Minggu, 27 Maret 2016

JELAJAH JEPANG - KYOTO : Kuil Tenryuji dan Kuil Kinkakuji (Emas)

Dalam kompleks Kuil Tenryuji
Kompleks Kuil Tenryuji yang cukup luas menyediakan dua jalan masuk dan keluar di kiri dan kanannya. Setelah melewati gerbang kanan, saya belok kiri menuju bangunan kayu berwarna hitam yang sisi luarnya menempel ke pagar pembatas kompleks kuil dengan jalan raya. Bangunan ini sebenarnya merupakan gerbang luar kuil sebagaimana di kuil-kuil lainnya di Jepang yang telah saya kunjungi - yang memiliki gerbang luar dan gerbang dalam. Namun karena telah dibangun jalan di kiri dan kanan kompleks dengan gerbang biasa, maka sepertinya gerbang luar tersebut ditutup. Bangunan gerbang tersebut terlihat masih sangat kokoh walau telah cukup tua. Saya berjalan ke bangunan tersebut untuk melihat secara dekat keindahan arsitekturnya sekaligus mengambil beberapa foto. Setelah itu saya terus berjalan ke kiri menapak dan menyusuri jalan beraspal dalam kompleks di bagian kiri yang disediakan bagi pengunjung bermobil ataupun pejalan kaki.

Dalam kompleks Kuil Tenryuji
Kuil utama terletak di ujung belakang kompleks yang berjarak ratusan meter dari gerbang depan di samping jalan raya. Sesekali saya mampir di beberapa lokasi memotret dan mendokumentasikan suasana sekitar, terutama warna-warna daun musim gugur yang telah berubah menjadi kemerahan ataupun kekuningan. Di tengah kompleks terlihat satu kolam besar yang ditutup bagi umum karena sedang direnovasi.  Pagar setinggi 1,5 meter menghalangi pengunjung masuk ke area kolam. Saya hanya bisa melongok dan memotret kolam dari pagar pembatas. Di dalam kompleks juga tersedia lahan parkir kendaraan. Beberapa bis pariwisata dan mobil pribadi sedang parkir di sekitar area tersebut, namun tidak terlalu penuh.

Kuil Tenryuji
Kuil Tenryuji dibangun tahun 1339 oleh shogun Ashikaga Takauji. Kuil ini diperuntukan bagi Kaisar Go-Daigo yang baru saja wafat di tahun tersebut. Shogun Takauji membangun kuil Tenryuji untuk menenangkan jiwa sang Kaisar. Dalam perjalannya, kuil Tenryuji telah terbakar beberapa kali karena peperangan. Namun selalu dibangun kembali, terutama pada periode Meiji tahun 1868 - 1912 (www.japan-guide.com).  Kompleks kuil dipenuhi pepohonan berbagai jenis. Guguran daun didominasi warna merah yang dibiarkan berserakan di dalam kompleks. Saya terus berjalan menuju bangunan kuil Tenryuji. Sebelum tiba di kuil Tenryuji, saya mampir memotret satu kuil Shinto yang terletak puluhan meter dari Kuil Tenryuji - dilihat dari gerbang / Torii warna merah sebagai penanda dan pembeda dengan kuil-kuil Budha.

Kuil Tenryuji merupakan kuil Budha aliran Zen. Bangunan utama didampingi beberapa bangunan
Kuil Tenryuji
tambahan di sebelah kanannya. Semua bangunan, baik bangunan utama maupun pendamping didominasi warna putih dan coklat tua. Ratusan orang hilir mudik dan berfoto di depan kuil maupun tamannya. Para pengunjung lain terlihat sedang mendaraskan doa-doa di depan Kuil Tenryuji. Setelah menikmati dan mendokumentasikan arsitektur kuil, taman dan juga pengunjung yang hilir mudik, saya berbalik arah berjalan meninggalkan kuil melalui jalan utama yang berada dalam satu garis lurus dengan gerbang kanan dari jalan raya atau dari depan kuil jika dilihat dari Kuil Tenryuji.

Gerbang luar Kuil Tenryuji (telah ditutup)
Keluar gerbang kompleks kuil Tenryuji, saya belok kanan menuju halte bis yang berjarak 50an meter dari gerbang kuil. Puluhan orang sedang berdiri antri di halte tersebut. Kedua sisi jalan masih penuh sesak dengan orang-orang yang lalu lalang maupun sedang berdiri antri di depan restoran dan kios-kios souvenirs. Awalnya saya ingin meneruskan perjalanan ke Kuil Kinkakuji, namun dari informasi online, akses ke kuil tersebut hanya bisa menggunakan taksi dari tempat saya berdiri saat ini atau menggunakan bis dari stasiun Kyoto. Karena saya tidak mendapatkan taksi walau telah mencoba menghentikan beberapa taksi yang melewati depan halte, maka saya putuskan kembali ke stasiun Kyoto menggunakan kereta JR dari stasiun Arashiyama. Dari stasiun Kyoto saya akan mencari bis ke Kuil Kinkakuji. Untuk itu, saya berdiri agak jauh dari halte guna mengorientasikan diri saya terhadap situasi saat itu sekaligus
Kuil pendamping Kuil Tenryuji
melihat-lihat bis yang bisa saya tumpangi ke stasiun Arashiyama. Asumsi saya, bis yang melewati jalan utama depan kompleks kuil pasti lewat dekat stasiun. Karena itu, saya mengikuti beberapa penumpang lainnya masuk ke salah satu bis yang berhenti di depan halte. Bis besar seukuran bis PPD 213 di Jakarta ini penuh sesak sehingga saya memindahkan ransel kamera ke depan dada mencegah  terjadinya tindak kejahatan. Walau Jepang dikenal aman, namun saya perlu waspada tentunya. Para penumpang naik dari pintu belakang lalu turun dari pintu depan di sebelah sopir. Karena itu, pada saat naik saya belum menggunakan tiket terusan yang telah saya beli di stasiun Kyoto (baca catatan perjalanan dari stasiun Hiroshima ke Kyoto dan Arashiyama).

Kompleks Kuil Tenryuji
Bis terus melaju melewati rel kereta yang melintang di jalan raya tersebut. Tidak ada halte di sekitar rel yang membuat bis berhenti sehingga saya tidak bisa turun lalu berjalan menyusuri rel ke stasiun Arashiyama sebagaimana yang telah saya pikirkan. Karena bis semakin jauh dari rel kereta, saya memutuskan tetap berada dalam bis sampai perhentian akhir atau terminal bis. Asumsinya, bis tersebut akan balik melewati halte dekat kuil Tenryuji dimana saya naik. Bis yang saya tumpangi akhirnya tiba di perhentian akhir. Semua penumpang harus turun karena bis dikosongkan menunggu giliran berangkat lagi. Pada saat turun, saya hanya menunjukan tiket ke sopir seperti yang dilakukan penumpang yang turun duluan. Sopir melihat tiket dan mengangguk sebagai tanda OK sehingga saya turun dan keluar bis. Kompleks terminal akhir bis tidak terlalu besar. Terminal ini berukuran sekitar 30 x 30 meter persegi
Jalan utama dari gerbang lurus ke Kuil Tenryuji
berbentuk U menghadap jalan raya. Bis dengan nomor berbeda berjejer di terminal tersebut. Tiga orang petugas berseragam terlihat mengatur bis-bis yang berjejer rapi siap diberangkatkan sesuai jadwal masing-masing. Di pinggir jalan sebelah kiri terminal terdapat halte dimana beberapa calon penumpang sedang duduk menunggu bis. Halte tersebut menyediakan juga petunjuk tempat-tempat yang akan dilewati dengan nomor bis masing-masing. Iseng saja saya berjalan ke halte tersebut membaca-baca informasi yang tersedia. Pada awalnya saya tersesat dari Arashiyama hingga tiba di tempat ini. Namun di halte tersebut saya mendapatkan informasi adanya bis yang melewati kuil Kinkakuji yang akan saya kunjungi hari ini. Saya bergegas masuk antrian di belakang para calon penumpang lain yang telah antri duluan. Tak sampai 5 menit, bis nomor 52 yang akan melewati kuil Kinkakuji berhenti. Saya bergegas naik mengikuti penumpang lainnya. Setelah melewati beberapa halte, bisa tiba di halte samping depan kompleks kuil Kinkakuji. Saya turun dari pintu depan sebagaimana biasa sambil menunjukan tiket terusan yang saya miliki.

Dalam kompleks luar Kuil Kinkakuji
Dari halte depan kompleks kuil, saya berjalan beberapa meter ke gerbang yang dijaga seorang petugas pengatur kendaraan masuk keluar kompleks kuil. Gerbang tersebut berhadapan langsung dengan pertigaan jalan raya depan kompleks kuil. Rimbunan pepohonan bersama warna-warni dedaunannya menyambut saya dan para pengunjung lainnya. Saya menyusuri jalan tanah berkerikil dalam kompleks mencari Kuil Kinkakuji yang sangat terkenal di dunia. Ratusan orang datang dan pergi - suasananya hampir sama dengan di hutan bambu Arashiyama. Namun karena kompleks kuil ini cukup luas dengan jalan masuk keluar berbeda, maka para penjunjung tidak terkonsentrasi pada satu titik yang dapat menyulitkan saya mengambil foto-foto bagus. Sekitar 100 meter dari gerbang di pinggir jalan dalam kompleks tersebut disediakan denah informasi keseluruhan kompleks Kuil Kinkakuji. Saya melihat-lihat dan memotret denah
Denah kompleks Kuil Kinkakuji
berbahasa Jepang tersebut lalu melanjutkan perjalanan saya mengikuti arus para pengunjung lainnya hingga kami tiba di loket tiket di depan satu pohon besar, tinggi, rindang dan berlumut. "hmmm sepertinya pohon ini berusia ratusan tahun dari ciri-ciri fisiknya, batin saya". Setelah mengambil beberapa foto, saya menuju loket tiket dan menyerahkan uang 500yen yang adalah harga tiket masuk ke bagian dalam kompleks tempat Kuil Kinkakuji berada. Petugas loket menyerahkan tiket kertas bertulisan huruf Jepang dengan lebar sekitar 7cm dan panjang 15cm. Saya berjalan menuju gerbang masuk yang dijaga 2 gadis muda. Tiket saya tunjukan ke para gadis tersebut yang mempersilahkan saya melewati gerbang. Saya berjalan perlahan menuju kuil Kinkakuji berwarna kuning keemasan yang berjarak 100an meter dari gerbang.

Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
Ratusan orang berkerumun di pagar pembatas yang membatasi para pengunjung dari taman, kolam dan kuil Kinkakuji. Sinar matahari sore memantulkan warna kuning emas Kuil Kinkakuji ke kolam dan lingkungan sekitarnya. Warna hijau, kuning dan merah dedaunan membuat lingkungan sekitar kolam terlihat sangat elok, indah dan agung. Saya harus berdesakan dengan pengunjung lain guna mendapatkan sepotong foto terbaik di lokasi tersebut. Dari satu sudut saya berpindah ke sudut lain dan harus cepat-cepat mengambil posisi di pagar pembatas saat pengunjung lain bergeser. Setelah puas mengambil foto kuil dan tamannya, termasuk kolam, saya meninggalkan pagar pembatas dan berjalan-jalan mengitari kompleks bagian dalam sekitar kuil. Saya melihat-lihat dan memotret obyek lain yang tidak terlalu ramai. Setelah itu saya berjalan terus mengikuti jalan setapak yang dibangun mengitari samping kuil menuju pintu keluar yang jaraknya ratusan meter dari kuil Kinkakuji. Setelah melewati sisi sebelah kuil Kinkakuji, jalan berbelok ke kanan dan agak mendaki mengitari taman dan kolam lain berjarak 30an meter dari jalan setapak. Bebatuan dalam taman sekitar kolam disusun
Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
dalam pola tertentu. Sepasang bebek dewasa dan anak-anaknya terlihat mengapung diam di kolam. Jalan setapak yang mengitari kolam dibuat seperti huruf L sehingga pengunjung bisa berjalan sambil menikmati keteduhan taman dan kolam di sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan terhampar guguran daun warna-warni dan puluhan pohon dengan dedaunan yang juga berwarna warni seperti hiasan di sisi lain kuil Kinkakuji. Jalan terus menanjak hingga puncak bukit kecil lalu menurun menuju gerbang keluar dan masuk. Di puncak bukit kecil agak ke kanan terdapat satu bangunan kecil sederhana terbuat dari kayu dan papan berwarna krem. Konon bangunan tersebut merupakan tempat tinggal biksu pertapa pada masa lalu. Setelah menikmati kesederhanaan bangunan dan memotret obyek-obyek menarik di sekitarnya, termasuk memotret kuil Kinkakuji dari ketinggian bukit, saya berbalik arah kembali ke jalan setapak, berjalan menuruni bukit kecil tersebut menuju gerbang.

Kolam, taman dan Kuil Kinkakuji / Kuil Emas
Pada awalnya,  Kuil Kinkakuji merupakan suatu vila yang disebut Kitayama-day milk seorang penguasa istana bernama Saionji Kintsune. Sejarah Kinkakuji dimulai tahun 1397 saat vila tersebut dibeli Shogun Ashikaga Yoshimitsu yang mengubahnya menjadi kompleks kuil Kinkakuji. Ketika sang Shogun meninggal, fungsi vila diubah anaknya menjadi kuil Zen sesuai keinginan sang shogun. Pada saat perang Onin tahun 1467-1477, seluruh bangunan dalam kompleks tersebut dimusnahkan, hanya Kuil Kinkakuji yang tetap berdiri kokoh. Namun, Kuil Kinkakuji dibakar tahun 1950 oleh seorang calon pendeta Budha berusia 22 tahun yang berusaha bunuh diri di bukit Daimon-ji di belakang Kuil... Kuil dibangun kembali tahun  1955. Bangunannya  terdiri dari 3 tingkat dengan tinggi 12,5 meter (www.wikipedia.com).

Langit mulai gelap diiringi gerimis kecil saat saya
Tiket masuk ke bagian dalam kompleks Kuil Kinkakuji
berjalan ke gerbang. Sekitar 30an meter dari gerbang terdapat bangunan berbentuk los beserta banku-bangku panjang di halamannya. Puluhan pengunjung sedang berdiri atau duduk beristirahat di emperan bangunan tertutup tersebut. Di sebelah kiri bangunan berjejer mesin penjualan minuman dan makanan ringan. Saya menuju salah satu mesin lalu memasukan koin 110 yen ke kotak minuman coklat panas. Sambil duduk menunggu gerimis usai, saya menyeruput dan menghabiskan coklat panas tersebut. Setelah itu saya meneruskan ayunan langkah ke gerbang. Karena hari masih sore sekitar jam 4, saya ingin melanjutkan perjalanan ke  Kuil Ginkakuji (Perak) di sisi lain Kyoto. 



Tiket masuk ke bagian dalam kompleks Kuil Kinkakuji
"Bagaimana saya ke kuil Ginkakuji?", tanya saya dalam bahasa Inggris ke petugas pengatur lalu lintas kendaraan di depan gerbang luar kuil Kinkakuji. "  Go straight, across the street and take bus number 204", balas petugas tersebut sambil menunjuk jalan tusuk sate depan gerbang kuil. Saya mengucapkan terima kasih sambil mengangguk lalu berbalik menyeberangi jalan depan gerbang kuil. Udara terasa dingin sehingga resleting jaket saya tarik setinggi leher. Kupluk saya tarik menutupi telinga guna sedikit menghangatkan tubuh. Sekitar 300 meter dari jalan depan gerbang kuil, saya tiba di pertigaan lain yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan. Saat lampu hijau menyala bagi penyeberang, saya menyeberang bersama pejalan kaki lainnya. Halte tempat menunggu bis 204 menuju kuil Ginkakuji tidak terlalu jauh dari pertigaan yang barusan saya seberangi. Saya masuk ke antrian yang cukup panjang bersama orang-orang bergaya turis dan juga orang-orang setempat. 

Kolam dalam kompleks Kuil Kinkakuji
Hampir 30an menit saya antri di halte tersebut sampai mendapatkan bis 204 yang adalah bis dengan rute reguler. Hari telah malam saat saya masih dalam perjalanan menggunakan bis tersebut. Bis berhenti di banyak halte sehingga memperpanjang waktu tempuh menuju kuil Ginkakuji. Karena Kuil Ginkakuji tutup jam 5 sore, maka saya memutuskan kembali ke stasiun Kyoto guna mengambil koper di loker lalu menuju ryokan (penginapan khas Jepang) yang telah saya pesan 6 bulan silam menggunakan aplikasi booking.com. Melalui peta digital google saya mengetahui bahwa rute bis menjauh dari stasiun Kyoto. Karena itu saya turun di halte terdekat di jalan yang sedang dilalui bis. Di halte tersebut saya mencermati informasi nomor bis yang menuju stasiun Kyoto lalu saya menaiki bis nomor 05 yang berhenti di halte. Setelah melewati 2 halte, saya sadar bahwa arah bis semakin jauh dari stasiun Kyoto. Saya lalu turun di halte terdekat, menyeberang dan menunggu bis nomor yang sama di halte seberang jalan. Saya bertanya pada seorang perempuan muda yang juga sedang menunggu bis di halte tersebut. Perempuan itu mengarahkan saya ke pertigaan yang berjarak 100an meter dari halte. "You have to across the street and turn right to the shelter" kata perempuan tersebut. "Arigato, kata saya lalu bergegas meninggalkan halte karena hari semakin malam. 

Bukit kecil dalam kompleks Kuil Kinkakuji
Dalam perjalanan ke pertigaan saya melihat informasi stasiun kereta dengan tanda menunjuk pertigaan lain di seberang jalan. Karena mempertimbangkan kemudahan menggunakan kereta, saya menyeberang dan menelusuri jalan lain ke arah berbeda mengikuti arah tanda panah ke stasiun kereta. Jalan yang saya susuri sangat tamaram tanpa lampu jalan. Hanya lampu dari rumah-rumah penduduk atau toko yang masih buka membantu menerangi kesunyian pedestarian yang sedang saya susuri. Setelah bertanya 4 kali ke orang berbeda, satu diantaranya perempuan Indonesia yang mampir berbelanja di 7 eleven di lokasi yang sedang saya susuri. Perempuan berjilbab tersebut menggendong bayi dalam gendongan tertutup karena malam yang dingin. Ibu muda tersebut akan masuk ke 7 eleven saat saya keluar. Saat kami berpapasan, saya menyapa dalam bahasa Inggris lalu beralih ke bahasa Indonesia
Rumah bhiksu pertapa dalam kompleks Kuil Kinkakuji
saat mengetahui ibu muda itu berasal dari Bandung. Dia mengikuti suaminya yang mendapatkan beasiswa kuliah di universitas Kyoto. Dari ibu muda tersebut saya mendapatkan arah lebih jelas ke stasiun kereta yang sedang saya cari. Lingkungan pemukiman dan jalan yang sedang saya lalui sangat sepi. Seperti jam 12 malam di kampung halaman saya di Kupang. Di satu pertigaan saya bertanya pada 3 perempuan muda yang sepertinya sedang berjalan ke arah stasiun. Ternyata dugaan saya benar karena itu saya berjalan mengekor di belakang mereka menuju stasiun yang berjarak sekitar 1,5 km dari halte bis nomor 05.

Antrin di halte bis 204, 205 dan lainnya
Kereta yang berhenti di stasiun ini merupakan kereta khusus pinggiran kota dan hanya memiliki 1 gerbong yang hanya melayani 2 stasiun. Hal ini mengingatkan saya akan kereta PP yang melayani rute Minoo park di Osaka. Bedanya kereta yang melayani rute Minoo park memiliki 5-8 gerbong. Semua penumpang turun dari kereta 1 gerbong tersebut saat kereta tiba di stasiun akhirnya. Saya turun dan masuk ke stasiun untuk berganti peron mencari kereta ke stasiun Kyoto. "you have to pay because your JR Pass is not valid for this train", kata petugas penjaga pintu saat saya menunjukan JR Pass. Saya mengangguk dan bertanya harus bayar berapa. "210 yen", kata petugas tersebut. Selain mengizinkan saya masuk setelah membayar, petugas juga memberitahu saya untuk membeli tiket lagi di dalam stasiun agar saya bisa menggunakan kereta non JR menuju stasiun yang terhubung / dilewati kereta JR dimana saya dapat
Kesunyian malam saat saya tersesat di pinggiran Kyoto


gunakan JR Pass menuju stasiun Kyoto. Saya sekali lagi harus membayar 210 yen untuk mendapatkan tiket menumpang kereta non JR ke stasiun yang dilewati kereta JR. Saya memasukan uang logam 210 yen ke mesin penjualan tiket lalu mengambil lembaran tiket yang dikeluarkan mesin tersebut. Dengan tiket tersebut saya masuk ke peron kereta lalu masuk ke kereta dengan bangku-bangku panjang perwarna hijau muda. Kereta yang saya tumpangi berhenti di stasiun yang dilewati kereta JR setelah melewati 3 stasiun. Saya turun di stasiun menunggu kereta JR berhenti.



Ryokan Nishikiro


Setelah tersesat 2 kali hari ini, saya akhirnya tiba di stasiun Kyoto sekitar jam 9 malam. Saya mampir makan malam di salah satu resto dalam stasiun. Selesai makan, saya keluar menuju basement stasiun menggunakan eskalator ke loker penyimpanan koper (baca catatan perjalanan dari stasiun Hiroshima ke Kyoto dan Hutan Bambu Arashiyama. Dari loker saya berjalan lurus ke ujung bangunan stasiun dimana saya akan keluar melalui 1 dari 4 pintu keluar / exit di bagian tersebut, yakni exit 1,2,3 dan 4. Saya keluar melalui exit 3 mengacu ke peta google di HP. Udara sangat dingin saat saya muncul di atas tanah. Dari exit 3, saya berjalan lurus berlawanan arah dengan stasiun menyusuri pedestarian yang bersih, lebar dan apik di luar bangunan stasiun - menuju ryokan (penginapan khas Jepang) Nishikiro yang terletak di sekitar stasiun Kyoto. Setelah berjalan sekitar 200 meter, saya menyadari telah berjalan ke arah yang salah. Peta google menunjukan lokasi ryokan Nishikiro berada di sebelah kiri sisi seberang jalan yang telah saya susuri dan lewati. Saya lalu menyeberang jalan dan masuk melalui jalan kecil / gang ke kompleks pemukiman. Setelah belok kiri 2 kali, saya tiba di penginapan yang saya cari - yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari stasiun Kyoto. 
Kimono dan Yukata yg disedikan ryokan Nishikiro bagi tamu






Bersambung...

Jumat, 25 Maret 2016

JELAJAH JEPANG. KYOTO: Perjalanan dari stasiun Hiroshima ke Kyoto dan Hutan Bambu Arashiyama

Hiroshima di subuh hari
Setelah check out, saya menggunakan eskalator ke lantai 1 Hotel Grandvia Hiroshima guna mengakses jalan tembus ke stasiun kereta Shinkansen di stasiun Hiroshima yang terhubung dengan hotel. Saya akan menggunakan Shinkansen yang berangkat jam 8 pagi ke stasiun Kyoto. Karena telah melakukan orientasi di stasiun Hiroshima semalam saat kembali dari Miyajima dan juga telah terbiasa dengan akses ke peron Shinkansen di Kansai dan Osaka, maka saya tidak menemukan kesulitan menuju peron Shinkansen stasiun Hiroshima. Sebagaimana biasa saya selalu antri di bagian gerbong non reservasi yang telah ditandai di peron. Saya langsung berdiri di antrian pertama ke gerbong nomor 4. Tak lama setelah itu, antrian mulai memanjang ke belakang dengan kehadiran para turis bule dan juga penunpang lokal yang dapat dibedakan dari fisik dan gaya pakaian mereka. Penumpang lokal selalu berpakaian rapi, termasuk jaket panjang atau jaket tebal berbagai warna, sepatu boot, syal dan topi berbagai bentuk. Orang Jepang selalu terlihat gaya dalam berpakaian, baik laki-laki mapun perempuannya. Gaya mereka seperti gaya orang-orang Eropa yang terlihat di film-film.

Kota Hiroshima di pagi hari
Saya memasuki gerbong setelah penumpang terakhir yang turun di stasiun Shinkansen keluar. Kereta tidak pernah berhenti lama di satu stasiun- mirip kereta Jakarta - Bandung atau sebaliknya yang berhenti di stasiun Jatinegara. Karena itu, semua penumpang selalu bergegas masuk dengan tertib saat penumpang terakhir keluar gerbong. Perjalanan Hiroshima - Kyoto ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam 15 menit. Shinkansen  berhenti di beberapa stasiun utama kota-kota yang dilewati, termasuk stasiun Shin Osaka yang telah saya kenal baik (lihat catatan jelajah Osaka sebelumnya).  Saya tiba di stasiun Kyoto sekitar jam 10.20 pagi. Stasiun Kyoto merupakan salah satu stasiun besar di Jepang. Stasiun ini dipenuhi toko, restoran dan juga mall. Dari peron Shinkansen, saya menggunakan eskalator ke dalam stasiun. Melalui petunjuk arah yang tertulis manual ataupun digital di langit-langit stasiun, saya mulai mencari loket penjualan karcis kereta lokal. Untuk itu, saya harus ke basement stasiun melalui suatu mall besar dalam stasiun tersebut. Keluar dari mall, saya berhadapan dengan lorong panjang selebar 10 meteran. Saya mulai mencari loker kosong untuk menitipkan koper kecil saya karena saya akan langsung menjelajah ke hutan bambu Arashiyama terlebih dahulu sampai sore atau malam baru akan ke hotel untuk check in.   Jejeran loker di lorong tersebut tersedia dalam 3 ukuran, yakni besar, sedang dan kecil dengan harga bervariasi antara 500-900 yen. Jejeran pertama loker sepanjang lorong yang saya susuri telah penuh sehingga saya terus berjalan ke sisi lain stasiun. Pada baris pertama juga penuh, saya terus berjalan menuju ujung lorong. Saat saya hampir tiba di ujung, saya melihat 2 loker berukuran sedang sepertinya kosong karena kunci loker tergantung di masing-masing loker. Saya bergegas menuju loker tersebut kuatir didahului orang lain. Di salah satu loker saya memasukan uang logam senilai 100 yen sebanyak 5 koin atau totalnya 500 yen (sekitar 60an ribu rupiah) agar saya bisa membuka pintu loker dan menyimpan koper saya didalamnya. Semua loker menggunakan uang logam. Jika tidak memiliki uang logam, maka uang kertas bisa ditukar di mesin penukar yang juga tersedia di sekitar jejeran loker. Setelah koper saya simpan dalam loker yang saya kunci, kuncinya saya simpan dalam salah satu laci ransel kamera yang selalu saya bawa dalam setiap perjalanan jelajah saya.


Kyoto Tower di malam hari
Selesai menyimpan koper, saya berjalan lurus ke ujung lorong lalu belok kiri menuju mesin penjualan tiket yang menempel di dinding menghadap eskalator ke lantai atas. Saya memencet tombol bahasa Inggris sehingga mesin menampilkan informasi berbahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Jepang yang sebelumnya terpampang di mesin tersebut. Dari informasi bahasa Inggris tersebut tersedia berbagai jenis tiket kereta, subway, metro dan juga bis. Saya membeli tiket terusan seharga 2000 yen (sekitar 260 ribu rupiah) untuk 2 hari yang berlaku di subway dan bis di seluruh Kyoto. Sesaat sebelum saya meninggalkan mesin penjualan tiket, terlihat sepasang turis bule celingukan di mesin sebelah saya. Informasi yang terpasang masih berbahasa Jepang. Saya membantu menunjukan cara mengubah bahasa Jepang ke bahasa Inggris dengan menunjukan tombolnya. Keduanya terseyum ramah dan mengucapkan terima kasih. Saya membalas lalu berbalik menuju eskalator berjarak 5 meteran dari mesin penjualan tiket. Saya memasukan tiket yang barusan saya beli ke lubang yang tersedia di pintu berpalang X. Lampu merah di palang berubah menjadi hijau memberi tanda ke saya berjalan melewati palang X. Tiket yang saya masukin ke mesin muncul di sisi sebelah pintu berpalang. Saya mengambil dan menyimpannya ke kantong terluar ransel guna memudahkan penggunaannya di stasiun ataupun bis. Saya berjalan lurus ke eskalator yang membawa saya kembali ke lantai satu di sisi lain bangunan stasiun. Saya memutuskan mengenyangkan perut terlebih dahulu sebelum mencari kereta JR ke Arashiyama. Setelah melihat-lihat berbagai restoran di lantai 1, saya berhenti di resto makanan cepat saji bernama Subway seperti Mc. D di Jakarta. Saya agak familiar dengan makanan resto cepat saji ini karena pengalaman di London saat perjalanan jelajah saya di kota tersebut pada tahun 2013 (baca catatan perjalanan di London).

Jalan depan stasiun Kyoto
Saat saya makan siang, sepasang perempuan dan laki-laki tersenyum dan menyapa saya menggunakan bahasa Inggris. Saat saya mengatakan dari Jakarta pembicaraan kami beralih ke bahasa Indonesia. Pasangan ini juga sedang menghabiskan beberapa hari di Kyoto menikmati musim gugur. Mereka lebih dahulu menyelesaikan makan siang mereka lalu pamit melanjutkan perjalanan. Saat saya menyelesaikan paket makan siang saya seharga 75ribu rupiah, saya membereskan meja saya dan memindahkan sampah makanan dan minuman saya ke tong sampah yang telah disediakan di resto tersebut. Semua orang yang makan siang di tempat tersebut membereskan meja masing-masing. "Pantas saja saat di Jakarta saya melihat 4 turis Jepang membereskan meja mereka saat selesai menikmati minuman dan cakes", pikir saya mengingat pengalaman bertemu beberapa turis Jepang di salah satu gerai kopi internasional di Jakarta beberapa bulan silam.

Jalan ke hutan bambu Arashiyama di pagi hari
Dari resto makanan cepat saji Subway, saya berjalan kembali ke bagian peron-peron kereta megikuti petunjuk digital dan juga non digital yang terpampang di langit-langit stasiun. Saya tiba di satu pelataran yang cukup luas yang membagi para penumpang ke beberapa arah. Jika berjalan lurus, saya akan menuju stasiun subway, jika ke kiri, saya akan menuju peron Shinkansen. Jika ke kanan, maka saya akan menuju peron kereta JR. Saya belok kanan menuju jejeran pintu-pintu berpalang. Karena saya akan masuk ke peron menggunakan JR Pass (baca catatan-catatan perjalanan sebelumnya di Osaka, Hiroshima dan Miyajima), maka saya berjalan ke loket JR yang dijaga seorang lelaki berjas dan bercelana warna biru dongker, kemeja putih bersama dasi dan topi dalam warna senada dengan jas dan celananya. Petugas piket menganggukan kepalanya membiarkan saya melewati pintu tanpa palang di samping loket saat saya menunjukan JR Pass. Mengikuti petunjuk arah yang ada, saya menuju eskalator di depan saya yang mengantar saya ke peron kereta yang berangkat ke stasiun Arashiyama.

Stasiun kereta JR Arashiyama
Waktu menunjukan jam 12.45 saat kereta JR yang saya tumpangi meninggalkan stasiun Kyoto menuju stasiun Arashiyama. Perjalanan sekitar 30an menit tersebut menampilkan landscape perkotaan Kyoto karena jalur kereta JR selalu berada di atas tanah sama seperti jalur kereta dan komuter di Jakarta. Stasiun Arashiyama merupakan stasiun di pinggir kota Kyoto sehingga masih sederhana. Kebanyakan stasiun di pinggiran kota mirip stasiun-stasiun komuter jalur Jakarta - Bogor, tanpa mall, resto, dan kios. Saya mengikuti penumpang lainnya berjalan keluar stasiun. Bedanya karena saya pengguna kartu JR, maka saya harus keluar melalui pintu tanpa palang di samping loket yang dijaga petugas piket seperti di stasiun-stasiun lainnya. Matahari sedang bersinar terik, namun udara terasa dingin.
Rickshaw dan pengemudinya
Arashiyama merupakan tempat pinggiran kota Kyoto dengan rumah-rumah penduduk yang tertata asri seperti di daerah perumahan Cibubur, Jakarta Selatan. Rumah, toko, kios dan resto tertata rapi sepanjang jalan yang saya lalui dari stasiun kereta JR Arashiyama ke hutan bambu Arashiyama. Selain hilir mudik ratusan orang sepanjang jalan yang sedang saya lalui, para pesepeda dan pengemudi rickshaw (becak khas Jepang dan India yang dikendalikan pengemudinya dengan cara ditarik sambil berlari atau berjalan) turut meramaikan jalan tersebut. Sekitar 500 meter dari stasiun Arashiyama, saya dan ratusan pejalan kaki lainnya tiba di pertigaan. Saya mengikuti para pejalan kaki tersebut belok kanan menyusuri jalan yang semakin ramai dan penuh di kedua sisinya. Hanya sedikit mobil yang kadang melewati jalan yang dikuasai para pejalan kaki, termasuk saya. Saya terus maju sambil sesekali memotret atau membuat video pendek suasana jalan yang saya lalui hingga tiba di pertigaan lain yang berjarak sekitar 500 meter juga dari pertigaan yang telah saya lewati. Di pertigaan ini terlihat satu kios es krim di sebelah kiri saya yang dipenuhi pembeli hingga harus antri beberapa puluh meter. Ribuan manusia seperti tumpah ruah di pertigaan ini bersesakan dengan kendaraan seperti bis, taksi dan mobil pribadi serta para pengemudi rickshaw. Saya berdiri beberapa saat mempelajari situasi lalu memutuskan belok kanan.

Hutan bambu Arashiyama
Saya menyeberang jalan mengarah ke gerbang kuil yang terletak di arah tusuk sate depan pertigaan.  Dari depan gerbang kuil saya berjalan terus mengikuti ribuan orang yang seperti merayap menyusuri jalanan tersebut. Puluhan kios souvenir dan resto-resto kecil berjejer sepanjang jalan yang sedang saya susuri hingga tiba di suatu gang  kecil dengan lebar sekitar 3 meter yang berjarak 200an meter dari pertigaan depan gerbang kuil. Mulut gang sangat penuh sesak dan dijaga petugas berpakain khusus yang mengatur lalu lintas orang, rickshaw dan juga mobil. Saya menduga gang tersebut merupakan jalan ke hutan bambu Arashiyama yang sangat terkenal di dunia karena hampir semua pejalan kaki masuk ke gang tersebut.  Saya belok kiri masuk ke gang tersebut berjalan mengikuti arus ribuan manusia dari berbagai bangsa yang sedang tumpah ruah di situ. Kedua sisi jalan tersebut penuh sesak sehingga harus berjalan sangat perlahan seperti merayap. Sesekali kerumunan manusia tersebut dibelah oleh para pengemudi rickshaw yang menarik kendaraannya membawa para penyewa menelusuri hutan bambu tersebut.  Sambil berjalan saya sempatkan memotret dan juga mengambil video. Ribuan pohon bambu yang tumbuh menjadi hutan di sepanjang jalan yang dilalui ribuan pengunjung tersebut berada dalam pagar setinggi 2 meteran sehingga pengunjung yang ingin memotret harus mencari cela di antara pagar.

Hutan bambu Arashiyama
Saya tiba di satu pertigaan di dalam hutan bambu tersebut. Jika saya lurus maka saya menuju suatu kuil Shinto yang terletak persis di sebelah kanan pertigaan tersebut. Saya belok kiri terus menyusuri jalan tanah dalam hutan bambu tersebut. Namun saya tidak dapat menikmati kawasan hutan bambu Arashiyama karena kehadiran ribuan pengunjung lainnya. Sudut pengambilan foto juga sangat sulit untuk mendapatkan frame tanpa adanya orang lain dalam foto. Jalan yang saya susuri agak mendaki setelah belok kanan di suatu tikungan. Panjang hutan bambu ini sekitar 2km dari mulut gang tempat saya masuk hingga berakhir di suatu tempat yang terhubung ke jalan raya lain di belakangnya.

Karena tidak pernah mendapatkan tempat memotret yang bagus, saya memutuskan balik arah meninggalkan hutan bambu Arashiyama dengan rencana akan kembali esok hari. Saya mengikuti arus manusia yang berjalan kembali ke ujung gang yang terhubung ke jalan  raya. Tiba di ujung gang saya belok kanan kembali menyusuri jalan yang telah saya lalui sebelumnya menuju hutan bambu tersebut. Saya tiba kembali di depan gerbang kuil Tenryuji di depan pertigaan. Saya masuk ke kompleks kuil dan memulai jelajah saya di kuil Tenryuji.

Bersambung...


Minggu, 20 Maret 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Pantai Waijarang, Wolor Pass / Bukit Cinta dan Bukit Doa Waijarang

Aksi Aken Udjan di Pantai Waijarang
Kendaraan yang kami tumpangi belok kanan di suatu tempat di tepi pantai. Pantai ini sepertinya telah dikelola karena memiliki lahan parkir dan beberapa pondok tempat istrirahat bagi pengunjung sekaligus mungkin tempat bagi para pedagang makanan dan minuman - yang tidak terlihat di sekitar situ saat rombongan kami tiba. Daun-daun kering pohon ketapang yang kemungkinan sengaja ditanam guna memberikan kesejukan di sekitar lokasi terlihat bersebaran campur aduk dengan rerumputan kering berwarna kecoklatan karena musim kemarau. Beberapa sepeda motor terlihat berada di tempat parkir. Sepertinya kendaraan-kendaraan tersebut milik panitia yang telah terlebih dahulu tiba di
Sekeping Pantai Waijarang
lokasi tersebut. Satu demi satu anggota rombongan turun dari bis dan truk lalu berhamburan ke tepi pantai berpasir kecoklatan sepanjang sekitar 1km. Foto sana foto sini dilakukan oleh masing-masing orang. Beberapa terlihat berjalan menjauh mencoba menyusuri pasir pantai menjauh ke sebelah kiri dan kanan saya mencoba mencari obyek foto. Nun jauh diseberang terlihat Ile Boleng berdiri kokoh dan sedang bercengkerama dengan gumpalan awan putih  yang sepertinya enggan meninggalkan puncak gunung berapi tersebut. "Pantai Waijarang", kata Aken Udjan seorang pemuda setempat saat saya bertanya dan minta tolong memotret beberapa pose saya di pantai tersebut.

Sedang berkenalan di Pantai Waijarang
Sekitar 30an menit menikmati keindahan Pantai Waijarang, panitia mengumpulkan seluruh anggota rombongan di bawah kerindangan pepohonan di lokasi tersebut. Acara perkenalan dipimpin seorang lelaki paru baya (saya lupa namanya). Rombongan berdiri dalam lingkaran tak beraturan lalu satu demi satu memperkenalkan dirinya. Acara perkenalan yang berlangsung sekitar 15an menit tersebut berakhir dengan informasi panitia bahwa rombongan akan berpindah ke lokasi berikut bernama bukit Wolor Pass atau disebut juga bukit Cinta. Rombongan kembali ke kendaraan masing-masing guna melanjutkan perjalanan ke Wolor Pass. Iring-iringan kendaraan keluar lokasi parkir lalu belok kanan menyusuri jalan raya menuju Wolor Pass.

Ile Boleng dari Wolor Pass
Truk yang saya tumpangi meliuk-liuk mendaki jalan perbukitan yang kadang berubah menjadi jalanan tanah dan berbatu sehingga menimbulkan kegoncangan dan juga debu beterbangan saat sang pengemudi harus mengerem truk karena adanya lubang di jalan yang sedang kami lewati. Udara sore segar bersama sepoi angin sangat terasa diantara goncangan truk. Jalanan yang kami lalui seperti membelah perbukitan berwarna kecoklatan dan kadang hitam karena habis terbakar. Di beberapa tempat, bis melewati jejeran perbukitan di sebelah kiri, sedangkan lautan biru dan Ile Boleng berada nun jauh di sebelah kanan. Rimbunan pohon kelapa bersama garis pantai yang sedang dicumbui lidah-lidah ombak berwarna putih meninggalkan kesan mendalam hingga akhirnya kami tiba di Wolor Pass.

Landscape Pulau Lembata dari Bukit Doa Waijarang
Beberapa tukang laki-laki terlihat masih sedang bekerja membenahi kawasan Wolor Pass saat saya dan rombongan tiba. Konon banyak pasangan menjadikan bukit ini sebagai tempat berkasih mesra sambil menikmati senja sehingga Wolor Pass mendapatkan nama Bukit Cinta. Jalan setapak dari semen selebar setengah meteran menghubungkan beberapa pondok yang telah dibangun di lokasi tersebut dengan pondok utama yang bertengger di puncak bukit - tempat rombongan turun dan menyebar ke sekitar lokasi tersebut. Pondok-pondok tersebut menjadi lokasi strategis bagi pengunjung menikmati senja hari ataupun sunset yang pastinya terlihat sangat elok dari lokasi tersebut. Kondisi geografis dengan spots
Landscape Pulau Lembata
kontur bertingkat di Wolor Pass memberikan pilihan bagi anggota rombongan mencari
Landscape Pulau Lembata dari Bukit Doa Waijarang
foto terbaik bagi diri sendiri ataupun group masing-masing. Panitia telah menyediakan kelapa muda bagi semua peserta. Saya duduk di salah satu tangga di halaman pondok utama menikmati perjalanan senja di kejauhan. Pulau Adonara dan Ile Boleng terlihat anggun di seberang. Dua kapal kayu terlihat melintas selat yang memisahkan Pulau Adonara dan Pulau Lembata dari Wolor Pass. Kesejukan angin sore terasa membelai kawasan sekitar. Selesai memotret beberapa obyek di sekitar lokasi tersebut, saya duduk santai menikmati suasana menjelang senja. Jejeran perbukitan di kiri, kanan dan belakang seperti tirai bergelombang yang memagari Wolor Pass. Nun jauh di lembah, riak biru air
laut yang sedang dilayari kapal kayu berlatar Pulau Adonara dan Ile Boleng serta sang mentari yang sedang berjalan kembali ke peraduannya telah menjadi lukisan raksasa nan indah dan elok.

Landscape Pulau Lembata dari Wolor Pass
Air kelapa yang disajikan dalam  buah kelapa berwarna hijau saya seruput pelan-pelan menikmati rasa manis dan segarnya. Mata saya tak lepas dari lukisan raksasa yang tersaji di depan. Beberapa anggota rombongan masih asyik berfoto. Beberapa mulai berjalan menyusuri setapak semen menuruni Wolor Pass menuju jalan raya di bawah bukit. Lainnya, sama seperti saya sedang menikmati keindahan alam senja yang mungkin tidak akan kami temukan di tempat lain. Wolor Pass bukan akhir perjalanan kami sore ini. Panitia meminta kami kembali ke kendaraan masing-masing karena kami akan bertolak ke lokasi terakhir kunjungan hari ini, yakni Bukit Doa Waijarang. Di Bukit Doa Waijarang, kami akan menikmati jingga senja sang mentari kembali ke haribaannya. Panitia dibantu beberapa anggota rombongan berteriak memanggil anggota rombongan yang telah berjalan ke bawah bukit agar kembali ke kendaraan. Namun entah mendengar atau tidak, mereka terus berjalan menuju jalan raya yang akan dilalui kendaraan kami menuju Bukit Doa Waijarang. Akhirnya kami membiarkan anggota rombongan yang memilih berjalan kaki meneruskan perjalanan mereka. Saat kendaraan kami berpapasan dengan para pejalan kaki di jalan raya, mereka memilih melanjutkan jalan kaki.

Diorama Jalan Salib di Bukit Doa Waijarang
Kendaraan yang kami tumpangi kembali meliuk-liuk menelusuri jalanan yang membela perbukitan disekitarnya hingga tiba di bawah Bukit Doa. Dari lokasi tersebut, kami harus berjalan kaki ke puncak bukit melewati jalan setapak buatan yang masih sangat sederhana. Jalan setapak ini merupakan jalan salib bagi umat Khatolik menuju puncak bukit tempat Bunda Maria sedang berdiri agung memberkati alam sekitarnya sambil menatap sang senja menuju peraduannya. Di lokasi tertentu telah dibangun diorama perjalanan salib Yesus hingga disalibkan, mati dan dikuburkan. Diorama-diorama seukuran tubuh orang-orang dewasa tersebut dibangun sepanjang setapak ke puncak bukit. Saya berlomba dengan anggota rombongan lainnya menyusuri jalan yang terus menanjak demi sunset yang akan segera tiba. Perjalanan ke puncak bukit tidaklah mudah karena saya harus mendaki
3/4 perjalanan mendaki Bukit Doa Waijarang
kemiringan terjal bukit tersebut di beberapa lokasi. Jalan setapak selebar 1 meteran tersebut dibangun memutari  setengah punggung bukit menuju puncak. Pengunjung ataupun umat tidak perlu mendaki lurus ke puncak bukit sehingga lebih hemat tenaga. Namun saya tetap saja ngos-ngosan dan harus berhenti sejenak di puncak lokasi-lokasi terjal yang telah saya lalui sebelum mendaki lagi. Keringat mengalir deras seiring perjalanan saya mendekati puncak bukit. Warna jingga sang mentari semakin membuncah saat saya telah mencapai 3/4 pendakian yang saya tempuh. Saya sempatkan memotret keindahan itu dari suatu pohon gersang yang sendirian berdiri teguh di lokasi tersebut diapit karang-karang bukit yang sedang saya daki.

Sunset di Bukit Doa Waijarang
Saya terus mendaki hingga tiba di puncak tempat Bunda Maria tersenyum syahdu dengan posisi tangan terbuka seperti sedang menyambut kehadiran saya  yang telah menempuh jalan salib yang cukup  melelahkan. Seorang anggota rombongan telah tiba terlebih dahulu dan telah mengambil posisi strategis memotret sang mentari yang terus berjalan menuju sarangnya. Saya mengambil tempat di sebongkah batu cadas berwarna hitam dikeliling rerumputan berwarna coklat setinggi pinggang orang dewasa. Mata saya tak pernah lepas dari lubang pengintip kamera Canon sahabat setia saya di setiap perjalanan. Jari saya terus menerus menekan tombol pemotretan mendokumentasikan keelokan senja Bukit Doa Waijarang hingga sunset menghilang di horizon. Anggota rombongan telah susul-menyusul tiba di lokasi tersebut. Namun semuanya terhipnotis keindahan jingga senja sehingga hanya
Para pemburu sunset di Bukit Doa Waijarang
 desau goyangan rerumputan kering yang terdengar di sore itu sampai hilangnya matahari dari pandangan. Semua menikmati keelokan alam senja itu tanpa suara bahkan napas masing-masing orang sepertinya ikut terhisap dalam keindahan itu sehingga tidak terdengar tarikan ataupun hembusannya. Saya akhirnya sadar masih ada Bunda Maria yang berdiri anggun di belakang lokasi saya menikmati keelokan senja. Saya bangun dan berjalan perlahan ke lokasi Bunda Maria untuk mengamati lebih dekat sang Bunda sekaligus memotret.

Sunset di Bukit Doa Waijarang
Kendaraan yang kami gunakan ternyata telah berada di sekitar lokasi tersebut melalui jalan bagi kendaraan yang telah dibangun hingga puncak bukit dari sisi lain punggung bukit yakni di belakang sang Bunda. Sedangkan jalan salib yang saya dan anggota rombongan lainnya telah lalui berada di sisi kiri Bunda Maria. Satu demi satu anggota rombongan meninggalkan puncak bukit Doa Waijarang menuju kendaraan masing-masing. Setelah semua lengkap, kendaraan yang kami tumpangi beringsut perlahan meninggalkan puncak bukit kembali ke jalan raya menuju Hotel Palem Indah tempat rombongan menginap
Sekeping Pantai Waijarang
menghabiskan malam guna acara lain esok hari. Kegelapan telah sempurna memeluki bumi mengiringi perjalanan kami kembali ke hotel. Sesekali terlihat kerlap-kerlip lampu di Pulau Adonara saat truk yang saya tumpangi melewati punggung bukit yang terbuka di sebelah kirinya. Ile Boleng sudah tidak terlihat karena telah terlelap dalam kesunyian dan kemesraan kegelapan malam. Saya lupa bertanya ke Aken Udjan mengapa Pantai Waijarang dan Bukit Doa Waijarang punya nama yang sama walau keduanya berjarak puluhan kilometer?...


Bersambung

Jumat, 11 Maret 2016

JELAJAH INDONESIA. LEMBATA: Negeri di Balik Samudera

Ile Boleng dari Pulau Lembata
Ile (Gunung) Boleng di Pulau Adonara terlihat menawan dan seperti sedang tersenyum hangat menyambut kehadiran saya di Pulau Lembata saat pesawat Susiair yang saya tumpangi dari Kupang melayang rendah di atas perairan Pulau Lembata. Puncak Ile Boleng sedang berpayung arak-arakan gumpalan awan putih bermandikan teriknya matahari. Kegersangan puncak berapi berpadu hijau rimbunan pepohonan serta savana coklat di perbukitan dan lereng hingga lautan biru berbuih putih di dasarnya bagaikan lukisan raksasa tak terbeli. Susiair terus melayang menuju landasan melewati pepohonan dan rumah-rumah penduduk hingga akhirnya mendarat mulus di airport Wunopito Lewoleba, Pulau Lembata. Kaki saya menapak di tanah pulau Lembata sekitar jam 10 pagi hari pertengahan September 2015. Aiport Wunopito masih sederhana dan hanya bisa didarati pesawat kecil seperti Susiair yang barusan saya tumpangi atau Wingsair. Susi dan Wings merupakan 2 maskapai yang melayani mobilitas udara Kupang - Lewoleba PP.

Landscape Pulau Lembata dari udara
Lembata atau yang saya kenal pada masa kecil sebagai pulau Lomblen merupakan salah satu pulau di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal kering dan tandus. Provinsi ini selalu didera busung lapar dan menjadi salah satu provinsi termiskin di Indonesia yang berbanding terbalik dengan kemewahan dan kemakmuran hidup para pejabatnya. Para pemburu paus gagah perkasa yang dikenal sebagai orang-orang Lamalera berasal dari pulau ini. Walau nama Lomblen berubah menjadi Lembata pada tahun 1967, namun nama Lembata baru dikenal luas sejak tahun 1999 saat Lembata  menjadi wilayah administratif kabupaten sendiri terpisah dari Kabupaten Flores Timur.

Landscape Pulau Lembata
Jelajah saya ke Lembata merupakan bagian dari rencana jelajah Flores yang telah saya rencanakan setahun silam. Vitri - seorang rekan kerja - menginformasikan adanya paket tour murah seharga 1 juta rupiah per orang selama 4 hari  di Lembata. Saya memutuskan bergabung mengikuti tour tersebut setelah membuat beberapa skema perjalanan dari ujung timur Flores, yakni kota Larantuka ke Lembata lalu ke Alor atau sebaliknya. Setelah membuat simulasi beberapa skema perjalanan, termasuk menghitung ketersediaan waktu, akhirnya saya memutuskan memadukan jelajah Lembata dan Flores. Rencana kunjungan ke Alor saya tunda ke lain waktu. Melalui Vitri, saya dikenalkan pada Donny yang menjadi tour leader sekaligus mengurus administrasi pendaftaran, termasuk biaya keikutsertaan 4 hari di Lembata.

Airport 
Rombongan jelajah Lembata disambut panitia di pintu keluar bangunan terminal. Setelah jabat tangan dan saling sapa, para anggota rombongan dipersilahkan menaiki 1 bis sedang seukuran kopaja atau metromini di Jakarta dan 1 truk yang telah dimodifikasi sebagai kendaraan angkutan penumpang. Truk angkutan penumpang seperti ini sangat umum di seluruh Flores. Ruang kosong truk diberi jejeran bangku kayu dari depan ke belakang dengan lorong di tengah untuk akses masuk dan keluar penumpang. Sebagian besar anggota rombongan memilih naik truk bercat hijau itu. Saya dan 5 orang lain memilih menggunakan bis berwarna dasar putih dengan sejumlah asesoris tambahan seperti lukisan kepala orang Indian, tulisan berbahasa Inggris dan Indonesia serta nama bus itu sendiri, yakni Firdaus. Tipikal kendaraan angkutan umum khas NTT, pikir saya. Setelah semuanya mengambil tempat dalam bis dan truk, kedua kendaraan tersebut bergerak beriringan meninggalkan parkir bandara menuju hotel yang juga telah disediakan panitia setempat di Lembata.

Spanduk panitia penyelenggara
Kami tiba di hotel Palem Indah sekitar jam 11 siang dengan waktu tempuh 30an menit dari bandara ke hotel. Hotel ini disediakan Pemda setempat yang bertindak sebagai panitia lokal yang bekerja sama dengan Donny dan timnya di Jakarta. Selain hotel, panitia juga menyedikan kendaraan dan konsumsi, termasuk mengorganisir penyambutan penduduk setempat di lokasi-lokasi kunjungan pada hari kedua dan ketiga. Sekali lagi kami disambut panitia lokal di lobby hotel dan diarahkan ke resepsionis untuk check in. 2 staf hotel di meja resepsionis melayani anggota rombongan yang check in. 1 set sofa warna hitam ditempatkan sekitar 1 meter dari depan meja resepsionis. 2 sofa tunggal masing-masing ditempatkan di bawah tangga dan samping kiri pintu masuk. Beberapa anggota rombongan yang telah selesai check in ataunpun sedang menunggu giliran terlihat duduk selonjor atau sedang ngobrol. "Mas satu kamar dengan pak Yohanes, kata staf perempuan yang melayani saya di meja resepsion sambil
menyerahkan kunci kamar. Setiap kamar ditempati 2 tamu sebagaimana telah diinformasikan panitia
Sambutan pejabat provinsi NTT
Jakarta. Ternyata Yohanes telah berada di lobby sehingga kami berkenalan satu sama lain lalu jalan bersama ke kamar kami di lantai 2. Seorang staf hotel menemani dan mengarahkan kami berjalan melalui lorong di sebelah kiri pintu masuk lurus ke belakang lalu belok kiri menaiki tangga yang terletak sekitar 5 meter dari belokan. Sebenarnya, tangga akses ke lantai 2 tersedia di 2 area, yakni depan lobby dan satu lagi di bagian belakang. Namun staf hotel mengarahkan kami melewati lorong lantai dasar mungkin dengan maksud mengenalkan kami ke area dalam hotel tersebut. Saya dan Yohanes menempati kamar cukup luas dan bersih. Kamar ini memiliki balkon ke taman di bawah yang dipenuhi rerumputan hijau dan pepohonan rindang. Kamar dilengkapi 2 tempat tidur berukuran semeteran, 2 bantal bersarung putih di masing-masing tempat tidur, meja kecil (nakas) yang ditempatkan diantara kedua tempat tidur, kursi dan meja, AC, TV dan lemari. Kamar mandi dilengkapi wastafel, closet duduk, bathtube dan air panas yang hanya terasa hangat-hangat kuku saat digunakan.

Pengalungan seledang ke perwakilan rombongan
Selesai membersihkan badan dan ganti pakaian, saya kembali ke lobby lalu berjalan ke ruang pertemuan berjarak duapuluan meter di belakang lobby hotel. Panitia membuat acara penyambutan dan menyediakan makan siang di ruang pertemuan tersebut. Saat saya memasuki ruangan pertemuan, acara telah sedang berlangsung. Selamat datang dan sambutan-sambutan mengisi acara penyambutan yang ditutup dengan pengalungan selendang ke perwakilan rombongan, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Selesai acara penyambutan dan arahan kegiatan oleh panitia,  kami semua antri mengambil makan siang prasmanan yang telah disediakan di ruangan penyambutan. Kebanyakan anggota tour telah memakai kaos berkerah warna biru muda yang disediakan dan dibagikan panitia.

Landscape Pulau Lembata
Selesai makan siang dan istirahat, rombongan memulai perjalanan jelajah ke tempat-tempat yang telah ditentukan panitia. Masing-masing anggota rombongan memilih tempat di bis dan truk yang akan mengantar kami ke lokasi jelajah hari ini, yakni pantai Waijarang, bukit Wolorpass (bukit Cinta) dan bukit Doa Waijarang. Kendaraan yang kami tumpangi keluar gerbang hotel lalu belok kiri berjalan beriringan ke arah Barat. Kali ini saya memilih truk guna memudahkan saya memotret obyek-obyek menarik di sepanjang jalan yang kami lalui. Truk melewati rumah-rumah penduduk yang bertebaran di sepanjang jalan, melewati pasar tradisional terus meliuk-liuk menelusuri jalan beraspal yang dipenuhi lubang di sana
Ile Boleng dari Pantai Waijarang Pulau Lembata
-sini. Kadang debu beterbangan karena jalan beraspal tiba-tiba berubah menjadi jalan tanah, aspalnya telah hilang entah kemana. Selain kebun dan dan pekarangan, landscape didomininasi savana warna coklat. Beberapa lahan perbukitan berwarna hitam karena habis terbakar. Lahan lain didominasi pohon lontar atau pohon tertentu yang hanya bisa bertahan hidup di Lembata pada musim panas yang kering. Nun jauh di horizon, pantai berhiaskan perahu nelayan dan kapal-kapal kayu serta lautan biru menjadi selingan diantara warna coklat savana pulau Lembata. Ile Boleng dan pulau Adonara terlihat gagah perkasa di kejauhan. Kemolekan dan keindahan Indonesia yang tidak saya peroleh di Jakarta. Lembata, negeri di ujung samudera dengan keterbatasan infrastruktur jalan sedang bersolek menarik para penjelajah dan pengunjung menikmati keelokan alam serta senyuman ramah dan tawa ceria wajah-wajah sangar penduduknya.

Bersambung


JELAJAH INDONESIA. Pulau Rote & Ndana: Menjejaki Negeri Para Leluhur

1 perahu dari Pelabuhan Oeseli, Pulau Rote  Akhirnya, perahu nelayan milik Pak Ardin membawa kami mendekati tepi pantai Pulau Ndana. Tep...