berjalan lurus memasuki salah satu sisi bangunan. Dari lantai dasar saya naik ke lantai 2 menikmati arsitektur dan suasana senja di luar yang makin sejuk dan tamaram. Semua ruangan di lantai 1 dan 2 dipisahkan satu lorong lurus dari depan hingga
Lawang Sewu 
belakang. Selain pintu-pintu yang menghadap lorong di dalam dan balkon di lantai 2, semua ruangan memiliki pintu penghubung satu sama lain dalam satu garis sehingga jika dilihat dari suatu bagian akan terlihat membentuk satu garis lurus yang semakin jauh semakin kecil. Jendela-jendela besar berwarna hitam seukuran pintu membuat semua ruangan bermandikan cahaya dan udara. Kamera saya tak berhenti mendokumentasikan keelokan Lawang Sewu seiring kekaguman saya terhadap warisan sejarah itu bersama tekad pemerintah daerah dan masyarakat melestarikannya. Tak terlihat secuil pun sampah di tempat-tempat yang telah saya telusuri.

Salah satu lorong Lawang Sewu


Saya berpindah dari samping belakang ke depan melewati sisi berlawanan dari sisi yang telah saya lalui sehingga saya bisa memutari dan melihat seluruh bangunan utama Lawang Sewu dari bagian luarnya. Di bagian depan sebelum pintu utama - yang ditutup bagi umum - terdapat satu kereta kuno yang dilestarikan. Mungkin untuk mengingatkan para pengunjung bahwa Lawang Sewu yang indah tersebut adalah kantor NIS pada masanya. Setelah puas memotret, saya berjalan menuju gerbang. Namun saya tidak langsung keluar gerbang, saya berdiri menikmati suasana sekitar di batas hamparan halaman berumput yang telah saya lewati saat memasuki kompleks tersebut. Malam mulai turun seiring kilauan lampu jalan, rumah penduduk dan juga bangunan-bangunan di kota Semarang.





Stasiun Tawang di malah hari
Saya meninggalkan Lawang Sewu menuju Kota Lama Semarang dengan tujuan pertama Stasiun Tawang. Stasiun ini juga merupakan bangunan warisan Belanda berarsitektur Eropa abad pertengahan. Mobil yang saya gunakan parkir di pinggir jalan luar kompleks stasiun. Saya keluar mobil dan berjalan ke gerbang kompleks yang telah saya lewati. Dari gerbang saya belok kanan menyusuri jalanan dalam kompleks yang dilalui para penumpang maupun kendaraan bermotor pengantar dan penjemput. Kekunoan bangunan stasiun yang dimahkotai cahaya lampu menampilkan pesona Eropa di tempat tersebut. Saya duduk menyelip diantara para calon penumpang, pengantar, penjemput dan para porter
Stasiun Tawang
yang sedang nongkrong sambil ngobrol atau merokok di tembok rendah pembatas tempat parkir dan bangunan stasiun - menikmati keindahan malam bangunan stasiun. Setelah puas menikmati pesona bangunan dalam diam, saya bangun dan berjalan menjelajah bangunan stasiun dari ujung ke ujung sekaligus medokumentasikan keindahannya.

Bangunan utama stasiun berwarna putih dengan model bangunan bertumpuk / bersusun 3 yang semakin kecil ke atas.  Pada puncak bangunan bertengger kubah persegi berwarna putih namun disinari cahaya hijau di malam hari. Arsitektur bangunan ini mirip dengan Lawang Sewu atau Museum Fatahilah di Jakarta. Bagian pertama / bawah dilengkapi selasar / teras terbuka dengan pintu masuk berbentuk kubah di masing-
Stasiun Tawang di malam hari
masing sisi dan 3 di bagian depannya. "Bangunan ini diresmikan tanggal 19 Juli 1868. Nama Tawang diambil dari kampung di dekat stasiun, yakni Tawangsari" https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_ Semarang_Tawang.  Selesai menikmati dan mendokumentasikan stasiun Tawang Semarang, saya berjalan kembali ke gerbang lalu menyeberangi jalan raya menuju Podler (tempat penampungan air) yang semarak dalam germerlap cahaya lampu malam Kota Semarang. Puluhan orang sedang duduk santai menikmati malam di pinggiran Podler. Keempat sisi podler seluas lapangan sepak bola tersebut dikelilingi jalan bagi kendaraan dan manusia. Salah satu sisinya langsung berbatasan dengan jejeran bangunan tua Kota Lama Semarang. Saya sempatkan berjalan di 2 sisi menikmati aktivitas para pengunjung lain yang asyik dengan kesibukan masing-masing.

Restoran depan Gereja Blenduk
Sekitar 30an menit menikmati suasana malam di Podler dan sekitarnya, saya dan Udin meninggalkan lokasi tersebut menuju Gereja Blenduk - yang adalah salah satu ikon Kota Lama Semarang. Mobil diparkir di depan salah satu bangunan tua tak berpenghuni yang gelap gulita. Hanya lampu jalan yang sedikit menerangi sekitarnya. Jalan depan Gereja Blenduk sangat ramai oleh lalu lalang kendaraan di kedua sisinya. Di halaman gedung sebelah kiri terlihat puluhan motor parkir di halaman gereja. Sekitar 20an meter di sisi kiri berdiri jejeran warung makanan yang sangat ramai. Di seberang jalan depan gereja berjejer bangunan-bangunan tua yang ruang bawahnya difungsikan sebagai restoran, warung dan lainnya. Selesai memotret keindahan gereja Blenduk di malam hari, saya mengajak Udin mampir makan malam di restoran 29 di depan gereja Blenduk. Lokasi gereja dan sekitarnya merupakan akhir perjalanan saya malam ini. Selesai makan malam, Udin mengantar saya ke hotel Horison untuk melabuhkan tubuh menanti pagi guna berpindah ke kawasan Dieng di Kabupaten Wonosobo.

Gereja Blenduk di malam hari
Subuh hari, saya telah meninggalkan kamar hotel menuju kawasan Kota Lama. Saya ingin menjelajah dan mendokumentasikan kawasan tersebut di pagi hari. Saya meminta sopir taksi menurunkan saya di depan Gereja Blenduk. Selesai mendokumentasikan bagian depan gereja, saya menyeberang dan berjalan ke bagian belakang gereja melalui jalan kecil di samping gereja. Jalanan ini seperti melingkari kompleks gereja sehingga saya tiba di sisi sebelah gereja yang semalam digunakan sebagai tempat parkir puluhan sepeda motor. Di sisi ini terdapat satu taman asri yang cukup terawat.
Gereja Blenduk di pagi hari
Beberapa warga terlihat sedang duduk-duduk di taman. Sedangkan di samping dan di dalam gereja terlihat aktivitas umat yang akan beribadah minggu. Setelah memotret semua sisi gereja, saya berjalan keluar melalui taman menyusuri gang yang berada di samping taman mengarah ke Podler dan stasiun Tawang yang berada di arah sebelah kiri saya dari taman itu. Saat menghentikan satu becak yang kebetulan lewat. Saya meminta bapak tua pengemudi becak mengantar saya ke Podler dan stasiun Tawang. Di beberapa tempat yang kami lewati, saya meminta bapak pengemudi becak berhenti beberapa menit guna memberikan waktu pada saya memotret berbagai monumen warisan masa lalu.

Stasiun Tawang di pagi hari
Di salah satu sudut Podler yang berbatasan dengan jejeran bangunan tua, saya turun dan membayar becak yang saya tumpangi. Di sudut ini terlihat satu bangunan tua berwarna merah cerah yang terlihat sangat terawat - yang adalah pabrik rokok. Dari perempatan jalan pemukiman tersebut saya berjalan ke arah stasiun Tawang yang berada puluhan meter di seberang jalan raya. Secara kebetulan saya melihat sunrise di Podler yang semalam telah saya kunjungi. Saya tak menyia-nyiakan momen sunrise yang tidak saya ketahui sebelumnya. Beberapa orang terlihat jalan dan lari pagi mengitari Podler. Beberapa lain hanya duduk-duduk menikmati pagi hari yang sangat tenang. Hanya suara kendaraan di jalan yang menderu
Sunrise di Podler 
saat melewati jalan raya yang memisahkan kompleks stasiun Tawang dan Podler.

Selesai menjelajah dan memotret stasiun Tawang di pagi itu, saya kembali menyebarangi jalan menuju Podler menyusuri jalanan yang telah saya lalui sebelumnya. Di perempatan depan pabrik rokok berwarna merah itu, saya belok kanan menelusuri sisi seberang jalanan depan pabrik rokok. Saya masuk keluar berbagai gang di Kota Lama mendokumentasikan berbagai bangunan tua yang sebagian besar tidak berpenghuni.
Salah satu bangunan tua di Kota Lama Semarang
Saya terus berjalan hingga tiba di jalan raya depan kantor Pos yang juga merupakan salah satu bangunan tua warisan sejarah. Selesai memotret Kantor Pos dan sekitarnya, saya meminta seorang tukang ojek mengantar saya kembali ke hotel, karena saya tidak mendapatkan taksi di pinggir jalan depan Kantor Pos.

Bersambung...

Minggu, 27 Maret 2016

JELAJAH JEPANG - KYOTO : Kuil Tenryuji dan Kuil Kinkakuji (Emas)

Dalam kompleks Kuil Tenryuji
Kompleks Kuil Tenryuji yang cukup luas menyediakan dua jalan masuk dan keluar di kiri dan kanannya. Setelah melewati gerbang kanan, saya belok kiri menuju bangunan kayu berwarna hitam yang sisi luarnya menempel ke pagar pembatas kompleks kuil dengan jalan raya. Bangunan ini sebenarnya merupakan gerbang luar kuil sebagaimana di kuil-kuil lainnya di Jepang yang telah saya kunjungi - yang memiliki gerbang luar dan gerbang dalam. Namun karena telah dibangun jalan di kiri dan kanan kompleks dengan gerbang biasa, maka sepertinya gerbang luar tersebut ditutup. Bangunan gerbang tersebut terlihat masih sangat kokoh walau telah cukup tua. Saya berjalan ke bangunan tersebut untuk melihat secara dekat keindahan arsitekturnya sekaligus mengambil beberapa foto. Setelah itu saya terus berjalan ke kiri menapak dan menyusuri jalan beraspal dalam kompleks di bagian kiri yang disediakan bagi pengunjung bermobil ataupun pejalan kaki.

Dalam kompleks Kuil Tenryuji
Kuil utama terletak di ujung belakang kompleks yang berjarak ratusan meter dari gerbang depan di samping jalan raya. Sesekali saya mampir di beberapa lokasi memotret dan mendokumentasikan suasana sekitar, terutama warna-warna daun musim gugur yang telah berubah menjadi kemerahan ataupun kekuningan. Di tengah kompleks terlihat satu kolam besar yang ditutup bagi umum karena sedang direnovasi.  Pagar setinggi 1,5 meter menghalangi pengunjung masuk ke area kolam. Saya hanya bisa melongok dan memotret kolam dari pagar pembatas. Di dalam kompleks juga tersedia lahan parkir kendaraan. Beberapa bis pariwisata dan mobil pribadi sedang parkir di sekitar area tersebut, namun tidak terlalu penuh.

Kuil Tenryuji
Kuil Tenryuji dibangun tahun 1339 oleh shogun Ashikaga Takauji. Kuil ini diperuntukan bagi Kaisar Go-Daigo yang baru saja wafat di tahun tersebut. Shogun Takauji membangun kuil Tenryuji untuk menenangkan jiwa sang Kaisar. Dalam perjalannya, kuil Tenryuji telah terbakar beberapa kali karena peperangan. Namun selalu dibangun kembali, terutama pada periode Meiji tahun 1868 - 1912 (www.japan-guide.com).  Kompleks kuil dipenuhi pepohonan berbagai jenis. Guguran daun didominasi warna merah yang dibiarkan berserakan di dalam kompleks. Saya terus berjalan menuju bangunan kuil Tenryuji. Sebelum tiba di kuil Tenryuji, saya mampir memotret satu kuil Shinto yang terletak puluhan meter dari Kuil Tenryuji - dilihat dari gerbang / Torii warna merah sebagai penanda dan pembeda dengan kuil-kuil Budha.

Kuil Tenryuji merupakan kuil Budha aliran Zen. Bangunan utama didampingi beberapa bangunan
Kuil Tenryuji
tambahan di sebelah kanannya. Semua bangunan, baik bangunan utama maupun pendamping didominasi warna putih dan coklat tua. Ratusan orang hilir mudik dan berfoto di depan kuil maupun tamannya. Para pengunjung lain terlihat sedang mendaraskan doa-doa di depan Kuil Tenryuji. Setelah menikmati dan mendokumentasikan arsitektur kuil, taman dan juga pengunjung yang hilir mudik, saya berbalik arah berjalan meninggalkan kuil melalui jalan utama yang berada dalam satu garis lurus dengan gerbang kanan dari jalan raya atau dari depan kuil jika dilihat dari Kuil Tenryuji.

Gerbang luar Kuil Tenryuji (telah ditutup)
Keluar gerbang kompleks kuil Tenryuji, saya belok kanan menuju halte bis yang berjarak 50an meter dari gerbang kuil. Puluhan orang sedang berdiri antri di halte tersebut. Kedua sisi jalan masih penuh sesak dengan orang-orang yang lalu lalang maupun sedang berdiri antri di depan restoran dan kios-kios souvenirs. Awalnya saya ingin meneruskan perjalanan ke Kuil Kinkakuji, namun dari informasi online, akses ke kuil tersebut hanya bisa menggunakan taksi dari tempat saya berdiri saat ini atau menggunakan bis dari stasiun Kyoto. Karena saya tidak mendapatkan taksi walau telah mencoba menghentikan beberapa taksi yang melewati depan halte, maka saya putuskan kembali ke stasiun Kyoto menggunakan kereta JR dari stasiun Arashiyama. Dari stasiun Kyoto saya akan mencari bis ke Kuil Kinkakuji. Untuk itu, saya berdiri agak jauh dari halte guna mengorientasikan diri saya terhadap situasi saat itu sekaligus
Kuil pendamping Kuil Tenryuji
melihat-lihat bis yang bisa saya tumpangi ke stasiun Arashiyama. Asumsi saya, bis yang melewati jalan utama depan kompleks kuil pasti lewat dekat stasiun. Karena itu, saya mengikuti beberapa penumpang lainnya masuk ke salah satu bis yang berhenti di depan halte. Bis besar seukuran bis PPD 213 di Jakarta ini penuh sesak sehingga saya memindahkan ransel kamera ke depan dada mencegah  terjadinya tindak kejahatan. Walau Jepang dikenal aman, namun saya perlu waspada tentunya. Para penumpang naik dari pintu belakang lalu turun dari pintu depan di sebelah sopir. Karena itu, pada saat naik saya belum menggunakan tiket terusan yang telah saya beli di stasiun Kyoto (baca catatan perjalanan dari stasiun Hiroshima ke Kyoto dan Arashiyama).

Kompleks Kuil Tenryuji
Bis terus melaju melewati rel kereta yang melintang di jalan raya tersebut. Tidak ada halte di sekitar rel yang membuat bis berhenti sehingga saya tidak bisa turun lalu berjalan menyusuri rel ke stasiun Arashiyama sebagaimana yang telah saya pikirkan. Karena bis semakin jauh dari rel kereta, saya memutuskan tetap berada dalam bis sampai perhentian akhir atau terminal bis. Asumsinya, bis tersebut akan balik melewati halte dekat kuil Tenryuji dimana saya naik. Bis yang saya tumpangi akhirnya tiba di perhentian akhir. Semua penumpang harus turun karena bis dikosongkan menunggu giliran berangkat lagi. Pada saat turun, saya hanya menunjukan tiket ke sopir seperti yang dilakukan penumpang yang turun duluan. Sopir melihat tiket dan mengangguk sebagai tanda OK sehingga saya turun dan keluar bis. Kompleks terminal akhir bis tidak terlalu besar. Terminal ini berukuran sekitar 30 x 30 meter persegi
Jalan utama dari gerbang lurus ke Kuil Tenryuji
berbentuk U menghadap jalan raya. Bis dengan nomor berbeda berjejer di terminal tersebut. Tiga orang petugas berseragam terlihat mengatur bis-bis yang berjejer rapi siap diberangkatkan sesuai jadwal masing-masing. Di pinggir jalan sebelah kiri terminal terdapat halte dimana beberapa calon penumpang sedang duduk menunggu bis. Halte tersebut menyediakan juga petunjuk tempat-tempat yang akan dilewati dengan nomor bis masing-masing. Iseng saja saya berjalan ke halte tersebut membaca-baca informasi yang tersedia. Pada awalnya saya tersesat dari Arashiyama hingga tiba di tempat ini. Namun di halte tersebut saya mendapatkan informasi adanya bis yang melewati kuil Kinkakuji yang akan saya kunjungi hari ini. Saya bergegas masuk antrian di belakang para calon penumpang lain yang telah antri duluan. Tak sampai 5 menit, bis nomor 52 yang akan melewati kuil Kinkakuji berhenti. Saya bergegas naik mengikuti penumpang lainnya. Setelah melewati beberapa halte, bisa tiba di halte samping depan kompleks kuil Kinkakuji. Saya turun dari pintu depan sebagaimana biasa sambil menunjukan tiket terusan yang saya miliki.

Dalam kompleks luar Kuil Kinkakuji
Dari halte depan kompleks kuil, saya berjalan beberapa meter ke gerbang yang dijaga seorang petugas pengatur kendaraan masuk keluar kompleks kuil. Gerbang tersebut berhadapan langsung dengan pertigaan jalan raya depan kompleks kuil. Rimbunan pepohonan bersama warna-warni dedaunannya menyambut saya dan para pengunjung lainnya. Saya menyusuri jalan tanah berkerikil dalam kompleks mencari Kuil Kinkakuji yang sangat terkenal di dunia. Ratusan orang datang dan pergi - suasananya hampir sama dengan di hutan bambu Arashiyama. Namun karena kompleks kuil ini cukup luas dengan jalan masuk keluar berbeda, maka para penjunjung tidak terkonsentrasi pada satu titik yang dapat menyulitkan saya mengambil foto-foto bagus. Sekitar 100 meter dari gerbang di pinggir jalan dalam kompleks tersebut disediakan denah informasi keseluruhan kompleks Kuil Kinkakuji. Saya melihat-lihat dan memotret denah
Denah kompleks Kuil Kinkakuji
berbahasa Jepang tersebut lalu melanjutkan perjalanan saya mengikuti arus para pengunjung lainnya hingga kami tiba di loket tiket di depan satu pohon besar, tinggi, rindang dan berlumut. "hmmm sepertinya pohon ini berusia ratusan tahun dari ciri-ciri fisiknya, batin saya". Setelah mengambil beberapa foto, saya menuju loket tiket dan menyerahkan uang 500yen yang adalah harga tiket masuk ke bagian dalam kompleks tempat Kuil Kinkakuji berada. Petugas loket menyerahkan tiket kertas bertulisan huruf Jepang dengan lebar sekitar 7cm dan panjang 15cm. Saya berjalan menuju gerbang masuk yang dijaga 2 gadis muda. Tiket saya tunjukan ke para gadis tersebut yang mempersilahkan saya melewati gerbang. Saya berjalan perlahan menuju kuil Kinkakuji berwarna kuning keemasan yang berjarak 100an meter dari gerbang.

Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
Ratusan orang berkerumun di pagar pembatas yang membatasi para pengunjung dari taman, kolam dan kuil Kinkakuji. Sinar matahari sore memantulkan warna kuning emas Kuil Kinkakuji ke kolam dan lingkungan sekitarnya. Warna hijau, kuning dan merah dedaunan membuat lingkungan sekitar kolam terlihat sangat elok, indah dan agung. Saya harus berdesakan dengan pengunjung lain guna mendapatkan sepotong foto terbaik di lokasi tersebut. Dari satu sudut saya berpindah ke sudut lain dan harus cepat-cepat mengambil posisi di pagar pembatas saat pengunjung lain bergeser. Setelah puas mengambil foto kuil dan tamannya, termasuk kolam, saya meninggalkan pagar pembatas dan berjalan-jalan mengitari kompleks bagian dalam sekitar kuil. Saya melihat-lihat dan memotret obyek lain yang tidak terlalu ramai. Setelah itu saya berjalan terus mengikuti jalan setapak yang dibangun mengitari samping kuil menuju pintu keluar yang jaraknya ratusan meter dari kuil Kinkakuji. Setelah melewati sisi sebelah kuil Kinkakuji, jalan berbelok ke kanan dan agak mendaki mengitari taman dan kolam lain berjarak 30an meter dari jalan setapak. Bebatuan dalam taman sekitar kolam disusun
Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
dalam pola tertentu. Sepasang bebek dewasa dan anak-anaknya terlihat mengapung diam di kolam. Jalan setapak yang mengitari kolam dibuat seperti huruf L sehingga pengunjung bisa berjalan sambil menikmati keteduhan taman dan kolam di sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan terhampar guguran daun warna-warni dan puluhan pohon dengan dedaunan yang juga berwarna warni seperti hiasan di sisi lain kuil Kinkakuji. Jalan terus menanjak hingga puncak bukit kecil lalu menurun menuju gerbang keluar dan masuk. Di puncak bukit kecil agak ke kanan terdapat satu bangunan kecil sederhana terbuat dari kayu dan papan berwarna krem. Konon bangunan tersebut merupakan tempat tinggal biksu pertapa pada masa lalu. Setelah menikmati kesederhanaan bangunan dan memotret obyek-obyek menarik di sekitarnya, termasuk memotret kuil Kinkakuji dari ketinggian bukit, saya berbalik arah kembali ke jalan setapak, berjalan menuruni bukit kecil tersebut menuju gerbang.

Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
Pada awalnya,  Kuil Kinkakuji merupakan suatu vila yang disebut Kitayama-day milk seorang penguasa istana bernama Saionji Kintsune. Sejarah Kinkakuji dimulai tahun 1397 saat vila tersebut dibeli Shogun Ashikaga Yoshimitsu yang mengubahnya menjadi kompleks kuil Kinkakuji. Ketika sang Shogun meninggal, fungsi vila diubah anaknya menjadi kuil Zen sesuai keinginan sang shogun. Pada saat perang Onin tahun 1467-1477, seluruh bangunan dalam kompleks tersebut dimusnahkan, hanya Kuil Kinkakuji yang tetap berdiri kokoh. Namun, Kuil Kinkakuji dibakar tahun 1950 oleh seorang calon pendeta Budha berusia 22 tahun yang berusaha bunuh diri di bukit Daimon-ji di belakang Kuil... Kuil dibangun kembali tahun  1955. Bangunannya  terdiri dari 3 tingkat dengan tinggi 12,5 meter (www.wikipedia.com).

Langit mulai gelap diiringi gerimis kecil saat saya
Tiket masuk ke bagian dalam kompleks Kuil Kinkakuji
berjalan ke gerbang. Sekitar 30an meter dari gerbang terdapat bangunan berbentuk los beserta banku-bangku panjang di halamannya. Puluhan pengunjung sedang berdiri atau duduk beristirahat di emperan bangunan tertutup tersebut. Di sebelah kiri bangunan berjejer mesin penjualan minuman dan makanan ringan. Saya menuju salah satu mesin lalu memasukan koin 110 yen ke kotak minuman coklat panas. Sambil duduk menunggu gerimis usai, saya menyeruput dan menghabiskan coklat panas tersebut. Setelah itu saya meneruskan ayunan langkah ke gerbang. Karena hari masih sore sekitar jam 4, saya ingin melanjutkan perjalanan ke  Kuil Ginkakuji (Perak) di sisi lain Kyoto. 



Tiket masuk ke bagian dalam kompleks Kuil Kinkakuji
"Bagaimana saya ke kuil Ginkakuji?", tanya saya dalam bahasa Inggris ke petugas pengatur lalu lintas kendaraan di depan gerbang luar kuil Kinkakuji. "  Go straight, across the street and take bus number 204", balas petugas tersebut sambil menunjuk jalan tusuk sate depan gerbang kuil. Saya mengucapkan terima kasih sambil mengangguk lalu berbalik menyeberangi jalan depan gerbang kuil. Udara terasa dingin sehingga resleting jaket saya tarik setinggi leher. Kupluk saya tarik menutupi telinga guna sedikit menghangatkan tubuh. Sekitar 300 meter dari jalan depan gerbang kuil, saya tiba di pertigaan lain yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan. Saat lampu hijau menyala bagi penyeberang, saya menyeberang bersama pejalan kaki lainnya. Halte tempat menunggu bis 204 menuju kuil Ginkakuji tidak terlalu jauh dari pertigaan yang barusan saya seberangi. Saya masuk ke antrian yang cukup panjang bersama orang-orang bergaya turis dan juga orang-orang setempat. 

Kolam dalam kompleks Kuil Kinkakuji
Hampir 30an menit saya antri di halte tersebut sampai mendapatkan bis 204 yang adalah bis dengan rute reguler. Hari telah malam saat saya masih dalam perjalanan menggunakan bis tersebut. Bis berhenti di banyak halte sehingga memperpanjang waktu tempuh menuju kuil Ginkakuji. Karena Kuil Ginkakuji tutup jam 5 sore, maka saya memutuskan kembali ke stasiun Kyoto guna mengambil koper di loker lalu menuju ryokan (penginapan khas Jepang) yang telah saya pesan 6 bulan silam menggunakan aplikasi booking.com. Melalui peta digital google saya mengetahui bahwa rute bis menjauh dari stasiun Kyoto. Karena itu saya turun di halte terdekat di jalan yang sedang dilalui bis. Di halte tersebut saya mencermati informasi nomor bis yang menuju stasiun Kyoto lalu saya menaiki bis nomor 05 yang berhenti di halte. Setelah melewati 2 halte, saya sadar bahwa arah bis semakin jauh dari stasiun Kyoto. Saya lalu turun di halte terdekat, menyeberang dan menunggu bis nomor yang sama di halte seberang jalan. Saya bertanya pada seorang perempuan muda yang juga sedang menunggu bis di halte tersebut. Perempuan itu mengarahkan saya ke pertigaan yang berjarak 100an meter dari halte. "You have to across the street and turn right to the shelter" kata perempuan tersebut. "Arigato, kata saya lalu bergegas meninggalkan halte karena hari semakin malam. 

Bukit kecil dalam kompleks Kuil Kinkakuji
Dalam perjalanan ke pertigaan saya melihat informasi stasiun kereta dengan tanda menunjuk pertigaan lain di seberang jalan. Karena mempertimbangkan kemudahan menggunakan kereta, saya menyeberang dan menelusuri jalan lain ke arah berbeda mengikuti arah tanda panah ke stasiun kereta. Jalan yang saya susuri sangat tamaram tanpa lampu jalan. Hanya lampu dari rumah-rumah penduduk atau toko yang masih buka membantu menerangi kesunyian pedestarian yang sedang saya susuri. Setelah bertanya 4 kali ke orang berbeda, satu diantaranya perempuan Indonesia yang mampir berbelanja di 7 eleven di lokasi yang sedang saya susuri. Perempuan berjilbab tersebut menggendong bayi dalam gendongan tertutup karena malam yang dingin. Ibu muda tersebut akan masuk ke 7 eleven saat saya keluar. Saat kami berpapasan, saya menyapa dalam bahasa Inggris lalu beralih ke bahasa Indonesia
Rumah bhiksu pertapa dalam kompleks Kuil Kinkakuji
saat mengetahui ibu muda itu berasal dari Bandung. Dia mengikuti suaminya yang mendapatkan beasiswa kuliah di universitas Kyoto. Dari ibu muda tersebut saya mendapatkan arah lebih jelas ke stasiun kereta yang sedang saya cari. Lingkungan pemukiman dan jalan yang sedang saya lalui sangat sepi. Seperti jam 12 malam di kampung halaman saya di Kupang. Di satu pertigaan saya bertanya pada 3 perempuan muda yang sepertinya sedang berjalan ke arah stasiun. Ternyata dugaan saya benar karena itu saya berjalan mengekor di belakang mereka menuju stasiun yang berjarak sekitar 1,5 km dari halte bis nomor 05.

Antrin di halte bis 204, 205 dan lainnya
Kereta yang berhenti di stasiun ini merupakan kereta khusus pinggiran kota dan hanya memiliki 1 gerbong yang hanya melayani 2 stasiun. Hal ini mengingatkan saya akan kereta PP yang melayani rute Minoo park di Osaka. Bedanya kereta yang melayani rute Minoo park memiliki 5-8 gerbong. Semua penumpang turun dari kereta 1 gerbong tersebut saat kereta tiba di stasiun akhirnya. Saya turun dan masuk ke stasiun untuk berganti peron mencari kereta ke stasiun Kyoto. "you have to pay because your JR Pass is not valid for this train", kata petugas penjaga pintu saat saya menunjukan JR Pass. Saya mengangguk dan bertanya harus bayar berapa. "210 yen", kata petugas tersebut. Selain mengizinkan saya masuk setelah membayar, petugas juga memberitahu saya untuk membeli tiket lagi di dalam stasiun agar saya bisa menggunakan kereta non JR menuju stasiun yang terhubung / dilewati kereta JR dimana saya dapat
Kesunyian malam saat saya tersesat di pinggiran Kyoto


gunakan JR Pass menuju stasiun Kyoto. Saya sekali lagi harus membayar 210 yen untuk mendapatkan tiket menumpang kereta non JR ke stasiun yang dilewati kereta JR. Saya memasukan uang logam 210 yen ke mesin penjualan tiket lalu mengambil lembaran tiket yang dikeluarkan mesin tersebut. Dengan tiket tersebut saya masuk ke peron kereta lalu masuk ke kereta dengan bangku-bangku panjang perwarna hijau muda. Kereta yang saya tumpangi berhenti di stasiun yang dilewati kereta JR setelah melewati 3 stasiun. Saya turun di stasiun menunggu kereta JR berhenti.



Ryokan Nishikiro


Setelah tersesat 2 kali hari ini, saya akhirnya tiba di stasiun Kyoto sekitar jam 9 malam. Saya mampir makan malam di salah satu resto dalam stasiun. Selesai makan, saya keluar menuju basement stasiun menggunakan eskalator ke loker penyimpanan koper (baca catatan perjalanan dari stasiun Hiroshima ke Kyoto dan Hutan Bambu Arashiyama. Dari loker saya berjalan lurus ke ujung bangunan stasiun dimana saya akan keluar melalui 1 dari 4 pintu keluar / exit di bagian tersebut, yakni exit 1,2,3 dan 4. Saya keluar melalui exit 3 mengacu ke peta google di HP. Udara sangat dingin saat saya muncul di atas tanah. Dari exit 3, saya berjalan lurus berlawanan arah dengan stasiun menyusuri pedestarian yang bersih, lebar dan apik di luar bangunan stasiun - menuju ryokan (penginapan khas Jepang) Nishikiro yang terletak di sekitar stasiun Kyoto. Setelah berjalan sekitar 200 meter, saya menyadari telah berjalan ke arah yang salah. Peta google menunjukan lokasi ryokan Nishikiro berada di sebelah kiri sisi seberang jalan yang telah saya susuri dan lewati. Saya lalu menyeberang jalan dan masuk melalui jalan kecil / gang ke kompleks pemukiman. Setelah belok kiri 2 kali, saya tiba di penginapan yang saya cari - yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari stasiun Kyoto. 
Kimono dan Yukata yg disedikan ryokan Nishikiro bagi tamu






Bersambung...

JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...